2 Menit

99 Keinginan #9

Aku ingin duduk bersamamu di ruang tunggu rumah sakit lama itu, menatap satu kursi kosong yang dulu paling kita takuti, lalu pulang dengan pertanyaan yang tidak selesai.

Aku ingin duduk bersamamu di ruang tunggu rumah sakit lama itu.

Bukan karena ada janji dokter.

Bukan karena kita berharap kabar baik.

Hanya karena beberapa tempat menyimpan luka lebih rapi daripada ingatan.

Sore itu lorongnya masih sama. Dingin AC terlalu kuat. Bau disinfektan tipis. Lampu putih membuat semua wajah tampak lelah, bahkan yang sedang tersenyum.

Kamu duduk di kursi dekat jendela. Aku duduk di sebelahmu, atau setidaknya aku merasa begitu. Di depan kita ada satu kursi kosong yang dulu paling sering kita hindari. Kursi tempat kita pernah menunggu hasil pemeriksaan sambil pura-pura tenang, padahal tangan kita sama-sama gemetar.

"Aku benci tempat ini," katamu pelan.

"Aku tahu," jawabku.

Kamu tidak menoleh. Matamu tetap ke papan nomor antrean yang terus berganti. Aku memperhatikan jemarimu meremas ujung lengan baju, kebiasaan lama setiap kali kamu menahan panik.

Di buku-buku, orang bilang duka akan mereda seiring waktu. Di hadapanmu, aku belajar kenyataan yang lain. Duka tidak benar-benar mereda. Ia hanya pindah tempat. Kadang tinggal di jadwal minum obat yang sudah tidak dipakai. Kadang tinggal di gelas favorit yang tidak jadi dicuci. Kadang tinggal di ruang tunggu, menempel di kursi kosong, menunggu seseorang datang dan mengakuinya.

Seorang ibu melintas sambil menuntun anaknya. Seorang perawat memanggil nama pasien berikutnya. Hidup berjalan seperti biasa, dan mungkin justru itu yang paling menyakitkan. Dunia tidak pernah berhenti cukup lama untuk memberi waktu pada satu hati yang belum selesai.

Kamu menarik napas panjang.

"Kalau hari itu aku ngajak kamu pulang lebih cepat..." suaramu patah di tengah kalimat.

"Jangan," kataku. "Bukan salahmu."

Kamu tersenyum tipis, senyum yang dipakai orang-orang saat terlalu capek untuk berdebat dengan rasa bersalah.

"Semua orang bilang begitu," ujarmu, "tapi tiap malam aku tetap ngulang hari itu."

Aku ingin menggenggam tanganmu. Ingin bilang bahwa kamu sudah berusaha lebih dari yang sanggup dilakukan banyak orang. Ingin bilang aku tidak marah. Tidak pernah marah.

Tapi beberapa kalimat rupanya tidak bisa sampai, walau diucapkan sedekat ini.

Menjelang magrib, kamu berdiri.

"Aku pulang dulu," katamu pada kursi kosong di sebelahmu.

Bukan padaku.

Pada kursi kosong itu.

Lalu kamu menatap lama, seperti menunggu jawaban yang tak datang.

Di situlah aku akhirnya mengerti kenapa sejak tadi tidak ada satu pun orang yang memandangku, kenapa perawat yang lewat hanya menyapa kamu, kenapa kaca jendela cuma memantulkan satu bayangan.

Kursi yang kukira kutempati sejak tadi memang kosong.

Dan orang yang kamu ajak bicara dari awal bukan seseorang di sampingmu, melainkan seseorang yang kamu kehilangan.

Itu diriku, yang mati pekan lalu.