2 Menit

99 Keinginan #8

Aku ingin suatu sore kita membeli buku dongeng, lalu membacakannya bergantian untuk anak-anak kampung pemulung sampai mereka tertawa dan lupa sebentar bahwa hidup sering kali terlalu keras.

Aku ingin ke toko buku bersamamu membeli buku dongeng, lalu mengumpulkan anak-anak kampung pemulung, dan kita bergantian membacanya untuk mereka.

Aku membayangkan kita datang ke toko buku saat sore belum benar-benar turun. Kamu sibuk memilih buku dengan gambar paling lucu. Aku sibuk membaca sinopsis, pura-pura kritis, padahal diam-diam cuma mencari cerita yang punya akhir baik supaya malam nanti hati kita tidak terlalu berat.

Kita membeli beberapa buku tipis. Sampulnya warna-warni. Kertasnya wangi. Lalu kita bawa ke kampung itu, tempat anak-anak berlarian tanpa sandal, dengan lutut penuh debu, tapi mata mereka terang seperti selalu ada matahari kecil yang tinggal di sana.

Aku ingin kita duduk di tikar seadanya.

Kamu buka halaman pertama. Aku atur suara supaya terdengar seru. Mereka mulai mendekat satu-satu, lalu duduk melingkar.

Ada yang tertawa duluan sebelum cerita lucu datang. Ada yang menyela dengan pertanyaan yang bikin kita saling pandang sambil menahan senyum. Ada yang pura-pura cuek di belakang, tapi paling duluan maju saat kita bilang, "Siapa yang mau baca tokoh ini?"

Lalu kita bergantian membacakan dongeng. Kadang kamu yang jadi narator. Kadang aku yang menirukan suara raksasa, suara kucing, suara nenek tua, sampai anak-anak itu ngakak dan menutup mulut sendiri karena takut dimarahi orang rumah.

Di momen seperti itu, aku selalu merasa hidup bisa sangat sederhana dan sangat indah sekaligus.

Bukan karena kita sedang melakukan hal besar.

Justru karena kita sedang melakukan hal kecil dengan sungguh-sungguh.

Memberi satu jam penuh. Memberi tawa. Memberi ruang untuk membayangkan dunia yang lebih baik, meski hanya lewat dongeng tentang hutan ajaib, pangeran kikuk, atau anak kecil yang berani menolong naga.

Menjelang magrib, suara adzan dari jauh mulai terdengar. Langit berubah warna. Kita tutup buku terakhir, lalu anak-anak itu masih minta satu cerita lagi.

"Besok lagi ya, Kak?"

Pertanyaan itu sederhana, tapi selalu masuk ke dada dengan cara yang lembut.

Dan aku ingin, saat kita pulang sambil membawa buku-buku yang sudutnya sudah terlipat kecil, kita saling menatap dan tahu bahwa hari itu berhasil.

Berhasil bikin beberapa anak tertawa. Berhasil bikin dua orang dewasa merasa hatinya hangat. Berhasil mengingatkan kita bahwa cinta kadang tidak perlu panggung.

Cukup dua suara, satu tikar, dan segenggam dongeng yang dibaca bergantian sampai gelap turun pelan-pelan.