99 Keinginan #7
Aku ingin suatu sore kita ke lapangan, kamu menjaga gawang, lalu aku sengaja menendang jelek hanya untuk mendengar tawamu yang rasanya selalu lebih menang dari permainan apa pun.
Aku ingin mengajakmu ke lapangan, kita main bola, kau jaga gawang dan aku pura-pura tak pandai menendang agar kau ketawa.
Bukan karena aku benar-benar ingin jadi pemain hebat.
Justru mungkin karena di dekatmu, kalah kecil-kecilan kadang terasa lebih menyenangkan daripada menang sendirian.
Aku membayangkan sore yang hangat, rumput yang tidak terlalu rapi, garis lapangan yang mulai pudar, dan langit yang pelan-pelan berubah warna seperti sedang ikut melambat bersama kita. Kita datang tanpa seragam yang cocok, tanpa sepatu yang terlalu serius, cuma dua orang yang sedang mencari alasan kecil untuk menghabiskan waktu lebih lama di tempat terbuka.
Kamu berdiri di depan gawang dengan gaya yang sok gagah.
Tangan di pinggang. Mata menyipit. Mulut sibuk menantang.
"Coba, kalau bisa masuk."
Dan aku, yang sebenarnya tahu menendang tidak seburuk itu, sengaja mengambil ancang-ancang terlalu dramatis, lalu menendang bola ke arah yang nyaris memalukan. Bola melenceng jauh. Bukan ke gawang. Bahkan nyaris ke semak di pinggir lapangan.
Kamu pasti tertawa.
Bukan tawa yang ditahan sopan.
Tawa yang lepas. Yang membuat bahumu sedikit naik. Yang bikin matamu mengecil. Yang membuatku diam-diam berpikir bahwa kalau ada suara yang pantas dipelihara baik-baik, mungkin itu salah satunya.
Aku ingin mengulangnya lagi.
Menendang terlalu pelan. Terpeleset sedikit. Berpura-pura protes pada bola, pada sepatu, pada angin, padahal dari awal memang niatku cuma satu, membuatmu menertawaiku sampai pipimu pegal.
Dan mungkin, setelah beberapa kali, kamu akan sadar aku sengaja.
Kamu akan menunjukku sambil bilang, "Kamu bohong, ya. Kamu sebenernya bisa."
Lalu aku pura-pura membela diri dengan wajah yang terlalu tidak meyakinkan, dan kamu makin tertawa karena tahu aku memang sepayah itu kalau sedang ingin menyenangkanmu.
Ada jenis bahagia yang tidak butuh makan malam mahal, tidak butuh tempat yang bagus, tidak butuh alasan besar.
Kadang ia cuma butuh lapangan kosong, satu bola yang kulitnya mulai usang, dan seseorang yang tawanya bisa mengubah sore biasa jadi kenangan yang diam-diam ingin disimpan lama.
Mungkin nanti kamu minta gantian menendang.
Aku berdiri di gawang, pura-pura siap, lalu kamu menembak pelan tapi tepat, dan aku tetap gagal menahan karena terlalu sibuk tertawa melihat wajahmu yang puas. Kamu akan lari kecil, mengangkat tangan seperti baru mencetak gol di pertandingan besar, padahal yang kamu kalahkan cuma aku, orang yang dari awal memang rela kalah asal kamu senang.
Menjelang magrib, kita duduk di pinggir lapangan.
Napas masih agak cepat. Lutut sedikit berdebu. Keringat mulai dingin kena angin.
Kamu mungkin menyender sebentar sambil bilang capek. Aku mungkin menawarkan air minum yang dari tadi sudah hangat. Lalu kita melihat anak-anak lain masih berlari di kejauhan, masih sibuk mengejar bola, masih percaya bahwa sore bisa lama kalau mereka belum mau pulang.
Aku suka membayangkan momen itu juga.
Saat tawa mulai reda, tapi rasanya masih tinggal.
Saat aku menatapmu diam-diam dan merasa, betapa anehnya, seseorang bisa membuat hal sesederhana menendang bola terasa begitu manis. Seolah dunia yang biasanya ribut mendadak mengecil jadi satu lapangan, dua pasang sepatu kotor, dan satu hati yang diam-diam senang karena berhasil membuat hati lain berbunyi lebih ringan.
Jadi ya, ini keinginan ketujuhku.
Aku ingin mengajakmu ke lapangan, kita main bola, kau jaga gawang dan aku pura-pura tak pandai menendang agar kau ketawa.
Supaya kalau suatu hari hidup terasa terlalu serius, kita masih punya satu kenangan kecil tentang sore, debu, bola yang melenceng, dan aku yang dengan senang hati tampak bodoh hanya untuk melihatmu bahagia.