99 Keinginan #6
Aku ingin suatu malam kita begadang bersama membuat kue ulang tahun cucu, sambil salah ukur tepung, saling mengejek pelan, dan diam-diam merasa bahagia karena rumah masih penuh oleh hal kecil yang hidup.
Aku ingin kita begadang semalaman membuat kue ulang tahun cucu.
Bukan karena kita tidak bisa memesannya dari toko yang lebih rapi, lebih cantik, dan pasti jadi.
Justru karena aku ingin melihat kita ribut soal hal-hal kecil yang lucu di dapur pada usia yang mungkin sudah membuat lutut sedikit lebih pelan, mata sedikit lebih rabun, tapi hati masih cukup riang untuk percaya bahwa kue buatan sendiri selalu punya rasa yang tidak bisa dibeli.
Aku membayangkan malam itu rumah sudah tenang.
Anak-anak sudah pulang ke kamar. Lampu ruang tengah tinggal satu. Jam di dinding lewat tengah malam.
Lalu kita diam-diam ke dapur seperti dua orang yang sedang merencanakan kenakalan kecil.
Kamu pakai celemek yang talinya selalu terlalu longgar. Aku pura-pura paham resep, padahal dari awal cuma sok tenang. Kita sama-sama berdiri di depan meja, membaca tulisan kecil di layar ponsel, lalu mulai bingung pada bagian yang sebenarnya paling sederhana.
"Ini dua ratus gram tepung banyaknya segini, ya?"
"Kayaknya."
"Kayaknya itu ukuran yang sangat tidak meyakinkan."
Lalu kamu menatapku dengan wajah setengah kesal, setengah menahan tawa, dan entah kenapa dari situ saja aku sudah bisa membayangkan malam itu akan berhasil, meski kuenya nanti belum tentu cantik.
Aku ingin ada momen ketika kita terlalu banyak menuang gula, lalu panik sebentar.
Momen ketika mixer menyemburkan adonan ke mana-mana dan kita sama-sama terpaku, lalu tertawa karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menerima bahwa dapur ini sekarang resmi berantakan.
Momen ketika hidungmu kena sedikit tepung, dan aku menunjuk sambil tertawa, lalu kamu refleks mengusapnya, tapi malah makin belepotan.
Aku ingin malam itu penuh oleh salah tingkah yang manis.
Bukan manis seperti frosting.
Lebih seperti dua orang yang sudah lama hidup bersama, sudah saling tahu kebiasaan buruk masing-masing, tapi masih bisa tertawa seolah sedang jatuh cinta dengan versi yang baru dari orang yang sama.
Mungkin di satu titik kamu akan terlalu serius merapikan permukaan kue. Mungkin aku akan diam-diam mencolek krim dari pinggir mangkuk. Mungkin kamu akan memergokiku, menggeleng pelan, lalu bilang, "Pantes dari tadi kurang."
Dan aku, yang tertangkap basah di usia yang seharusnya lebih dewasa, tetap saja akan nyengir seperti anak kecil.
Ada kebahagiaan yang bentuknya memang seperti itu.
Tidak besar. Tidak megah. Tidak akan masuk foto-foto terbaik sepanjang hidup.
Tapi ia tinggal lama.
Ia menempel pada suara sendok yang mengaduk. Pada aroma mentega yang menghangat. Pada punggung tangan yang sesekali bersentuhan saat sama-sama meraih spatula. Pada tawa kecil yang muncul karena kita tahu hasilnya mungkin miring, tapi cucu kita besok pagi tetap akan bertepuk tangan seolah itu kue tercantik di dunia.
Aku ingin saat kuenya akhirnya matang, kita duduk sebentar di kursi dapur sambil menunggu dingin.
Sama-sama lelah. Rambut sedikit berantakan. Dapur berantakan. Hati anehnya rapi.
Lalu kita memandang kue itu dan merasa ada sesuatu yang hangat sekali di dada. Bukan cuma karena besok cucu akan bahagia. Tapi karena setelah sekian banyak tahun, setelah segala yang datang dan pergi, kita masih ada di sini. Masih bisa begadang untuk hal yang sederhana. Masih bisa membuat kejutan kecil dengan semangat yang nyaris kekanak-kanakan.
Dan mungkin, menjelang subuh, saat tulisan gula di atas kue akhirnya selesai meski agak miring, kita akan saling lihat lalu tertawa lagi.
Karena tangan kita sudah tidak setenang dulu. Karena hurufnya sedikit jelek. Karena warna krimnya tidak persis seperti di bayangan.
Tapi justru itu yang membuatnya terasa sayang sekali.
Seperti hidup yang tidak selalu rapi, tapi tetap pantas dirayakan.
Jadi ya, ini keinginan keenamku.
Aku ingin kita begadang semalaman membuat kue ulang tahun cucu.
Supaya suatu hari, di dapur yang penuh tepung dan tawa itu, kita sempat merasa muda lagi. Bukan karena umur mundur, tapi karena bahagia kadang memang tahu cara membuat dua orang salah tingkah seperti pertama kali saling jatuh hati.