99 Keinginan #5
Aku ingin suatu malam ada puisiku terselip di sarung bantalmu, supaya sebelum tidur kau bisa membaca sesuatu yang diam-diam ingin tinggal lebih lama di hatimu.
Aku ingin ada puisiku untukmu di sarung bantal agar bisa kau baca berulang sebelum tidur.
Bukan puisi yang terlalu pandai.
Bukan juga puisi yang sibuk menjadi indah sampai lupa menjadi jujur.
Aku ingin menulis sesuatu yang cukup kecil untuk diselipkan di tempat paling dekat dengan wajahmu saat malam, lalu cukup tinggal untuk kautemukan ketika hari terasa panjang, ketika kepalamu penuh, ketika lampu kamar sudah dipadamkan tapi pikiran belum juga mau pelan.
Aku membayangkan selembar kertas tipis.
Mungkin sedikit kusut karena terlipat. Mungkin tintanya tidak sepenuhnya rapi. Mungkin ada satu dua kata yang sempat kuganti karena tak ada kalimat yang benar-benar bisa menampungmu dengan utuh.
Lalu kertas itu kuselipkan diam-diam ke dalam sarung bantalmu, seperti seseorang menitipkan perasaan ke tempat yang tiap malam menerima lelahmu tanpa banyak bertanya.
Dan saat kau menemukannya, mungkin bukan di malam yang istimewa.
Bisa saja di malam biasa, setelah hari yang melelahkan, setelah obrolan-obrolan yang menguras tenaga, setelah dunia terasa terlalu bising dan terlalu banyak meminta. Kau rebah, membalik bantal, lalu jemarimu menyentuh lipatan kecil yang tidak seharusnya ada di sana.
Aku suka membayangkan kau membacanya pelan.
Sekali. Lalu sekali lagi.
Bukan karena puisinya rumit, tapi karena ada beberapa kalimat yang memang lebih cocok dibaca ulang daripada dijelaskan.
Mungkin isinya sederhana.
Tentang caramu diam. Tentang matamu yang kadang tampak kuat padahal sedang lelah. Tentang hal-hal kecil yang tidak pernah masuk percakapan besar, tapi justru paling sering tinggal di ingatan.
Tentang bagaimana aku diam-diam mengingatmu lewat hal remeh seperti sisi ranjang yang hangat, wangi rambut yang tertinggal sebentar di bantal, atau cara malam terasa sedikit lebih lunak ketika aku tahu kau masih ada di dunia yang sama, sedang memejamkan mata, sedang mencoba beristirahat dari semua yang tidak sempat kauceritakan.
Aku ingin puisiku tidak terdengar seperti janji besar.
Aku tidak ingin menuliskan langit, bintang, keabadian, atau kata-kata yang terlalu sering dipinjam orang untuk membuat cinta terlihat lebih megah dari yang sanggup mereka rawat.
Aku ingin puisiku terdengar seperti seseorang yang duduk di tepi ranjang, lalu berkata pelan, "hari ini pasti berat, ya," dan kalimat sederhana itu justru membuat dada terasa sedikit longgar.
Kalau kau membacanya berulang sebelum tidur, aku tidak berharap kau menangis.
Aku hanya ingin ada satu perasaan kecil yang tinggal.
Perasaan bahwa di luar semua hal yang membuatmu letih, pernah ada seseorang yang berusaha menaruh kelembutan di tempat paling dekat dengan mimpimu.
Dan kalau suatu hari nanti kita sedang jauh, atau keadaan tidak selalu memudahkan kita untuk saling hadir, aku ingin puisi itu tetap punya pekerjaan kecilnya sendiri.
Menemanimu.
Bukan menggantikan siapa-siapa. Bukan menyembuhkan semuanya.
Hanya menemanimu cukup lama sampai matamu berat, napasmu lebih tenang, dan malam tidak terasa terlalu asing.
Jadi ya, ini keinginan kelimaku.
Aku ingin ada puisiku untukmu di sarung bantal agar bisa kau baca berulang sebelum tidur.
Supaya bahkan saat dunia sudah padam dan percakapan hari itu selesai, masih ada sedikit dariku yang tinggal dengan sopan di dekat kepalamu, membisikkan sesuatu yang lembut sebelum kau benar-benar terlelap.