99 Keinginan #4
Aku ingin suatu hari kita datang ke panti asuhan setiap Sabtu, membawa lagu, tawa, dan kesabaran kecil yang mungkin terdengar sepele, tapi bisa tinggal lama di hati seseorang.
Aku ingin mengajakmu ke panti asuhan dan menjadi guru yang bernyanyi dan tertawa setiap hari Sabtu.
Keinginan ini datang bukan dari hal besar.
Bukan dari pidato.
Bukan dari rasa ingin terlihat baik.
Mungkin justru dari hal yang paling sederhana. Dari bayangan tentang pagi yang tidak terlalu sibuk, ketika kita bangun lebih awal dari biasanya, menyiapkan beberapa buku, beberapa pensil warna, mungkin juga camilan murah yang dibungkus seadanya, lalu pergi bersama ke tempat yang tidak ramai dibicarakan orang kecuali saat mereka sedang merasa iba.
Aku tidak ingin datang ke sana membawa iba.
Aku ingin datang membawa waktu.
Karena kadang yang paling jarang dimiliki seseorang bukan uang, bukan barang, tapi kehadiran yang tidak tergesa dan tidak datang dengan wajah kasihan.
Aku membayangkan halaman panti yang sederhana. Cat tembok yang mulai pudar. Rak sandal di depan pintu. Suara anak-anak yang tidak pernah benar-benar pelan. Selalu ada yang berlari. Selalu ada yang tertawa terlalu keras. Selalu ada satu dua anak yang diam duluan, mengamati dari jauh, seolah sedang memastikan kita hanya akan lewat sebentar atau sungguh-sungguh kembali Sabtu depan.
Aku ingin kita belajar mengingat nama mereka.
Bukan cuma memanggil, "adik."
Tapi nama yang lengkap. Nama yang mungkin jarang diucapkan dengan lembut. Nama yang membuat seseorang merasa dirinya sungguh ada, bukan sekadar bagian dari kerumunan yang nasibnya disamaratakan.
Kamu mungkin akan lebih cepat akrab dari aku.
Aku bisa membayangkan itu dengan jelas.
Kamu duduk di lantai bersama mereka, membuka buku gambar, lalu bernyanyi tanpa malu, meski suaramu mungkin tidak selalu tepat nadanya. Anak-anak akan tertawa. Ada yang ikut bernyanyi keras-keras. Ada yang sengaja salah lirik. Ada yang cuma menepuk-nepuk meja mengikuti irama. Dan entah kenapa, ruangan yang tadinya biasa saja mendadak terasa penuh.
Aku ingin melihatmu di tengah momen seperti itu.
Karena ada jenis keindahan yang tidak muncul dari pakaian bagus atau kata-kata yang rapi.
Ada keindahan yang lahir ketika seseorang benar-benar hadir untuk membuat orang lain merasa sedikit lebih ringan.
Mungkin aku akan kebagian mengajar membaca.
Mendengarkan anak yang terbata-bata mengeja satu kalimat sampai selesai. Membetulkan cara memegang pensil. Menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil yang kadang terdengar lucu, kadang justru menohok karena terlalu jujur.
"Kak, kalau sudah besar, semua orang bisa punya rumah ya?"
Aku tidak tahu apakah aku akan selalu punya jawaban yang baik untuk pertanyaan seperti itu. Mungkin seringnya tidak. Mungkin aku hanya bisa diam sebentar, menarik napas, lalu menjawab seperlunya sambil diam-diam merasa dada dipelintir oleh kenyataan yang terlalu sering tidak adil pada anak-anak.
Tapi mungkin bukan jawaban sempurna yang mereka butuhkan.
Mungkin yang mereka butuhkan kadang hanya seseorang yang tidak buru-buru pergi saat pertanyaan sulit mulai muncul.
Aku ingin setiap Sabtu kita pulang dengan suara serak dan hati yang tidak sama seperti pagi tadi.
Karena aku percaya, kalau kita benar-benar membiarkan diri dekat dengan hidup orang lain, kita tidak akan pulang sebagai orang yang utuh-utuh saja. Pasti ada sesuatu yang tertinggal. Pasti ada sesuatu yang ikut kita bawa.
Mungkin tawa seorang anak yang ompong. Mungkin pelukan mendadak dari tangan kecil yang lengket oleh cokelat. Mungkin tatapan seorang anak yang pura-pura cuek, tapi diam-diam menunggu kita menyebut namanya lagi.
Dan mungkin juga, diam-diam, kita akan membawa pulang rasa sedih yang susah dijelaskan.
Bukan sedih yang putus asa.
Lebih seperti sedih yang membuat kita sadar bahwa dunia terlalu sering gagal menyediakan kelembutan bagi orang-orang yang paling membutuhkannya. Sedih yang tidak membuat kita ingin menjauh, justru membuat kita ingin kembali minggu depan dengan lebih sabar.
Aku ingin keinginan ini tinggal lama di antara kita.
Bukan sebagai proyek.
Bukan sebagai fase.
Tapi sebagai kebiasaan baik yang pelan-pelan membentuk cara kita mencintai. Bahwa cinta tidak hanya hidup saat kita saling memandangi. Cinta juga hidup saat kita berdiri di sisi yang sama, memberi tenaga pada hal-hal kecil yang mungkin tidak mengubah dunia sekaligus, tapi bisa mengubah siang seseorang.
Jadi ya, ini keinginan keempatku.
Aku ingin mengajakmu ke panti asuhan dan menjadi guru yang bernyanyi dan tertawa setiap hari Sabtu.
Supaya kalau hidup suatu saat terasa terlalu keras, kita tetap punya satu tempat untuk mengingat bahwa kelembutan masih bisa dipraktikkan. Bahwa suara kita masih bisa dipakai untuk menyanyikan sesuatu yang baik. Dan bahwa tertawa, di ruangan sederhana bersama anak-anak yang menunggu hari Sabtu, kadang bisa terasa seperti bentuk doa yang paling tulus.