99 Keinginan #3
Aku ingin suatu hari kita berdandan sebaik mungkin, lalu berjalan dari satu pustaka ke kedai kopi lain, seolah kota ini masih punya cukup waktu untuk menampung kita sampai malam.
Aku ingin memakai pakaian yang paling bagus dan kau juga, lalu kita keliling kota, menyinggahi setiap pustaka dan kedai kopi sampai malam hari.
Bukan untuk acara besar.
Bukan untuk bertemu siapa-siapa.
Hanya karena kadang hidup terasa terlalu kusut, dan satu-satunya cara melawannya adalah dengan sengaja terlihat rapi, lalu keluar rumah seolah dunia masih layak disambut dengan hati yang baik.
Aku membayangkan kamu memilih baju dengan lebih lama dari biasanya. Berdiri di depan cermin, mencoba dua atau tiga pilihan, lalu bertanya, "Yang ini terlalu berlebihan nggak?" Padahal yang berlebihan mungkin cuma caraku menatapmu, karena selalu ada sesuatu yang membuatmu tampak lebih tenang ketika kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri.
Aku juga ingin ikut repot.
Menyetrika kemeja yang jarang kupakai. Merapikan kerah. Memilih sepatu yang paling sedikit lecetnya.
Lalu kita keluar sore-sore, ketika matahari mulai lunak dan kota belum sepenuhnya lelah.
Kita masuk ke pustaka pertama tanpa tujuan yang jelas. Hanya berjalan pelan di antara rak-rak, membaca judul buku dengan suara rendah, sesekali saling menunjukkan kalimat yang terasa indah, atau sampul yang membuat kita berhenti lebih lama dari yang perlu. Mungkin kita tidak membeli banyak. Mungkin cuma satu buku tipis yang nanti akan menua di rak rumah. Tapi aku suka gagasan bahwa kita pernah ada di sana, berdiri di antara ribuan halaman, sambil diam-diam memilih mana yang ingin kita bawa pulang.
Setelah itu kita pindah ke kedai kopi.
Bukan yang paling terkenal.
Yang penting lampunya hangat, kursinya tidak terlalu keras, dan ada sudut yang cukup tenang untuk membuat waktu terasa melambat. Kamu memesan yang manis. Aku memesan yang pahit lalu diam-diam menyesal, lalu tetap meminumnya sampai habis supaya terlihat dewasa. Kamu pasti menertawakan itu.
Menjelang malam, kita lanjut lagi.
Pustaka kecil di gang sempit. Kedai kopi dengan jendela besar. Toko buku bekas yang berdebu dan wangi kertas tuanya tinggal di jari.
Aku ingin hari itu panjang, tapi tidak tergesa. Seperti lagu yang tidak berusaha mengesankan siapa-siapa, hanya tahu kapan harus pelan, kapan harus diam.
Dan mungkin di satu titik, saat kota mulai menyalakan lampu-lampunya, aku akan menatapmu dari seberang meja dan merasa sedikit sedih tanpa alasan yang jelas.
Bukan sedih karena ada yang salah.
Justru karena hari seperti itu biasanya terlalu indah untuk tidak mengingatkan kita bahwa semua yang indah selalu bergerak ke arah selesai.
Malam akan datang. Kopi akan habis. Toko-toko akan tutup. Kita akan pulang dengan langkah lebih pelan, membawa bau kertas, sisa gula di lidah, dan kelelahan yang baik.
Tapi mungkin memang itu gunanya keinginan sederhana.
Bukan untuk menahan waktu.
Hanya untuk memberi kita satu hari yang cukup cantik untuk dikenang saat hidup kembali terasa biasa-biasa saja.
Jadi ya, ini keinginan ketigaku.
Aku ingin memakai pakaian yang paling bagus dan kau juga, lalu kita keliling kota, menyinggahi setiap pustaka dan kedai kopi sampai malam hari.
Supaya kalau suatu hari nanti semuanya berubah, setidaknya pernah ada satu hari ketika kita sama-sama tampak baik, kota terasa ramah, dan dunia tidak terburu-buru mengambilmu dariku.