Kembali
Cerpen3 Menit

99 Keinginan #2

Saat orang-orang libur untuk memilih presiden, aku ingin kita memilih tinggal di rumah, memanggang kue favoritmu, dan menikmati jeda kecil yang terasa lebih jujur dari banyak janji.

Aku ingin ketika orang-orang libur memilih presiden, kita memilih libur di rumah sambil belajar kue kesukaanmu.

Bukan karena kita tidak peduli.

Justru mungkin karena kita terlalu sering peduli sampai kepala terasa penuh oleh janji, debat, angka survei, wajah-wajah yang bicara seolah masa depan bisa dibungkus dalam baliho dan dibagikan di tiap lampu merah.

Aku membayangkan pagi yang pelan.

Di luar, jalanan lebih sepi dari biasanya. Tetangga sebelah mungkin sudah mandi pagi-pagi lalu berangkat ke TPS dengan baju santai. Grup keluarga ramai oleh foto jari bertinta. Televisi sibuk membacakan kata penting seperti partisipasi, demokrasi, harapan, seolah semua itu tidak pernah lelah dipakai dan dikecewakan berulang-ulang.

Sementara itu, di dapur, kamu berdiri dengan rambut yang masih agak berantakan, membaca resep dari layar ponsel sambil mengerutkan dahi seperti biasa kalau sedang serius.

"Ini satu sendok teh atau satu sendok makan?"

Dan aku, yang sebenarnya tidak lebih pintar soal baking, akan pura-pura tenang lalu mendekat, ikut menatap layar, sama-sama bingung, sama-sama sok tahu.

Aku suka membayangkan kita gagal dulu.

Tepung terlalu banyak. Adonan terlalu cair. Gula lupa diaduk rata.

Lalu kamu mengeluh kecil, aku tertawa, kamu bilang jangan ganggu, tapi tetap menyuruhku pegang mangkuk karena tanganmu belepotan mentega.

Ada sesuatu yang menenangkan dari hidup yang sesederhana itu.

Di satu sisi negeri ini sedang sibuk menentukan siapa yang akan memegang kuasa.

Di sisi lain, kita sibuk menentukan apakah loyang ini perlu dioles mentega lagi.

Kedengarannya sepele, ya. Tapi justru itu yang kusuka. Karena di tengah hal-hal besar yang sering terasa jauh dari jangkauan, kita masih punya ruang untuk mengurus hal kecil dengan sepenuh hati.

Kue kesukaanmu mungkin tidak langsung jadi bagus.

Permukaannya bisa retak. Pinggirnya mungkin agak gosong. Bentuknya mungkin miring dan jauh dari foto resep yang terlalu cantik.

Tapi aku tahu kita tetap akan memakannya sambil duduk di lantai ruang tamu, piring di tengah, jendela setengah terbuka, bau manis masih tinggal di tangan. Kamu akan bilang rasanya hampir mirip. Aku akan bilang lebih enak dari yang dijual di toko, meski mungkin itu tidak sepenuhnya benar. Lalu kita tertawa karena sama-sama tahu aku sedang melebih-lebihkan.

Dan entah kenapa, aku merasa itu juga bagian dari mencintai.

Bukan cuma hadir saat dunia sedang besar-besarnya.

Tapi juga saat dunia mengecil jadi dapur, oven, remah-remah di meja, dan dua orang yang tidak sedang menyelamatkan negara, hanya sedang berusaha membuat hari terasa hangat.

Mungkin nanti siang kita tetap keluar sebentar ke TPS.

Mungkin kita tetap menjalankan hal yang perlu dijalankan.

Tapi yang ingin kusimpan dari hari itu bukan antrean, bukan tinta di jari, bukan berita cepat dari layar kaca.

Yang ingin kusimpan adalah kamu yang menjilat sedikit adonan dari ujung sendok lalu bilang, "Kayaknya kurang manis."

Dan aku yang diam-diam merasa, kalau suatu hari nanti hidup kembali ribut dan mengecewakan, mungkin kenangan kecil seperti itulah yang akan paling menolong.

Jadi ya, ini keinginan keduaku.

Aku ingin ketika orang-orang libur memilih presiden, kita memilih libur di rumah sambil belajar kue kesukaanmu.

Supaya di tengah semua orang yang sibuk memilih masa depan, kita juga sempat memilih satu hal yang sederhana.

Tinggal. Belajar. Dan saling menemani sampai kue itu matang.