Kembali
Cerpen3 Menit

99 Keinginan #1

Aku ingin satu hari nanti kita berdiri di jalan yang sama, untuk membela anak-anak yang cuma ingin sekolah tanpa dipersulit oleh negara.

Aku ingin kita berdua ikut demo bersama mahasiswa jika pemerintah menyusahkan rakyatnya yang ingin sekolah.

Bukan karena aku ingin terlihat berani.

Bukan juga karena aku sedang ingin marah-marahan di jalan sambil memegang poster.

Aku hanya terlalu sering melihat negeri ini lebih cepat ribut soal makanan gratis daripada sungguh-sungguh beres soal pendidikan gratis. Seolah-olah anak-anak cukup dibuat kenyang hari ini, lalu besok tidak apa-apa kalau mereka tetap pulang ke rumah dengan sekolah yang mahal, syarat yang berlapis, dan masa depan yang dipersulit dari awal.

Padahal menyakitkan sekali kalau isi piring dianggap lebih mendesak untuk dibela daripada isi kepala.

Aku tidak bilang makan tidak penting. Justru karena makan penting, aku ingin negara berhenti bertingkah seolah itu sudah cukup. Anak-anak tidak cuma butuh kenyang untuk bertahan. Mereka juga butuh belajar untuk punya jalan keluar.

Karena itu aku membayangkan kita berdiri di tengah kerumunan mahasiswa pada satu siang yang panas. Tenggorokan kering. Baju lengket. Jalanan penuh suara yang akhirnya berani jadi satu. Dan di antara poster, toa, dan orang-orang yang capek diperlakukan tidak adil, aku bisa menoleh lalu melihat kamu ada di sebelahku.

Bukan di rumah sambil bilang hati-hati.

Tapi di sana. Datang. Tinggal.

Mungkin kamu akan mengikat rambutmu asal. Mungkin aku akan lupa bawa topi lalu mengeluh. Kita beli air mineral di minimarket dekat kampus, berbagi roti seadanya, lalu berdiri lagi saat teriakan mulai naik.

Ada yang bersuara soal uang sekolah yang makin gila. Ada yang bersuara soal gedung roboh dan anggaran yang hilang entah ke mana. Ada yang bersuara soal anak-anak yang gagal belajar bukan karena mereka bodoh, tapi karena sistem terlalu mahal untuk ditaklukkan.

Aku ingin kita ada di situ tanpa sok suci. Karena kita juga pernah terlalu nyaman, terlalu sibuk, terlalu mudah bilang kasihan tanpa benar-benar bergerak.

Makanya keinginan ini penting bagiku. Bukan supaya kita terlihat heroik. Hanya supaya kita tidak terus jadi penonton.

Kalau keadaan memanas, aku ingin kita tetap manusia. Tetap takut. Tetap panik. Tapi tetap tahu bahwa keberanian kadang cuma berarti satu hal kecil, datang walau tahu dunia sedang tidak ramah.

Lalu saat semuanya bubar, kita menepi ke warung kecil. Minum es teh yang terlalu manis. Duduk sama-sama kusut. Sama-sama lelah. Dan tahu bahwa hari itu mungkin tidak langsung mengubah negara, tapi setidaknya kita pernah berdiri di tempat yang benar.

Jadi ya, ini keinginan pertamaku.

Aku ingin kita berdua ikut demo bersama mahasiswa jika pemerintah menyusahkan rakyatnya yang ingin sekolah.

Supaya kalau suatu hari ada anak yang akhirnya bisa belajar tanpa dipatahkan biaya sejak awal, kita tahu bahwa setidaknya sekali, kita tidak memilih diam.