2 Menit

99 Keinginan #10

Aku ingin tetap memboncengmu sampai rambut kita memutih, berhenti di lampu merah sambil tertawa kecil, seolah dunia tidak pernah terlalu buru-buru untuk dua orang yang saling pulang.

Aku ingin kursi boncengan terakhir motor ini tetap jadi milikmu.

Bukan cuma hari ini, saat kita masih suka keliling kota tanpa tujuan.

Tapi juga nanti, saat rambut kita mulai dipenuhi uban tipis, saat jaketmu kebesaran di bahu, saat aku harus menurunkan kecepatan karena lutut sudah tidak seceria dulu.

Aku ingin tetap menjemputmu sore-sore.

Kamu keluar rumah sambil bawa tote bag yang isinya entah apa. Aku pura-pura bilang, "Cepet naik, macet." Padahal diam-diam aku senang karena masih bisa melihatmu berjalan ke arahku seperti itu, seperti kebiasaan yang tidak pernah bosan menjadi manis.

Lalu kita jalan.

Melewati gang sempit. Melewati lampu merah yang terlalu lama. Melewati gerobak gorengan yang aromanya selalu berhasil bikin kita batal diet.

Di lampu merah, aku ingin kamu menepuk pundakku pelan lalu bilang, "Jangan ngebut." Aku jawab, "Iya, Bu." Kamu ketawa. Aku ikut ketawa, meski helm menutup setengah wajah kita.

Ada bahagia yang bentuknya memang begitu.

Tidak mewah. Tidak dramatis.

Hanya dua orang di atas motor tua, satu tangan memegang gas, satu hati memegang rasa syukur karena sampai hari ini masih ada punggung yang bisa kamu sandari.

Aku ingin kita tetap punya kebiasaan kecil itu.

Mampir beli es teh plastik. Berhenti sebentar lihat langit sore. Salah jalan lalu saling menyalahkan sambil cekikikan.

Dan saat hujan turun mendadak, kita berteduh di bawah atap warung. Kamu mengeluh helmku bau hujan. Aku bilang rambutmu berantakan. Kamu cemberut pura-pura marah, lalu ujung bibirmu tetap naik sedikit.

Di momen seperti itu, aku selalu merasa hidup tidak harus sempurna untuk terasa sangat indah.

Cukup ada kamu di belakangku, memeluk pinggangku sedikit lebih erat saat jalan berlubang, lalu melepaskan pelan saat kita sampai rumah.

Suatu hari nanti, kalau orang-orang bertanya apa bentuk cinta yang paling ingin kupunya sampai tua, jawabanku mungkin sederhana.

Bukan makan malam mahal. Bukan foto liburan yang rapi.

Tapi kursi boncengan yang tidak pernah kosong.

Karena selama kamu masih duduk di sana, dunia sesibuk apa pun tetap terasa seperti perjalanan pulang.