2 Menit

99 Keinginan #11

Aku ingin duduk di kursi belakang bus malam bersamamu, membagi headset yang sama, dan menyerah pada pertanyaan lagu yang tahu persis di mana letak lubang di dada kita.

Aku ingin duduk bersamamu di kursi paling belakang bus malam ini.

Bukan karena aku ingin melihat jalanan. Pemandangannya buruk, hanya pantulan lampu merkuri yang basah dan papan iklan yang menawarkan kebahagiaan yang tidak mampu kita beli.

Aku memilih kursi belakang karena dari sini, aku bisa melihat seluruh isi bus yang bergerak menuju tujuannya masing-masing, sementara kita hanya bergerak menjauhi satu sama lain tanpa benar-benar berpindah tempat duduk.

Kita naik tanpa suara. Kamu di sisi jendela, menempelkan dahi ke kaca yang dingin. Aku di sampingmu, menjaga jarak beberapa senti yang rasanya lebih lebar dari Samudra Hindia.

"Satu lagu?" tanyaku.

Kamu hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. Aku mengulurkan headset sebelah kiri. Kamu memasangnya. Kabelnya menjuntai di antara kita—satu-satunya hal yang masih menghubungkan dua kepala yang sedang memikirkan cara untuk pergi.

Lalu suara Hindia masuk. Untuk Apa / Untuk Apa? terputar.

Di detik lagu baru dimulai, pertanyaan itu langsung terasa dekat, seperti sedang menunjuk tepat ke arahku.

Aku menatap profil samping wajahmu yang disinari lampu jalanan yang lewat. Aku ingat dulu aku pernah begitu bangga bisa memberimu segalanya. Jam tangan yang berkilau, sepatu yang tren, ponsel baru, meja makan yang penuh benda mahal. Aku pamer pada dunia bahwa "ada" adalah bukti aku mencintaimu.

Tapi malam ini, di kursi bus yang sempit dan berbau apek ini, aku sadar betapa tololnya asumsi itu.

Aku punya semua barangnya, tapi aku kehilangan orangnya. Aku punya rumahnya, tapi aku kehilangan "pulang" nya. Aku sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk menumpuk rencana, sampai aku lupa merawat "kita" yang ada di depan mata.

Aku baru paham kenapa lagu itu terdengar kejam. Karena ia mengingatkan hal yang paling sederhana, kasur luas pun terasa dingin kalau bangunnya sendiri. Mobil baru pun terasa hampa kalau kursi kiri kosong terlalu lama.

Bus mengerem mendadak di perempatan Senen. Guncangannya membuat bahumu sedikit menempel ke bahuku. Sedetik. Hanya sedetik, sebelum kamu kembali menarik diri seolah aku adalah bara api.

Lagu itu terus berputar, dan setiap kalimatnya seperti menagih jawaban yang selama ini sengaja kutunda.

Kamu melepas headset sebelahmu saat lagu sampai di bagian yang paling sunyi. Kamu meletakkannya dengan pelan di telapak tanganku, seperti mengembalikan kunci rumah yang sudah tidak ingin kamu huni lagi.

"Aku turun di sini ya," katamu rendah.

Suaramu tidak bergetar. Dan itu yang paling menyakitkan. Kamu tidak sedang marah, kamu hanya sedang selesai.

Aku ingin menarik lengan bajumu. Ingin minta supir bus untuk terus melaju sampai bensinnya habis. Ingin menego takdir agar lagu ini tidak pernah sampai ke ujungnya. Tapi aku hanya diam. Menjadi penonton saat kamu berdiri, berjalan menyusuri lorong bus, dan menghilang di balik pintu otomatis yang menutup dengan desis yang terdengar seperti ejekan.

Bus kembali berjalan.

Aku memasang kembali headset sebelah kiri itu ke telingaku sendiri. Sekarang kedua lubang telingaku penuh dengan suara Hindia, tapi duniamu sudah kosong melongpong.

Pertanyaan lagu itu tetap sama, untuk apa semua ini.

Kali ini, aku tidak punya barang mahal apa pun untuk dijadikan jawaban.