2 Menit

99 Keinginan #12

Aku ingin punya rumah yang suaranya tidak berisi bentakan, piring pecah, atau tangis yang ditahan. Rumah yang membiarkan anak kecil jadi anak kecil.

Aku ingin punya rumah kecil yang tidak membuatku takut pulang.

Rumah yang lampunya hangat. Rumah yang pintunya dibuka dengan senyum. Rumah yang malamnya tidak diisi suara benda jatuh dan orang saling melukai.

Waktu kecil, aku kira semua rumah memang seperti rumahku. Dinding tipis, ruang tamu yang sekaligus jadi ruang makan, dan suara dari kamar depan yang bisa terdengar sampai dapur.

Yang kudengar hampir selalu sama.

Teriakan. Kata-kata tajam. Piring pecah yang suaranya tinggal lama di kepala.

Aku baru tahu itu tidak normal saat melihat temanku mengeluh hal sederhana, diminta tidur siang, dimarahi karena main hujan-hujanan, lalu tetap memeluk ibunya sebelum pulang sekolah. Aku iri pada hal-hal yang bagi orang lain terasa biasa.

Aku iri pada rumah yang aman.

Di rumahku, aku belajar membaca suasana sebelum belajar membaca buku.

Kalau suara pintu dibanting, aku masuk kamar. Kalau nada bicara mulai naik, aku mengecilkan volume televisi. Kalau sendok dibanting ke meja, aku menahan napas beberapa detik, menunggu malam lewat tanpa pecah yang lebih besar.

Aku jadi dewasa terlalu cepat.

Umur ketika anak lain main petak umpet, aku menghitung uang belanja. Umur ketika anak lain merengek minta mainan, aku belajar menenangkan diri sendiri yang gemetar. Umur ketika anak lain takut gelap, aku justru takut suara langkah menuju ruang tengah.

Ada kalimat yang paling sering kuulang dalam hati saat itu.

Bertahan dulu. Besok mungkin lebih baik.

Tapi besok sering datang dengan wajah yang sama.

Sampai akhirnya aku terbiasa mandiri bukan karena kuat, tapi karena tidak ada pilihan. Aku belajar masak dari video acak, kerja sambilan, dan pura-pura baik-baik saja supaya tak ada yang bertanya terlalu dalam.

Lucunya, orang sering memuji.

"Kamu dewasa banget." "Kamu tangguh." "Kamu nggak manja."

Mereka tidak tahu, itu bukan bakat. Itu luka yang terlalu lama kupakai sebagai cara hidup.

Sekarang kalau ditanya keinginanku, jawabannya tetap sederhana.

Aku ingin punya rumah yang tidak menuntut anak jadi penjaga perdamaian. Rumah yang tidak memaksa anak memilih memihak ayah atau ibu. Rumah yang tidak mengajarkan bahwa cinta itu selalu berisik dan menyakitkan.

Aku ingin, suatu hari nanti, pulang tanpa perlu menebak-nebak apakah malam ini aman.

Aku ingin anak kecil di rumah itu bisa tertawa keras tanpa takut dibentak. Bisa menangis tanpa disebut lemah. Bisa tidur tanpa memeluk cemas.

Karena seharusnya masa kecil bukan medan perang.

Masa kecil seharusnya teras kecil untuk main sore, gang sempit untuk lari-larian, baju yang kotor karena jatuh lalu bangun lagi, dan kepala penuh imajinasi.

Bukan kepala yang penuh strategi bertahan.