2 Menit

99 Keinginan #13

Aku ingin memelihara kucing agar ada yang menemanimu membaca buku, karena aku tahu tidak semua malam bisa kutemani sendiri.

Aku ingin memelihara kucing agar ada yang menemanimu membaca buku.

Bukan karena rumahmu akan terlihat lebih hangat. Bukan juga karena rak bukumu akan terlihat lebih manis di foto.

Aku cuma tahu ada malam-malam yang tidak bisa kuperpendek untukmu. Dan di malam seperti itu, kamu selalu membaca.

Kadang satu novel tipis. Kadang esai yang kamu bilang membosankan, tapi tetap kamu bawa ke kasur. Kadang buku lama dengan halaman yang mulai menguning di ujungnya.

Kamu membaca seperti orang yang sedang menunggu sesuatu reda.

Jam setengah dua pagi kamu bisa mengirim pesan singkat.

"aku lanjut satu bab lagi ya"

Atau

"ini bukunya bagus. nggak ganggu aku"

Pertama kali baca itu, aku sempat senyum. Lalu aku sadar, rupanya kamu memang memilih cerita yang tidak banyak menuntut, supaya kepalamu bisa istirahat sebentar.

Jadi suatu malam aku bilang,

"aku mau pelihara kucing."

Kamu membalas,

"kenapa?"

"biar ada yang nemenin kamu baca kalau aku nggak bisa"

Setelah itu lama sekali tidak ada pesan masuk. Aku sampai mengira kamu ketiduran.

Lalu muncul balasanmu.

"jangan ngomong gitu kalau kamu nggak beneran"

Aku menatap layar cukup lama. Bukan karena bingung harus jawab apa, tapi karena baru kali itu aku sadar ada betapa banyak sepinya yang kamu rapikan sendirian.

Besok malamnya kamu mengirim foto seekor kucing.

Dia duduk di depan pintu kosmu. Bulunya abu-abu kusam. Wajahnya biasa saja. Tidak seperti kucing yang sengaja dipilih orang untuk dipelihara.

Tapi caranya duduk tenang sekali, seperti dia tahu pintu mana yang harus ditunggu.

"dia dari tadi di sini," tulismu.

"kasih makan?"

"udah"

"terus?"

"nggak pergi"

Beberapa menit kemudian kamu kirim foto kedua.

Bukumu terbuka di meja. Lampu belajar menyala. Dan kucing itu sudah pindah ke kursi sebelah, meringkuk kecil, dengan ekor menjuntai dekat tanganmu.

"dia nemenin"

Entah kenapa, aku langsung membayangkan suasana kamarmu malam itu. Sunyi yang tidak terlalu menusuk. Suara halaman dibalik pelan-pelan. Dan tubuh kecil yang hangat di dekatmu, tanpa perlu mengatakan apa-apa.

Sejak itu dia datang hampir setiap malam.

Tidak selalu lama. Kadang hanya satu jam. Kadang sampai kamu selesai membaca.

Kamu mulai sering bercerita soal dia, tapi dengan cara yang tetap kamu sekali.

"hari ini dia tidur di kamus"

"barusan dia geser pembatas bukuku"

"kayaknya dia nggak suka aku baca yang sedih-sedih"

Lalu suatu malam, di antara pesan-pesan kecil itu, kamu mengirim satu kalimat yang membuatku diam lama sekali.

"ternyata enak ya, ditemenin tanpa harus cerita apa-apa"

Kalimat itu lembut sekali. Tapi justru karena itu, aku merasa ingin memelukmu.

Aku tidak membalas panjang. Aku cuma bilang,

"iya. harusnya dari dulu ada yang begitu."

Minggu berikutnya aku datang membawa makanan kucing. Aku sudah membayangkan banyak hal kecil.

Mungkin kita bisa kasih dia nama. Mungkin nanti dia mulai tidur di tumpukan bukumu. Mungkin suatu hari aku datang dan melihat kamu membaca, lalu dia tertidur di pangkuanmu, dan entah kenapa pemandangan itu terasa cukup untuk membuat hidup terlihat lebih jinak.

Tapi malam itu dia tidak ada.

Kursi di sebelah meja kosong. Terasmu sepi.

"ke mana kucingnya?" tanyaku.

Kamu menggeleng pelan.

"udah dua malam nggak datang."

"dicari?"

Kamu tersenyum kecil, tipis sekali.

"nggak."

"kenapa?"

Kamu menoleh ke bukumu yang terbuka.

"takut kalau ternyata dia memang cuma mampir buat bagian yang ini."

Aku tidak langsung mengerti. Sampai kulihat halaman yang sedang kamu baca.

Di tengah lipatan bukunya, ada satu helai bulu abu-abu terselip rapi seperti penanda.

Kamu mengikuti tatapanku, lalu berkata pelan,

"sekarang aku udah bisa baca sampai ngantuk."

Setelah itu kami tidak membahas kucing itu lagi. Tidak malam itu, tidak juga malam-malam berikutnya.

Tapi sejak saat itu, setiap kali kamu bilang ingin membaca, aku selalu membayangkan ada sesuatu yang lembut pernah singgah di hidupmu. Sesuatu yang tidak tinggal, tapi sempat membuat sepi terasa lebih ramah.

Mungkin aku memang tidak jadi memelihara kucing.

Tapi kalau suatu malam nanti aku tidak bisa ada di sana, dan kamu membaca sampai larut, semoga tetap ada hangat kecil di dekat tanganmu.

Tidak harus selalu aku.

Asal ada yang menemanimu sampai matamu pelan-pelan berat, dan halaman terakhir malam itu bisa kamu tutup tanpa takut apa-apa.