2 Menit

99 Keinginan #14

Aku ingin ada satu laki-laki saja yang tidak membuatku merasa harus mengecil, sebab aku sudah terlalu lama hidup sebagai anak yang selalu kebagian sisa tempat.

"Salah sendiri kenapa dari dulu nggak ikut ayah."

Kalimat itu pernah dikatakan ibuku dengan suara datar, seperti orang menyebut cuaca.

Beberapa tahun sebelumnya, ayahku pernah mengatakan hal yang hampir sama.

"Kalau ikut ibu terus, jangan kebanyakan ngeluh."

Sejak kecil aku memang cuma seorang anak perempuan yang dipindah-pindah di antara dua rumah, tanpa pernah benar-benar diajari bagaimana rasanya pulang.

Ayah dan ibuku tidak serumah. Mereka juga tidak akur, bukan cuma satu sama lain, tapi juga denganku, anak perempuan yang selalu datang bersama sejarah yang tidak mereka suka ingat.

Ayahku sudah punya keluarga baru. Ibuku juga. Aku sempat tinggal mengikuti ayah, lalu pindah ke ibu, lalu kembali lagi seperti barang yang masih layak dipakai tapi tidak ada yang sungguh ingin simpan.

Di rumah ayah, aku belajar mengecil supaya tidak mengganggu susunan yang sudah rapi tanpa aku. Di rumah ibu, aku belajar bahwa diterima dan diinginkan ternyata dua hal yang berbeda.

Maka aku tumbuh dengan kebiasaan yang sepi. Bicara seperlunya. Duduk secukupnya. Merasa secukupnya.

Yang paling aneh, kadang aku iri.

Iri melihat meja makan ayah yang tampak hangat untuk semua orang kecuali aku. Iri melihat ibu tertawa lepas di rumah barunya, seperti perempuan yang tidak pernah kehilangan anak di tengah jalan.

Aku sering duduk di dua ruang tamu yang berbeda sambil merasa sama-sama berlebih. Seperti tamu yang terlalu lama tinggal.

Padahal, kalau mau jujur, orang tuaku tidak seburuk itu.

Ayahku masih ingat aku suka mi kuah kalau sedang hujan. Kadang ia pulang membawa itu tanpa berkata apa-apa, lalu meletakkannya di meja seperti orang yang tidak tahu cara bilang aku dipikirkan.

Ibuku juga tidak sepenuhnya dingin. Sesekali ia mengirim pesan pendek menanyakan aku sudah makan atau belum, lalu menghilang lagi sebelum percakapan sempat terasa hangat.

Mungkin mereka memang sayang. Hanya saja sayangnya selalu datang setengah jalan, lalu berhenti sebelum sempat terasa utuh.

Ayahku tidak selalu berteriak. Kadang ia hanya memotong kalimatku di tengah, lalu tertawa kecil dan berkata, "kamu ini kebanyakan perasaan."

Lucunya, kalimat seperti itu tinggal lebih lama dari bentakan. Ia menetap di kepala seperti paku kecil. Tidak mematikan, tapi cukup untuk membuatmu hati-hati setiap kali hendak menjadi diri sendiri.

Ibu tidak sekasar ayah. Ia hanya punya jarak yang dingin.

Kalau aku terlalu lama diam, ia tidak bertanya. Kalau aku menangis, ia menyuruhku cuci muka. Kalau aku pulang dengan mata bengkak setelah bertengkar dengan dunia, ia cukup bilang, "jangan bawa masalah ke rumah."

Aku sering ingin bertanya rumah yang mana. Rumah ayah bukan milikku. Rumah ibu juga terasa pinjaman. Dan tubuhku sendiri sudah terlalu lama kugunakan sebagai tempat menaruh panik.

Jadi waktu aku bertemu kamu, aku kira untuk pertama kalinya aku akan diperlakukan dengan lembut.

Kamu tidak seperti ayahku. Kamu tidak mengangkat suara. Kamu tidak membuat gelas beradu dengan meja. Kamu tidak punya kemarahan yang berisik.

Kamu hanya punya cara yang lebih manis untuk membuatku mengecil.

Kalau aku sedang sedih, kamu bilang aku terlalu larut. Kalau aku sedang marah, kamu bilang aku terlalu sensitif. Kalau aku sedang mencoba jujur, kamu bilang aku membuat semuanya terasa berat.

Lalu di akhir percakapan, kamu biasa mengusap kepalaku pelan-pelan seperti orang yang sabar sekali menghadapi anak kecil.

Dari luar, mungkin itu terlihat seperti kasih sayang. Padahal diam-diam aku sedang dikembalikan ke ukuran yang paling kecil.

Aku mulai menyadarinya dari hal-hal yang nyaris tak terlihat.

Setiap hendak mengirim pesan panjang kepadamu, aku akan menghapus setengahnya. Setiap ingin protes, aku akan mengganti kata-kataku dengan versi yang lebih jinak. Setiap ponselmu bergetar, ada bagian kecil dalam tubuhku yang langsung berdiri tegak, seperti murid yang namanya baru saja dipanggil guru.

Tubuh memang sering lebih jujur daripada mulut. Ia tahu siapa yang membuat kita kembali jadi anak kecil, bahkan sebelum kepala sempat mengakuinya.

Suatu malam kita makan di tempat biasa. Aku bercerita tentang hariku yang buruk, tentang betapa lelahnya aku pura-pura baik-baik saja di kantor, ketika kamu memotong dengan tawa pendek.

"kamu tuh kalau cerita selalu kebanyakan."

Kamu mengucapkannya sambil tersenyum. Ringan. Hampir mesra.

Dan justru itu yang membuat dadaku sunyi sekali.

Seketika aku merasa seperti duduk di dua rumah sekaligus. Di satu rumah aku takut salah bicara. Di rumah yang lain aku tahu tidak ada yang benar-benar ingin mendengar sampai selesai.

Untuk beberapa detik, aku tidak melihat wajahmu. Aku melihat seorang anak perempuan yang dari dulu sibuk melipat dirinya sendiri. Supaya muat. Supaya tidak merepotkan. Supaya kalau suatu hari ditinggal lagi, kepergiannya tidak terdengar terlalu keras.

Di situlah aku mengerti sesuatu yang selama ini selalu lolos dari tanganku.

Aku tidak jatuh cinta pada ketenangan. Aku hanya tersesat ke sesuatu yang terasa akrab.

Dan yang akrab, ternyata, belum tentu aman.

Malam itu aku pulang lebih dulu. Di kamar, aku berdiri lama di depan cermin dan mencoba membayangkan seperti apa wajahku kalau seumur hidup tidak sibuk minta maaf.

Sulit sekali.

Seperti mencari bentuk asli selembar kertas yang terlalu lama hidup dalam lipatan.

Besok paginya kamu mengirim pesan.

"jangan ngilang gitu dong"

Lalu beberapa menit kemudian

"kalau aku salah ya aku minta maaf, tapi kamu juga jangan terlalu sensitif"

Dulu aku pasti akan buru-buru menenangkanmu. Menenangkan suasana. Menenangkan luka yang bahkan bukan kubuat.

Tapi pagi itu aku lelah dengan cara yang jernih.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengecil agar tetap bisa disayang. Lelah menjadi anak yang dari satu rumah ke rumah lain hanya kebagian ruang sisa.

Jadi untuk pertama kalinya, aku membalas tanpa menghapus apa pun.

"aku nggak terlalu sensitif. aku cuma terlalu sering dipaksa hidup sekecil itu."

Setelah kukirim, tanganku gemetar. Bukan karena takut kehilanganmu.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku tidak sedang memilih siapa-siapa. Aku sedang memilih diriku sendiri.

Aku tidak tahu apakah sesudah itu hidup langsung menjadi lebih ringan. Biasanya luka tidak sopan seperti itu. Ia suka tinggal lama, bahkan setelah pintunya ditutup.

Tapi setidaknya malam itu aku paham satu hal.

Aku tidak dilahirkan untuk pelan-pelan menghilang. Aku tidak tercipta untuk terus-menerus minta maaf karena punya hati. Aku tidak berlebihan.

Aku cuma terlalu lama hidup di antara orang-orang yang merasa nyaman kalau aku kecil.

Dan mungkin sembuh memang sesederhana itu mulainya.

Dari satu kalimat yang akhirnya tidak kutelan. Dari satu perempuan yang, meski gemetar, memilih berdiri dengan ukuran dirinya sendiri.