99 Keinginan #15
Aku ingin sekali lagi mendengar ibu memanggilku untuk makan dari dapur, karena tidak ada suara lain yang pernah membuat rumah terasa sesederhana itu.
Aku ingin sekali lagi mendengar ibu memanggilku untuk makan dari dapur.
Bukan untuk jamuan besar.
Bukan juga karena meja makan kami dulu selalu penuh.
Justru yang kurindukan itu hal yang paling biasa.
Suara sendok sayur membentur bibir panci. Tutup kaca yang diangkat lalu diletakkan miring. Langkah ibu dari dapur ke ruang tengah.
Lalu suaranya.
"Makan dulu."
Kadang namaku disebut penuh. Kadang cuma,
"Nak."
Kalau aku menjawab, "Bentar," ibu pasti memanggil sekali lagi lima menit kemudian, dengan nada yang sedikit naik karena tahu aku tidak benar-benar sedang sibuk, hanya terlalu malas beranjak dari kamar.
Dulu aku menganggap itu gangguan kecil yang akan selalu ada.
Aku sering menunda. Merapikan rambut dulu. Membalas pesan dulu. Menyelesaikan satu halaman buku dulu.
Ibu akan tetap menungguku di meja.
Nasinya sudah ditaruh. Ikan digoreng agak kering karena aku tidak suka yang lembek. Sambal dipisah di mangkuk kecil.
Ia tidak banyak bertanya waktu itu. Paling hanya,
"Tadi ke kampus gimana?"
Atau,
"Temanmu yang suka datang itu mana?"
Lalu aku mulai bercerita sedikit. Ia menyimak sambil memisahkan duri ikan di piringku, padahal tanganku sendiri sehat dan aku sudah cukup besar untuk melakukannya.
Sekarang ibu sudah tidak ada. Sore di rumah habis lebih cepat.
Tidak ada yang memanggil dari dapur. Tidak ada yang bilang nasinya keburu dingin. Tidak ada yang pura-pura kesal saat aku makan sambil melihat ponsel.
Aku bisa makan kapan saja sekarang. Kadang jam empat. Kadang habis isya. Kadang sambil berdiri di dapur.
Sekarang semua makanan bisa kupesan sendiri. Bisa datang dalam dua puluh menit. Bisa lebih enak. Bisa lebih murah.
Tapi tidak ada aplikasi yang bisa mengantar suara ibu dari dapur.
Tidak ada yang bisa meniru cara ia memanggil namaku seperti itu.
Biasa saja. Sedikit serak. Sedikit terburu-buru. Sedikit seperti orang yang sudah hafal anaknya pasti menunda.
Aku tidak minta waktu diputar balik jauh-jauh. Aku tidak minta satu rumah penuh kembali utuh.
Aku cuma ingin satu sore lagi.
Aku di kamar. Ibu di dapur. Lalu suaranya sampai ke pintuku.
"Makan dulu."
Dan kali ini aku tidak akan menjawab, "Bentar."
Akan langsung bangun. Akan langsung ke meja. Akan duduk lebih lama. Akan mendengarkan pertanyaan-pertanyaan kecilnya sampai habis, bahkan yang dulu terasa berulang.
Aku ingin satu kali saja lagi dipanggil seperti itu.
Biar aku tahu ke mana harus berjalan saat suara itu datang.