99 Keinginan #16
Aku ingin sekali saja memutar pesan suaramu sampai habis tanpa merasa lututku kosong, sebab ada kalimat-kalimat yang tidak sempat jadi perpisahan, tapi tetap menghukum orang yang ditinggalkan.
"Aku capek. Besok aja, ya."
Kalimat itu yang terakhir kukirim sebelum lelaki yang kucintai tidak pernah sampai rumah.
Waktu menulisnya, aku bahkan tidak merasa sedang kejam.
Aku sedang kesal. Mataku panas. Punggungku pegal setelah hari yang buruk. Dan aku terlalu yakin bahwa cinta selalu punya besok untuk dipakai memperbaiki nada bicara.
Ia menelepon tiga kali malam itu.
Yang pertama tidak kuangkat karena aku masih ingin didiamkan. Yang kedua kulihat menyala di layar, lalu kubalikkan ponsel ke kasur. Yang ketiga tidak kudengar karena aku sedang mandi.
Sesudahnya ada satu pesan suara.
Durasinya delapan belas detik.
Sampai hari ini aku masih tahu angka itu tanpa perlu membuka apa-apa.
Aku tidak pernah memutarnya sampai habis.
Pernah sekali, beberapa hari setelah pemakamannya, jariku sempat menekan tombol play. Suaramu baru masuk dua kata, lalu aku mematikannya lagi begitu cepat sampai ponsel hampir jatuh dari tangan.
"Sayang, aku..."
Hanya itu yang berani kudengar.
Setelahnya, suara lain akan datang lebih keras dari mana pun.
Suara petugas yang menelepon dari nomor asing. Suara kursi plastik rumah sakit yang ditarik. Suara ibumu yang pecah di lorong. Suara orang-orang yang bilang sabar seolah kata itu punya tangan dan bisa menahan tubuh seseorang supaya tidak runtuh.
Dari semua itu, yang paling jahat justru delapan belas detik itu.
Bukan baju kerjamu yang masih tergantung di balik pintu. Bukan jam tanganmu di laci. Bukan sikat gigi yang masih berdiri sendiri di gelas plastik kamar mandi.
Tapi segitiga kecil di layar ponsel yang belum berani kutekan lagi.
Karena selama pesan itu belum selesai kudengar, ada bagian bodoh dalam diriku yang masih hidup seperti anak kecil bersembunyi di bawah meja.
Bagian yang percaya mungkin isinya hanya napasmu. Mungkin suara jalan. Mungkin kamu cuma bilang mau pulang agak malam.
Bagian yang terus menipu aku dengan kemungkinan-kemungkinan kecil supaya malam bisa lewat tanpa terlalu tajam.
Padahal aku tahu.
Yang ada di sana kemungkinan besar cuma satu lelaki lelah yang masih sempat melunakkan suaranya untuk perempuan yang menjawab telepon dengan dingin, lalu berkata ia capek, besok saja.
Sejak itu aku jadi takut pada kalimat biasa.
"Nanti aja." "Besok aja." "Aku capek."
Tiga kalimat itu pendek. Tidak beracun. Tidak terdengar seperti akhir dunia.
Tapi rupanya penyesalan paling panjang memang lahir dari kalimat yang diniatkan untuk menunda, bukan mengakhiri.
Sekarang aku hidup baik-baik saja dari luar.
Aku pergi kerja. Aku menjawab pesan. Aku tertawa kalau ada yang lucu. Aku bahkan sesekali lupa tanggal kematianmu sampai malam datang dan layar ponsel mendadak terasa terlalu terang.
Duka memang aneh begitu.
Ia tidak selalu datang sebagai tangis. Kadang ia datang sebagai jempol yang berhenti di rekaman suara. Kadang sebagai kebiasaan menatap notifikasi lebih lama dari yang perlu. Kadang sebagai keinginan gila untuk kembali menjadi perempuan yang malam itu memilih mengangkat telepon ketiga.
Karena itu keinginanku sederhana, meski aku tahu mustahil.
Aku ingin sekali saja memutar pesan suaramu sampai habis.
Bukan untuk mendengar apa yang kaukatakan. Bukan lagi.
Aku ingin melakukannya supaya setelah delapan belas detik itu selesai, aku akhirnya bisa berhenti membayangkan versi hidup yang terus berulang di kepalaku.
Versi di mana aku menjawab lebih lembut. Versi di mana kamu pulang. Versi di mana besok benar-benar datang untuk kita berdua.