99 Keinginan #17
Ada hari-hari ketika cinta tidak terdengar seperti janji besar. Ia terdengar seperti satu permintaan kecil yang diulang pelan pelan. Jangan pergi hari ini.
Ada hari-hari ketika cinta tidak terdengar seperti janji besar.
Ia terdengar seperti satu permintaan kecil yang diulang pelan pelan.
"Jangan pergi hari ini."
Kalimat itu tidak pernah keluar dari mulutku dengan gagah. Biasanya justru jatuh di sela hal-hal biasa.
Saat aku sedang membantu mengancingkan mansetmu. Saat kamu mencari dompet sambil setengah terburu-buru. Saat sepatu kerjamu sudah rapi di dekat pintu dan rambutmu masih sedikit basah.
Aku tidak selalu mengucapkannya keras keras.
Kadang hanya di kepala. Kadang lewat cara tanganku lebih lama menahan lengan bajumu. Kadang lewat alasan bodoh yang kubuat mendadak.
"Nanti aja berangkatnya."
"Sarapan dulu."
"Di luar hujan."
Padahal yang kutakuti bukan macet. Bukan hujan.
Bukan juga kantor yang terlalu sering mencurimu dari pagi sampai malam.
Yang kutakuti adalah cara hidup bisa berubah dalam satu hari, lalu tidak mengembalikan apa-apa dalam bentuk semula.
Kamu tahu itu.
Mungkin karena sejak dokter mulai memakai suara terlalu hati-hati, kita berdua jadi belajar mendengar hal-hal yang tidak diucapkan sampai selesai.
Kita tidak lagi bertengkar soal hal besar. Tidak lagi repot menanyakan masa depan sampai jauh. Tidak lagi membuat daftar kota yang ingin dikunjungi.
Hari-hari kita mengecil.
Menjadi jadwal obat di pintu kulkas. Menjadi irisan apel yang kaubiarkan menguning di piring. Menjadi handuk hangat di belakang lehermu. Menjadi jam tiga dini hari ketika aku bangun hanya untuk memastikan dadamu masih naik turun.
Kadang kamu masih bercanda.
"Kalau aku jelek nanti, jangan selingkuh."
Aku akan pura-pura kesal, lalu membetulkan letak selimutmu sampai rata di dada.
"Diam. Makan obatmu."
Tapi sesudah kamu memejamkan mata, aku akan berdiri sedikit terlalu lama di tepi ranjang, memandangi wajah yang masih kukenal itu, sambil mencoba menerima bahwa cinta bisa begitu penuh dan begitu tidak berdaya pada waktu yang sama.
Aku tidak bisa menyembuhkanmu.
Aku cuma bisa menghafal cara kamu minum air. Cara alismu berkerut sebelum nyeri datang. Cara jemarimu mencari ujung bajuku saat tidurmu dangkal.
Dan anehnya, justru di situ aku merasa paling dekat denganmu.
Bukan saat kita tertawa paling keras. Bukan saat semua foto kita masih tampak seperti iklan hidup yang rapi.
Tapi saat pagi masih abu-abu, obat belum diminum, dan kamu tetap sempat bilang suaraku jelek waktu menyanyikan lagu untuk mengusirmu dari takut.
Karena itu, kalau ada yang bertanya seperti apa bentuk harapan setelah semuanya tidak lagi menjanjikan, mungkin aku akan menjawab begini.
Harapan kadang cuma soal berani mencuci dua cangkir lagi untuk besok pagi.
Harapan kadang cuma soal tetap membeli buah yang kamu suka meski kemarin kamu bilang lidahmu pahit.
Harapan kadang cuma soal tidak menangis saat melipat bajumu, supaya kalau kamu bangun dan melihatku, wajah pertama yang kauingat dari hidup ini bukan wajah orang yang menyerah.
Aku tahu aku tidak bisa menahanmu selamanya.
Aku juga tahu cinta tidak selalu menang.
Tapi kalau malam ini kamu masih di sini, kalau napasmu masih sempat menghangatkan bantal, kalau jarimu masih bisa bergerak mencari tanganku di atas seprai, maka izinkan aku egois sedikit lagi.
Besok boleh datang.
Takut boleh datang.
Apa pun boleh datang.
Tapi jangan perpisahan.
Jangan hari ini.