99 Keinginan #18
Perempuan seperti aku biasanya duduk di tepi dulu. Bukan karena ingin cepat pergi, tapi karena terlalu lama hidup dengan perasaan bahwa cinta bisa berubah pikiran kapan saja.
Perempuan seperti aku tidak pernah benar benar duduk di tengah.
Bukan karena ingin cepat pergi. Bukan juga karena tidak suka dekat.
Aku cuma lebih tenang kalau masih ada jalan untuk mundur.
Kalau nanti seseorang berubah pikiran, aku tidak perlu banyak bergeser.
Itu kelihatan sepele. Milih kursi yang paling pinggir. Tidur menghadap sisi ranjang. Menyimpan barang di satu sudut kalau sedang menginap.
Tapi kebiasaan seperti itu tidak datang begitu saja.
Tubuhku cuma terlalu lama hidup dengan perasaan bahwa aku bisa saja kebanyakan untuk orang lain.
Lalu kamu datang dengan cara yang tidak ribut.
Tidak mengucapkan hal besar. Tidak membawa kalimat yang terdengar seperti film.
Kamu cuma mulai melakukan hal-hal kecil yang membuat pertahananku terlihat agak lucu.
Menggeser gelas ke dekat tanganku sebelum aku minta. Membawakan sendok saat aku lupa. Menaruh charger di dekat bantal karena tahu baterai ponselku selalu habis sebelum tidur.
Hal hal kecil memang paling berbahaya.
Kamu tidak datang dengan ribut. Kamu cuma tinggal.
Karena perempuan seperti aku paling mudah goyah oleh sesuatu yang tinggal.
Waktu kamu pertama kali menyebut rumah ini dengan kata kita, aku tertawa terlalu cepat. Bukan karena lucu. Karena ada bagian dalam diriku yang langsung bertanya apakah aku salah dengar.
Waktu kamu bilang, "Kalau capek, sini aja," aku malah menjawab, "Nggak usah repot." Padahal kakiku sudah ingin melangkah.
Begitulah caraku mencintai.
Datang sambil menahan setengah diri. Sayang sambil menyiapkan jalan pulang. Menerima pelukan sambil diam diam bertanya, sampai kapan.
Barangkali itu yang paling melelahkan dari merasa tidak pantas dicintai. Kita tidak benar benar menolak cinta. Kita cuma sibuk berjaga jaga kalau suatu hari cinta berubah pikiran.
Ada orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka akan dipilih. Aku tumbuh dengan kebiasaan membereskan piring sendiri sebelum diminta, membersihkan kamar mandi setelah dipakai, dan bilang maaf bahkan saat cuma numpang menangis sebentar di bahu orang lain.
Karena itu, saat kamu menatapku terlalu lama, yang pertama datang bukan tenang.
Takut.
Takut kamu sedang melihat lebih dekat dan akan menemukan apa yang sejak lama kututup rapat rapat. Bahwa aku terlalu banyak. Terlalu penuh bekas. Terlalu sulit disayang lama lama.
Lucunya, aku tahu semua kalimat itu jahat. Lebih jahat lagi karena datang dari kepalaku sendiri.
Tapi beberapa luka memang pandai menyamar jadi pikiran yang terdengar benar.
Maka aku terus menunggumu pergi dengan cara yang sopan. Sedikit demi sedikit. Pelan pelan.
Mungkin mulai membalas pesan lebih lambat. Mungkin mulai lupa hal hal kecil tentangku. Mungkin suatu hari duduk di depanku dengan wajah baik dan berkata bahwa semua ini indah, tapi tidak bisa.
Aku menunggu itu begitu lama sampai hampir tidak sadar bahwa kamu justru masih di sini.
Masih mengetuk pintu dengan ritme yang sama. Masih hafal aku tidak terlalu suka ikan goreng, tidak suka menyentuh dagingnya yang masih hangat, tidak tahan bau amis yang tinggal di jari, dan selalu lama memeriksa durinya sebelum berani makan. Masih diam diam memisahkan tulang ikan di piringku sebelum aku sempat bilang apa apa. Masih menutup jendela lebih dulu kalau hujan datang dari arah timur.
Kadang aku berpikir mungkin dicintai memang terasa aneh bagi orang yang terlalu terbiasa siap ditinggalkan.
Bukan hangat yang datang lebih dulu. Bukan lega.
Melainkan bingung.
Seperti menerima sesuatu yang rasanya bukan buat kita, lalu memeriksanya berkali kali karena takut ada nama orang lain di sana.
Barangkali karena itu juga, kita sering terlalu cepat menaruh harapan di tempat yang belum tentu jadi rumah.
Sedikit perhatian bisa terasa seperti jawaban. Sedikit menetap bisa terasa seperti pulang.
Mungkin itu sebabnya perempuan seperti aku sering terlihat tenang padahal sebenarnya sibuk. Bukan sibuk dicintai. Sibuk memastikan kalau cinta itu pergi, jatuhnya jangan terlalu keras.
Dan kalau malam terlalu sepi, pengakuan paling jujur yang bisa kuberi diriku sendiri mungkin sesederhana ini.
Aku tidak butuh dicintai dengan lebih hebat. Aku cuma ingin suatu hari nanti, saat kamu bilang pulang, tidak ada lagi bagian dalam diriku yang diam diam mengemasi barang lebih dulu.