Yang Ini Jangan Dijual
Aku sedang menulis riwayat pekerjaan ketika menemukan foto seorang pedagang batu akik yang belum bisa mengikat dasinya sendiri.
Pedagang itu aku, waktu SD. Celana merah, kaus kaki turun sebelah, satu tangan menggenggam batu cokelat. Fotonya diambil di depan rumah. Aku memperbesarnya sampai wajah kecil itu memenuhi layar, lalu berhenti mengetik.
Di dokumen sebelahnya sudah ada beberapa nama perusahaan. Di foto, aku masih sibuk memastikan dagangan tidak lepas dari tangan.
Kucoba membayangkan apa yang akan ditanyakannya kalau bisa melihatku sekarang. Mungkin soal pekerjaan. Mungkin soal uang. Tapi setelah kupikir lagi, ia pasti akan menunjuk gelas di dekat laptop.
"Minumanmu kok sudah dingin, masih diminum?"
"Lupa."
"Minum saja bisa lupa. Kamu naik kelas terus itu gimana caranya?"
Dalam bayanganku, kududukkan dia di pinggir meja. Kakinya belum mencapai laci paling bawah. Aku menggeser gelas dari sikunya, lalu memutar laptop supaya kami bisa melihat layar yang sama.
"Ini kamu kalau sudah besar," kataku sambil menunjuk foto profilku.
Ia mendekat, memeriksa wajahku di layar, lalu wajahku yang sedang menunggu komentarnya.
"Kok beda?"
"Yang di foto habis mandi."
Ia mengangguk. Penjelasan itu tampaknya cukup.
"Kamu lagi bikin apa?"
"Nulis pekerjaan yang pernah kita lakukan. Buat perusahaan yang sedang kubangun."
"Perusahaan sendiri?"
"Iya."
Ia melihat batu di tangannya, kemudian melihatku lagi.
"Berarti jualanku berhasil?"
"Laku beberapa. Tapi uang perusahaan bukan dari batu itu semua. Kita kerja macam-macam dulu."
"Tapi yang mulai jualan aku."
"Iya. Kamu duluan."
Ia mengulurkan tangan kosong.
"Mana bagianku?"
"Mau dikasih saham?"
"Bisa buat beli es?"
"Nggak langsung."
Ia menarik tangannya. "Es saja kalau begitu. Dua."
"Satu dulu."
"Dua. Kamu juga pasti mau."
Aku tertawa. Ia sudah kembali memeriksa dagangannya sebelum aku sempat menjawab.
Ia mengangkat batu cokelat ke lampu meja.
"Ini kalau disenter bagus."
"Kalau nggak?"
"Jangan dimatikan senternya."
Kubuka lagi dokumen riwayat pekerjaan. Ia menunjuk baris awal yang belum sempat kurapikan.
"Ini nimbang besi?"
"Iya. Waktu SMP. Sama cabutin tangkai cabai rawit."
"Pakai sarung tangan?"
"Pokoknya jangan ngusap mata."
Ia menjauhkan telunjuk dari wajahku.
"Aku cuma mau nunjuk kantong matamu."
"Nanti juga punya."
Ia menunduk memeriksa ujung bajunya. Ada benang lepas yang sejak tadi dipelintir di antara dua jari.
"Besi tadi buat apa, kamu tulis juga?"
"Belum."
"Tulis. Upah nimbang besi itu buat beli baju Lebaran sendiri."
Aku membuka dokumen lain dan mengetiknya.
"Yang kamu lipat terus padahal belum dipakai itu?"
"Biar pas Lebaran masih baru."
"Memang baru."
"Ya makanya dijaga."
Ia melepas benang yang tadi dipelintirnya.
"Ibu kapan pulang?"
"Beberapa tahun lagi. Dia sama suaminya baik-baik di sana. Bahagia."
Sejak Ibu dan Bapak pisah waktu kami masih SD, bocah ini mulai menghitung sendiri harga yang dulu tinggal ditunjuknya di toko. Ibu kemudian merantau ke luar kota bersama suaminya. Baju Lebaran sudah dicoretnya dari daftar titipan.
"Jangan dimintain. Kita bisa beli."
"Iya. Aku ingat."
Ia mengangguk sekali, lalu melirik ponselku untuk memastikan.
"Lagian kita punya warisan," kataku.
Ia berhenti mengayunkan kaki.
"Rumah?"
"Tekad pantang menyerah dari Ibu. Keras kepala dari mantan bapak."
"Oh. Kukira tanah."
"Kita masih marah?"
"Sudah kumaafkan."
"Yang dia lakukan?"
"Tetap ingat."
Untuk beberapa saat, suara kipas laptop terdengar jelas. Kubetulkan kaus kaki yang turun sampai ke tumitnya. Ia membiarkanku, lalu menunjuk layar lagi.
"Habis itu apa?"
"Ngurir paket toko online. Sampai SMA."
"Tahu semua rumah?"
"Tahu beberapa pagar. Orangnya sering nggak ada."
"Paketnya?"
"Ikut kita jalan-jalan."
Ia tertawa sambil mengetukkan tumit ke laci.
"SMA juga sempat nguli tipis-tipis."
"Semennya tipis?"
"Kerjanya sesekali. Pegalnya lumayan rajin. Terus mulai belajar programming. Bikin website, aplikasi."
Ia merapat ke layar.
"Yang ini beratnya berapa kilo?"
"Nggak ditimbang."
"Enak dong."
Aku membuka pesan klien yang diawali revisi sedikit.
Ia membaca sambil menggerakkan bibir. Setelah menggulir dua kali, ia mengembalikan mouse.
"Besi aja."
"Telanjur. Kita freelance. Pernah juga joki website sama aplikasi buat skripsi."
"Kita yang wisuda?"
"Mereka."
"Kita dapat apa?"
"Bayaran. Kadang fotonya pakai toga."
Ia menengok celana merahnya, kemudian foto profilku yang memakai kemeja.
"Kita bajunya itu-itu saja, ya."
"Habis itu kerja jadi programmer di pemerintahan."
"Boleh membetulkan komputer sekolahan? Yang disuruh tunggu terus itu."
"Beda kantor."
"Sayang."
Ia menyisihkan batunya dari mousepad supaya aku bisa menggulir.
"Ini startup?"
"Iya. Sesudah pemerintahan. Lalu perusahaan swasta lokal. Terus perusahaan multinasional, jadi founding software engineer."
"Panjang sekali."
"Makanya font-nya dikecilin."
"Kalau Ibu nanya?"
"Kerja komputer."
Ia mengangguk. Yang itu bisa diucapkannya.
"Tapi kok kamu di rumah? Bolos?"
"Awalnya memang harus di kantor. Aku nego supaya boleh kerja dari mana saja. Disetujui."
"Gajinya dipotong?"
"Malah dapat lebih tinggi dari tawaran awal. Itu juga dinego."
Ia memutar batu di telapak tangannya.
"Kalau orang nawar batu ini, aku juga nggak langsung mengangguk."
"Iya. Tapi sekarang harus bisa jelasin apa yang bisa kita kerjakan."
"Batunya juga dijelasin. Motifnya, warnanya. Disenter dulu."
"Yang wawancara nggak kusenter."
Ia tertawa, lalu menarik ujung kausku yang terlipat di pinggang.
"Gajinya naik, ini kok robek?"
Kuturunkan kaus sampai menutupi bagian itu.
"Nggak kelihatan. Masih bisa dipakai."
Ia memeriksa kausnya sendiri, seolah mencari apakah robekku sudah dimulai sejak sana.
"Kalau bajunya beli baru, boleh, kan?" tanyanya.
"Boleh. Cuma yang ini masih enak."
Ia mengambil ponselku, menekan tombol di sampingnya.
"Ini juga?"
"Masih nyala. Medsos masih lancar. Buat apa ganti?"
Layarnya menyala. Ia menyerahkannya kembali sebelum sempat kubuka.
"Nggak usah dicek. Aku percaya."
"Sekarang bikin perusahaan sendiri?"
"Sedang dibangun."
Ia turun dari meja, membuka kedua telapak tangannya.
"Ngaduk lagi?"
"Duduk dulu. Belum perlu semen."
Ia naik kembali. Kali ini tumitnya tidak mengetuk laci. Dari luar terdengar anak-anak berebut menentukan siapa yang jaga gawang. Satu suara memanggil nama yang mirip namaku. Bocah itu menoleh sampai pipinya hampir menempel ke kaca.
"Kita punya foto lagi?"
"Ada."
Kubuka folder lama. Ada foto paket menumpuk, layar aplikasi, meja kantor, kartu peserta acara yang talinya menutupi nama. Ia menunggu ketika aku berpindah folder.
"Yang lagi main," katanya.
Aku kembali ke folder pertama. Memperbesar gambar kecil. Mengecilkannya lagi.
"Sebentar."
Ia mengambil batu cokelat dari samping laptop. Di telapak kecilnya, batu itu hampir memenuhi separuh tangan.
"Kalau main sekarang, pekerjaanmu gimana?"
Kulihat dokumen pendirian perusahaan yang masih terbuka. Kursor berkedip di kolom yang belum kuisi.
"Bisa kulanjutkan nanti."
"Kamu bisa jadi kiper?"
"Bisa."
"Jangan sambil balas orang."
Kututup laptop. Ponsel kutaruh di atasnya, layarnya menghadap ke bawah. Ia baru turun dari meja setelah kedua tanganku kosong.
Di ambang pintu, ia menyodorkan batu cokelat itu.
"Ini buat kamu."
"Katanya mau saham. Sekarang malah kasih modal lagi?"
"Yang ini jangan dijual. Tinggal satu yang bagus."
Kusimpan batunya di saku. Ia menarik tanganku menuju halaman, lalu melepasnya untuk mengejar bola. Aku kebagian berdiri di antara dua sandal.
"Kok jauh sekali gawangnya?" seruku.
Ia berhenti menggiring bola. "Katanya bisa jadi kiper."
Kugeser sandal kanan sedikit ke dalam dengan ujung kaki.
"Bisa. Ukuran gawangnya masih bisa dinego."