Mapnya di Situ Dulu
Mira sudah setuju diajak makan, tetapi Bayu masih merasa perlu menunjukkan SKCK.
Kertas itu muncul bersama selembar fotokopi ijazah ketika ia membuka map untuk mengambil uang parkir. Di foto, Bayu mengenakan kemeja putih dan ekspresi seseorang yang baru diberi tahu bahwa seluruh kesalahan hidupnya akan dicetak ukuran empat kali enam.
Mira mengambil foto yang terselip di antara berkas.
"Ini kamu habis dimarahi siapa?"
"Fotografernya bilang jangan senyum."
"Terus kamu sekalian dendam?"
Bayu meraih foto itu. Mira mengangkatnya sedikit, membandingkan wajah di kertas dengan laki-laki di hadapannya. Kemejanya masih sama. Hanya lengan bajunya sudah digulung, dan ada satu sisi kerah yang tertekuk ke dalam.
Ia membetulkan kerah itu sebelum mengembalikan fotonya.
"Tadi wawancaranya bagaimana?"
"Disuruh tunggu kabar."
"Sudah makan?"
Bayu menunjuk warung di belakangnya.
"Ini kan mau."
"Maksudku dari siang."
Ia memasukkan foto ke dalam map, terlalu teliti untuk pertanyaan sesederhana itu.
Mira memegang ujung lengan bajunya dan menariknya masuk.
Warung itu menghadap laut, dengan empat meja di bawah atap seng dan satu meja tambahan dekat pohon ketapang. Mira memilih yang di luar. Permukaan kursinya masih hangat ketika ia duduk. Bayangan daun bergerak di lengan bajunya, sesekali membuka jalan bagi matahari yang sudah rendah. Ia mengangkat tangan untuk menutupi mata, lalu menurunkannya setelah Bayu duduk di seberang.
Dari sela bahu Bayu dan batang pohon, ia bisa melihat anak-anak berlari mengejar bola di pasir yang masih basah. Seorang bapak berdiri menjaga dua sandal yang dijadikan gawang. Setiap kali bola mendekat, ia mengangkat gelas kopinya. Laut sedang surut. Ombak pecah jauh dari tangga warung, meninggalkan suara panjang yang baru habis ketika ombak berikutnya datang.
Bayu menaruh map di kursi kosong, lalu memindahkannya ke pangkuan ketika angin membalik ujung kertas.
"Mau dititip di dalam?" tanya Mira.
"Aman."
"Dari tadi kamu peluk."
"Dokumen penting."
"Aku tahu. Orangnya juga penting. Aku cuma takut kena kuah."
Bayu memandangnya. Mira membuka daftar menu yang ujungnya sudah lunak. Ia membaca pilihan mi sampai dua kali, menunggu Bayu ikut melihat.
Mereka hampir setahun berangkat dengan angkot yang sama. Bayu turun di toko alat listrik, dua pemberhentian sebelum kantor Mira. Ia pernah menggeser duduk supaya Mira tidak terkena tampias, lalu menghabiskan sisa perjalanan dengan bahu basah dan penjelasan panjang bahwa kemejanya memang cepat kering.
Sejak itu, kalau bangku di sebelahnya kosong, Mira duduk di sana.
Baru sore ini Bayu mengajaknya pergi tanpa menambahkan nama teman lain di ujung kalimat. Pesannya datang ketika Mira sedang melipat baju untuk dibawa pindah hari Minggu.
Mau makan mi? Berdua.
Kata terakhir dikirim terpisah, empat menit sesudah pesan pertama.
Mira sudah mandi sebelum membalas. Baju-baju di kamarnya ditinggalkan menumpuk di atas koper yang terbuka. Ia sempat kembali dari pagar untuk mengambil ikat rambut, lalu melepasnya lagi begitu melihat Bayu menunggu dengan kemeja putih.
Bu Ningsih datang membawa buku pesanan dan sebuah mangkuk kecil berisi cabai rawit. Ia meletakkan cabai di tengah meja, lalu menahan halaman bukunya dengan siku.
"Dua mi rebus?"
"Iya, Bu. Yang satu jangan pakai daun bawang," kata Bayu.
Mira menurunkan menu. Bayu sedang memeriksa pilihan minuman dengan sungguh-sungguh.
"Telurnya?" tanya Bu Ningsih.
"Pakai," jawab Mira. "Dua-duanya."
Setelah mencatat minuman, Bu Ningsih kembali ke kompor. Dari tempat duduk Mira terlihat api biru di bawah panci. Radio di rak bumbu memutar lagu yang beberapa katanya hilang setiap kali blender menyala. Bayu akhirnya menitipkan map di kursi dekat kasir, di bawah helmnya. Selagi ia berdiri di sana, Mira menggeser kursinya ke bagian meja yang akan tetap teduh kalau matahari turun lagi. Ia menyisakan tempat di sebelahnya.
Ketika ia kembali, Mira sudah menyelipkan ujung rok yang terus diterbangkan angin ke bawah pahanya.
"Dingin?" tanya Bayu.
"Belum."
"Kalau dingin pindah ke dalam."
"Di sini dulu."
Ia suka meja ini. Ada bekas lingkaran gelas di permukaannya, sebuah lubang kecil pada taplak yang dijahit dengan benang berbeda warna, dan Bayu duduk cukup dekat sehingga lutut mereka sesekali bersentuhan. Setiap kali itu terjadi, Bayu memindahkan kaki. Pada kali ketiga, Mira berhenti menggeser kakinya mengikuti.
"Kamu santai saja," katanya.
"Aku santai."
"Garpu itu sudah kamu lap tiga kali."
Bayu menoleh ke tangannya, lalu meletakkan garpu di atas tisu yang masih utuh.
"Ada sela-selanya."
Mira tertawa. Dari meja sebelah, seorang anak yang sedang mengupas telur ikut melihat mereka. Bayu menunggu anak itu kembali pada telurnya sebelum merapatkan kursi sedikit.
"Nona, jangan gelisah. Tuanmu ini bukan orang sembarangan. Ijazahku lengkap, SKCK-ku bersih, penampilanku lumayanlah."
Ia mengucapkannya sambil menunjuk kerah yang tadi dibetulkan Mira.
Mira menyandarkan dagu pada telapak tangan.
"IPK-mu berapa, Tuan?"
"Ah, itu hanya angka, Nona. Kau suka mie pedas level berapa?"
Mira tertawa sampai harus meletakkan kedua tangan di meja. Bayu ikut tersenyum, tampak cukup puas dengan pengalihan topik yang tidak berhasil menyelamatkan apa pun.
"Dua koma berapa?" tanyanya setelah bisa bicara lagi.
"Delapan satu."
"Punyaku dua koma tujuh enam."
"Serius?"
"Mau kuambilkan transkrip? Ada di koper."
Bayu melihat ke arah laut. Ujung telinganya merah.
"Aku sudah nyiapin pembelaan panjang."
"Sayang, ya."
Ia kembali menoleh pada kata pertama. Mira membiarkannya. Di antara mereka, mangkuk cabai bergerak sedikit ketika meja tersenggol lutut Bayu.
"Pedasnya sungguhan level berapa?" tanyanya.
"Tiga. Kamu?"
"Bisa."
"Aku tanya level berapa."
"Tiga juga."
Bu Ningsih datang membawa mi. Sebelum Mira sempat mengambil sendok, perempuan itu menunjuk mangkuk Bayu.
"Yang ini seperti biasa, ya. Tidak pakai cabai."
Mira memandang Bayu, lalu mangkuknya, lalu Bayu lagi.
"Saya masih mau makan di sini lain kali, Bu," kata Bayu.
"Ya makan. Memangnya saya usir?"
Bu Ningsih pergi mengambil teh. Bayu menarik mangkuknya mendekat dan memungut garpu yang tadi sibuk dibersihkannya.
Mira membelah satu cabai di atas tatakan sendok. Ia memasukkan separuh ke kuahnya dan mendorong sisanya ke tengah meja.
"Satu dulu. Bagi dua."
"Kamu biasanya tiga."
"Aku mau tahu rasa kuahnya."
Bayu mengambil potongan itu. Ia menekannya dengan punggung sendok, mengaduk, lalu mencicipi sedikit. Mira menunggu sampai ia menelan sebelum mulai makan.
"Masih hidup?"
"Masih bisa diwawancara."
"Bagus. Nanti ada pertanyaan lanjutan."
Mereka makan beberapa suap tanpa bicara. Kuahnya masih terlalu panas. Mira meniup sendoknya, tetapi angin lebih dulu membelokkan uap ke wajah Bayu. Mereka menunggu sebentar dengan sendok masing-masing di udara, kemudian tertawa karena melakukan hal yang sama.
Bau bawang goreng menempel pada uap yang lewat. Di bawah meja, seekor kucing menyentuhkan punggung ke betis Mira, lalu duduk menghadap Bayu. Dari arah pasir, bapak penjaga gawang memprotes gol yang menurutnya terlalu lebar. Anak-anak memindahkan salah satu sandal. Di permukaan laut, cahaya sudah begitu rendah sehingga Mira perlu memicingkan mata setiap kali memandang melewati bahu Bayu.
Bayu memindahkan gelas teh dari dekat siku Mira. Ada setitik kuah di pergelangan tangannya. Bayu menyodorkan tisu, lalu kembali makan sambil menunggu Mira mengambilnya.
Ada hal-hal seperti itu yang membuat Mira hampir mengirim pesan lebih dulu selama berbulan-bulan. Biasanya ia sampai pada tulisan besok kamu berangkat jam berapa, kemudian menghapus besok dan bertanya sesuatu tentang angkot.
Sekarang ia mengaduk mi supaya tidak menggumpal, mencari cara menyebut hari Minggu tanpa membuat sore mereka terburu-buru.
"Kosku nanti ada dapurnya," katanya.
"Yang kamu kirim fotonya?"
"Iya. Tapi kompornya satu buat delapan kamar."
Bayu mengangguk. Ia menggulung mi pada garpu, melepaskannya lagi.
"Kamu sudah beli tiket?"
"Bus jam tujuh."
"Oh."
"Pagi."
"Iya."
Mira mengambil gelasnya. Esnya sudah tinggal separuh. Ia menyukai pekerjaan baru itu, dan sejak diterima ia sudah berkali-kali membuka foto meja kerjanya yang menghadap jendela. Tadi pagi ia bahkan mencoba rute dari kos ke kantor lewat peta di ponsel. Ada tempat sarapan di tikungan, lalu jembatan kecil yang bisa dilewati dengan berjalan kaki.
Ia belum bercerita kepada Bayu bahwa di sana ia tidak perlu naik angkot.
Di bawah telapak gelas, air merembes sampai ke jarinya. Mira mengusapnya pada rok. Biasanya, pada jam-jam pertama perjalanan mereka, Bayu masih mengantuk. Ia hanya mengangkat tas dari bangku, menepuk tempat yang baru dikosongkan, lalu kembali menyandarkan kepala ke jendela. Mira sudah hafal di lubang jalan mana ia akan terbangun.
"Aku masih bakal pulang," katanya. "Sebulan sekali kalau jadwalnya boleh."
"Empat jam di bus capek."
"Bisa gantian. Kamu yang naik bus."
Bayu berhenti menggulung mi.
Mira memutar gelas sampai gambar jeruk di sisinya menghadap laut. Ia sudah mengatakan bagiannya. Kali ini ia membiarkan jeda itu menjadi urusan Bayu.
"Aku sebenarnya mau ngajak kamu dari dulu," katanya.
"Makan mi?"
Bayu menggeleng.
Di warung, blender menyala. Mereka menunggu. Bu Ningsih mematikan blender, mencoba jus dengan sendok, lalu menyalakannya lagi. Mira menutup mulut dengan punggung tangan. Bayu menunduk, ikut tertawa.
Ketika bunyinya berhenti, ia melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Kencan."
Mira menurunkan tangannya. Ada tetes kuah pada manset Bayu. Ia ingin menyekanya, tetapi khawatir laki-laki itu akan kehilangan kalimat berikutnya kalau ia bergerak.
"Kupikir nanti kalau sudah dapat kerja yang baru. Gajinya lebih bagus. Bisa ngajak kamu ke tempat yang agak bagus juga."
"Aku yang pilih meja ini."
"Aku tahu."
"Terus aku boleh ngajak kamu lagi ke sini?"
Bayu mengangguk.
"Walaupun kantornya belum kasih kabar?"
Kali ini ia melihat Mira sebelum menjawab.
"Boleh."
Mira meraih tisu dan menyeka tetes kuah pada mansetnya. Bayu menahan lengan itu di atas meja sampai ia selesai.
"Minggu antar aku, ya."
"Jam enam?"
"Setengah enam. Aku mau sarapan dulu."
"Bubur dekat terminal?"
"Kamu juga makan. Jangan cuma pegang map."
Bayu tersenyum sambil mengambil gelas. Jari mereka bersentuhan di dekat tisu, dan untuk beberapa saat tidak seorang pun memindahkannya.
Selesai makan, Mira pergi mencuci tangan. Saat kembali, kursi Bayu sudah berada di sisi meja yang sama dengan kursinya. Laki-laki itu sedang memeriksa langit dengan ketekunan yang mencurigakan.
"Pindah?"
"Dari sini lautnya kelihatan."
"Tadi juga."
"Ada kepalamu."
Mira duduk. Ia mengambil satu tisu lagi dan melipatnya kecil-kecil, kemudian meletakkannya di telapak Bayu.
"Buat nanti kalau jawabanmu jelek lagi. Lap dulu."
Bayu tertawa. Ia memasukkan tisu itu ke saku celana.
Matahari sudah turun di balik ujung daratan. Warna air berubah kelabu kehijauan, lebih gelap di bawah perahu yang ditambatkan agak jauh. Anak-anak pulang membawa bola. Bapak tadi menepuk pasir dari kedua sandalnya, lalu berjalan menyusul mereka. Setelah suara mereka mengecil, Mira bisa mendengar air menjilat anak tangga paling bawah.
Bu Ningsih menyalakan lampu di atas kasir. Cahaya kuning mencapai ujung meja mereka dan berhenti pada pergelangan Bayu. Di dekat wajahnya, Mira masih bisa melihat warna langit. Kancing paling atas kemejanya sudah dibuka. Ada sedikit bekas garam kering di pelipisnya, dan rambut yang sejak datang disisir rapi mulai jatuh ke dahi.
Mira hampir mengangkat tangan untuk merapikannya. Ia mengambil gelas lebih dulu, minum meski tehnya sudah tawar.
Mira merapatkan lengan ke tubuh.
"Sekarang dingin?"
"Sedikit."
Bayu menggeser kursinya. Kali ini ia membiarkan lutut mereka bertemu. Lengannya terletak di sepanjang tepi meja, telapak menghadap ke atas. Mira menaruh tangannya di sana.
Tangan Bayu hangat dan agak lembap. Ibu jarinya bergerak sekali di dekat buku jari Mira, lalu berhenti. Mira menggerakkan ibu jarinya juga. Bayu mengulanginya.
Mereka tetap duduk ketika Bu Ningsih mengambil mangkuk kosong. Bayu hendak melepaskan tangan untuk membantu, tetapi Mira menahan dua jarinya sambil memindahkan gelas dengan tangan yang bebas. Bu Ningsih menumpuk mangkuk, menjepit sendok-sendok di sela jarinya, lalu melirik bagian meja yang kosong.
"Masih pesan?" tanya Bu Ningsih.
Mira menoleh kepada Bayu. Ada daun kecil tersangkut pada rambutnya. Ia mengambilnya dan menunjukkan daun itu di telapak.
"Bukti terlalu lama duduk," kata Bayu.
"Pisang goreng masih ada, Bu?"
"Ada. Baru mau saya potong."
"Satu porsi."
Bayu memandang Mira sampai perempuan itu kembali menghadap laut.
"Tidak apa-apa lama?" tanyanya.
"Aku belum mau pulang."
Ia memegang tangan Mira lebih penuh sekarang. Bu Ningsih mengecilkan radio untuk menerima telepon. Dari dapur terdengar minyak mendesis, lalu bunyi pisau diletakkan di atas talenan. Di meja sebelah, pasangan yang tadi membawa anak sudah pergi. Tinggal sepotong kulit telur dekat kaki kursi.
Mira memperhatikan jemarinya di dalam genggaman Bayu. Ada bekas tinta biru di sisi jari tengah laki-laki itu. Ia menggosoknya dengan ibu jari, tetapi tinta itu tidak hilang.
"Tadi ngisi formulir?"
"Pulpennya bocor."
"Pantes dari tadi kamu taruh tangan di bawah meja."
Bayu membuka telapaknya sedikit. Mira menutupnya lagi dengan tangannya.
Ia sudah merencanakan banyak hal untuk hari Minggu. Charger di kantong kecil, obat mabuk di bagian tas yang mudah dijangkau, sandal dibungkus sendiri supaya tidak mengotori baju. Sekarang ia memikirkan empat jam di bus dan sandaran kursi yang biasanya terlalu tegak untuk tidur.
"Nanti jangan langsung pergi," katanya.
"Dari terminal?"
Mira mengangguk.
"Tunggu busnya jalan dulu."
"Iya."
Ia ingin menambahkan bahwa Bayu boleh tetap menelepon walaupun tidak ada kabar dari tempat wawancara. Namun Bayu sedang memiringkan kepala, berusaha melihat wajahnya, dan Mira malah merapat sampai pipinya menyentuh bahu laki-laki itu.
Kain kemejanya lebih dingin daripada yang ia kira. Ada bau sabun cuci yang samar. Bayu mengangkat lengannya dari meja, ragu sebentar, kemudian meletakkannya di punggung kursi Mira. Jari-jarinya menyentuh bahu Mira ketika angin lewat.
"Begini boleh?"
Mira mengangguk pada lengan bajunya.
"Tapi kursimu dekatkan. Leherku miring."
Bayu menggeser kursi dengan kaki, sedikit demi sedikit, sampai Mira berhenti menyuruhnya maju. Suara gesekannya membuat Bu Ningsih melongok dari dapur. Mira menyembunyikan senyum di bahu Bayu.
Di dekat telinganya, ia mendengar laki-laki itu memanggil namanya dengan suara yang lebih kecil daripada saat memesan mi.
"Mir."
"Hm?"
"Berarti ini kencan, ya?"
Ia tersenyum pada jahitan lengan baju Bayu.
"Iya, Tuan."
"Oh."
Mira menunggu kelanjutannya. Bayu merapikan letak tangan mereka di pangkuan. Ketika Mira mengangkat wajah, ia mendapati Bayu sedang tersenyum ke arah piring cabai.
"Kenapa?"
"Enggak."
Mira kembali menyandarkan kepala. Kali ini lengan Bayu turun dari punggung kursi dan menetap di bahunya.
Pisang goreng datang di atas piring berlapis kertas. Bu Ningsih meletakkannya dekat tangan Mira, lalu membawa kedua gelas kosong ke dapur. Dari kursi dekat kasir, tali helm Bayu menjuntai hampir menyentuh lantai.
"Itu berkasnya jangan ketinggalan," katanya.
Bayu memeriksa kursi itu dari tempat duduknya.
"Mapnya di situ dulu, Bu. Nanti saya ambil."
Mira mendongak. "Fotonya ada berapa?"
"Empat. Kenapa?"
"Minta satu."
"Yang tadi?"
"Iya."
"Aku punya yang lebih bagus di ponsel."
"Aku mau yang tadi."
Bayu memperhatikan wajahnya, mungkin mencari tanda bahwa ia sedang dikerjai. Mira tetap menengadahkan tangan. Akhirnya ia bangkit mengambil satu pasfoto, lalu kembali tanpa membawa map.
Mira melepas casing bening ponselnya. Ia menyelipkan foto itu di bagian bawah, menyesuaikan letaknya supaya wajah Bayu tidak tertutup stiker kecil yang sudah lama menempel di sana. Sudut kertasnya tersangkut. Bayu memegangkan ponsel sementara Mira meratakannya dengan kuku.
Setelah casing terpasang lagi, mereka memandang hasilnya. Bayu dalam foto masih tampak kesal terhadap fotografer.
"Mir, itu bakal kamu bawa ke mana-mana."
"Aku tahu."
Bayu mengambil ponselnya sendiri, membuka kamera depan, lalu mengarahkannya kepada mereka.
"Foto lagi. Buat cadangan."
Mira mendekat. Pada layar, separuh wajahnya tertutup rambut yang diterbangkan angin. Bayu hendak menyingkirkannya, tetapi Mira lebih dulu menahan tangannya.
"Kamu jangan pakai muka SKCK."
Foto pertama miring karena Bayu tertawa. Mereka mencoba sekali lagi. Mira merangkul lengannya, pipinya menempel di dekat kerah yang tadi ia betulkan. Di belakang mereka, laut hanya tertangkap sebagai bidang gelap dengan satu lampu perahu.
Bayu memperbesar foto itu dengan dua jari. Mira ikut melihat, lalu meminta dikirim sekarang.
Ponselnya berbunyi di meja. Ia membuka foto yang masuk dan mengecilkan terang layar sampai wajah mereka terlihat lembut. Ia menyimpan foto itu, lalu membuka kontak Bayu dan menghapus kata Angkot yang hampir setahun mengikuti namanya.
"Sudah masuk?" tanya Bayu.
"Sudah."
Mira meletakkan ponsel di dalam tas. Pisang goreng mereka sudah cukup dingin untuk dipegang. Ia mengambil sepotong, mematahkannya, lalu menyodorkan bagian yang lebih panjang ke mulut Bayu.
Bayu menerimanya sambil tetap melihat Mira. Remah jatuh ke pangkuannya. Ia hendak menunduk untuk membersihkan, tetapi Mira sudah kembali menyandarkan kepala.
Bayu membiarkan remah itu. Ia menarik piring lebih dekat, ke tempat yang bisa mereka jangkau tanpa bergeser.