Tanggal Kembali
Laras menikah dengan laki-laki yang meminjam satu bukunya selama sebelas tahun.
Malam ini laki-laki itu duduk di lantai, memakai kaus yang kerahnya sudah longgar, dan membantah bahwa perbuatannya bisa disebut pencurian.
"Kamu belum pernah minta kembali."
"Aku pernah."
"Kapan?"
"Waktu kita belum menikah."
Damar mengangkat wajah dari kardus. Ada potongan selotip menempel di sikunya.
"Berarti sesudah menikah sudah enggak."
Laras menahan senyum dengan merapatkan bibir. Ia duduk bersila di seberang suaminya, memegang novel bersampul biru yang warnanya sudah pudar dekat punggung. Mereka sedang memindahkan buku-buku lama agar rak ruang tengah cukup untuk menampung dua kardus dari rumah ibu.
Kardus yang kecil berisi buku resep. Pada tutupnya, Laras masih bisa membaca tulisan ibu dengan spidol merah: JANGAN TARUH BAWAH. ADA SEMUT.
Ia menaruh kardus itu di atas kursi.
Di luar, hujan turun dari talang ke ember yang lupa mereka singkirkan sejak sore. Pintu teras dibiarkan terbuka sedikit. Bau tanah dari pot kemangi masuk bersama udara dingin, sementara lampu meja memberi warna kuning pada lutut Damar dan tumpukan buku di antara mereka.
Laras membuka novel itu. Dari kantong kertas yang ditempel di bagian belakang, ia menarik kartu bergaris.
Nama peminjam: Damar.
Tanggal pinjam terisi dengan tulisan ibunya. Kolom di sebelahnya kosong.
"Buktinya masih ada," kata Laras.
Damar maju dengan kedua lutut, hendak melihat, tetapi Laras menjauhkan kartu itu.
"Sebelas tahun. Coba hitung dendanya."
"Aku sudah pasang rak."
"Miring."
"Sedikit."
"Buku resep ibu tadi jalan sendiri."
Damar melihat rak, lalu mengambil obeng dari atas koran. Laras tertawa ketika ia betul-betul memeriksa penyangganya.
Ibunya bekerja di perpustakaan sekolah sampai pensiun. Di rumah, semua buku diberi kantong kartu yang sama, termasuk buku masak yang hanya pernah dipinjam tetangga sebelah. Laras sering memprotesnya. Ibu menjawab bahwa orang yang dikenalnya justru paling sulit ditagih.
Damar datang pertama kali untuk mengantar pesanan cetak undangan perpisahan guru. Usianya dua puluh empat. Rambutnya basah meski hujan sudah berhenti sejak siang, dan ia memegang map di depan dada seperti tameng.
Laras sedang makan mangga muda di teras. Ia ingat karena Damar menerima satu potong, memasukkannya ke mulut, lalu berusaha meneruskan percakapan dengan wajah yang berubah bentuk.
"Asam?" tanya Laras.
"Lumayan."
"Matamu sampai merem."
"Aku memang begini kalau menikmati makanan."
Ibu masuk mengambil uang pembayaran. Damar mengamati buku yang telungkup di kursi sebelah Laras, lalu bertanya apakah ceritanya bagus.
"Bagus."
"Boleh pinjam?"
Laras menimbangnya. Ia baru membaca separuh. Di halaman terakhir yang dibacanya, seorang perempuan turun di stasiun yang salah dan memilih tinggal untuk minum kopi.
"Seminggu," katanya.
Damar mengangguk terlalu cepat.
Ibu keluar membawa uang pas dan kartu peminjaman. Sambil menulis nama Damar, ia bertanya alamatnya, lalu nomor telepon, lalu apakah ibunya masih tinggal di sebelah toko bingkai.
"Bu," Laras menyela. "Cuma pinjam buku."
"Iya. Kalau hilang, tahu nagih ke mana."
Pada Sabtu berikutnya Damar mengembalikan buku itu pukul empat. Ia sudah membaca sampai selesai. Laras, yang masih tertinggal di stasiun tadi, melarangnya membicarakan apa pun sesudah halaman sembilan puluh.
Damar bercerita tentang kucing yang tidur di mesin fotokopi tempatnya bekerja, lalu bangun setiap kali ada orang mau memperbanyak KTP. Laras ingin melihatnya. Damar menyebutkan jam-jam ketika kucing itu biasanya datang, kemudian menambahkan bahwa ia sendiri ada di sana setiap hari kecuali Minggu.
Ibu menyiram tanaman sampai dua kali.
Menjelang magrib, Damar berdiri. Laras mengambil novel itu dari meja dan menyodorkannya kembali.
"Bawa dulu. Katamu ada bagian yang mau dibaca ulang."
"Kamu belum selesai."
"Nanti aku pinjam ke kamu."
Damar melihat buku, lalu melihat Laras. Di ujung teras, ibu menutup keran.
Kartu itu tidak pernah diisi lagi.
Sekarang ibu sudah meninggal lima bulan, dan Laras masih menemukan alasan untuk meneleponnya pada jam-jam yang keliru.
Sore tadi ia membeli labu siam, lalu mengeluarkan ponsel karena lupa apakah sayur itu perlu diremas dengan garam. Nomor ibu masih ada di daftar panggilan favorit. Laras sempat menekannya sebelum membatalkan.
Labu itu belum dimasak. Masih di kantong belanja, dekat pintu dapur.
Damar selesai membetulkan rak. Ia menekan ujung papan, menunggu sebentar, lalu meletakkan satu buku resep sebagai percobaan.
"Sekarang enggak jalan."
Laras mengangguk. Kartu peminjaman ia pegang dengan kedua ibu jari, menutupi sebagian angka tahun.
"Ibu dulu tahu," katanya.
"Tahu apa?"
"Kamu datang buat ketemu aku."
Damar duduk lagi.
"Semua orang tahu, Ras. Pegawai toko sebelah juga tahu. Aku beli map tiga kali dalam seminggu."
Laras tersenyum. Dengan kuku, ia mengangkat ujung kantong kartu yang mulai terlepas dari sampul. Lemnya sudah kering. Di bawah kertas itu ada bekas garis pensil ibu, lurus dan tipis.
"Aku mau nanya resep tadi."
Damar meletakkan obeng jauh dari kakinya.
"Yang labu?"
Laras mengangguk.
"Hampir kutelpon."
Dari teras terdengar bunyi ember penuh meluap. Damar bangkit untuk memindahkannya. Ketika kembali, ia membawa lap kecil dan mengeringkan telapak kaki sebelum duduk di sebelah Laras.
Ia tidak mengambil kartu itu. Tangannya terbuka di atas lantai, dekat lutut Laras, sampai Laras menaruh tangannya di sana.
"Besok kita coba resep yang ada," katanya. "Kalau gagal, aku beli telur."
Laras mengusap pangkal jari suaminya dengan ibu jari. Ada kapalan kecil yang dulu belum ada ketika laki-laki itu pertama kali menerima mangga darinya.
"Kamu selalu jawab telur."
"Karena kamu suka."
"Kamu yang cuma bisa masak itu."
"Kebetulan cocok."
Ia menyandarkan kepala ke bahu Damar. Dari dekat, kausnya berbau sabun cuci dan sedikit debu kardus. Damar menurunkan bahu supaya leher Laras tidak terlalu menekuk. Mereka duduk begitu sampai kaki Laras kesemutan dan ia harus menariknya dengan kedua tangan.
"Aduh. Jangan disentuh."
Damar menahan pergelangan kaki Laras di udara, membantu meluruskan tanpa menyentuh telapak.
"Sebelah sini juga?"
"Enggak. Yang itu boleh."
Ia mencium mata kaki yang boleh disentuh. Laras menepuk lengannya dengan novel.
"Ada debunya."
"Sudah telanjur."
Mereka berhenti membereskan rak setelah menemukan album foto di kardus kedua. Laras belum ingin membukanya. Damar mengembalikan album itu ke tempat semula, menutup kardus tanpa merekatkan selotip, lalu pergi memanggang roti.
Laras menarik kursi rotan ke dekat pintu teras. Kursi itu cukup lebar untuk satu orang duduk nyaman dan dua orang duduk sambil saling mengeluh. Dulu mereka membelinya karena Damar mencoba duduk di toko dan hampir tertidur.
Ketika ia kembali dengan piring, Laras sudah memakai sarungnya.
"Itu punyaku."
"Kamu belum pernah minta kembali."
Damar berhenti di ambang pintu. Laras menepuk tempat di sebelahnya.
Mereka bergeser beberapa kali sampai menemukan susunan yang bisa diterima. Satu kaki Laras terlipat di kursi, kaki lainnya bertumpu pada kaki Damar. Piring roti diletakkan di atas bangku. Selai srikaya sudah meleleh ke tepi, dan bagian bawah sepotong roti sedikit hangus.
Damar mengambil potongan itu.
"Bagi," kata Laras.
"Yang itu lebih bagus."
"Aku mau pinggirnya."
Ia mematahkan tepi yang renyah dan menyerahkannya. Laras memakannya sambil membuka novel di pangkuan. Dari rumah seberang, seorang anak masih berlatih pianika, berhenti di nada yang sama sejak sepuluh menit lalu. Ibunya menyuruh masuk. Anak itu memainkan satu nada terakhir, panjang dan membangkang.
Laras tertawa sambil mengunyah. Damar menunggu ia menelan sebelum bertanya apa mereka pernah menyelesaikan buku itu bersama.
"Kamu sudah tamat," katanya.
"Kamu?"
"Lupa."
Ia membolak-balik halaman. Ada bekas lingkaran cangkir, lalu garis bawah yang tidak ia kenali. Di halaman sembilan puluh satu terselip sobekan nota. Pada bagian belakangnya tertulis nomor telepon Laras, dengan satu angka diperbaiki sampai kertasnya hampir berlubang.
"Kenapa ada di sini?"
"Takut salah."
"Kan bisa disimpan di HP."
"Waktu kamu sebutin, aku pura-pura HP-ku mati."
Laras menoleh.
"Kenapa?"
Damar menatap hujan di ujung teras.
"Biar kamu tulis sendiri."
Laras melihat lagi angka-angka di kertas itu. Ia sudah lupa pernah menuliskannya. Dulu ia punya kebiasaan memberi ekor panjang pada angka sembilan. Dua angka sembilan di nota itu nyaris menabrak nomor di sebelahnya.
"Kamu simpan sebelas tahun?"
"Jangan dibuang."
Ia mengembalikan nota itu ke halaman yang sama. Lalu ia mengambil tangan Damar dari lengan kursi dan menyelipkannya ke dalam sarung, melingkari pinggangnya.
"Dingin," katanya.
Damar menariknya lebih dekat.
Setelah piring kosong, Laras membaca beberapa halaman dengan suara pelan. Damar sesekali menyela, bertanya nama tokoh yang baru saja disebut. Laras menuduhnya tidak mendengarkan.
"Aku dengar. Yang punya toko itu siapa?"
"Tadi kamu bilang sudah tamat."
"Sebelas tahun lalu. Ingatanku dipakai buat hal lain."
"Apa?"
"Nomor token listrik."
Laras menyikutnya. Damar tertawa, lalu merapatkan sarung yang turun dari lutut istrinya.
Ketika tokoh dalam buku kembali ke rumah masa kecilnya, Laras berhenti di tengah paragraf. Ada adegan menurunkan koper dari lemari. Ia membaca kalimat itu sekali lagi tanpa suara.
"Ganti aku?" tanya Damar.
Laras menyerahkan novel kepadanya, tetapi tetap meletakkan satu jari di halaman.
"Aku takut nanti buku-buku ini enggak dibuka lagi."
Damar menunggu.
"Di rumah ibu juga begitu. Sesudah Bapak meninggal, dia cuma lap raknya. Buku yang Bapak baca masih terbuka di meja sampai berbulan-bulan. Kalau aku mau pindahin, katanya nanti dulu."
Ia meraba tepi halaman dengan ujung jari.
"Aku dulu pikir ibu berlebihan."
Damar membetulkan posisi buku agar terkena cahaya lampu. Di halaman kiri, ada bekas lipatan yang sudah diratakan berkali-kali.
"Album tadi taruh saja di kardus dulu," katanya.
Laras mengangguk. Beberapa tetes hujan masuk dari sisi teras. Damar menarik bangku berisi piring agar tidak basah, lalu kembali bersandar.
Laras memperhatikan profil suaminya. Ada uban pendek dekat pelipis, hanya kelihatan kalau terkena lampu dari samping. Ia mengusapnya dengan jari.
"Jangan dicabut," kata Damar.
"Enggak."
"Kemarin satu. Kamu bilang satu, ternyata tiga."
Tangannya berhenti di pipi Damar.
"Jika aku mati dulu kau harus lebih rajin membaca dari pada rajin berdoa, aku ingin kesedihanmu ikut selesai setelah kau selesai membaca buku."
Damar memandangnya. Dari dekat, Laras bisa melihat remah roti yang tersangkut di lipatan kerahnya. Ia mengambil remah itu, menggulungnya di antara dua jari, lalu menjatuhkannya ke piring.
"Buku yang mana?" tanya Damar.
Laras menunjuk novel di tangan suaminya.
"Ini boleh."
"Tinggal sedikit."
"Ya cari yang lain."
Damar menatap halaman yang terbuka, lalu mengusap punggung tangan Laras.
"Kalau sudah tamat masih sedih?"
Laras membuka mulut, tetapi kalimat yang hendak ia katakan tidak jadi keluar. Kartu peminjaman itu masih ada di sakunya. Ia memikirkan labu siam di dapur dan ponsel yang sore tadi buru-buru dijauhkannya dari telinga.
"Boleh," katanya akhirnya. "Aku juga masih."
Damar mengangguk. Ia mencium tangan Laras sebelum menaruhnya kembali di bawah sarung.
"Aku tetap mau doain kamu."
"Iya."
"Namamu sudah hafal."
Laras tertawa kecil. Ia membenamkan hidung ke lengan Damar, mengelapnya pada kaus yang tadi hendak dimasukkan suaminya ke keranjang cucian.
"Jorok," kata Damar pelan.
Ia tidak menarik lengannya.
Hujan berhenti sebelum pukul sepuluh. Dari luar pagar terdengar roda gerobak melindas genangan, disusul ketukan mangkuk. Damar bertanya apakah Laras ingin bakso. Ia menggeleng, lalu mengangkat kepala ketika gerobaknya sudah hampir lewat.
"Satu. Bagi dua."
Damar melepaskan diri dari kursi dengan susah payah. Laras memegang punggung kausnya supaya ia tidak tersandung sarung.
"Pakai sandal."
Damar mengambil sandal yang satu di bawah kursi, yang lain di dekat kardus. Dari teras Laras melihatnya memanggil penjual, mengangkat satu jari, lalu menunjuk rumah. Lampu gerobak menerangi betisnya. Sewaktu menunggu, Damar menoleh dan menggerakkan bibir, sambal?
Laras menunjukkan jarak kecil antara ibu jari dan telunjuk.
Damar kembali dengan satu mangkuk, dua sendok, dan satu bakso tambahan yang menurut penjual terlalu kecil untuk dijual sendiri. Laras membaginya dengan tepi sendok. Belahannya tidak sama besar. Damar mengambil yang kecil sebelum ia sempat menukar.
Sesudah makan, mereka membawa novel ke kamar. Kardus-kardus masih di ruang tengah. Dari tempat tidur, Laras bisa melihat ujung rak yang baru dibetulkan, dengan buku resep ibu berdiri sendirian di tengah papan.
Damar memasang kacamata yang hanya dipakainya untuk membaca malam hari. Laras menyukai wajahnya dengan kacamata itu, tetapi setiap kali ia mengatakan demikian, Damar akan mengangkat dagu dan berlagak sedang memeriksa pekerjaan rumahnya.
Malam ini Laras hanya menarik bantal lebih dekat.
"Dari koper tadi," katanya.
Damar mencari halaman. Laras menyelipkan kakinya di antara kedua kaki suaminya. Dingin telapaknya membuat Damar berhenti membaca kata pertama.
"Ras."
"Sebentar saja."
Ia membiarkannya. Sambil membaca, tangannya menggosok punggung kaki Laras di bawah selimut.
Dua halaman berlalu. Suaranya makin rendah. Pada halaman ketiga, ia menyebut nama tokoh yang salah, membetulkannya, lalu mengulang satu kalimat dari awal.
Laras mengangkat wajah. Kacamata Damar sudah melorot.
"Tidur saja."
"Kamu belum."
"Aku lanjut sendiri."
Ia mengambil novel itu dan melepas kacamata suaminya. Damar berbaring miring menghadapnya, satu tangan masih menahan ujung selimut di pinggang Laras. Beberapa menit kemudian, pegangan itu longgar.
Laras membaca sampai akhir bab. Perempuan dalam cerita akhirnya naik kereta lagi. Di halaman selanjutnya, sebuah bab baru dimulai dengan percakapan di meja makan.
Ia meraih kartu dari kantong bajunya. Nama Damar masih jelas, begitu juga tanggal yang ditulis ibu. Laras memasukkannya di antara kedua halaman, membiarkan bagian atas kartu muncul sedikit.
Sebelum mematikan lampu, ia membuka laci meja dan mengambil pensil. Di kolom tanggal kembali, ia menulis Minggu depan, lalu meletakkan buku itu di atas kacamata Damar.
Ketika Laras berbaring, suaminya bergeser dalam tidur. Ia mengangkat lengan, menyediakan tempat yang tadi dipakai Laras di teras. Laras masuk ke sana dan menarik selimut sampai menutupi kaki mereka berdua.