Anak yang Bisa Diandalkan
Ayahnya menaikkan uang saku Raka pada hari ia berhasil membuat tukang kebun mereka menangis.
Uang itu masuk setelah magrib, ketika Raka sedang memilih foto halaman untuk dikirim ke grup keluarga. Ia memilih yang tidak memperlihatkan selang. Ayah membalas dengan gambar jempol, lalu bukti transfer. Di bawahnya ada pesan: Mulai bulan depan segitu. Tanggung jawabnya juga ditambah.
Raka menyimpan bukti transfer itu. Selama ini, pesan pribadi dari ayah biasanya berisi tautan berita tentang anak seusianya yang sudah memperoleh beasiswa.
Pesan pertama ayah pagi tadi masuk sebelum ia sempat mandi.
Pak Darto sedang berdiri di tangga aluminium dengan gunting pangkas terselip di antara dua cabang bugenvil. Di bawahnya ada karung-karung yang mulutnya dilipat keluar. Bunga merah muda tersangkut di rambutnya.
Raka keluar membawa ponsel. Ayah mengirim foto halaman yang diambil dari balkon sebelum berangkat, dengan lingkaran merah mengelilingi deretan pot di samping garasi.
“Ini dipindah ke belakang, Pak. Nanti buat parkir.”
Pak Darto menoleh dari atas tangga.
“Semuanya, Mas?”
“Yang dilingkarin.”
“Ibu tadi minta yang ini dirapikan dulu.” Ia mengangkat gunting. “Jangan sampai ketutup bunga yang bawah, katanya. Buat foto nanti sore.”
Raka memperbesar gambar ayah. Ada delapan pot dalam lingkaran, termasuk pot besar yang sedang dipangkas. Ia menunjukkan layar, tetapi Pak Darto harus turun dua anak tangga untuk melihatnya.
“Ya, dirapikan, terus dipindah.”
“Kalau dipindah, bunganya menghadap tembok belakang.”
“Nanti tinggal diputar.”
Pak Darto melihat pot itu, lalu lorong samping rumah. Lebarnya hanya cukup untuk satu orang dan gerobak kecil.
“Saya tanyakan Ibu dulu.”
“Lho, kan saya sudah bilang.”
Raka tidak menaikkan suara. Ia justru heran perlu mengulangi sesuatu yang sudah ada fotonya. Usianya tujuh belas, SIM sudah di dompet, tetapi orang-orang di rumah masih mencari ibunya setiap kali ia meminta sesuatu.
Pak Darto mengantongi gunting pangkas.
“Baik. Yang kecil dulu, ya.”
“Pokoknya sebelum tamu datang sudah bersih.”
“Saya jam tiga sudah izin pulang, Mas. Sama Ibu, kemarin.”
“Tamu jam tujuh. Masih lama.”
Raka masuk untuk mandi. Dari kamar mandi lantai atas ia mendengar roda gerobak melewati sambungan paving, bunyinya berat setiap kali turun dari satu batu ke batu berikutnya.
Ketika sarapan hampir pukul sebelas, Raka memesan makanan lewat ponsel. Ia menambahkan satu porsi siomai tanpa kol.
Pak Darto tidak suka kol. Raka ingat karena dulu, ketika mereka makan dari bungkus yang sama di dekat kolam, semua kol berakhir di bungkusnya. Pak Darto bilang kol rebus membuat makan siomai seperti makan isi bantal.
Raka sempat tertawa sendiri mengingatnya.
Di meja makan ada dompet ayah yang tertinggal. Ia mengambilnya, memotret, lalu mengirim pesan menawarkan untuk mengantar. Ayah membalas bahwa sopir akan kembali mengambilnya.
Halaman gimana?
Lagi dikerjakan.
Dicek. Jangan cuma disuruh.
Raka membawa dompet itu ke teras.
Dua pot sudah pindah. Pak Darto sedang jongkok di depan pot ketiga, memasukkan papan pendek ke bawah alasnya. Di samping gerobak tergeletak kemeja terlipat dalam kantong plastik bening.
“Mau ke mana, Pak?”
“Nonton Nisa. Final di gedung kecamatan.”
“Badminton?”
Pak Darto mengangguk. Ia mengganjal roda dengan batu, lalu mencoba mengungkit pot sekali lagi.
“Jam empat. Tapi dia minta saya datang sebelum pemanasan.”
Raka pernah melihat Nisa. Anak itu datang mengambil gaji bapaknya ketika Pak Darto demam. Sepatunya membawa sedikit tanah ke teras, dan ia sibuk menggosokkannya ke keset sampai Raka bilang sudah, masuk saja.
“Jago, ya?”
“Ganda. Temannya yang jago.”
Pak Darto tersenyum sambil menekan papan dengan kedua tangan. Potnya terangkat sedikit. Raka menahan gerobak dengan ujung sandal, lalu mundur ketika air dari lubang pot merembes ke dekat kakinya.
“Saya pesankan siomai. Nanti dimakan.”
“Wah. Terima kasih, Mas.”
Biasanya pada hari Sabtu Raka baru turun ketika makan siang. Sekarang bahkan makanan Pak Darto sudah ia urus. Ia membuka percakapan dengan ayah, memeriksa apakah foto halaman berikutnya perlu dikirim sekarang.
Menjelang pukul satu, ibunya pulang dari salon.
Ia berhenti di depan ruang kosong tempat bugenvil tadi berada.
“Lho. Bunganya ke mana?”
Pak Darto mengeluarkan kepala dari lorong samping. Bahu kanan kausnya basah sampai ke dada.
“Dipindah, Bu. Kata Mas Raka.”
“Mama mau foto di sini. Sudah bilang dari kemarin.”
Raka menunjukkan pesan ayah.
Ibunya membaca sambil tetap memegang kunci mobil. “Ya, pot yang lain. Yang ini kan berbunga. Masa Papa harus jelaskan satu-satu?”
Di layar Raka, lingkaran merah melewati tepat bagian tengah pot itu.
“Ini masuk lingkaran, Ma.”
“Ya sudah, kembalikan. Yang lain tetap di belakang.”
Ibunya masuk sambil menelepon orang katering. Pak Darto mengelap tangannya pada celana, menunggu di ujung lorong.
Raka menurunkan ponsel.
“Bapak tadi tahu Mama mau foto di sini, kan?”
“Tadi sudah saya bilang.”
“Bilang yang jelas, dong. Sekarang kerja dua kali.”
Pak Darto membuka mulut, kemudian memungut batu pengganjal roda.
“Pakai otak sedikit, Pak.”
Kalimat itu keluar sementara Raka sedang membalas pesan temannya. Sesudah menekan kirim, ia menunjuk letak pot semula.
“Taruh agak ke kiri. Biar mobil masih bisa masuk.”
Pak Darto menarik gerobak melewatinya. Raka bergeser supaya pegangan gerobak tidak menyentuh celananya.
Ayah pernah mengatakan hal yang sama ketika Raka berumur sembilan tahun.
Waktu itu ia menaruh gelas di atas kap mobil agar bisa mengikat tali sepatu. Dasar gelas meninggalkan lingkaran air. Ayah memanggilnya kembali dari pintu dan menyuruhnya melihat bekas itu dari samping, sejajar dengan kap.
“Pakai otak sedikit. Ditaruh di meja susah?”
Raka mengelap dengan ujung kaus. Ayah menarik kausnya menjauh dari cat mobil dan memanggil Pak Darto untuk mengambil kain yang benar.
Siangnya mereka tetap pergi membeli sepatu futsal. Raka memilih yang biru. Ayah menunggu sampai ia mencoba ukuran kedua, lalu berjongkok untuk menekan ujung sepatunya, memastikan ibu jari tidak tertekuk.
Sepatu itu masih ada di lemari bawah tangga, terlalu kecil untuk dipakai, terlalu bagus menurut ibu untuk dibuang.
Raka melewati lemari tersebut ketika kurir makanan membunyikan bel. Ia mengambil kantong siomai dan membawanya ke meja dapur. Bumbu kacang Pak Darto dipisahkan supaya tidak meresap sebelum dimakan.
Ia menulis nama Pak Darto pada tutup kotak dengan spidol.
Pukul setengah tiga, halaman penuh bekas lingkaran pot. Tanah yang selama bertahun-tahun tersimpan di bawahnya kini menempel pada paving. Pak Darto menyiramnya sambil mendorong sikat bergagang pendek.
Raka mengirim foto kepada ayah.
Telepon masuk sebelum ia sempat meletakkan ponsel.
“Kok masih begitu?”
“Iya, Pa. Ini lagi disikat.”
“Yang dekat pagar juga. Jangan sampai mobil tamu bawa lumpur.”
“Siap. Nanti Raka cek lagi.”
“Kamu jangan masuk kamar terus.”
“Enggak, Pa. Dari tadi di bawah.”
Suaranya ringan. Ia bahkan tersenyum ketika ayah berkata akan mengandalkannya malam ini. Setelah sambungan putus, Raka mengambil gambar yang lebih dekat untuk memastikan noda itu memang masih terlihat.
Pak Darto mematikan keran.
“Mas, yang dekat pagar saya lanjut Senin. Ini sudah tidak licin. Tinggal warnanya.”
“Papa minta bersih hari ini.”
“Kalau bekas pot lama, disikat sekali belum bisa hilang.”
“Ya, jangan sekali.”
Pak Darto menaruh sikat dengan gagang bersandar di lutut. Ia melihat jam di ponsel, kemudian mengangkat kantong berisi kemejanya dari bangku.
“Saya sudah janji sama anak saya.”
Raka mengulurkan ponselnya, memperlihatkan foto yang baru diambil.
“Ini menurut Bapak bersih?”
Pak Darto tidak melihat layar.
“Coba Bapak jawab. Bersih?”
Dari garasi, Mbak Wati keluar membawa taplak yang akan dikibaskan. Ia berhenti di ambang pintu.
“Saya pulang sebentar, nanti habis pertandingan balik lagi.”
“Bapak kalau disuruh selalu ada saja alasannya. Saya juga punya acara. Enggak cuma anak Bapak yang punya acara.”
Pak Darto meletakkan kantong kemeja kembali ke bangku.
Raka menunjuk paving dengan ponsel. “Begini doang mesti ditungguin. Capek saya ngomongnya.”
Keran dibuka lagi. Pak Darto jongkok, memendekkan pegangan sikat sampai tangannya dekat dengan bulu-bulunya. Air mengalir melewati sandalnya.
“Pak. Saya masih ngomong.”
Pak Darto mengangkat wajah. Ada ingus di atas bibirnya. Ia menyekanya dengan bahu, lalu menunduk kembali. Ketika hendak menjawab, yang keluar hanya potongan suara pendek. Ia mencoba sekali lagi dan gagal.
Mbak Wati melipat taplak yang belum sempat dikibaskan.
Raka memasukkan ponsel ke saku.
“Saya enggak marah, Pak. Saya cuma minta dibereskan.”
Pak Darto mengangguk. Ia tetap jongkok, menekan sikat pada noda yang sama. Raka memandangi bagian belakang kepalanya, berharap ia menoleh lagi dengan wajah yang sudah biasa.
“Siomainya di dalam. Nanti keburu dingin.”
Tidak ada jawaban. Raka masuk mencari ibunya.
Ibu sedang mencoba anting di depan cermin kamar.
“Darto kenapa?” tanyanya setelah Raka selesai bercerita.
“Enggak tahu. Saya ngomong biasa.”
“Kamu bilang apa?”
Raka mengulang bagian tentang halaman yang belum bersih. Ia menyebut pertandingan Nisa dan tawaran Pak Darto untuk kembali setelahnya. Bagian tentang otak tidak terpikir olehnya sampai ibu bertanya apakah ada kata-kata yang keterlaluan.
“Ya, tadi saya bilang pakai otak sedikit. Soalnya potnya jadi bolak-balik.”
Ibu menurunkan anting yang belum terpasang.
“Mulutmu itu persis Papa.”
Raka tidak tahu apakah ia harus tersenyum. Ibu sudah beranjak ke pintu.
Dari tangga ia mendengar ibunya berbicara kepada Pak Darto. Nadanya rendah, seperti ketika mengingatkan tamu agar tidak lupa membawa barang.
“Jangan dimasukkan hati, Pak. Raka kalau ngomong memang begitu. Maksudnya baik.”
Pak Darto mengatakan sesuatu yang tidak terdengar.
“Iya, saya tahu kemarin sudah izin. Tapi lihat sendiri, kan, ini masih banyak. Nanti saya tambahkan uangnya.”
Raka duduk di anak tangga terakhir. Ponselnya bergetar. Teman-temannya sudah berada di lapangan basket, mengirim foto sepatu berjejer di pinggir garis.
Ia membalas bahwa rumahnya sedang ada acara.
Ketika ibu masuk, Raka bertanya, “Dia marah sama saya?”
“Sudah, enggak. Kamu nanti kalau menyuruh jangan ketus.”
“Saya enggak bermaksud begitu.”
“Mama tahu.”
Ibunya menyentuh rambutnya, merapikan bagian yang masih berdiri setelah mandi. Raka menahan kepala sampai tangan itu selesai, lalu pergi mengambil kotak siomai.
Di lorong samping, Pak Darto sedang menelepon. Sikat terletak di atas kakinya supaya tidak hanyut bersama air.
“Sudah mau masuk?”
Raka berhenti dekat pintu dapur.
“Iya. Tasnya titip ibunya Lala dulu.”
Pak Darto mendengarkan. Ia mencabut sehelai daun dari bulu sikat.
“Bapak masih di sini.”
Ada jeda cukup lama untuk Raka memindahkan kotak makanan dari tangan kanan ke tangan kiri.
“Enggak. Kamu masuk saja. Nanti dipanggil.”
Pak Darto menutup telepon, melihat layar sebentar, lalu memasukkannya ke saku celana. Raka mendekat dan menaruh kotak siomai di bangku.
“Ini tanpa kol, Pak.”
“Terima kasih.”
“Bumbunya terpisah.”
Pak Darto mengangguk.
Raka menunggu ia membuka kotaknya. Dulu Pak Darto biasa langsung mengomentari ukuran siomai dari tempat itu, yang menurutnya makin kecil setiap kali dipesan. Kali ini ia hanya memindahkan kotak ke atas kantong kemejanya supaya tidak terkena air.
“Dimakan dulu juga boleh,” kata Raka.
Pak Darto memandang halaman, lalu mengambil sikatnya.
Raka kembali ke dalam. Ia sudah menawarkan istirahat. Ia bahkan ingat kolnya. Di dapur ia meminta Mbak Wati menyiapkan air minum untuk Pak Darto, kemudian naik untuk mengganti baju.
Ayah pulang pukul enam kurang sedikit. Mobilnya masuk tanpa perlu membunyikan klakson karena Raka sudah membuka pagar.
Ia turun, memeriksa deretan kursi yang baru diantar, lalu menggesekkan sol sepatu pada paving. Bekas pot masih ada, tetapi lebih pucat. Dari tempat ayah berdiri, sebagian tertutup mobil.
“Nah. Bisa, kan.”
Raka mengikuti ayah ke teras.
“Tadi sempat susah. Pak Darto mau pulang padahal belum selesai.”
“Terus?”
“Saya suruh selesaikan dulu.”
Ayah mengangguk sambil melepas jam tangan. Ia menyerahkan kotaknya kepada Raka untuk dibawa masuk.
“Kalau kamu ikut enggak enakan, kerjaan enggak akan beres.”
Raka memegang kotak jam itu dengan kedua tangan. Ayah jarang menitipkan benda tersebut kepadanya.
“Anak laki-laki harus bisa diandalkan. Masa semua masih Mama yang urus.”
Di ruang makan, ibu sedang memeriksa jumlah piring. Ia menoleh ketika ayah memanggilnya.
“Mulai sekarang urusan orang rumah lewat Raka saja. Biar belajar.”
“Asal ngomongnya dibagusin,” kata ibu. “Tadi Darto sampai nangis.”
Ayah menatap Raka.
Raka menaruh kotak jam di meja dengan hati-hati.
“Saya enggak bentak, Pa.”
“Ya sudah. Besok ketemu, biasa saja. Jangan kamu bahas lagi, nanti dia malu.”
Ayah mengambil kunci gudang dari laci bufet. Ada empat anak kunci pada cincin yang sama. Ia memisahkan satu, mencoba geriginya dengan ibu jari, lalu menyerahkannya kepada Raka.
“Pompa sama alat-alat di situ. Kalau ada yang rusak, cek dulu sebelum minta beli.”
Raka memasukkannya ke cincin kunci motornya.
Di luar, Pak Darto sudah menggulung selang. Kantong kemejanya tergantung di setang sepeda, masih terlipat seperti tadi pagi. Kotak siomai diikat di atasnya dengan kantong plastik lain.
“Pulang, Mas,” katanya ketika Raka kembali ke teras untuk mengambil foto.
“Iya, Pak. Makanannya jangan lupa.”
Pak Darto menyentuh kantong di setang, lalu menuntun sepeda melewati pagar.
Raka memotret halaman. Ia mengambil tiga gambar sebelum menemukan sudut yang membuat seluruh lantai tampak bersih. Foto itu dikirimnya sesudah magrib. Tak lama kemudian, uang dari ayah masuk.
Sambil menunggu tamu, Raka membuka grup pekerja rumah yang baru saja ditambahkan ibu. Ia mengganti foto profilnya dengan foto berkemeja, membaca ulang pesan yang hendak dikirim, lalu menghapus kata tolong di bagian awal. Pesan itu sudah cukup sopan tanpa kata tersebut.
Ia menekan kirim.
Mulai besok, izin pulang dan urusan pekerjaan lewat saya dulu, ya.