Sejak musim penghujan dimulai, stempel kantor kami diganti dua kali. Yang pertama memakai bantalan tinta ungu bertuliskan Lembaga Penyaluran Pangan Rakyat, yang kedua memakai tinta hitam dengan lambang burung pemangsa diapit dua tangkai padi kering.
Letnan Harun membawa stempel kedua di dalam saku kemejanya. Setiap kali duduk di meja nomor tiga, ia meletakkan tabung kuningan itu di samping cangkir enamelnya, berdiri tegak seperti peluru yang belum ditembakkan.
“Tinta ungu itu boros,” katanya pada hari pertamanya bekerja. “Hurufnya terlalu gemuk. Rakyat tidak butuh huruf gemuk.”
Aku tidak menjawab. Meja nomor tiga sebelumnya milik Pak Basri, juru ketik yang telah tiga puluh tahun menyusun lembaran warta harga pasar. Tiga minggu lalu, dua orang berseragam loreng hijau datang membawa dua kardus mi instan dan satu lembar surat keputusan mutasi. Pak Basri diminta mengosongkan laci sebelum jam makan siang selesai, karena ia kedapatan mencoret kata berlimpah pada laporan panen jagung distrik dan menggantinya dengan kata tertahan hama.
Kini Pak Basri dipindahkan ke gudang arsip bawah tanah stasiun kereta, menyortir karcis bekas tahun tujuh puluhan. Sementara Letnan Harun, yang usianya belum genap dua puluh lima tahun dan kulit lehernya masih merah bekas cukuran kasar, duduk di kursi itu dengan pistol dinas FN yang moncong sarungnya selalu menggesek kayu meja setiap kali ia memutar pinggang.
Bukan hanya kantor kami yang mendapat jatah perwira. Di sekolah dasar tempat adik bungsuku belajar, pelajaran berhitung kini dipimpin seorang letnan dua yang meletakkan tongkat komando di atas meja kapur. Di puskesmas kecamatan, dokter jaga tidak boleh mengeluarkan resep obat penenang tanpa paraf sersan logistik yang mencurigai setiap keluhan pusing sebagai bentuk pembangkangan kerja. Di pasar induk, jatah tempat parkir gerobak sayur diatur oleh prajurit satu yang menolak uang receh dan hanya mau menerima tiga ikat kangkung paling segar.
“Pemerintah sedang merapikan barisan,” ujar Letnan Harun sambil mengikir kuku ibu jarinya dengan kikir saku. “Kalau sipil yang pegang kendali, kalian kebanyakan rapat tapi berasnya hilang di jalan.”
Aku terus mengetik. Mesin tik Brother peninggalan kantor jawatan penerangan mengeluarkan bunyi ketukan tajam yang memantul di dinding berlumut. Di hadapanku ada lima lembar kertas stensil buram. Tugas utamaku setiap hari sebelum jam sebelas adalah menyusun draf warta radio kota untuk gelombang AM 720 kilohertz.
Semua naskah warta harus mematuhi daftar kata terlarang yang ditempel Letnan Harun di kaca jendela menggunakan selotip cokelat.
Daftar itu sederhana: dilarang menulis kata antre, kata kelaparan, kata kosong, kata meninggal di jalan, serta dilarang menyebut angka kematian bayi di bangsal kelas tiga.
Sebagai gantinya, naskah harus memuat pengulangan berkala dari tiga kalimat dasar yang dirumuskan kementerian pusat:
Pemerintah memastikan persediaan cukup. Semua lapisan masyarakat diperhatikan. Tindakan penertiban diambil semata demi keselamatan rakyat.
Pukul sepuluh lewat seperempat, bau bawang goreng dari dapur umum militer di halaman belakang merayap masuk lewat lubang angin. Letnan Harun membuka laci mejanya, mengeluarkan satu kaleng kornet ransum tentara dengan cap hijau tua bertuliskan Tidak untuk Diperjualbelikan.
Ia membuka kaleng itu dengan pisau lipat bergerigi. Bau daging kalengan yang diawetkan dengan garam tebal segera memenuhi ruangan, menutupi bau debu kertas stensil. Lemak sapi yang membeku berwarna putih pucat menempel di pinggiran timah.
Ia menyendok dua suapan penuh, lalu meletakkan kaleng itu di sudut mejanya, membiarkannya terbuka di samping berkas daftar harga jagung. Ia selalu menyisakan lebih dari separuh kaleng setiap hari.
“Mau?” ia menawarkan tanpa menoleh, matanya masih membaca koran harian militer yang datang dari ibu kota dua hari terlambat.
“Masih kenyang,” kataku.
Di tasku ada kotak makan plastik berisi dua potong ubi rebus dingin yang direbus ibu subuh tadi sebelum ia berangkat mencuci pakaian di asrama perwira. Kami membagi tiga potong ubi itu menjadi empat bagian: satu untuk ibu, satu untuk adikku, dua potong kecil untuk bekal kerjaku. Nasi di rumah kami sudah digantikan gaplek sejak harga beras di pasar gelap naik enam kali lipat dari harga yang tercantum di naskah siaranku.
Dari jendela lantai dua, aku bisa melihat pagar kawat berduri yang membatasi pekarangan kantor logistik dari jalan raya.
Antrean kupon beras sudah mengular sejak pukul lima subuh. Ratusan orang berdiri rapat di bawah terik yang mulai menyengat aspal. Perempuan-perempuan tua menutupi kepala mereka dengan kain jarik basah. Beberapa laki-laki duduk berjongkok di atas saluran air yang mampet, memegang ember seng kosong yang sesekali dipukul pelan oleh anak-anak kecil mereka untuk mengusir lalat.
Di pintu gerbang kantor, dua prajurit bersenjata laras panjang berdiri di depan timbangan beras. Setiap kali seorang warga menyerahkan kupon merah, beras ditakar bukan dengan takaran timah, melainkan dengan kaleng bekas susu kental manis. Dua kaleng untuk satu keluarga selama empat hari. Siapa pun yang berdebat soal timbangan akan diminta minggir ke pos penjagaan dan namanya dicatat dalam buku bersampul hitam.
“Mereka tidak sabar,” kata Letnan Harun pelan, membalik halaman korannya. “Di ibu kota, presiden makan jagung rebus setiap malam untuk memberi contoh prihatin. Di sini orang-orang ribut cuma gara-gara dua genggam beras.”
“Jagung di pasar harganya delapan ribu sekilo, Pak Letnan,” sahutku, tetap menatap tuts mesin tik.
Letnan Harun menaruh korannya. Jemarinya yang berbulu tebal mengetuk pelan sarung pistol di pinggangnya.
“Kamu tahu bedanya orang bijak dan orang pembangkang?” tanyanya dengan suara yang datar, tidak meninggi namun tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. “Orang bijak memikirkan kelangsungan negara sepuluh tahun lagi. Orang pembangkang cuma memikirkan apa yang masuk ke perutnya siang ini.”
Aku tidak mendebat. Di laci mejaku ada formulir perpanjangan izin bekerja untuk bulan depan yang belum ia tandatangani. Jika ia mencoret kolom kelakuan baik, aku tidak akan bisa melewati pos pemeriksaan jembatan untuk pulang ke rumah.
Pukul sebelas kurang dua puluh menit, mesin faksimile di sudut ruangan mulai berderit panjang. Kertas termal gulung keluar perlahan, bergulung ke lantai papan dengan huruf-huruf hitam tebal yang terbaca putus-putus.
Letnan Harun beranjak dari kursinya, merobek kertas itu sebelum pemotong otomatisnya berbunyi.
Ia membacanya sambil bersandar pada kusen jendela. Dari gerakan rahangnya, aku tahu lembaran itu bukan surat distribusi beras mingguan.
“Naskah pidato khusus,” katanya. Ia menyerahkan gulungan kertas termal itu ke mejaku. “Masukkan ke segmen pertama siaran warta pukul sebelas. Gantikan laporan harga cabai.”
Kukembangkan kertas itu. Tinta faksimilenya masih berbau minyak tanah.
Di baris pertama tertulis instruksi siar berkategori merah:
PENGUMUMAN DARI PUSAT KOMANDO KEAMANAN NASIONAL. DIBACAKAN OLEH SELURUH STASIUN TRANSMISI DAERAH PUKUL 11.00 TEPAT.
Isi naskahnya sangat rapat, disusun dalam kalimat-kalimat panjang yang menuntut ketundukan penuh:
Bapak Presiden, Panglima Tertinggi Pemulihan Keamanan Rakyat, menyampaikan rasa terima kasih atas ketabahan seluruh warga yang setia pada garis perjuangan tertib sipil. Disampaikan kepada seluruh rakyat bahwa desas-desus kelaparan di wilayah selatan adalah fabrikasi kelompok pengacau yang didanai pihak luar. Hari ini, di hadapan barisan kehormatan gabungan seluruh matra bersenjata dan perwakilan rakyat yang setia, Presiden memimpin sidang kabinet darurat untuk memastikan bahwa negara berada dalam kendali mutlak. Jangan percaya pada bisik-bisik di jalanan. Musuh terbesar negara saat ini bukan kekurangan pangan, melainkan kepanikan yang sengaja diciptakan.
Di bawah paragraf terakhir, ada petunjuk intonasi yang dicetak tebal: Baca dengan nada teduh, berwibawa, dan tidak tergesa-gesa.
“Bagus naskahnya,” komentar Letnan Harun, kembali ke kursinya. Ia membuka tutup cangkir enamelnya, meniup permukaan kopi hitam yang sudah dingin. “Tenang. Menunjukkan bahwa pimpinan kita tidak goyah sedikit pun meski di luar banyak anjing menggonggong.”
Aku memasukkan kertas stensil baru ke rol mesin tik, menyalin teks faksimile itu ke lembaran siaran berlogo resmi stasiun kota. Huruf-huruf logam beradu dengan pita hitam, membekaskan kata-kata itu satu demi satu: tidak goyah, tertib sipil, demi rakyat.
Di luar, suara teriakan mulai terdengar lebih jelas.
Kuintip dari celah tirai bambu. Barisan antrean di gerbang telah merapat ke pagar kawat duri. Truk pengangkut beras yang dijanjikan tiba pukul sepuluh belum juga kelihatan di ujung jalan raya. Seorang ibu mengacungkan ember plastiknya ke arah pos jaga. Prajurit di pintu gerbang mengangkat laras senapannya ke udara, namun orang-orang tidak mundur. Mereka justru merapatkan badan, pundak bertemu pundak, seperti tanggul yang menahan air pasang.
“Letnan,” kataku.
Letnan Harun tidak melihat ke luar jendela. Ia sedang membersihkan laras luar pistolnya dengan ujung saputangan putih.
“Biar anak-anak di bawah yang urus,” jawabnya dingin. “Rakyat itu seperti anak kecil yang merengek minta gula. Kalau kamu ladeni setiap teriakannya, mereka lupa cara hormat.”
Tepat pada saat itu, telepon merah di atas meja telegraf berdering.
Deringnya bukan dering tunggal yang lambat seperti telepon administrasi biasa. Suaranya rapat, memekakkan telinga, terputus setiap setengah detik tanda panggilan jalur militer darurat tingkat tertinggi.
Letnan Harun berhenti menggosok pistolnya. Saputangannya jatuh ke lantai.
Ia melangkah ke meja telegraf dengan langkah lebar, mengangkat gagang hitam itu, lalu mendekatkannya ke telinga.
“Pos Penerangan Distrik Tiga. Letnan Harun.”
Ruangan menjadi sangat hening kecuali dengung mesin kipas angin tua di langit-langit yang kekurangan minyak pelumas.
Aku tidak bisa mendengar suara orang di ujung kabel, tetapi aku bisa mendengar desah napas yang berat dan suara ledakan tumpul yang bergema berkali-kali di latar belakang suara penutur, disusul jeritan puluhan orang yang terpantul di lorong beton.
Wajah Letnan Harun tidak berubah menjadi pucat. Kulitnya tetap kaku. Tetapi matanya berhenti berkedip. Pandangannya terpaku pada kalender dinding bergambar foto presiden tersenyum di atas kendaraan lapis baja.
Ia tidak mengatakan Siap, laksanakan. Ia tidak menanyakan instruksi lanjutan.
Ia hanya mendengarkan selama kira-kira dua puluh detik, lalu gagang telepon di seberang sana terbanting keras ke lantai beton, diikuti suara gemeretak kabel yang putus.
Letnan Harun menurunkan gagang telepon perlahan, menaruhnya di atas meja tanpa mengembalikannya ke rumah gagang. Nada sibuk tut-tut-tut berulang tanpa henti ke udara ruangan.
Ia berbalik ke arah mejanya.
Ia mengangkat helm baja miliknya yang sejak pagi bertengger di sandaran kursi. Helm seberat dua kilogram dengan lapisan cat hijau lumut yang terkelupas di bagian dahi.
Dengan gerakan yang sangat terukur, ia meletakkan helm baja itu tepat di atas meja siaranku, menimpa lembar kedua naskah pidato presiden yang baru selesai kuketik. Kertas buram itu terlipat paksa, remuk di bawah lingkaran besi pelindung kepala, tepat di atas kalimat: negara berada dalam kendali mutlak.
“Letnan?” tanyaku.
Ia tidak memandangku. Ia membuka kancing saku kirinya, mengambil tabung stempel berlogo burung pemangsa, lalu memasukkannya ke dalam saku celana paling dalam.
“Kopral di bawah tahu?” tanyanya, suaranya terdengar sangat parau, seperti seseorang yang menelan pasir panas.
“Soal apa, Pak?”
Sebelum ia sempat menjawab, pintu kantor di ujung lorong terbuka tanpa ketukan.
Kopral Danu, komandan regu jaga pintu gerbang bawah, berdiri di ambang pintu. Helmnya sudah tidak ada di kepalanya. Kancing kerah seragamnya terbuka dua, memperlihatkan kaus oblong loreng yang basah oleh keringat kotor. Di tangannya tidak ada senapan.
Ia memandang Letnan Harun, lalu memandangku, lalu memandang gagang telepon merah yang masih mendesah bunyi tut-tut-tut di meja telegraf.
“Ibu kota, Ndan?” bisik Kopral Danu.
Letnan Harun mengangguk satu kali. Sangat singkat.
“Berapa orang?” tanya Kopral Danu lagi.
“Bukan berapa orang,” jawab Letnan Harun dengan nada yang hampir menyerupai bisikan orang sekarat. “Bapak sendiri. Di tangga utama rapat kabinet. Jam sepuluh lewat sepuluh tadi.”
Kopral Danu melangkah mundur satu langkah, tumit sepatunya membentur lemari arsip.
“Siapa yang menembak?”
“Warga sipil yang membawa map proposal pertanian,” kata Letnan Harun. “Pistol revolver dinas perwira kawal. Dua peluru di leher, satu di lambung. Pasukan pengawal terlambat menarik picu karena sedang memeriksa kelengkapan stempel di map.”
Hening kembali turun ke ruangan itu, begitu tebal hingga derit kipas angin terdengar seperti suara gergaji memotong kayu lapuk.
Presiden yang didukung penuh oleh seluruh divisi bersenjata, yang wajahnya terpajang di setiap ruang kelas dan ruang rapat dari Sabang sampai Merauke, yang baris pengawalnya terdiri dari seribu perwira pilihan dengan bayonet terhunus, tewas di tangga marmer istananya sendiri di tangan seorang laki-laki yang membawa map kertas seharga dua ratus rupiah.
Di luar jendela, nada gemuruh di jalan raya bergeser.
Bukan lagi suara teriakan meminta jatah beras. Suara itu adalah bunyi gerbang kawat berduri yang roboh ke aspal dengan derit besi melengkung yang memilukan. Ratusan orang melangkah melintasi gerbang yang runtuh itu tanpa ada yang menembakkan senapan ke udara.
Kopral Danu menatap Letnan Harun.
“Anak-anak di pos bawah sudah buang senapan ke parit, Ndan. Karung beras di gudang sudah dibuka dari samping pakai arit. Kita bagaimana?”
Letnan Harun tidak menjawab komandannya.
Ia berbalik ke lemari pakaian besi di belakang mejanya, membuka kuncinya dengan kunci kecil yang tergantung di rantai kalung dadanya. Di dalam lemari itu tidak ada senjata cadangan. Yang ada hanyalah sebuah kemeja batik katun lengan pendek bermotif parang warna cokelat pudar, sebuah celana jins tua yang lututnya sudah menipis, dan sepasang sandal jepit karet warna biru.
Pakaian sipil. Pakaian yang biasa dipakai seorang pemuda desa sebelum ia mendaftar ke akademi militer demi mendapatkan beras gratis dan uang pensiun bulanan.
Dengan gerakan cepat dan tanpa canggung, Letnan Harun melepaskan tanda pangkat dua balok kuningan dari kedua pundak seragam dinasnya. Logam itu berdenting pelan saat menyentuh kaca meja. Ia melepaskan lencana korps di kerahnya. Semua tanda kuasa itu ia bungkus dengan saputangan kotor, lalu ia masukkan ke saku celana jinsnya.
Ia memakai kemeja batik di atas kaus dalamnya yang berbau mesiu dan keringat.
“Pak Letnan,” panggilku.
Ia menoleh. Tanpa seragam dan tanda pangkat, wajahnya kembali menjadi wajah anak tukang kayu dari dusun perbatasan yang mungkin pernah kuraba punggungnya saat mengantre minyak tanah lima tahun lalu.
“Siaran pukul sebelas,” katanya, menunjuk bilik kaca studio di sebelah mejaku.
“Bapak mau saya baca naskah ini?” tanyaku sambil menunjuk kertas di bawah helm bajanya. Naskah yang menyatakan presiden sedang memimpin rapat tertib demi keselamatan rakyat.
Letnan Harun memandang naskah itu. Lalu ia memandang kaleng kornet ransumnya yang masih tergeletak terbuka di meja, lemak putihnya mulai mencair disentuh hawa panas siang hari.
“Terserah kamu,” katanya pelan. “Tapi kalau kamu bilang presiden masih hidup, orang-orang di bawah akan bakar kantor ini karena mereka tahu radio pusat sudah mati.”
Ia melangkah ke pintu, menepuk pundak Kopral Danu yang sudah melepaskan sepatu larasnya dan menggantinya dengan sepatu kets kumal.
“Lewat pintu belakang bengkel,” kata Letnan Harun kepada kopralnya. “Jangan lewat jalan raya. Kereta ke timur masih jalan kalau lokomotifnya tidak ditahan massa.”
Mereka berdua berjalan menuruni tangga kayu belakang. Langkah kaki mereka ringan, tidak lagi mengeluarkan dentum sepatu bot militer yang biasa membuat jendela kantor bergetar.
Di ruangan lantai dua, tinggal aku sendiri.
Jarum jam dinding di atas papan pengumuman menunjukkan pukul sebelas kurang tiga menit.
Di meja telegraf, gagang telepon masih berbunyi tut-tut-tut. Di radio monitor kecil merk National yang terhubung dengan frekuensi radio induk ibu kota, mars kebangsaan yang biasa diputar setiap lima belas menit telah lenyap. Yang keluar dari corong speakernya hanyalah suara dengung statis panjang. Dengung hampa frekuensi yang ditinggalkan oleh penyiar yang melarikan diri dari studio pusat.
Kualihkan pandanganku ke jendela.
Di halaman bawah, ratusan warga tidak membakar gedung. Mereka tidak menjarah meja resepsionis. Mereka hanya mengerubungi gudang logistik, mengangkat karung-karung beras putih seberat lima puluh kilogram dengan gotong-royong empat orang per karung. Seorang bapak tua yang tadi jongkok di atas selokan kini menuntun anaknya sambil memanggul setengah karung beras di pundaknya, wajahnya berlumuran tepung beras putih seperti bedak upacara adat.
Mereka yang perutnya kenyang selama bertahun-tahun selalu mengatakan tidak ada kelaparan. Mereka yang mendapat jatah bulanan selalu mengatakan semua sudah diperhatikan. Mereka yang memegang senapan selalu berteriak bahwa segala perintah adalah demi rakyat.
Sekarang laras senapan itu tergeletak di dasar parit kotor, terendam air cucian beras.
Lampu merah di atas pintu bilik siaran mulai berkedip pelan. Pukul sebelas tepat. Sakelar otomatis telah menyambungkan mikrofon studio ke antena pemancar berkekuatan sepuluh kilowatt di atas atap, memancarkan sinyal ke ribuan radio transistor di warung kopi, gardu ronda, dan dapur-dapur sempit di seluruh penjuru distrik.
Aku bangkit dari kursi.
Kutinggalkan naskah pidato presiden di bawah helm baja Letnan Harun. Aku tidak membawanya. Kertas itu terlalu dingin untuk dibaca, penuh kata-kata mati yang ditulis oleh orang-orang yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya memotong ubi rebus menjadi empat bagian agar cukup sampai malam.
Kumasuki bilik kaca studio.
Kutarik kursi putar berkulit robek di depan meja mikrofon. Corong mikrofon Shure berleher angsa berdiri tegak, dilapisi busa hitam berdebu.
Kupencet tombol merah ON AIR. Lampu di dinding menyala stabil.
Aku tidak mendekatkan bibirku ke corong busa itu. Aku tidak menyapa para pendengar dengan salam resmi kementerian penerangan.
Alih-alih menyusun kalimat, kuulurkan tanganku ke jendela kaca nako di belakang meja siar. Kutarik tuas besinya yang berkarat ke bawah. Kaca-kaca panjang itu berputar miring, membuka celah selebar dua jengkal ke udara bebas.
Angin panas siang hari masuk ke dalam bilik siar, membawa bau debu aspal, bau keringat orang-orang yang memanggul karung, derak rantai gerobak yang ditarik beramai-ramai, dan dentang sendok pada ember seng kosong yang dipukulkan anak-anak dengan irama tak beraturan seperti pesta perkawinan di kampung miskin.
Kuputar leher mikrofon perlahan, menghadapkan corongnya ke arah jendela yang terbuka itu.
Di atas meja, kubuka kotak makan plastikku.
Kukeluarkan sepotong ubi rebus dingin yang kubawa dari rumah. Kusuap sedikit demi sedikit ke mulutku. Lalu kutatap jarum detimeter pada meja transmiter yang melompat-lompat liar, menangkap setiap suara jeritan, tawa, dan napas orang-orang di luar sana, menyebarkannya ke seluruh penjuru kota tanpa satu kata pun yang perlu disaring.