Pada daftar pegawai, tanggal lahir Pak Darma sudah lengkap. Tanggal meninggalnya masih ditulis dengan pensil.
“Jangan ditebalkan,” katanya ketika melihat bolpoinku berhenti di kolom itu. “Nanti susah dihapus.”
Aku baru bekerja enam malam. Masih banyak peraturan yang belum kupahami, termasuk mengapa kantor pengolahan kuitansi membutuhkan data semacam itu. Di formulirku sendiri, kolom tersebut berisi garis pendek. Kukira semua orang mendapatkannya.
Pak Darma mengambil berkas itu, menaruhnya di urutan paling bawah, lalu menunjuk cangkir di dekat sikuku.
“Kalau gelas bocor, bilang. Jangan disuruh lembur juga.”
Ada lingkaran teh di bawahnya. Kuangkat. Dasarnya retak halus.
Kantor kami menempati lantai dua bekas toko kasur. Tulisan cicilan ringan masih membayang di kaca depan, tepat di belakang kepala Bu Ratri, pengawas giliran malam. Kami menyalin angka dari kuitansi yang hasil pindainya terlalu buram untuk dibaca mesin. Belanja rumah sakit, pembelian baut, karung pakan. Aku bisa mengetahui harga sebuah roda ranjang tanpa pernah melihat ranjangnya.
Di luar kantor, ada tiga pesan dari pemilik kos yang belum kubuka. Aku sudah membaca semuanya melalui notifikasi. Beliau tidak meminta penjelasan panjang. Beliau hanya ingin tahu tanggal.
Gaji percobaan cukup untuk kamar, makan, dan perjalanan ke tempat kontrol, asal tidak ada gigi yang memutuskan sakit. Upah tambahan diberikan untuk setiap dua belas perpanjangan kontrak pegawai yang selesai kuurus. Tugas administrasi itu ditawarkan sesudah wawancara, ketika aku sudah terlanjur mengucapkan terima kasih karena diterima.
“Kalau tidak mencapai dua belas?” tanyaku.
“Gaji pokok tetap. Insentifnya yang tidak keluar.”
Aku mengangguk. Dalam hitunganku, uang insentif sudah masuk ke tagihan kamar.
Sejak dokter menyebut depresi beberapa bulan lalu, aku menyimpan kertas jadwal kontrol di balik kartu ATM. Setiap mengambil uang, tanggal itu ikut terlihat. Jadwal berikutnya Senin pagi. Di kantor aku bilang ada urusan bank. Bu Ratri memintaku mengisi formulir izin, tetapi sampai Jumat formulir itu masih kulipat di saku.
Sore sebelum berangkat, aku mencoba mengganti sarung bantal. Yang lama sudah kulepas. Yang bersih tergeletak di sebelahnya ketika aku duduk, memakai kaus kaki, lalu melepasnya karena jahitannya mengganjal. Saat pesan dari kantor masuk, bantal itu masih telanjang. Aku mengunci pintu dengan sarung bantal bersih di tangan dan baru menaruhnya kembali setelah berjalan sampai tangga.
Di kantor aku bisa mengetik ratusan angka. Di kamar, dua ujung kain tidak juga bertemu.
Pak Darma bekerja di meja sebelah. Kuku ibu jarinya pipih, bekas bertahun-tahun menekan stempel. Kalau menemukan angka delapan yang menyerupai tiga, ia memiringkan seluruh monitor, bukan kepalanya. Layarnya miring sedikit ke kiri sepanjang malam.
Ia tahu laci mana yang menyimpan sendok, stopkontak mana yang longgar, serta cara mengetuk dispenser agar air panasnya keluar tanpa menyembur. Pegawai lain meminta bantuannya dengan mengangkat benda yang rusak. Sering kali ia cukup melambaikan tangan: nanti.
Setiap Jumat ia datang memakai kemeja berkancing sampai atas. Dasar gelas berisi air hangat digosokkannya ke kerah, pelan-pelan, sambil membaca ulang hitungan di layar.
“Ibu mau datang?”
Ia mengangguk.
“Bapak pulang sama beliau?”
“Lihat nanti.”
Jawaban itu kupahami sebagai kebiasaan suami yang tidak berani memastikan rencana istrinya. Aku menawarkan menggantikan jatah pemeriksaan terakhirnya. Ia menerima begitu cepat sehingga aku menyesal telah menunggu sampai Jumat untuk menawarkan.
Di meja kami, makanan harus ditaruh di sisi kiri. Sebelah kanan untuk kuitansi yang sudah diperiksa. Pernah kutukar keduanya. Pak Darma menemukan struk apotek di bawah pisang gorengku, mengangkatnya dengan ujung kuku, lalu berkata, “Yang ini sudah berminyak. Berarti lunas.”
Ia tidak mengambil pisang yang kusodorkan. Katanya, nanti saja.
Aku menyimpankan satu dalam kantong.
Istrinya datang pukul dua belas kurang seperempat, membawa tas kain bergambar nama toko cat. Tingginya hanya sampai bahu Pak Darma. Ia mengeluarkan sisir kecil dan merapikan rambut suaminya yang penyok di bagian belakang.
“Masih pakai sandaran itu?”
“Kursinya ya itu.”
“Kasih handuk.”
Pak Darma mengangguk seperti orang yang sudah mendengar nasihat tersebut berkali-kali dan akan tetap lupa.
Aku menyediakan kursi tamu. Istrinya berterima kasih, memperkenalkan diri sebagai Wening, lalu mengeluarkan kertas belanja dari dompet. Beras. Gas. Uang muka perbaikan gerobak. Satu baris dicoret sampai kertasnya menipis.
“Ini berkas Bapak, Bu.” Kusodorkan map yang tadi diselipkan ke urutan paling bawah. “Kalau selesai, Bapak boleh pulang. Pekerjaannya saya lanjutkan.”
Bu Wening menoleh kepada suaminya. Pak Darma melepas tutup bolpoin sendiri. Bolpoin biru itu diikat benang ke lubang kancing sakunya.
“Kamu belum dijelaskan Ratri?” tanyanya.
Aku mencari kekeliruanku di sampul map.
Bu Wening menarik kursinya lebih dekat ke meja. Ia membaca halaman pertama tanpa menggerakkan bibir. Di bawah namanya ada kolom penerima penghasilan. Di bawah nama suaminya ada keterangan: pegawai lanjutan.
Lalu aku melihat tanggal yang sama dengan tulisan pensil pada daftar pegawai. Sebelas bulan lalu.
“Bapak meninggal bulan itu?”
Pak Darma merapikan benang bolpoin yang tersangkut kancing.
“Tanggal empat. Yang tertulis sudah betul.”
Di ujung ruangan, seseorang bersin. Mesin cetak menarik tiga lembar sekaligus. Bu Ratri memukul penutupnya dengan sisi telapak tangan.
Bu Wening membuka halaman berikutnya. Mereka tidak sedang mengurus kepulangan Pak Darma. Mereka hendak memperpanjang satu bulan lagi.
Bu Ratri mengajakku ke dekat dispenser. Ia menunjukkan lampiran yang kusimpan bersama surat penerimaan kerja, belum kubaca karena empat halaman pertamanya membahas kerahasiaan data.
Perusahaan mempekerjakan dua jenis pegawai. Yang masih hidup boleh pulang setelah giliran berakhir. Yang sudah meninggal terikat pada tempat kerja selama kontraknya berlaku. Setelah kontrak terakhir ditutup, mereka tidak dapat dipanggil kembali. Upah masuk ke rekening keluarga. Perpanjangan memerlukan persetujuan keduanya.
“Bapak yang di depan itu?” tanyaku.
Bu Ratri mengangguk.
“Bu Sri?”
Ia mengangguk lagi. Aku berhenti menunjuk meja.
“Tanggalnya kenapa pakai pensil?”
“Kalau diperpanjang, kolom itu dikosongkan lagi. Yang kontraknya selesai baru dipindahkan ke buku tetap.”
Aku menatap lampiran itu. Ada ketentuan tentang salah ketik, penggantian hari kerja, dan kunjungan keluarga. Di bagian bawah, pegawai lanjutan dinyatakan tidak memperoleh uang makan.
Pisang goreng dalam kantongku sudah dingin.
“Kenapa waktu wawancara tidak bilang?”
“Saya bilang kamu akan membantu pegawai lanjutan.”
“Saya pikir orang yang kontraknya diperpanjang.”
Bu Ratri menutup map. Ibu jarinya berhenti di ujung kertas yang terlipat.
“Saya seharusnya menjelaskan.”
Di antara kami, dispenser mengeluarkan bunyi pendek. Aku belum menekan apa-apa.
“Kalau keluarga tidak tanda tangan?”
“Kontraknya selesai.”
“Uangnya?”
“Sampai hari terakhir bekerja. Tidak ada sesudah itu.”
Ia tidak mengucapkannya dengan dingin. Barangkali justru itu yang membuatku sulit kembali ke meja. Dari mulutnya, semua ini terdengar seperti penjelasan tentang kuitansi mana yang harus disimpan.
Pak Darma meninggal di rumah sakit. Bu Wening menyebut stroke, lalu meminta penggaris karena garis tempat tanda tangannya terlalu dekat dengan tulisan kecil.
“Setelah pemakaman, kami ke sini,” katanya. “Waktu masih bisa memilih, Bapak bilang lanjut dulu.”
Sebelas bulan yang lalu, lanjut dulu berarti sampai tunggakan rumah lunas. Setelah itu gerobak bocor. Kemudian tempat berjualan dipindahkan. Bu Wening menunjukkan hitungan di belakang daftar belanja, bukan untuk membujukku. Ia sedang meminta suaminya memeriksa pengurangan yang hasilnya selalu berbeda.
Pak Darma menghitung dengan kuku ibu jari menempel di baris terakhir.
“Ongkos dorong belum dimasukkan.”
“Aku dorong sendiri.”
Ia memandangi tangan istrinya. Pergelangan kanan dibebat kain elastis yang sudah berbulu.
“Kalau tambah nasi bungkus?” tanyanya.
“Yang kemarin sisa sembilan.”
Aku sudah menyiapkan kalimat tentang beristirahat. Tidak jadi kukeluarkan.
Bu Wening memutar kertas. Di baris yang dicoret, masih bisa kubaca harga sepasang sandal. Sandal yang sedang dipakainya disambung dengan kawat kecil. Ia memindahkan kaki ke bawah kursi ketika melihat arah pandanganku.
Pak Darma meletakkan bolpoin di atas kontrak sebulan. Ujungnya belum menyentuh kertas.
“Wen. Kalau seminggu?”
Istrinya masih memegangi penggaris.
“Dulu kamu bilang sampai Jumat.”
“Iya.”
“Ini Jumat, Pak.”
Aku menunduk ke layar. Sebelas perpanjangan bulanan telah selesai. Satu kolom lagi, dan uang kamar akan cukup. Di sebelah formulir sebulan tersedia pilihan tujuh hari, dibayar sesuai hari kerja. Perpanjangan pendek tidak masuk perhitungan insentif. Aku tahu itu. Aku baru saja membacanya dua kali.
Pak Darma mengambil bolpoinnya lagi.
“Ya sudah. Sebulan juga boleh.”
Aku menarik map tersebut sebelum ia menandatangani. Gerakanku membuat penggaris Bu Wening jatuh ke lantai.
Keduanya menatapku.
“Ada pilihan seminggu,” kataku.
Pak Darma mengangkat tangan ke arah kertas yang kupegang.
“Kami tahu.”
Aku mengembalikan map. Turun dari kursi untuk memungut penggaris terasa lama sekali.
Bu Wening meminta waktu. Aku pindah ke meja ujung, membawa kuitansi dan cangkir yang retak. Dari sana aku masih bisa melihat benang bolpoin Pak Darma, tetapi tidak mendengar percakapan mereka.
Aku membuka pesan pemilik kos.
Mas, saya juga harus bayar tukang. Tolong tanggalnya yang pasti.
Kuketik Sabtu. Kuhapus. Kuketik Senin, lalu menghapusnya juga. Aku ingin mematikan alarm tanpa menghitung berapa uang yang hilang karenanya. Keinginan itu terdengar kecil sampai aku mencoba menuliskan tanggal pembayaran.
Bu Ratri datang membawa gelas lain. Ia tidak menanyakan apa yang sedang kubaca.
“Sebelas belum bisa dicairkan?” tanyaku.
“Sistemnya per dua belas.”
“Bisa dimasukkan bulan depan?”
“Bisa. Tidak hangus. Tapi besok saya belum bisa kasih uangnya.”
Ia mengambil cangkir retak dari mejaku. Sebelum pergi, ia memeriksa apakah masih ada teh di dalamnya.
Aku mengetik jumlah yang bisa kubayar Sabtu, setengah tagihan. Sisanya belum kutulis. Pesan itu kukirim, lalu ponsel kutaruh terbalik agar aku tidak terus mengawasi tanda dibaca.
Ketika kembali ke meja, Bu Wening sedang menggarisbawahi tiga barang dalam daftar. Mereka memilih tujuh hari. Gerobaknya akan diperbaiki lebih dulu. Sandal tetap dicoret.
“Jumat depan jangan sodorkan yang sebulan sebelum kami minta,” katanya.
Aku mengangguk.
“Tapi berkasnya jangan dibuang juga.”
Kukembalikan formulir sebulan ke laci. Di layar, kolom pencapaian tetap sebelas. Aku memilih tujuh hari, membacakan jumlah upahnya, dan menunggu mereka memeriksa setiap angka sebelum mencetak.
Kertas pertama macet. Pak Darma berdiri hendak membantuku.
“Duduk saja, Pak. Saya bisa.”
Ia duduk, tetapi terus memberi petunjuk dari kursinya sampai aku salah membuka penutup mesin.
“Bukan yang itu. Kalau itu lepas semua, kita bertiga tidak jadi pulang.”
Bu Wening mendengus. Ia menutup mulut dengan daftar belanja.
Sesudah tanda tangan, Bu Wening belum berdiri. Ia mengambil handuk tipis dari tas toko cat, melipatnya dua, lalu menyelipkannya di antara kepala suaminya dan sandaran kursi.
“Besok saya masih masuk,” kata Pak Darma kepadaku.
Aku memegang salinan kontraknya. Tujuh hari tercetak jelas di sana.
“Saya tahu, Pak.”
“Maksud saya, kalau kamu perlu tukar pemeriksaan. Katanya Senin ada urusan bank.”
Aku meratakan kertas di meja.
“Kontrol, sebenarnya.”
Ia menunggu.
“Ke dokter. Saya masih berobat.”
“Jam berapa?”
“Sembilan.”
“Jangan ambil tambahan pagi.”
Pak Darma menunjuk formulir izin yang menyembul dari sakuku. Aku mengeluarkannya. Bekas lipatannya membelah kotak alasan menjadi dua. Kali ini aku menulis janji kontrol, kemudian meminta Bu Ratri membacanya sebelum aku sempat melipatnya lagi.
Ia mengizinkan pulang sesuai jam giliran. Tambahan pagiku dipindahkan ke orang lain. Tidak ada upah tambahan untuk pagi itu. Aku menyimpan salinan izin bersama kartu ATM, di belakang jadwal yang belum kubatalkan.
Bu Wening ingin tinggal sampai kunjungan berakhir. Aku membawa kuitansi Pak Darma ke mejaku, sesuai janji sebelum aku tahu ia tidak bisa pulang. Jumlahnya tidak banyak, tetapi ada satu angka yang harus kulihat dengan monitor dimiringkan.
Mereka duduk bersebelahan. Bu Wening bercerita tentang tetangga yang memasang pagar sampai gerobaknya tidak bisa lewat. Pak Darma menyarankan membalik gerobak. Istrinya mengatakan ia sudah mencoba itu tiga kali. Mereka berdebat tentang ukuran gang dengan suara rendah, sesekali menunjuk ubin untuk memperkirakan lebarnya.
Di bawah meja, sandal berkawat Bu Wening menyentuh sepatu suaminya. Tidak ada yang menggeser kaki.
Aku pulang setelah menyerahkan pemeriksaan terakhir. Pak Darma tetap di lantai dua. Dari tangga, aku melihat Bu Wening melepas handuk di sandaran untuk melipatnya sedikit lebih tebal. Ia masih punya beberapa menit.
Di ponsel, pemilik kos membalas: Setengah dulu tidak apa. Sisanya nanti kita bicarakan. Jangan hilang kabar.
Aku berhenti di warung yang baru membuka pintu. Membeli sebungkus nasi berarti mengurangi uang yang baru kujanjikan. Aku menghitung ulang, lalu meminta nasi setengah dengan telur. Ibu warung menyelipkan sendok ke karet pembungkus dan bertanya apakah aku bekerja di toko kasur.
“Di atasnya.”
“Pantes. Tokonya sudah tutup lama.”
Sesampainya di kamar, aku makan di lantai karena satu-satunya kursi penuh pakaian. Pisang goreng yang kusisihkan untuk Pak Darma kutaruh di atas tutup wadah. Ia tidak akan memakannya. Aku menghabiskannya sambil melepaskan kaus kaki.
Hari sudah terang ketika adikku membalas pesan yang kukirim semalam. Sebuah foto bekal, tutupnya tidak bisa menutup karena pisang dimasukkan melintang. Biasanya aku hanya mengirim tanda suka. Kali ini kutulis, Patahin pisangnya, bukan kotaknya.
Ia menelepon.
“Belum tidur?”
“Baru pulang.”
“Mau kututup?”
Aku mengambil sarung bantal bersih dari lantai.
“Sebentar. Kamu siap-siap saja.”
Kudengar laci dibuka, lalu keluhannya tentang kaus kaki yang tidak berpasangan. Ponsel kusandarkan pada gelas. Sambil mendengarkan, kumasukkan dua sudut bantal ke dalam kain, menarik sisi yang lain sampai rata, lalu merebahkan kepala di atasnya.