Aku sedang menempelkan label rusak pada telepon itu ketika ia berdering.
Stikernya belum lurus. Satu sudut menutupi angka sembilan. Kuangkat gagangnya supaya bisa meratakan kertas di bawahnya.
“Halo. Ini aku yang sudah besar?”
Di dekat kakiku, kabel telepon bergulung dengan ujung yang putus. Tembaganya keluar sedikit, menghijau.
“Salah sambung, Dik.”
“Jangan ditutup dulu.”
Aku menahan gagang itu di antara bahu dan telinga. Dari ruangan sebelah, Seno meminta selotip. Kugulirkan selotip melewati pintu. Ia menangkapnya dengan kaki, lalu kembali menyeret lemari.
“Kamu mau bicara sama siapa?”
Anak itu menyebut namaku. Lengkap, termasuk nama tengah yang sejak kuliah tidak pernah lagi kumasukkan ke formulir kecuali kolomnya wajib diisi.
“Dari siapa dapat nomor ini?”
“Aku pencet nomor rumah. Tapi enamnya kupencet dua kali.”
Ada suara basah di ujung kalimatnya, seperti seseorang sedang bicara sambil menahan kain di mulut.
“Kerah bajunya dikeluarkan dulu.”
Ia diam.
Aku memandangi ujung kabel di lantai.
“Kok tahu?”
Pukul sebelas lewat sedikit. Pendingin ruangan sudah dimatikan sejak sore, dan debu dari lemari arsip menempel di bagian dalam hidung. Di meja resepsionis tinggal telepon, satu kalender tiga tahun lalu, dan lingkaran cokelat bekas pot yang sudah diangkut.
Kantor itu akan dikosongkan. Aku dan Seno mengambil pekerjaan tambahan untuk memilah barang yang bisa dijual dan barang yang harus dibuang. Upahnya dibagi dua setelah truk terakhir berangkat.
Sebelum berangkat, kuhitung uang di dompet. Cukup sampai Minggu. Kalau sabun dipencet dari ujung yang dilipat, mungkin sampai Senin.
Di ponsel, pengingat janji kontrol muncul lagi. Kamis, pukul sembilan. Sudah lima bulan sejak dokter menuliskan depresi di berkas perawatanku. Sore tadi aku duduk di tepi kasur dengan handuk di pangkuan sampai Seno menelepon untuk kedua kali. Air di ember sudah dingin ketika akhirnya aku mandi.
Pengingat itu kututup.
“Masih di situ?” tanya anak tersebut.
“Iya.”
“Kamu umur berapa?”
“Dua puluh sembilan.”
Ia bersiul, gagal, lalu mencoba lagi. Bunyi yang keluar lebih mirip orang meniup bubur.
Aku pernah berlatih bersiul dengan cara itu di belakang kelas. Ardi bilang lidah harus dilipat. Seminggu kemudian aku tahu ia berbohong, tetapi telanjur mengajari dua orang lain.
“Sudah bisa bersiul?” tanyanya.
“Belum.”
“Lama sekali.”
Aku duduk di kursi resepsionis. Roda kirinya tidak ada, jadi kursi itu miring setiap kali kupindahkan berat badan.
“Kamu sedang apa?”
“Gambar.”
“Di mana?”
“Lantai. Meja dipakai Ibu.”
Terdengar gesekan pensil. Lalu ia bertanya apakah aku bisa menyetir mobil, apakah setelah besar masih ada pelajaran pecahan, dan apakah mi boleh dimakan langsung dari panci.
“Boleh,” kataku untuk pertanyaan terakhir.
“Ibu nggak marah?”
“Pancinya harus kamu cuci sendiri.”
Ia mempertimbangkan syarat itu cukup lama.
“Mending piring.”
Di hadapanku, stiker rusak mulai terangkat lagi pada sudut yang tadi belum sempat kuratakan.
“Kerjamu apa?”
Aku memutar kursi menjauhi pintu. Seno sedang menghitung tumpukan kursi plastik. Suaranya terdengar sampai angka dua belas, lalu kembali ke delapan.
“Arsitek,” kataku.
Anak itu berhenti menggesekkan pensil.
“Beneran?”
“Iya.”
“Yang bikin rumah?”
“Iya.”
Ia memukul sesuatu dua kali. Mungkin lantai. Aku masih ingat bagian ubin yang kopong di sebelah kaki meja jahit, tempat bunyinya lebih nyaring kalau diketuk dengan buku jari.
“Sebentar. Aku ambil kertas baru.”
Aku punya waktu untuk membetulkannya. Gagang telepon hangat di tangan. Dari seberang terdengar kaki kecil berlari, laci dibuka, lalu suara barang-barang yang buru-buru dimasukkan kembali.
Aku menunggu sampai ia kembali.
Rumah itu mulai kubangun dengan mengatakan pagarnya biru.
“Biru yang mana?”
“Biru tua.”
“Pensil biruku tinggal pendek.”
“Pagarnya tidak perlu tinggi.”
Ia setuju. Keputusan pertamaku sebagai arsitek diterima dengan mudah.
“Kamarnya Ibu di bawah, ya,” katanya.
“Iya.”
“Kalau naik tangga, nanti lututnya bunyi.”
“Kamu dengar?”
“Ibu yang bilang. Aku suruh bunyikan lagi, nggak mau.”
Aku tertawa sambil menunduk supaya tidak terdengar Seno. Di layar ponsel ada pesan Ibu dari siang: foto sepotong kain, menanyakan apakah warnanya terlalu tua untuk seragam pengajian. Belum kubalas. Foto itu kubuka sekarang. Ibu mengambilnya terlalu dekat, sehingga hampir seluruh layar berisi serat kain.
“Masih menjahit?” tanya anak itu.
“Siapa?”
“Ibu. Kalau rumahnya sudah jadi.”
Jariku membesarkan foto sampai seratnya pecah.
“Sudah jarang.”
“Berarti mejanya bisa buat gambar?”
“Kita punya meja sendiri.”
“Besar?”
“Besar.”
Pensilnya bergerak lagi. Ia menjelaskan letak jendela, pohon jambu, tempat sandal. Aku mengangguk pada setiap tambahan sampai ingat ia tidak bisa melihatku.
“Boleh,” kataku. “Di situ boleh.”
Untuk beberapa menit aku bisa menjawab pertanyaan tentang rumah tanpa membuka kalkulator.
Anak itu ingin kolam ikan di depan. Aku meminta kolamnya jangan terlalu lebar.
“Kenapa?”
“Nanti susah dibersihkan.”
“Kamu arsitek kok takut bersihin kolam.”
Aku kalah. Kolam itu dibuat lebar, dengan satu batu di tengah untuk kura-kura. Kami bahkan belum sepakat akan memelihara kura-kura.
Seno muncul di pintu. Ia membawa dua botol air yang diambil dari tasnya.
“Itu masuk kardus kabel apa rongsokan?” tanyanya sambil menunjuk telepon.
Kututup lubang suara dengan telapak tangan.
“Nanti dulu.”
“Truknya sudah di jalan.”
“Lima menit.”
Seno meletakkan satu botol di depanku. “Meja belakang belum. Aku nggak kuat angkat sendiri.”
Ia tidak pergi sebelum aku mengangguk.
Ketika tanganku kuangkat, anak itu bertanya, “Kok teleponnya dibuang?”
“Kantornya pindah.”
“Kamu ikut pindah?”
“Aku cuma bantu beres-beres.”
“Rumah kita dekat kantor?”
Aku melepaskan sisa stiker dari ibu jari. Lemnya tertinggal dan membuat jari itu lengket setiap kali menyentuh gagang.
“Rumah kita di jalan apa?” tanyanya lagi.
Kali ini aku tidak punya nama jalan untuk diberikan.
“Belum jadi,” kataku.
“Tadi katanya sudah.”
“Tadi aku bilang hampir.”
Ia diam sebentar. Aku mengenal diam itu juga. Ia sedang mengulang percakapan di kepalanya, mencari bagian yang salah ia dengar.
Aku melakukannya pada anak sembilan tahun.
“Sebenarnya belum dibangun.”
“Terus kamu tinggal di mana?”
“Kamar sewaan.”
“Sama Ibu?”
“Sendiri.”
Ia menyebut umurku lagi, seolah ingin memastikan angkanya.
Di ruangan sebelah, Seno menyobek selotip dengan gigi. Bunyi lakban ditarik dari gulungannya panjang sekali.
“Kamu beneran bikin rumah?”
“Tidak.”
“Kenapa bilang begitu?”
“Aku kerja di toko alat bangunan. Malam ini bantu orang pindahan.”
“Kamu berhenti gambar?”
Aku melirik tanganku. Di sela kuku ada debu abu-abu dari bagian belakang lemari. Jam tangan sudah kulepas sejak sore karena talinya membuat kulit gatal.
“Sudah lama.”
“Pensilnya hilang?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Ada yang mesti dikerjakan.”
“Rumahnya jadi kapan?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau gambarnya aku kirim, kamu bisa bikin?”
“Kamu pikir semuanya bisa dibeli pakai gambar?”
Seno berhenti bekerja.
Aku menggeser gagang ke telinga satunya, seolah masalahnya ada pada sambungan. Di seberang tidak terdengar pensil lagi.
Aku ingin sekali saja menceritakan hidupku kepada anak itu tanpa mengganti pekerjaanku atau mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan menjadi orang lain. Tetapi sejak tadi justru itulah yang kulakukan.
“Dik.”
Ada bunyi kertas dilipat.
“Masih di situ?”
“Iya.”
“Tadi aku membentak.”
Ia tidak membantu menyelesaikan kalimatku.
“Maaf.”
“Aku cuma nanya.”
“Aku tahu.”
Ia menggeser sesuatu. Mungkin tubuhnya, menjauh dari meja. Aku ingat lantai di sebelah telepon lebih dingin karena berbatasan dengan kamar mandi. Kalau Ibu menerima telepon terlalu lama, aku biasa duduk di situ sambil menggambar lingkaran dengan telunjuk kaki.
“Aku tidak punya uang untuk membangun rumah,” kataku. “Yang kudapat dipakai bayar kamar, makan, ongkos kerja. Kadang masih kurang.”
“Tiap hari kerja?”
“Hampir.”
“Besok bayar lagi?”
“Iya.”
Anak itu tidak berkata apa-apa.
Aku menambahkan, “Ada hari aku juga susah bangun. Sudah duduk, tapi lama sekali baru bisa berdiri.”
“Kakimu sakit?”
“Kakiku bisa jalan. Aku sedang berobat.”
“Oh.”
Ia menerima jawaban itu sebentar, lalu bertanya, “Kalau obatnya pahit, boleh pakai pisang?”
“Yang ini bisa pakai air.”
“Bagus. Aku nggak suka pisang yang tengahnya hitam.”
Aku mengusap bagian gagang yang tadi tertutup telapak tanganku dengan ujung kaus. Setelah itu kuusap lagi, meski sudah bersih.
“Di kamar sewaan ada jendelanya?”
“Ada. Kalau dibuka kelihatan tembok.”
Ia tertawa sekali, pendek, lalu berhenti.
“Dekat sekali temboknya,” kataku. “Kalau mau ngecat, bisa dari kamarku.”
Ia melanjutkan tawanya. Aku menyandarkan punggung pada kursi, pelan-pelan, menjaga roda yang hilang itu tetap di sisi yang aman.
“Gambarnya masih ada?” tanyaku.
“Ada.”
“Tadi dilipat?”
“Biar muat. Kabelnya nggak sampai.”
Aku memindahkan telepon ke tepi meja. Kabel gagangnya juga hampir habis tertarik.
“Buat tugas sekolah?”
“Bukan. Kemarin Ardi bilang rumahku aneh.”
“Kenapa?”
“Kamarnya Ibu paling besar. Katanya yang besar harus ruang tamu.”
Aku memutar tutup botol air, lalu meletakkannya di atas lutut.
“Makanya aku tanya kamu. Kamu kan sudah belajar bikin rumah.”
Kalender di atas meja jatuh ketika kusenggol. Aku membiarkannya di lantai.
“Kamu ingin kamar Ibu besar?”
“Mesin jahitnya sekalian di dalam. Kalau Ibu ketiduran, nggak perlu kupanggil-panggil lagi.”
Di layar ponselku, kain seragam pengajian masih terbuka. Aku mengecilkan fotonya. Ada tangan Ibu di sudut yang tadi kupotong, menahan kain dengan dua jari.
“Boleh,” kataku.
“Tapi kamu bukan arsitek.”
“Iya.”
“Nanti kutanya Bu Guru saja.”
“Boleh.”
Ia mulai menghapus. Cepat pada awalnya, kemudian pelan. Sesekali terdengar tiupan untuk membuang serpih penghapus dari kertas.
“Apa yang kamu hapus?”
“Kolam.”
“Kenapa?”
“Kebesaran. Kamarnya Ibu jadi nggak muat.”
Aku menegakkan tubuh.
“Rumahnya jangan dihapus dulu.”
“Nggak. Penghapusku juga tinggal sedikit.”
Seno kembali. Kali ini ia tidak membawa apa-apa. Ia berdiri di depan pintu sampai aku menoleh, lalu menunjuk jam tangannya.
“Tunggu sebentar, ya,” kataku ke telepon. “Aku harus angkat meja.”
“Jangan ditutup.”
“Kutaruh di sini.”
Gagang kuletakkan menghadap atas. Di lorong, Seno sudah menunggu pada ujung meja yang lebih berat.
“Lama amat. Orang rumah?”
“Iya.”
Kami mengangkat bersamaan. Sudut meja tersangkut kusen. Seno menyuruhku mundur, lalu memiringkan bagiannya. Ada bekas luka panjang di pergelangan tangannya yang selama ini tertutup jam.
“Besok aku antar istri tes kerja,” katanya. “Kalau pulang kemalaman, susah bangunnya.”
“Maaf, No.”
“Pegang bawahnya. Yang itu lacinya.”
Aku memindahkan tangan. Selama ini aku suka mengambil sif tambahan bersamanya karena ia tidak banyak bicara. Aku bahkan tidak tahu istrinya sedang mencari pekerjaan.
Di bak truk kami menurunkan meja. Seno mencoba memasukkan laci, gagal, lalu membalikkannya. Seluruh perjalanan tadi kami mengangkat meja dengan bagian belakang menghadap depan.
“Pantes berat,” kataku.
“Dibalik juga berat.”
Aku tertawa. Ia menggeleng dan menyuruhku mengambil daftar barang.
Ketika kembali ke meja resepsionis, aku mendengar anak itu bersenandung. Nadanya tidak lengkap. Ia berhenti di bagian yang tidak diingatnya, lalu mengulang dari awal dengan keyakinan yang sama.
“Sudah,” kataku sambil mengangkat gagang.
“Lama.”
“Maaf.”
“Pintunya belum jadi. Tunggu.”
Aku mengambil daftar barang dari bawah telepon, melipatnya sekali, dan memasukkannya ke saku.
Di seberang, pensil bekerja. Kali ini aku tidak menanyakan ukuran pintu, harga kayu, atau siapa yang akan tinggal di rumah itu selain Ibu. Aku minum air. Anak itu menyenandungkan bagian lagu yang sama untuk ketiga kali.
“Kalau pintunya kuning?”
“Coba saja.”
“Jelek.”
“Ya sudah.”
“Sudah telanjur.”
“Kasih gagang.”
Ia mencoba. Sesudah itu ia memintaku menunggu lagi karena ada kucing lewat di depan rumah. Gagang telepon beradu dengan lantai. Terdengar panggilannya, lalu bujukan yang makin pelan, disusul langkahnya kembali.
“Nggak mau.”
“Mungkin sudah makan.”
“Kamu sudah makan?”
Aku melihat bungkus nasi di dalam tas, tertindih kaus ganti. Sejak tadi belum kubuka.
“Sebentar lagi.”
“Aku juga. Ibu lagi goreng telur.”
Suara perempuan memanggil dari jauh. Anak itu menjawab tanpa menutup gagang, keras sekali sampai aku menjauhkannya dari telinga.
“Aku makan dulu.”
“Iya.”
“Kamu jangan bilang Ibu aku main telepon.”
“Tidak.”
“Janji?”
“Janji.”
Sambungan berhenti dengan bunyi gagang yang diletakkan kurang tepat, diangkat sebentar, lalu diletakkan lagi.
Aku masih memegang telepon ketika Seno menepuk pintu yang sudah tidak bisa dikunci.
“Daftarnya.”
Kukeluarkan kertas dari saku. Sebelum berdiri, kulepaskan gagang dari telinga dan menaruhnya pada tempatnya.
Telepon itu ikut diangkut bersama kabel-kabel. Aku memegang kardusnya sementara Seno merekatkan tutup. Kami mencocokkan barang dengan daftar, menerima upah, lalu duduk di anak tangga untuk makan.
Nasi sudah dingin. Sambalnya bocor sedikit ke pegangan sendok plastik.
“Jam berapa besok?” tanyaku.
“Tesnya delapan.”
“Kamu tidur dulu. Biar aku yang tunggu orang gudang ambil kunci.”
Seno melihat jalan, lalu ponselnya.
“Paling setengah jam,” kataku.
Ia memastikan nomorku ada pada petugas, mengambil helm, dan menyisakan botol airnya di dekat kakiku. Masih setengah.
Sambil menunggu, aku membuka pengingat kontrol. Kali ini kutambahkan alamat tempat berangkat dan alarm untuk mandi. Kepada kepala toko, kukirim pesan meminta masuk siang pada Kamis. Aku membaca ulang sebelum mengirimkannya. Sesudah terkirim, ponsel tetap kupegang, menunggu balasan yang belum tentu datang malam itu.
Lalu kubuka foto kain Ibu.
Yang ini bagus, Bu. Warnanya nggak ketuaan.
Aku menambahkan:
Besok malam boleh telepon? Ada yang mau kuceritakan. Agak panjang.
Tidak langsung dibalas. Di rumah, Ibu mungkin sudah tidur. Kumatikan layar dan melanjutkan makan. Telur di bungkus nasiku menempel pada kertas. Aku mengeriknya dengan sendok, hati-hati, sampai bagian pinggir yang kecokelatan ikut terlepas.
Petugas gudang datang menjelang pukul satu. Setelah menyerahkan kunci, aku pulang. Di kamar, handuk masih di tempat tadi kutinggalkan. Kujemur di belakang pintu, lalu mencuci muka dan mengganti kaus.
Dari upah malam itu kusisihkan ongkos Kamis. Sisanya masuk ke amplop yang sama, bersama daftar kebutuhan yang kutulis sebelum berangkat. Angkanya belum cukup untuk semuanya. Besok aku perlu menghitung lagi.
Aku merobek sambungan amplop dengan ujung kunci sampai kertasnya bisa dibentangkan. Ada pulpen promosi toko di samping kasur. Untuk membuatnya menulis, aku harus menggoreskan beberapa lingkaran di sudut kertas.
Pagar biru kubuat dengan pulpen hitam. Di belakangnya ada jendela. Pintu kuning yang telanjur itu kuberi gagang, lalu di sebelahnya kutulis kecil-kecil: kuning.
Aku membuat kamar Ibu terlalu besar. Ketika sadar ruang tamunya tidak kebagian tempat, aku menyambung selembar kertas di sebelahnya.