99 Keinginan #72 Jogja, malam hari

99 Keinginan #72

Aku menaruh ponsel di bawah mangkuk bakmi ayam. Pesan dari kantor masih bergetar di bawah porselen. Di meja depan, beberapa orang bercakap dengan tangan, sementara aku duduk dengan banyak kalimat yang tidak kunjung menemukan suara.

7 menit cerita tentang percakapan

WARUNG KECIL

meja sudut

23:47
pesananbakmi ayam, satu
bahasasampai tanpa suara
meja sudut / catatan malam7 min read

Aku menaruh ponsel di bawah mangkuk bakmi ayam. Pesan dari kantor masih bergetar di bawah porselen.

Pukul 23.18.

Di layar, draf pengunduran diri masih terbuka.

Pak, saya mengajukan pengunduran diri karena...

Setelah kata karena, tidak ada apa-apa.

Sudah tiga kali kutulis alasannya. Beban kerja. Jam kerja yang merembes sampai ke kasur. Klien yang mengirim pesan pukul dua pagi lalu bertanya kenapa balasanku baru masuk pukul tujuh. Semuanya benar, tetapi di layar terdengar seperti keluhan orang yang baru belajar tidak kuat.

Aku menghapusnya satu per satu.

Yang tersisa hanya kata karena dan kursor yang berkedip di belakangnya. Kecil, putih, teratur. Seperti seseorang yang terus mengetuk pintu meski sudah tahu tidak ada yang akan membukakan.

Warung bakmi itu berada di salah satu ruas jalan Jogja yang mulai lega setelah malam menua. Toko pulsa di sebelahnya sudah tutup. Laundry kiloan di sampingnya tinggal menyisakan lampu biru dari mesin penukar uang.

Papan nama warung miring ke kiri. Plastik bening yang menutup bagian depan bergoyang setiap kali motor lewat. Dari dalam, bau minyak bawang, lada, dan ayam rebus bercampur dengan asap knalpot yang masuk sebentar lalu tersangkut di tirai.

Aku memilih meja sudut.

Kursinya goyang. Kaki meja sebelah kanan diganjal tutup botol air mineral. Di bawah meja ada tusuk sate bekas, dua karet gelang, dan selembar daun bawang yang sudah menghitam.

Tidak ada yang menungguku di sana. Itu alasan yang cukup untuk duduk.

Penjual bakmi meletakkan mangkuk di depanku. Kuahnya berguncang sampai ke bibir mangkuk. Minyak bawang berkumpul di satu sisi, memantulkan lampu warung seperti mata kecil yang tidak pernah benar-benar terpejam.

Ponselku bergetar.

Pesan atasan.

Pesan klien.

Pesan ibu yang hanya berbunyi, sudah makan?

Aku membalik ponsel dengan layar menghadap meja.

Mangkuk bakmi lebih mudah dihadapi daripada tiga pertanyaan itu.


Di meja depan, ada empat orang.

Mereka tidak sedang diam. Hanya dua di antara mereka yang tidak memakai suara.

Seorang perempuan memegang sendok di tangan kiri dan menggunakan tangan kanannya untuk bercerita. Mi di mangkuknya mulai mengembang karena terlalu lama dibiarkan. Setiap kali temannya hendak menyela, ia mengangkat satu jari. Tunggu. Biarkan aku selesai.

Temannya menurut.

Di kantor, jeda seperti itu disebut loading. Kalau berlangsung lebih dari tiga detik, orang akan bertanya apakah koneksi kita bermasalah.

Perempuan itu melanjutkan. Tangannya bergerak cepat, lalu berhenti di depan dada. Wajahnya berubah. Teman di sebelahnya langsung memukul meja pelan. Yang lain tertawa.

Aku ikut tersenyum.

Bukan karena tahu cerita mereka. Aku hanya tahu kapan tawa sedang menunggu giliran untuk keluar.

Ada sesuatu yang lembut dari cara mereka menjaga percakapan tetap utuh. Tidak ada yang terburu-buru mengambil sisa kalimat. Tidak ada yang mengangguk sambil melihat ponsel.

Aku menunduk ke mangkuk.

Ayam suwir menempel di ujung sendok. Kuahnya terlalu asin, tetapi tidak sampai membuatku memanggil penjual. Aku menambahkan sambal, lalu menyesalinya dua detik kemudian. Lidahku terbakar. Aku tetap makan.

Beberapa hal sudah terlalu sering kulakukan meski sejak awal tahu hasilnya tidak akan menyenangkan.


Pedagang sempol itu muncul dari arah pertigaan.

Gerobaknya merah, dengan cat yang mengelupas di dekat roda. Wajan kecil di atasnya masih berisi minyak yang berkilat di bawah lampu jalan. Ia mendorongnya perlahan, lalu berhenti ketika melihat meja depan.

Tangannya naik lebih dulu daripada sapanya.

Salah satu orang di meja membalas dengan gerakan yang membuat pedagang itu tersenyum sampai matanya menyempit. Ia menunjuk gerobak, menunjuk mereka, lalu menunjuk wajan. Perempuan yang tadi bercerita menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Pedagang itu menggeleng.

Ia menunjuk minyak yang belum panas.

Perempuan itu mengangguk. Ia kembali duduk dan meneruskan cerita. Pedagang sempol berdiri di dekat gerobak, tetapi matanya sesekali mencuri meja itu.

Seorang laki-laki di meja depan menirukan seseorang dengan wajah serius. Ia mengangkat dua tangan, menggoyangkan jari-jari, lalu menyelipkan satu tangan di bawah ketiak seperti membawa sesuatu yang berat.

Pedagang sempol ikut menjawab.

Ia mengambil satu tusuk sempol dari wadah, menjepitnya di antara dua jari, lalu menggerakkannya seperti kaki kecil yang berlari. Tusuk itu ia arahkan ke tepi gerobak. Setelah itu ia mengejarnya dengan wajan.

Semua orang tertawa.

Aku tidak mengerti cerita awalnya. Aku juga tidak mengerti kenapa sempol itu harus berlari. Namun bayangan seorang pedagang mengejar makanan dengan wajan terlalu konyol untuk ditolak.

Aku tertawa sampai kuah masuk ke hidung.

Penjual bakmi menoleh dari kompor. Ia melihatku, melihat meja depan, lalu menggeleng seperti orang yang tidak mau ikut bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi di warungnya.

Pedagang sempol menunjukku. Ia menirukan batukku dengan cara yang lebih buruk.

Aku menunjuknya balik.

Kami belum saling mengenal, tetapi sudah saling menuduh.


Ponselku bergetar lagi.

Panggilan dari klien.

Aku membiarkannya berbunyi sampai mati.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

Mas, halaman pembayaran masih error. Besok pagi harus dipakai presentasi. Bisa dibantu malam ini?

Aku membuka laptop.

Kipasnya langsung menyala, suaranya seperti serangga yang terperangkap di balik meja. Sinyal di warung naik turun. Halaman proyek berhenti di layar putih. Kursor berputar tanpa tujuan, lebih gigih daripada aku.

Baterai ponsel tinggal sembilan persen.

Aku menekan dismiss ketika peringatannya muncul.

Kebiasaan buruk tidak selalu terasa seperti keputusan. Kadang hanya satu tombol kecil yang ditekan karena kita belum sanggup melihat akibatnya.

Aku mencoba membuka berkas cadangan. Laptop meminta pembaruan. Aku menutup jendela itu. Ia muncul lagi. Aku menutupnya lebih keras. Komputer tentu saja tidak tersinggung.

Dari meja depan, tangan-tangan itu kembali bergerak.

Aku melihatnya lewat pantulan layar laptop. Cahaya putih dari halaman error menimpa wajahku sendiri. Untuk beberapa detik, aku tampak seperti orang yang sedang menunggu jawaban dari tempat yang salah.

Seorang laki-laki di meja depan memperhatikan laptopku. Ia menunjuk layar, lalu mengetik di udara dengan dua jempol. Setelah itu ia menekan kedua sisi kepalanya dan membuat wajah seperti habis menerima tagihan.

Aku mengangguk.

Ia tertawa.

Aku membuka aplikasi catatan dan menulis, website.

Ia membaca dari layar ponselku, lalu mengangkat kedua tangannya. Ia tidak tahu apa itu website, tetapi ekspresinya cukup jelas. Turut berduka.

Aku membalas, Saya juga.

Ia menunjukkan layar itu kepada teman-temannya.

Tawa mereka sampai ke meja sudut tanpa perlu diantar.


Pedagang sempol datang membawa wadah kertas.

Ia menunjuk mangkukku, lalu menunjuk gerobaknya.

“Sempol?” tanyaku.

Ia mengangguk cepat.

Aku membuka dompet. Isinya satu lembar dua puluh ribu dan beberapa struk yang sudah tidak berguna. Aku menunjukkan uang itu, lalu mengangkat bahu.

Pedagang tersebut mengangkat lima jari.

Aku berpikir sebentar.

“Lima ribu?”

Ia menggeleng.

“Lima tusuk?”

Ia menggeleng lebih keras.

“Lima menit?”

Ia menutup muka dengan telapak tangan.

Perempuan di meja depan melihat kami. Ia mengetik di ponselnya, lalu memutar layar ke arahku.

Lima ribu, Mas. Bukan lomba tebak-tebakan.

Aku mengetik, Saya sedang menguji hubungan internasional.

Ia membaca. Wajahnya berubah sebentar, seperti orang yang menyesal telah membuka percakapan. Lalu ia menunjukkan layar itu kepada yang lain.

Pedagang sempol ikut melihat. Ia menepuk dada, menunjukku, lalu memutar telunjuk di dekat pelipis.

Aku menoleh ke meja depan.

“Dia bilang saya gila?”

Perempuan itu mengetik lagi.

Kurang lebih.

Aku membeli lima tusuk.

Sempol pertama masih terlalu panas. Aku menggigitnya, langsung meletakkannya kembali, lalu mengipasi mulut dengan struk lama. Pedagang sempol membelalakkan mata dan menunjuk kerongkonganku. Ia membuat gerakan seperti api menjalar dari mulut ke perut.

Aku mengangguk dengan wajah sengsara.

Ia mengambil satu tusuk dari wadahku dan menggigitnya sendiri.

Tidak berkedip.

Tidak mengipasi mulut.

Ia mengunyah sambil menatapku dengan kemenangan yang tidak perlu.

Aku tertawa. Pedagang itu ikut tertawa. Di meja depan, orang-orang yang tidak tahu awal ceritanya juga ikut tertawa karena melihat kami tertawa.

Begitulah sebuah lelucon tumbuh. Kadang ia tidak punya isi selain wajah yang terlalu serius.


Perempuan itu kemudian mengangkat tangan ke arahku.

Ia menyentuh ujung jarinya, lalu mengarahkannya ke dada. Aku tidak tahu arti gerakannya. Aku membalas dengan mengangkat ibu jari.

Ia menggeleng sambil tertawa.

Aku menunjuk ponsel.

Ia mengetik:

Tadi kamu bilang mau berhenti kerja?

Aku baru ingat gerakan mengiris leher yang kulakukan beberapa menit lalu.

Aku mengetik, Kelihatan sekali?

Ia mengangguk.

Aku mengetik lagi, Saya belum tahu.

Ia membaca lama. Teman di sebelahnya melirik layar, tetapi perempuan itu tidak langsung memperlihatkannya. Ia memasukkan ponsel ke meja, kemudian menatapku.

Ada pertanyaan yang benar-benar menungguku di layar ponselnya.

Aku tidak punya jawaban yang lebih baik.

Ia akhirnya menunjuk mangkukku. Kuahnya tinggal sedikit. Kemudian ia menunjuk jalan di luar, lalu membuat gerakan memutar seperti roda.

Makan. Pulang.

Atau mungkin ia hanya bertanya apakah aku punya kendaraan.

Aku mengangguk untuk sesuatu yang belum tentu ia maksud.

Tidak ada yang membetulkan.

Di kantor, salah paham selalu punya jejak. Tiket baru. Rapat baru. Pesan panjang dengan tanda seru. Di warung itu, salah paham hanya lewat sebentar, lalu duduk di antara kami sambil ikut makan.


Kelompok itu pergi lebih dulu.

Mereka membayar di dekat kasir. Perempuan tadi berdiri paling akhir. Ia melambaikan tangan kepada pedagang sempol, lalu kepada penjual bakmi. Sebelum berjalan, ia menunjuk laptopku sekali lagi.

Aku mengangkatnya sedikit.

Ia menunjuk layar.

Aku menggeleng.

Ia menepuk udara dua kali, lalu membuat gerakan memotong sesuatu.

Aku tidak tahu apakah ia menyuruhku berhenti bekerja atau hanya mengingatkan agar memotong sempol sebelum dimakan.

Aku tertawa sendirian setelah mereka pergi.

Pedagang sempol berkemas. Ia memasukkan sisa adonan ke dalam wadah plastik, menutup botol saus, lalu mengusap minyak di sisi gerobak dengan kain yang sudah lebih hitam daripada merah.

Aku ingin bertanya tentang cerita sempol yang berlari tadi.

Aku membuka aplikasi catatan dan mengetik, Tadi sempolnya kenapa?

Ia membaca ponselku. Ia tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu tusuk yang tersisa, menjatuhkannya ke lantai, lalu menunjuknya.

Sempol jatuh.

Hanya itu.

Ia membuat gerakan berlari karena sempolnya jatuh dan menggelinding menjauh. Tidak ada kisah masa kecil. Tidak ada nasib buruk yang disamarkan sebagai lelucon. Hanya makanan lima ribu rupiah yang pernah kabur dari piring seseorang.

Aku mengangguk, tetapi ia tidak tahu aku baru saja kecewa karena ceritanya terlalu sederhana.

Mungkin aku sudah terlalu lama bekerja di depan layar. Semua hal ingin kuberi latar belakang, konflik, dan alasan agar terlihat pantas diceritakan.

Pedagang itu menyodorkan satu tusuk terakhir.

Aku menunjukkan uang dua puluh ribu.

Ia menggeleng. Menepuk dadanya, lalu mengarahkan tusuk itu kepadaku.

Aku tidak mengambilnya.

Ia mendorongnya lagi.

Akhirnya aku menerima.

Tidak ada yang perlu diterjemahkan dari tangan yang terus didorongkan sampai kita berhenti menolak.


Aku membayar bakmi dan sempol.

Pesan dari klien masih menunggu. Draf pengunduran diri juga.

Di luar warung, udara lebih dingin daripada ketika aku datang. Bau minyak menempel di lengan baju. Di ujung jalan, seorang pengemudi becak menyalakan rokok, lalu mematikan koreknya dengan telapak tangan yang sudah menghitam di sela kuku.

Aku berjalan tanpa membuka laptop.

Di earphone, Bercinta Lewat Kata masuk dari daftar putar yang jarang kubuka. Aku melewatinya. Setelah itu lagu I'd Like to Watch You Sleeping berputar pelan. Aku membiarkannya sampai selesai.

Lagu Hi, selamat pagi terdengar pada pukul 00.06, terlalu dini untuk pagi dan terlalu terlambat untuk menghibur siapa pun.

Aku tidak menggantinya.

Di depan kos, ibu mengirim pesan lagi.

Enak?

Aku mengetik, Lumayan. Kebanyakan daun bawang.

Ia membalas dengan stiker mangkuk nasi yang tersenyum lebar. Aku menatapnya beberapa saat, lalu memasukkan ponsel ke saku.

Kamar kos gelap. Aku tidak langsung menyalakan lampu. Dari lorong, ada suara keran bocor dan sandal seseorang diseret menuju kamar mandi.

Aku meletakkan tusuk sempol terakhir di atas meja.

Laptop kubuka.

Layar menyala pada kalimat yang sama.

Pak, saya mengajukan pengunduran diri karena...

Kursor masih berkedip setelah kata itu.

Dari gang, suara penjual sarapan mulai terdengar. Belum jelas apa yang dijualnya. Hanya bunyi panggilan yang berulang, naik turun, menembus dinding kos seperti kabar dari hari yang belum sempat kukenal.

Aku menggigit sempol yang sudah dingin.

Rasanya biasa saja.

Di layar, setelah kata karena, tetap tidak ada apa-apa.