Aku ingin suatu pagi mengantre di kantor kependudukan bersamamu, untuk mengurus kartu keluarga yang baru.
Bukan karena aku sedang buru-buru.
Bukan juga karena aku merasa perasaan kita perlu distempel dulu supaya sah.
Aku hanya sudah terlalu sering mengantre untuk hal-hal yang tidak membuatku senang. Perpanjang SIM. Ganti kartu yang tertelan mesin. Surat keterangan yang katanya cuma satu lembar tapi butuh empat tanda tangan orang berbeda, dan tiga di antaranya sedang rapat.
Selalu bangun kepagian, selalu ada satu fotokopi yang kurang, dan selalu pulang membawa map plastik berisi bukti bahwa hidup ternyata banyak sekali urusannya.
Sekali saja, aku ingin mengantre untuk sesuatu yang membuatku susah menahan senyum di depan petugas.
Aku membayangkan kita berangkat terlalu pagi.
Kamu sudah rapi jam setengah enam, padahal loketnya baru buka jam delapan. Aku yang dari semalam bilang "santai saja, tidak usah panik", ternyata jadi orang pertama yang duduk di motor sambil memutar kunci berkali-kali tanpa alasan.
Kamu membawa map plastik kuning. Isinya fotokopi rangkap tiga, disusun urut, dijepit sesuai kelompoknya, dengan sticky note kecil di beberapa bagian.
Aku membawa satu pulpen sendiri, karena aku hafal betul pulpen di kantor pelayanan selalu diikat benang ke meja dan tintanya selalu di ambang habis.
"Kamu bawa meterai?" tanyamu di perjalanan.
"Bawa."
"Yang sepuluh ribu?"
"Yang sepuluh ribu."
"Berapa?"
"Satu."
Kamu diam sebentar. Lalu membuka dompet, dan mengeluarkan tiga.
Sebenarnya semua ini sudah bisa diurus lewat aplikasi.
Begitu bunyi spanduknya di depan pintu, dengan gambar dua orang tersenyum sambil memegang ponsel, dicetak dengan anggaran yang kelihatan tidak sedikit.
Aplikasinya memang ada. Kami mengunduhnya. Kami mengisi semuanya sampai langkah terakhir, dan di langkah terakhir itu muncul satu kalimat yang barangkali sudah dibaca jutaan orang di negeri ini.
Silakan datang ke kantor untuk verifikasi.
Jadi kami datang. Membawa berkas yang sama, yang sudah kami unggah dua hari sebelumnya, ke meja yang sama yang sebenarnya bisa melihatnya di layar.
Ruang tunggunya dingin melebihi yang wajar. Kursi besi berjejer, layar antrean berkedip di dinding, dan suara perempuan dari pengeras suara memanggil nomor dengan nada yang sudah kehilangan tenaga sejak pukul sembilan.
Di dinding ada tulisan besar tentang pelayanan yang cepat, mudah, dan tanpa biaya. Di bawahnya ada meja kosong dengan papan nama seseorang yang tidak ada orangnya.
Kursi prioritas untuk lansia diduduki seorang bapak muda yang sedang menonton video dengan suara pelan. Nenek yang seharusnya duduk di situ berdiri di dekat pintu, memilih tidak ribut, karena orang seusianya sudah kenyang belajar bahwa protes memakan tenaga lebih banyak daripada berdiri.
Di sebelah kita ada bapak-bapak yang tiga kali bertanya loket mana yang benar, dan tiga kali diberi jawaban yang sama dengan sabar. Ada ibu yang membawa termos, seolah sudah tahu betul urusan hari itu tidak akan selesai sebelum siang.
Kita akan menghabiskan waktu dengan menebak-nebak.
"Yang bawa map biru itu ngurus akta anak," katamu.
"Dari mana kamu tahu?"
"Lihat saja mukanya. Senyum-senyum sendiri dari tadi."
Aku menoleh. Bapak itu memang begitu, membaca kertas di pangkuannya sambil tersenyum seperti orang yang tidak sadar sedang diperhatikan seisi ruangan.
Kupikir, sebentar lagi kita juga akan kelihatan sebodoh itu.
Di ujung ruangan, agak terpisah dari deretan loket berkaca, ada satu meja kayu tua tanpa nomor. Tidak ada layar di atasnya, tidak ada antrean di depannya. Hanya sebuah map yang terbuka, seperti ada yang baru saja berhenti menulis di sana.
Aku sempat menghitung loket dua kali dan hasilnya berbeda. Setelah itu aku berhenti menghitung, karena nomor kita dipanggil.
Petugas di balik kaca membaca berkas, lalu mengeja namamu untuk memastikan.
Ia menyebut satu huruf yang keliru.
Dan aku, yang seumur hidup tidak pernah hafal nomor rekeningku sendiri, mengoreksinya lebih cepat daripada kamu.
Kamu menoleh dengan alis naik sedikit.
"Kok hafal?"
Aku pura-pura sibuk membaca poster alur pelayanan di dinding, seolah bagan panah itu benar-benar menarik.
Lalu petugas meminta kartu identitasmu untuk verifikasi. Kamu mengeluarkannya sambil menutup bagian fotonya dengan ibu jari, kebiasaan yang sudah kamu lakukan sejak kartu itu dicetak.
"Pencahayaannya jelek waktu itu," katamu, tanpa ditanya siapa pun.
"Belum ada yang komentar."
"Ya, siapa tahu ada yang mau."
Di formulirnya ada kolom pekerjaan.
Punyaku diisi karyawan swasta. Dua kata itu menampung terlalu banyak hal. Lembur yang tidak dihitung, atasan yang mengirim pesan hari Minggu, dan perasaan berhutang pada tempat yang bisa melepasmu kapan saja lewat satu panggilan lima belas menit.
Semuanya rapi masuk ke satu kolom selebar empat sentimeter.
Ada juga kolom status hubungan dalam keluarga.
Petugas menyebut istilahnya dengan datar, seperti menyebut jenis kertas. Kepala keluarga.
Aku hampir tertawa di tempat.
Kemarin sore aku butuh sebelas menit untuk memilih antara ayam dan ikan di rumah makan, dan yang akhirnya memesankan tetap kamu, karena pelayannya sudah berdiri terlalu lama di samping meja.
"Kepala keluarga," kataku pelan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Cuma kasihan saja sama keluarganya."
Kamu menahan tawa dengan cara yang buruk sekali, sampai petugas mengangkat wajah sebentar dari layar.
Tapi di baris bawahnya, di kolom yang sama, akan ada satu kata untukmu. Dicetak kapital, dengan huruf yang tidak berusaha terdengar puitis sama sekali.
Dan di kolom paling kanan akan tertulis nama ibumu.
Aku selalu lupa bahwa sebelum sampai ke sini, kamu berasal dari rumah orang lain. Ada perempuan yang membesarkanmu tanpa pernah tahu suatu hari namanya akan berdiri di satu baris yang sama dengan namaku, di kertas yang dicetak negara.
Negara ini hafal golongan darahku sejak aku lahir. Ia tahu tanggal lahirku, agama yang tertulis di kartuku, dan pekerjaan yang tidak pernah benar-benar dilihatnya. Ia mencatat semuanya dengan sangat tekun.
Ia hanya tidak pernah sekali pun menanyakan kabarku.
Dan hari itu kami akan menempelkan meterai sepuluh ribu untuk mengesahkan sesuatu yang, kalau nanti berat, tidak akan ditemani siapa pun kecuali kami berdua.
Kita akan menunggu lagi. Kali ini di kursi dekat pintu, karena di situ paling sedikit anginnya.
Kamu mulai mengantuk sekitar menit kedua puluh, menyandarkan kepala ke dinding, bukan ke bahuku, karena kamu selalu bilang bahuku terlalu keras untuk dijadikan tempat tidur.
Aku duduk saja di sebelahmu, memegang map kuning itu, membaca ulang tulisan tanganmu di sticky note.
Lalu terdengar bunyi printer dari balik meja.
Kertasnya keluar hangat. Bukan kertas mewah. Hanya HVS biasa dengan barcode di pojok, jenis kertas yang kalau kena air langsung berkerut.
Aku membacanya dari atas. Nomor kartu. Alamat yang salah satu hurufnya sejak dulu memang keliru dan tidak pernah kita urus. Baris pertama, namaku.
Baris kedua, namamu.
"Ada yang salah ketik tidak?" tanyamu sambil memiringkan kepala.
Aku membacanya tiga kali. Tidak ada yang salah.
Aku membacanya sekali lagi.
Di bawah lembar itu ada satu lembar lagi.
Aku tidak ingat ada yang menaruhnya. Kertasnya lebih tua, agak kekuningan di bagian tepi, dan lebih tipis daripada yang keluar dari printer tadi.
Di bagian atasnya tertulis satu kata.
LAMPIRAN
Kolom-kolomnya bukan kolom yang pernah kulihat di formulir mana pun.
Siapa yang bangun lebih dulu, dan berapa lama ia diam supaya yang satunya bisa tidur lima menit lagi.
Siapa yang memindahkan map ke pangkuannya supaya tidak kena kuah.
Berapa kali salah satu bilang sudah makan padahal belum, karena uangnya tinggal cukup untuk satu porsi.
Siapa yang menunda marah sampai piring selesai dicuci, dan apakah setelah itu marahnya masih ada.
Semua kolom itu sudah terisi.
Tulisannya tangan, miring sedikit ke kanan, dengan tinta yang menebal di ujung setiap huruf. Bukan tulisanmu. Bukan tulisanku. Bukan tulisan siapa pun yang pernah kukenal.
Di bagian paling bawah ada satu baris kecil, dicetak seperti keterangan biasa.
Lembar ini tidak berlaku untuk keperluan administrasi.
Aku mengangkatnya ke arah kaca loket.
"Pak, ini yang satu lagi apa ya?"
Petugas melihat sebentar, lalu kembali ke layarnya.
"Sepuluh lembar, Pak. Sudah lengkap semua."
Aku menghitung kertas di tanganku. Ada sebelas.
Aku menoleh ke ujung ruangan, ke meja kayu tanpa nomor itu.
Mejanya masih ada. Mapnya sudah tertutup.
Di seberang jalan ada tukang fotokopi.
"Berapa lembar?" tanyaku.
"Lima."
"Sepuluh saja," katamu. "Nanti juga diminta."
Kita berdiri menunggu mesin bekerja, di ruangan sempit yang bau tinta dan panas, sambil melihat kertas itu digandakan satu per satu.
Lampiran itu ikut kumasukkan ke mesin. Yang keluar sepuluh lembar kosong. Bersih sekali, tanpa satu pun bayangan huruf.
"Mesinnya lagi ngadat?" tanyaku.
Bapak fotokopi mengecek tutup kacanya, mengelap sebentar, lalu mengangkat bahu. "Baik-baik saja, Mas. Yang lain masuk semua, kan?"
Aku mengangguk. Memang semua masuk.
Kamu tidak bertanya apa-apa. Kamu hanya mengambil lembar aslinya dari tanganku, melipatnya dua, dan memasukkannya ke bagian paling dalam map kuning, di belakang semua fotokopi yang nanti akan diminta orang.
Setelah itu kita makan di warung sebelahnya, karena perut sudah tidak bisa diajak berdiskusi lagi.
Aku menaruh map kuning itu di kursi kosong. Kamu memindahkannya ke pangkuanmu, dan membiarkannya di situ sampai kita selesai makan, supaya tidak kena kuah.
Sepanjang hidupku, aku tidak pernah melihat orang menjaga selembar kertas seperti itu.
Dan sepanjang siang itu aku tidak berani bertanya, sejak kapan ada yang duduk di meja tanpa nomor itu, dan sejak kapan ia mulai mencatat.
Aku tahu, ini bukan keinginan yang bagus untuk diceritakan.
Tidak ada pantai, tidak ada lagu, tidak ada sore yang cantik. Hanya ruang tunggu berpendingin terlalu dingin, nomor antrean, dan mesin fotokopi.
Selama ini kita selalu diminta membuktikan banyak hal. Penghasilan. Alamat. Riwayat. Kartu ini, surat itu. Semuanya harus dibuktikan kepada kantor yang tidak pernah membuktikan apa pun kepada kita.
Sekali saja aku ingin ada dokumen yang membuktikan hal yang paling ingin kubuktikan, dan yang mengurusnya cuma butuh dua orang yang datang kepagian.
Jadi ya, ini keinginan ketujuh puluh satuku.
Aku ingin suatu pagi mengantre di kantor kependudukan bersamamu, untuk mengurus selembar kertas yang tidak akan dipajang siapa-siapa, tidak akan difoto, dan besar kemungkinan akan tersimpan di laci paling bawah bersama garansi kipas angin.
Supaya kalau nanti ada hari ketika aku terlalu lelah untuk mengatakannya dengan baik, kamu bisa membuka map kuning itu, membaca baris kedua, dan ingat bahwa aku pernah bangun jam lima pagi hanya untuk memastikan namamu tercetak di sana tanpa satu huruf pun yang keliru.
Dan kalau suatu hari kertas yang dicetak negara itu ternyata tidak cukup untuk menjelaskan kita, di belakangnya masih ada satu lembar lagi. Lembar yang tidak berlaku untuk keperluan administrasi, tetapi mencatat hal-hal yang tidak pernah sempat kita ceritakan kepada siapa pun.