99 Keinginan #70

99 Keinginan #70

Di sebuah toko yang hanya muncul setelah seseorang memutuskan untuk pergi, aku menemukan kunci rumah lama yang selama ini kukira hilang. Penjaga toko itu berkata, kunci tidak selalu dibuat untuk membuka pintu.

catatan penitipan

Barang-barang di toko itu bukan barang bekas.

Mereka hanya pernah dimiliki oleh seseorang yang belum selesai dengan hidupnya.

Aku menemukan toko itu pada malam terakhir sebelum pindah.

Kamar sewaanku sudah hampir kosong. Di lantai hanya ada tiga kardus, satu kasur tipis, dan kipas angin yang bunyinya seperti orang tua sedang mengeluh dari balik dinding.

Aku pindah karena mendapat pekerjaan di kota lain. Semua orang menganggap itu kabar baik.

Ibu mengirim pesan singkat:

“Jaga diri. Jangan lupa kirim uang kalau sudah gajian.”

Atasanku mengirim alamat kantor baru.

Pemilik kos mengirim nomor rekening untuk pelunasan listrik.

Tidak ada yang bertanya apakah aku siap meninggalkan kota ini.

Mungkin karena orang dewasa dianggap selalu siap pergi selama tiketnya sudah dibeli.


Pukul sembilan lewat empat puluh tujuh menit, aku membawa kardus terakhir ke tempat sampah di ujung gang.

Kardus itu berisi barang-barang yang sudah bertahun-tahun tidak kupakai: bingkai foto tanpa kaca, mangkuk dengan retakan kecil, kaus sekolah, beberapa kuitansi, dan satu kunci dengan gantungan rumah-rumahan berwarna merah.

Kunci itu tidak membuka apa pun lagi.

Aku tahu karena rumah yang dulu dibukanya sudah dijual sebelas tahun lalu.

Tetapi setiap kali hendak membuangnya, tanganku selalu berhenti.

Malam itu aku hampir memasukkannya ke tempat sampah.

Hampir.

Lalu aku melihat cahaya kuning di ujung gang.

Di antara laundry yang sudah tutup dan bengkel yang pintunya digembok, ada sebuah toko kecil dengan kaca depan buram. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, padahal sudah tinggal di gang itu selama tiga tahun.

Di pintunya tergantung papan kayu:

MENERIMA BARANG YANG BELUM SELESAI

Aku berdiri di depannya sambil membawa kunci merah.

Seharusnya aku pulang.

Namun beberapa tempat memang tidak memanggil kita dengan suara. Mereka hanya membuat kita merasa sudah pernah berada di sana.


Di dalam, udara berbau kayu tua, kertas lembap, dan minyak kayu putih.

Tidak ada musik. Hanya suara jam kecil di atas meja kasir yang berdetak terlalu pelan, seolah ia juga sedang mempertimbangkan apakah malam itu perlu dilanjutkan.

Rak-raknya penuh benda sederhana.

Sebuah payung tertutup dengan label:

“Untuk seseorang yang sudah berjanji pergi, tetapi selalu menemukan alasan untuk tinggal.”

Sepatu lari yang masih bersih:

“Dibeli ketika ia ingin memulai hidup baru. Tidak pernah dipakai.”

Sebuah jam tangan yang berhenti di pukul 17.42:

“Waktu ketika ia seharusnya mengatakan yang sebenarnya.”

Di rak paling bawah, ada sebuah kue ulang tahun yang mengeras di dalam kotak bening. Lilinnya masih menancap. Krimnya retak seperti tanah setelah kemarau.

Labelnya berbunyi:

“Untuk seseorang yang menunggu dirayakan, tetapi terlalu malu untuk meminta.”

Aku membaca semuanya pelan-pelan.

Benda-benda itu tampak biasa. Namun setiap label membuatnya terasa seperti memiliki denyut sendiri.

Seolah-olah benda-benda tersebut tidak sedang menunggu pembeli, melainkan menunggu seseorang mengakui alasan mengapa benda itu belum dibuang.

“Toko ini buka sampai kapan?” tanyaku.

Perempuan di balik meja kasir mengangkat wajah dari buku catatannya.

Usianya sulit ditebak. Ia memakai sweater abu-abu, rambut dijepit seadanya, dan kacamata yang salah satu tangkainya ditahan selotip bening.

“Sampai semua orang pulang,” jawabnya.

“Kalau begitu tutupnya kapan?”

“Tergantung siapa yang datang.”

Aku melihat jam dinding.

“Berarti saya mengganggu?”

“Belum. Kamu masih membawa barang.”

Ia menunjuk kunci merah di tanganku.


Aku meletakkan kunci itu di atas meja.

“Ini dijual?”

“Tidak.”

“Disewakan?”

“Bukan.”

“Lalu untuk apa ada di sini?”

“Supaya kamu bisa melihatnya dari jarak yang berbeda.”

Jawaban itu membuatku mengerutkan dahi.

“Saya datang untuk membuangnya.”

“Banyak orang datang dengan niat yang sama.”

“Lalu?”

“Sebagian pulang membawa barangnya. Sebagian pulang tanpa barang, tetapi masih membawa alasannya.”

Perempuan itu mengambil kertas kecil dan menulis sesuatu.

“Toko ini tidak menjual benda,” katanya. “Kami hanya membantu orang menentukan apakah mereka benar-benar ingin melepaskan sesuatu.”

“Kalau saya ingin membelinya?”

“Kamu tidak bisa membeli sesuatu yang sudah menjadi milikmu.”

Aku menatap kunci itu.

Gantungan rumah-rumahannya sudah pudar. Cat merahnya terkelupas di bagian pintu. Saat kecil, aku pernah menganggap bentuk rumah itu lucu.

Sekarang ia tampak seperti rumah yang terlalu kecil untuk semua hal yang pernah terjadi di dalamnya.


Di dekat rak buku, seorang anak laki-laki sedang duduk di lantai. Umurnya mungkin sembilan atau sepuluh tahun. Ia memegang sebuah kotak bekal berwarna biru.

“Kamu mau membuang itu?” tanyaku.

Ia menggeleng.

“Mau menjual?”

“Kata Ibu, jangan bicara dengan orang asing.”

“Bagus. Kamu anak yang pintar.”

“Tapi Kakak yang mulai bicara.”

Aku mengangguk.

“Itu juga benar.”

Perempuan penjaga toko menahan senyum.

Anak itu terus memeluk kotak bekalnya. Di tutupnya ada gambar roket yang sudah tergores.

“Kenapa kamu membawanya ke sini?” tanyaku.

Ia menatap kotak itu.

“Ayah saya sudah tidak bekerja di sekolah.”

“Lalu?”

“Beliau bilang kotak ini membuatnya ingat bahwa dulu saya tidak pernah menghabiskan bekal.”

Anak itu mengusap gambar roket dengan ibu jarinya.

“Saya mau buang karena sudah bau telur.”

“Itu alasan yang sangat masuk akal.”

Ia akhirnya tertawa kecil.

Perempuan penjaga toko mengambil kotak itu, membukanya, lalu mencium bagian dalamnya dengan wajah serius.

“Memang masih ada sedikit bau telur.”

“Sedikit?” tanya anak itu.

“Baiklah. Cukup untuk mengusir pencuri.”

Anak itu tertawa lebih keras.

Aku ikut tersenyum.

Untuk beberapa detik, toko itu tidak terasa seperti tempat orang menyimpan kesedihan. Ia terasa seperti tempat orang belajar bahwa tidak semua kehilangan harus dibuat khidmat.


Setelah anak itu pergi bersama ibunya, perempuan di balik meja kembali menatapku.

“Kamu tahu apa yang tertulis di kunci itu?”

“Tidak ada tulisan.”

“Ada.”

Ia membalik kunci tersebut.

Di bagian belakang gantungan rumah, ada goresan kecil yang hampir tidak terlihat.

Tiga kata.

PULANG SEBELUM GELAP

Aku langsung mengenal tulisan itu.

Tulisan ibu.

Ketika aku masih kecil, ia selalu menulis kalimat yang sama di kertas bekal, pesan singkat, atau bagian belakang uang saku.

Pulang sebelum gelap.

Bukan karena jalanan selalu berbahaya.

Karena setelah matahari tenggelam, rumah kami sering berubah menjadi tempat yang tidak ingin kami masuki.

Pertengkaran biasanya dimulai setelah magrib. Suara pintu. Suara piring. Suara seseorang yang menganggap dirinya paling lelah di rumah itu.

Aku dan adikku akan duduk di kamar, pura-pura mengerjakan sesuatu. Kami belajar bahwa diam bisa menjadi cara paling cepat untuk tidak ikut terluka.

Namun ibu selalu menunggu kami pulang.

Ia akan berdiri di depan pagar, membawa lampu kecil, seolah-olah dengan berdiri di sana ia bisa menahan malam agar tidak terlalu cepat masuk.

Ketika aku beranjak dewasa, aku meninggalkan rumah tanpa pamit dengan baik.

Aku pergi setelah pertengkaran besar. Membawa tas, beberapa pakaian, dan kunci merah itu.

Ibu berteriak dari teras agar aku pulang sebelum gelap.

Aku tidak menoleh.

Malam itu aku tidur di rumah teman. Besoknya, aku mulai bekerja di kota ini.

Aku tidak pernah membicarakan malam tersebut lagi.

Bukan karena sudah memaafkan siapa pun.

Karena sebagian luka menjadi begitu tua sampai kita mengira diam adalah bentuk sembuh.


“Kamu ingin membawa kunci itu pulang?” tanya penjaga toko.

“Mungkin.”

“Ke rumah yang mana?”

“Rumah baru.”

“Kamu sudah punya rumah baru?”

“Saya akan menyewa kamar di kota baru.”

“Itu belum tentu rumah.”

“Rumah tidak selalu harus milik sendiri.”

“Benar. Tapi tempat tinggal juga tidak otomatis menjadi rumah.”

Aku terdiam.

Ia membuka buku catatannya. Halamannya penuh nama benda dan kalimat-kalimat pendek.

“Orang sering keliru,” katanya. “Mereka mengira rumah adalah tempat yang paling mereka rindukan. Padahal kadang, yang mereka rindukan hanya versi diri mereka yang pernah tinggal di sana.”

Kalimat itu masuk perlahan.

Seperti air yang merembes dari celah atap, tidak deras, tetapi cukup untuk membuat seluruh lantai basah jika dibiarkan.

Aku membayangkan rumah lama kami. Cat dinding yang menguning. Pagar yang berkarat. Kamar kecil tempat aku dan adikku tidur. Teras tempat ibu berdiri membawa lampu.

Aku tidak merindukan pertengkaran.

Aku tidak merindukan suara piring pecah.

Aku tidak merindukan perasaan harus menebak suasana hati orang lain sebelum membuka pintu.

Mungkin aku hanya merindukan ibu yang masih menunggu.

Dan mungkin yang paling menyakitkan dari tumbuh dewasa adalah menyadari, seseorang bisa tetap menjadi rumah di dalam ingatan, meskipun sudah tidak punya pintu untuk kita ketuk.


Perempuan itu mengeluarkan sebuah kardus dari bawah meja.

Kardusnya kecil dan dilapisi selotip cokelat. Di atasnya tertulis:

NANTI, KALAU HIDUP SUDAH LEBIH BAIK

Aku mengenali tulisan itu.

Tulisan tanganku sendiri.

“Dari mana kamu mendapatkannya?” tanyaku.

“Kamu membawanya.”

“Saya tidak pernah memberikan ini.”

“Banyak orang tidak sadar ketika menitipkan sesuatu.”

Ia membuka kardus itu.

Di dalamnya ada kemeja putih yang belum pernah kupakai untuk wawancara kerja. Foto kecil ibu yang sudah pudar. Daftar tempat yang ingin kukunjungi. Sebuah surat kosong. Dan tiket bus lama untuk perjalanan yang tidak pernah jadi kulakukan.

Aku mengambil daftar tempat itu.

Di bagian paling atas, tertulis:

Hal-hal yang akan kulakukan setelah tidak terlalu takut.

Daftarnya hanya memiliki empat hal.

Pergi jauh.

Membuka usaha kecil.

Mengajak ibu makan di luar.

Pulang tanpa merasa bersalah.

Tidak satu pun sudah kulakukan.

Aku tertawa, tetapi suara itu tidak memiliki tenaga.

“Ternyata saya tidak menyimpan banyak barang,” kataku. “Saya hanya menyimpan terlalu banyak rencana.”

“Rencana yang tidak dilakukan juga bisa menjadi barang,” jawabnya.

“Barang apa?”

“Beban.”

Kata itu jatuh di antara kami.

Sederhana. Tidak indah. Tetapi benar.


Aku ingin mengambil semua barang di dalam kardus itu.

Aku ingin membawa foto ibu. Kemeja putih. Tiket bus. Surat kosong. Bahkan daftar yang membuatku malu karena bertahun-tahun tidak berubah.

Namun perempuan itu menggeleng.

“Kamu tidak perlu membawa semuanya.”

“Kalau saya meninggalkannya, bukankah berarti saya menyerah?”

“Tidak.”

“Lalu apa?”

“Berhenti menjadikan masa lalu sebagai gudang untuk semua hal yang tidak berani kamu lakukan.”

Aku menatapnya.

Di luar, suara kendaraan mulai jarang. Lampu toko memantul di kaca depan dan membuat gang terlihat lebih panjang daripada sebelumnya.

“Kalau saya tidak membawa apa pun, apa yang tersisa?” tanyaku.

“Kamu.”

Jawaban itu terdengar terlalu mudah.

Aku hampir menertawakannya.

Namun tidak semua jawaban yang sederhana berarti dangkal. Kadang kita hanya terlalu lama hidup dengan masalah sampai menganggap setiap jalan keluar harus terlihat rumit.

Aku mengambil foto ibu dari dalam kardus.

Bukan karena ingin mengembalikan masa lalu.

Karena ibu masih hidup, dan aku masih bisa menghubunginya.

Aku mengambil daftar tempat yang ingin kukunjungi.

Bukan untuk menjadikannya bukti bahwa aku pernah bermimpi.

Karena besok aku akan pindah, dan salah satu tempat di daftar itu berada di kota baru.

Surat kosong kutinggalkan.

Kemeja putih kutinggalkan.

Tiket bus lama kutinggalkan.

Tidak semua yang pernah kita inginkan harus dibawa ke masa depan. Beberapa hanya perlu diakui pernah kita inginkan.


Aku memasukkan kunci merah ke saku.

“Kalau kunci ini tidak lagi membuka rumah, untuk apa saya membawanya?”

Perempuan itu menutup buku catatannya.

“Mungkin supaya kamu berhenti mencari pintu yang sudah tidak ada.”

Aku memandangnya.

“Itu terdengar seperti nasihat.”

“Bukan. Nasihat biasanya gratis.”

“Berapa harganya?”

Ia menunjuk kardus di atas meja.

“Satu keputusan yang benar-benar kamu lakukan besok pagi.”

“Apa?”

“Telepon ibumu.”

Aku menelan ludah.

Keputusan itu ternyata lebih mahal daripada yang kukira.


Ketika aku keluar dari toko, udara malam sudah berubah dingin.

Aku menoleh sekali.

Papan kayu itu masih tergantung di pintu. Lampu kuning masih menyala. Di balik kaca, rak-rak penuh benda yang belum selesai menunggu orang-orang berikutnya.

Aku berjalan kembali ke kos.

Namun ketika sampai di ujung gang, aku menoleh lagi.

Toko itu sudah tidak ada.

Di tempatnya hanya ada dinding kusam dengan poster laundry yang terkelupas di bagian sudut.

Aku berdiri cukup lama.

Mungkin aku salah melihat.

Mungkin toko itu memang ada, tetapi tidak di tempat yang bisa kutemukan lagi.

Mungkin manusia memang sering membutuhkan tempat seperti itu, lalu menciptakannya sendiri ketika tidak sanggup mengatakan bahwa dirinya lelah.

Aku tidak tahu.

Yang kutahu, kunci merah itu masih ada di saku.


Pagi harinya, aku memindahkan kardus-kardus ke dalam taksi.

Sebelum berangkat, aku membuka ponsel dan mencari nama ibu.

Jempolku berhenti di atas tombol panggil.

Aku hampir menunda lagi.

Hampir berkata bahwa nanti malam saja, setelah barang-barang tersusun, setelah mendapat kamar baru, setelah hidup terasa sedikit lebih tenang.

Namun aku sudah terlalu sering menunggu hidup menjadi lebih baik sebelum melakukan sesuatu yang penting.

Aku menekan tombol panggil.

Ibu mengangkat setelah dering keempat.

“Sudah berangkat?” tanyanya.

“Belum.”

“Kenapa?”

Aku melihat kunci merah di telapak tangan.

“Aku cuma mau bilang, Bu.”

Suara di seberang diam.

Aku juga diam.

Ternyata ada percakapan yang tidak bisa dimulai dengan kalimat yang bagus. Kadang ia hanya dimulai dengan dua orang yang sama-sama tidak tahu harus berkata apa.

“Jaga diri,” kata ibu akhirnya.

“Ibu juga.”

“Kalau sudah sampai, kabari.”

“Iya.”

Setelah telepon ditutup, aku masih memegang ponsel.

Tidak ada tangis. Tidak ada pengampunan besar. Tidak ada rumah lama yang tiba-tiba kembali menjadi milik kami.

Hanya suara ibu yang masih bisa kudengar, dan untuk sementara, itu cukup.


Di dalam taksi, kota lama bergerak mundur dari balik kaca.

Warung yang biasa menjual sarapan. Lampu merah di persimpangan. Toko fotokopi. Gang sempit yang menyimpan terlalu banyak versi diriku.

Aku memasukkan kunci merah lebih dalam ke saku.

Kunci itu tidak lagi terasa seperti jalan pulang.

Ia hanya menjadi benda kecil dari rumah yang pernah membentukku, dari ibu yang pernah menungguku, dan dari seorang anak yang dulu percaya semua pintu bisa dibuka jika ia pulang sebelum gelap.

Aku sudah tidak tinggal di rumah itu.

Namun mungkin, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi ingin melarikan diri darinya.

Karena rumah bukan selalu tempat yang bisa kita masuki kembali.

Kadang rumah adalah sesuatu yang akhirnya kita bawa dengan tenang, setelah berhenti berharap ia akan menjadi seperti dulu.