Semua orang di meja itu yakin aku baik-baik saja, sebab aku baru saja melontarkan lelucon tentang menghilang.
“Kalau besok aku tidak ada begitu saja, jangan buru-buru berkabung. Anggap saja aku sedang berlatih menjadi angin.”
Meja itu pecah oleh tawa. Asap rokok mengepul di antara gelas-gelas kopi yang mulai dingin, dan lampu neon warung berkedip sekali sebelum kembali stabil, seolah ikut menahan tawa yang terlalu keras untuk malam sesepi itu.
Aku ikut tertawa. Sebab tertawa, bagiku, sudah lama menjadi semacam pekerjaan tetap.
Bertahun-tahun aku menjadi orang yang tugasnya menjaga sebuah ruangan tetap ringan. Begitu seseorang mulai menatap terlalu lama ke gelasnya sendiri, ke apa pun yang bukan wajah orang di depannya, akulah yang melempar sesuatu ke udara, supaya semua kembali riuh sebelum sunyi sempat bertanya kenapa.
Aku memang piawai untuk itu.
Kadang terlalu piawai, sampai lelucon menjadi satu-satunya bahasa yang pernah berhasil membawa kejujuranku keluar tanpa ketahuan.
Nama Kancil disematkan Bapak ketika aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar.
Bukan sebab aku licik. Sebab aku pandai menemukan jalan keluar setiap kali rumah mulai riuh oleh hal-hal yang tidak seharusnya diributkan sekeras itu.
Kalau Bapak dan Ibu sudah saling melempar kalimat tajam di ruang tengah, suaranya memantul ke dinding yang catnya mulai mengelupas, aku akan masuk sambil menirukan gaya bicara Pak RT, atau berpura-pura tersengat kabel setrika yang sebenarnya sudah lama dicabut dari stopkontak. Mereka akan berhenti sejenak. Tertawa sejenak. Melupakan sejenak alasan mereka marah.
“Anak Bapak ini memang juara membuat orang tertawa,” kata Bapak sambil mengelus kepalaku, seperti aku baru saja memenangkan sebuah perlombaan yang tidak pernah kuikuti.
Aku menyukai rasanya dipuji seperti itu.
Baru bertahun-tahun kemudian aku memahami, pujian itu semacam kontrak kerja tanpa upah: selama aku sanggup melucu, rumah itu tidak akan runtuh pada hari itu juga.
Nama asliku, yang tertulis di lembar akta kelahiran, hanya muncul satu dua kali dalam setahun. Ketika mengambil rapor. Ketika dipanggil menghadap guru bimbingan konseling, karena berkelahi membela adik kelas yang diejek. Ketika dimarahi.
Selain itu, aku Kancil. Dan Kancil tidak pernah diberi izin untuk lelah, sebab dalam dongengnya sendiri, tidak pernah ada satu adegan pun tentang si kancil yang terduduk lelah di tepi sungai.
Sepulang dari warung kopi, aku duduk sejenak di atas motor sebelum menyalakan mesinnya.
Layar ponsel menyala berkali-kali di saku jaket. Grup obrolan masih riuh, seseorang mengirim wajahku yang telah disunting, ditempeli label diskon seratus persen, hasil dari lelucon tadi. Semua orang membalas dengan emotikon tertawa terbahak-bahak.
Aku ikut mengirim emotikon yang sama.
Sampai di rumah kontrakan, kunci motor kuletakkan di atas meja, satu lampu kecil kunyalakan, lalu aku duduk di lantai, sebab kasur terasa terlalu jauh untuk dituju malam itu.
Tidak seorang pun menunggu kabar bahwa aku telah tiba dengan selamat.
Tidak mengapa. Aku sudah lama berhenti mengharapkan hal semacam itu, sejak menyadari bahwa versi diriku yang paling dicari orang bukanlah versi yang pulang diam-diam, lalu duduk sendirian di lantai seperti ini.
Dua pekan sebelumnya, aku pernah mencoba mengatakan yang sesungguhnya kepada Denis, kawan paling lama yang kupunya.
Kami tengah mengantre nasi padang berdua. Aku berkata, agak pelan, “Aku rasanya butuh istirahat yang sungguhan, bukan sekadar libur kerja.”
Denis tertawa lebih dulu, sebelum aku sempat menyelesaikan kalimat.
“Ah, kamu memang selalu terdengar berlebihan kalau sedang mencoba serius. Makanya dari dulu kubilang, kamu itu lebih cocok jadi pembawa acara, bukan tempat curhat.”
Aku ikut tertawa.
Bukan sebab lucu. Sebab aku sudah hafal, kalimat serius yang keluar dari mulut Kancil akan selalu terdengar seperti bahan lelucon yang belum matang, bukan permintaan tolong.
Sore itu sebuah paket tiba. Bukan sesuatu yang penting, hanya sebuah pengisi daya baru yang kubeli tengah malam ketika sulit tidur, jenis belanja yang biasanya hanya mendatangkan sesal keesokan harinya.
Langit di luar sudah keunguan, dan suara azan magrib samar-samar terdengar dari masjid di ujung gang ketika kurir mengetuk pintu, memegang ponsel dan kardus kecil sekaligus. Ia membaca nama lengkap dari label pengiriman, menyebutkannya utuh untuk konfirmasi, sebelum menyodorkan layar untuk tanda tangan.
Dua kata yang jarang sekali kudengar diucapkan orang lain.
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab.
Terakhir kali seseorang memanggilku dengan nama lengkap itu, seingatku, adalah pada hari kelulusan sekolah menengah, dibacakan panitia yang membacakan ratusan nama lain hari itu dengan nada datar yang sama, tanpa jeda, tanpa arti.
“Iya, benar,” jawabku.
Tanganku sempat berhenti sesaat di atas layar sentuh, sebelum akhirnya menandatanganinya asal-asalan. Kurir itu sudah melangkah pergi sebelum aku sempat memikirkan mengapa dua kata sesederhana itu bisa membuat tanganku berhenti seperti itu.
Nama itu, yang dipilih Mbah Uti, bukan untuk bahan lelucon, bukan pula untuk mencairkan suasana siapa pun. Ia hanya harapan sederhana seorang nenek, dirangkum menjadi dua kata yang kira-kira bermakna kuat, sehat, dan panjang umur.
Aku melangkah masuk sambil menenteng kardus kecil itu, dan baru menyadari sudah berapa lama nama itu hanya muncul di label pengiriman dan lembar formulir.
Mbah Uti yang memberi nama itu, dua bulan sebelum aku lahir, ketika Bapak masih ragu hendak memberi nama apa.
Katanya, waktu itu aku di dalam kandungan Ibu gemar menendang tengah malam, seakan tergesa hendak keluar dan segera bekerja. “Berikan saja nama yang kuat,” katanya kepada Bapak. “Supaya seumur hidupnya ia ingat, ia harus kuat, bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri lebih dulu.”
Mbah Uti berpulang ketika aku masih duduk di kelas lima, sebelum sempat mengetahui bahwa nama pemberiannya perlahan berubah menjadi Kancil di mulut semua orang.
Aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun. Bukan rahasia besar. Hanya terasa terlalu remeh untuk dibagikan, dan terlalu berat untuk diucapkan sambil bercanda, padahal bercanda adalah satu-satunya bahasa yang kukuasai.
Malam itu, di kamar kontrakan yang sama, aku kembali duduk di lantai, pada posisi yang sama seperti dua pekan lalu, seakan tubuhku telah memiliki jadwalnya sendiri untuk runtuh.
Cahaya lampu jalan menyusup dari celah gorden, jatuh tipis di lantai ubin, satu-satunya cahaya yang kubiarkan menyala malam itu.
Kuraih ponsel, hendak mengetik sesuatu ke dalam grup, mencari bahan lelucon baru agar malam itu terasa lebih ringan seperti biasanya.
Kutulis satu baris. Kuhapus. Kutulis lagi. Kuhapus lagi.
Untuk pertama kalinya, aku tidak jadi mengirimkan apa pun.
Sebagai gantinya, aku mengucapkan sesuatu, pelan, ke ruangan yang kosong itu, memakai nama yang sudah lama tidak pernah kupakai untuk memanggil diriku sendiri.
Hanya dua kata. Nama yang dahulu dipilih dengan harapan sederhana, jauh sebelum semua orang sepakat memanggilku Kancil.
Rasanya asing, memanggil diri sendiri seperti menyapa seseorang yang sudah lama tidak pernah kutengok.
Kuulangi sekali lagi, lebih pelan, lalu kutambahkan, “Kamu boleh lelah. Tidak perlu mencari bahan lelucon untuk malam ini.”
Tidak ada yang berubah secara drastis setelah itu. Kamar masih sama. Kardus pengisi daya masih tergeletak di dekat pintu. Grup obrolan masih menantikan lelucon berikutnya dariku.
Tetapi untuk beberapa menit, aku duduk di lantai sebagai diriku yang sesungguhnya, bukan sebagai Kancil, dan itu saja sudah terasa seperti pulang ke sebuah rumah yang telah lama tidak kudatangi.
Keesokan siangnya, sebelum kardus pengisi daya itu kubuang ke tumpukan sampah bersama kardus-kardus lain, kusobek dahulu label pengirimannya.
Bukan supaya data pribadi tidak bocor, meskipun itu alasan yang lebih masuk akal seandainya ada yang bertanya.
Aku hanya ingin menyimpan sepotong kecil kertas dengan nama itu tercetak jelas, kalau-kalau kelak aku lupa lagi bahwa nama itu pernah ada, jauh sebelum menjadi Kancil.
Grup obrolan pagi itu riuh seperti biasa. Rian mengirim gambar lucu yang baru. Denis bertanya kapan kami akan berkumpul lagi.
Aku membalas dengan satu kalimat, tanpa lelucon, tanpa emotikon tertawa:
“Ayo kumpul lagi. Satu hal, namaku bukan cuma Kancil.”
Tanda centang biru muncul di bawah pesan itu.
Sampai aku berangkat kerja, belum ada seorang pun yang membalas.