99 Keinginan #68

99 Keinginan #68

Setiap hari ketujuh, sakit kepala itu datang seperti tamu yang hafal alamat. Ia tidak mengetuk keras. Ia hanya duduk di belakang mataku dan menunggu masa lalu menyebut namanya sendiri.

Setiap hari ketujuh, sakit kepala itu datang seperti tamu yang hafal alamat.

Ia tidak mengetuk keras. Ia tidak membuat keributan. Ia hanya duduk di belakang mataku, menyilangkan kaki, lalu menunggu sampai seluruh rumah kehabisan suara.

Biasanya dimulai menjelang sore. Langit menjadi abu-abu. Jalanan di depan kontrakan basah oleh gerimis yang tidak sungguh-sungguh turun. Dari rumah sebelah, terdengar piring ditumpuk, televisi menyebut berita, dan seorang anak kecil tertawa karena sesuatu yang sangat sederhana.

Aku menutup gorden.

Bukan karena cahaya terlalu terang.

Karena pada hari ketujuh, benda-benda biasa punya cara yang kejam untuk berubah menjadi saksi.

Gelas di meja seperti menunggu disentuh seseorang. Kursi kosong seperti sengaja menghadapku. Jam dinding berdetak terlalu rapi, terlalu taat, seolah waktu tidak pernah ikut bersalah dalam apa pun.

Di laci paling bawah, ada kantong kain yang tidak pernah kubuang.

Isinya bukan barang berharga. Bukan emas. Bukan surat tanah. Bukan benda yang layak dipertahankan orang waras.

Hanya beberapa potong kain kecil, satu kertas yang mulai pudar, dan gelang rumah sakit yang namanya sudah hampir hilang.

Aku tidak membuka laci itu.

Aku hanya tahu ia ada.

Dan kadang, sesuatu yang tidak kita lihat justru lebih pandai menatap balik.


Dulu, aku mengenal seseorang yang tertawa dengan cara menunduk.

Ia selalu menutup mulutnya ketika tertawa, seolah kebahagiaan pun harus minta izin dulu sebelum keluar dari tubuhnya. Kalau sedang gugup, ia mengusap pangkal ibu jarinya. Kalau marah, ia tidak membanting apa pun. Ia hanya merapikan benda-benda di sekitarnya sampai semua terlihat terlalu rapi untuk disebut baik-baik saja.

Kami dekat sejak terlalu lama.

Itu kalimat yang aman.

Cukup aman untuk orang-orang yang mudah tersinggung. Cukup samar untuk keluarga yang suka mengubah luka menjadi pengadilan. Cukup pendek untuk menyembunyikan banyak hal yang jika dijelaskan, mungkin akan membuat nama seseorang dipanggil dengan nada yang tidak pantas.

Jadi biarlah begini saja:

ada dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam,

lalu dunia memutuskan bahwa kedekatan itu harus dikubur dengan kalimat yang baik-baik.

Tidak semua larangan datang dengan teriakan.

Ada larangan yang datang sebagai tatapan di ruang keluarga. Ada yang datang sebagai nasihat panjang setelah makan malam. Ada yang datang sebagai kalimat pelan, "Kita pikirkan nama baik dulu."

Nama baik.

Aneh sekali, bagaimana dua kata itu sering dipakai untuk menutup mulut orang yang paling banyak terluka.


Pada malam ketika semuanya pecah, tidak ada hujan besar.

Aku ingat itu karena selama bertahun-tahun aku berharap ada badai, petir, atau angin keras yang bisa kusalahkan. Tetapi malam itu hanya gerimis kecil. Lampu teras menyala redup. Sandal-sandal tertata di depan pintu. Di meja tamu, ada teh yang tidak diminum siapa pun.

Orang-orang berbicara dengan suara rendah.

Semakin rendah suara seseorang, semakin dalam biasanya ia sedang menancapkan sesuatu.

Aku duduk di kursi paling ujung. Ia duduk jauh dariku, dekat lemari kaca berisi piala lama dan foto keluarga yang terlalu bahagia untuk malam seperti itu.

Tidak ada yang menyebut kata dosa.

Mereka terlalu sopan untuk itu.

Mereka hanya menyebut masa depan, martabat, keluarga besar, dan hal-hal lain yang kedengarannya mulia jika tidak sedang dipakai untuk mengubur dua orang hidup-hidup.

Di ujung pembicaraan, kami diberi keputusan.

Ia dibawa pergi.

Aku diminta diam.

Yang kecil, yang belum sempat memahami namanya sendiri, diserahkan pada rumah yang dianggap lebih pantas.

Semua dibuat rapi. Semua dibuat sah. Semua dibuat seolah-olah keputusan orang dewasa bisa menghapus suara tangis yang pernah terdengar di sebuah ruangan sempit pukul tiga pagi.

Malam itu aku belajar:

kadang manusia tidak dibunuh oleh kekerasan, tetapi oleh keputusan yang terdengar masuk akal.


Sejak itu, hari ketujuh menjadi tanggal yang tidak tertulis di kalender.

Ia datang setiap minggu dengan bentuk yang sama: sakit kepala, mual kecil, dan rasa dingin di telapak tangan. Aku pernah ke dokter. Dokter bilang mungkin migrain, mungkin stres, mungkin kurang tidur.

Aku mengangguk.

Lebih mudah membiarkan dokter menamai tubuhku daripada menjelaskan bahwa ada kenangan yang punya jadwal kerja sendiri.

Obat membantu beberapa jam.

Tapi obat tidak tahu bagian mana yang harus dibuat mati rasa.

Di hari biasa, aku bisa hidup seperti orang normal. Aku bekerja. Membalas pesan. Membeli sabun cuci. Tertawa saat teman kantor mengeluh soal harga makan siang. Kadang aku bahkan bisa lupa selama setengah hari, dan bagian itu membuatku merasa bersalah.

Bukankah aneh?

Kita bisa hancur, lalu lapar.

Kita bisa kehilangan sesuatu yang besar, lalu tetap memilih ayam goreng untuk makan malam.

Tubuh manusia sangat kurang ajar dalam caranya terus hidup.

Tapi pada hari ketujuh, semua kepura-puraan itu lepas satu per satu.

Aku tidak memasak. Tidak menyalakan televisi. Tidak menerima tamu. Aku duduk di lantai kamar, punggung menempel pada lemari, sambil mendengar rumah-rumah lain menjalani hidup yang tidak perlu menjelaskan dirinya.

Ada ibu memanggil anaknya mandi.

Ada ayah menyalakan motor.

Ada seseorang tertawa di telepon.

Suara-suara itu tidak salah.

Justru karena tidak salah, ia jadi lebih menyakitkan.


Ia tidak pernah datang lagi.

Itu aturan yang kami patuhi dengan tubuh yang tidak pernah benar-benar setuju.

Tapi setiap beberapa bulan, ada tanda kecil bahwa ia masih berada di sisi lain kehidupan.

Nomor tanpa nama yang menelepon lalu memutus sebelum sempat kuangkat.

Amplop kosong di kotak surat, hanya berisi daun kering dari kota yang dulu ingin kami tinggali.

Satu foto buram yang dikirim pukul dua pagi: langit dari jendela bus, tanpa keterangan, tanpa wajah, tanpa keberanian.

Aku tidak membalas.

Bukan karena tidak ingin.

Karena ada beberapa pintu yang jika dibuka sedikit saja, seluruh rumah akan terbakar lagi.

Pada hari ketujuh bulan lalu, sebuah pesan masuk.

Tidak ada salam. Tidak ada nama.

Cuma satu kalimat:

Kepalamu masih sakit?

Aku menatap layar begitu lama sampai huruf-hurufnya terasa bergerak.

Pertanyaan itu terlalu sederhana untuk seseorang yang tidak seharusnya tahu. Terlalu dekat untuk orang yang sudah bertahun-tahun dijauhkan. Terlalu lembut untuk sesuatu yang dulu diputus dengan cara kasar.

Aku mengetik:

Masih.

Lalu kuhapus.

Aku mengetik lagi:

Kau juga?

Kuhapus lagi.

Akhirnya aku meletakkan ponsel menghadap meja.

Ada cinta yang tidak mati, tapi tidak boleh diberi makan.

Karena begitu ia kenyang sedikit saja, ia akan kembali meminta rumah, nama, pelukan, dan segala hal yang sudah tidak mungkin kami miliki tanpa melukai terlalu banyak orang.


Sore ini sakit kepalaku datang lebih awal.

Baru pukul empat, tapi ruangan sudah terasa seperti malam. Gorden tertutup. Gelas kosong. Obat di atas meja. Di luar, gerimis membuat kabel listrik terlihat seperti garis hitam yang digambar anak kecil dengan tangan gemetar.

Dari rumah sebelah terdengar suara anak kecil mengeja.

Ba.

Bi.

Bu.

Lalu tawa perempuan yang mengajarinya.

Aku memejamkan mata.

Ada nama yang hampir keluar dari mulutku.

Aku menahannya.

Nama itu bukan milikku untuk dipanggil.

Barangkali itulah hukuman paling panjang: bukan kehilangan seseorang, tapi hidup cukup dekat dengan kemungkinan bahwa ia ada, tumbuh, tertawa, sakit, makan, belajar kata-kata baru, tanpa pernah tahu bahwa ada orang lain yang setiap minggu kepalanya pecah karena gagal menjadi tempat pulang.

Aku bangkit dan akhirnya membuka laci paling bawah.

Debunya tipis. Kantong kain itu masih di sana. Warnanya sudah kusam. Ikatannya agak keras karena terlalu lama tidak disentuh.

Aku membukanya pelan.

Potongan kain kecil.

Kertas pudar.

Gelang rumah sakit.

Dan satu foto yang tidak pernah kuingat pernah kusimpan: sepasang tangan dewasa di atas selimut putih, tidak saling menggenggam, hanya sama-sama berada di dekat sesuatu yang tidak tampak dalam bingkai.

Foto itu buruk. Miring. Terlalu gelap.

Tapi ada kehidupan di pinggirnya.

Ada sesuatu yang dulu sangat kecil, sangat sebentar, dan sangat dilarang untuk menjadi cerita.

Aku menempelkan foto itu ke dada.

Bukan untuk berdoa.

Aku sudah terlalu sering meminjam bahasa langit untuk hal-hal yang tidak sanggup kujelaskan pada manusia.

Aku hanya ingin diam sebentar sebagai diriku sendiri.

Tanpa pengadilan. Tanpa nama baik. Tanpa keputusan keluarga. Tanpa kalimat bahwa semua ini demi kebaikan bersama.

Karena tidak semua yang rapi itu benar.

Dan tidak semua yang berantakan pantas disebut salah.


Menjelang magrib, pesan baru masuk.

Nomor yang sama.

Aku tidak tahu harus menulis apa hari ini. Tapi sakit kepalaku juga datang.

Aku membaca kalimat itu sekali.

Dua kali.

Lalu berkali-kali, sampai layar ponsel meredup sendiri.

Untuk beberapa detik, aku membayangkan kami sedang duduk di ruangan yang sama. Tidak saling menyentuh. Tidak saling meminta. Hanya dua orang lelah yang akhirnya boleh mengakui bahwa mereka lelah.

Tapi bayangan adalah tempat paling licik di dunia.

Ia memberi kita kursi, lalu mengambil lantainya.

Aku tidak membalas.

Belum.

Aku hanya menyalakan lampu kecil di sudut kamar, mengambil obat, dan meneguk air sampai tenggorokanku dingin.

Di luar, gerimis berhenti.

Tetapi kota tidak menjadi lebih ringan.

Mungkin beberapa luka memang tidak meminta sembuh.

Mungkin beberapa luka hanya ingin diakui pernah ada.

Maka malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menulis di kertas kecil:

Hari ketujuh.

Kepalaku masih sakit.

Aku masih ingat.

Tapi aku tidak ingin lagi menjadikan rasa bersalah sebagai satu-satunya cara mencintai.

Kertas itu kulipat dua kali.

Kumasukkan kembali ke kantong kain, bersama benda-benda yang tidak sanggup kubuang.

Besok, mungkin aku akan bekerja seperti biasa.

Membeli sabun cuci. Menjawab pesan. Tertawa kecil pada hal yang tidak terlalu lucu. Menjadi manusia yang tampak baik-baik saja dari kejauhan.

Tetapi malam ini, aku membiarkan rumah gelap.

Aku membiarkan sakit kepala itu duduk sampai ia bosan sendiri.

Dan ketika ponselku menyala lagi, aku tidak menyentuhnya.

Di layar, satu pesan terakhir menggantung tanpa suara:

Kalau suatu hari kau juga tidak kuat, jangan sendirian terus.