Punggung Bimo mulai sakit sejak ia mulai tidur dengan sepatu masih terpasang.
Awalnya cuma sekali. Pulang lembur, menaruh tas di lantai, duduk di tepi kasur untuk membuka kaus kaki, lalu bangun jam tiga pagi dengan kaki masih di dalam sepatu kerja.
Setelah itu menjadi beberapa kali.
Sepatu. Lampu kamar. Kipas angin yang berputar dengan bunyi seperti tutup botol digesek meja. Ponsel di samping bantal, menyala setiap beberapa menit, bukan karena ada yang mencarinya, tapi karena aplikasi kantor tidak pernah benar-benar tidur.
Bimo dua puluh delapan tahun. Umur yang menurut ibunya sudah cukup untuk punya motor bagus, tabungan nikah, dan jawaban jika tetangga bertanya kerja di mana.
Ia hanya punya motor yang pajaknya telat sebulan, rekening yang habis sebelum tanggal dua puluh, dan punggung yang makin sering berbunyi kecil ketika ia membungkuk mengambil galon.
Klinik itu berada di ruko dua lantai dekat pasar. Di bawahnya ada apotek, tukang fotokopi, dan warung mi ayam yang selalu menaruh kursi tambahan sampai trotoar tinggal separuh.
Bimo datang pukul empat lewat sedikit. Ia memilih jam itu karena kantor sudah selesai rapat mingguan, tapi belum cukup malam untuk ibu kos bertanya kenapa ia pulang membawa kantong obat.
Di meja pendaftaran, seorang perempuan memberinya formulir.
"Keluhan utama?"
"Punggung."
"Sudah berapa lama?"
Bimo menatap kolom kosong itu.
Kalau dihitung dari nyeri pertama di pinggang kanan, dua minggu. Kalau dihitung dari hari ia mulai makan sekali sehari karena tidak lapar dan tidak sempat, mungkin tiga bulan. Kalau dihitung dari malam pertama ia duduk di lantai kamar mandi sampai air di ember dingin sendiri, ia sudah lupa tanggalnya.
Ia menulis: 2 minggu.
Perempuan itu memberinya nomor antrean.
Kertasnya tipis, sedikit miring saat dipotong. Angka itu dicetak dengan tinta yang sudah mulai habis di bagian atas.
Bimo duduk di kursi plastik hijau. Di sebelahnya ada satu kursi kosong dengan bekas air melingkar di dudukannya. Mungkin dari botol minum pasien sebelum dia. Mungkin dari tas basah. Mungkin dari hal yang tidak penting.
Ia membuka ponsel.
Tiga puluh tujuh pesan grup kantor.
Satu tagihan internet.
Satu pesan ibu: Jangan lupa transfer sebelum Jumat.
Bimo menutup ponsel.
Lima detik kemudian, ia membukanya lagi.
Pesannya tetap sama. Hanya angka notifikasinya yang bertambah satu.
Di kantor, Bimo dikenal sebagai orang yang tidak banyak alasan.
Kalau diminta lembur, ia mengangguk.
Kalau file orang lain berantakan, ia rapikan.
Kalau atasan berkata, "Bisa malam ini?" ia tidak pernah bertanya malam ini jam berapa.
Pernah suatu Jumat, rekan kerjanya berkata, "Enak ya jadi kamu. Hidup lurus-lurus aja."
Bimo sedang menghapus nama file yang ditulis dengan format salah. Ia hanya tertawa.
Di laptopnya ada folder bernama FINAL, FINAL REVISI, FINAL BANGET, dan FINAL YANG INI. Di kamarnya ada piring bekas mi yang sudah tiga hari berada di lantai, dekat colokan. Di dompetnya ada struk ATM yang tidak pernah ia buang karena angka saldo di sana, walaupun kecil, masih terlihat seperti bukti bahwa ia belum sepenuhnya gagal.
Setiap pagi ia membeli roti tawar satuan di warung depan gang. Kadang dimakan di jalan. Kadang sampai kantor masih utuh. Kadang malamnya ia menemukan roti itu gepeng di dalam tas, menempel pada kabel charger.
Hari-hari Bimo tidak runtuh.
Hari-harinya hanya makin sulit dibedakan.
"Nomor dua puluh dua."
Seorang bapak berdiri dari ujung kursi. Jalannya pelan, sandal karetnya berbunyi kecil di lantai.
Bimo melipat nomor antreannya sekali.
Punggungnya nyeri saat ia bergeser. Ia menegakkan badan, lalu menyesal karena posisi tegak justru membuat tulang belakangnya seperti disuruh mengaku.
Di atas meja resepsionis, televisi kecil menayangkan sinetron tanpa suara. Orang-orang di layar menangis dengan mulut terbuka. Di bawahnya, dispenser air minum menetes ke gelas plastik yang tidak ada pemiliknya.
Ponsel Bimo menyala.
Pesan dari atasannya.
Bim, file presentasi besok bisa dicek malam ini?
Ia membaca kalimat itu sampai selesai.
Lalu membacanya lagi, seolah mungkin ada kata "kalau sempat" yang terlewat.
Tidak ada.
Ia mengetik: Siap Pak.
Belum dikirim.
"Nomor dua puluh empat."
Bimo mengangkat kepala.
Perempuan muda di sebelah kanan berdiri. Ia membawa anak kecil yang tidur di bahunya.
Nomor 23 masih ada di tangan Bimo.
Ia bisa protes.
Ia bisa berdiri, mendekati meja, menunjukkan kertas itu, berkata bahwa nomornya terlewat.
Ia tidak melakukan apa-apa.
Kertas itu ia lipat lagi. Lebih kecil.
Di layar ponselnya, kalimat Siap Pak masih menunggu tombol kirim.
Bimo menekan kirim.
Dokter memanggilnya setelah nomor 25.
"Maaf, Mas, tadi kelewat ya."
"Tidak apa-apa."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Dokter itu masih muda. Kacamatanya turun sedikit setiap kali membaca. Ia memeriksa punggung Bimo dengan tangan yang dingin, menyuruhnya membungkuk, meluruskan kaki, menahan posisi tertentu.
"Sakit di sini?"
"Iya."
"Kalau begini?"
"Sedikit."
"Tidurnya gimana?"
"Biasa."
"Biasa itu berapa jam?"
Bimo menghitung dengan cara yang tidak meyakinkan.
"Empat. Kadang lima."
"Makan?"
"Makan."
"Teratur?"
Bimo melihat tempat sampah kecil di bawah meja dokter. Ada bungkus sarung tangan, kapas, dan satu gelas plastik penyok.
"Lumayan."
Dokter menulis sesuatu.
"Olahraga?"
"Dulu."
"Dulu kapan?"
Bimo hampir menjawab zaman kuliah, tapi kalimat itu terdengar seperti milik orang tua. Ia baru dua puluh delapan. Orang dua puluh delapan belum seharusnya memakai masa kuliah seperti kota yang sudah jauh.
"Agak lama," katanya.
Dokter mengambil formulir Bimo dari map cokelat.
"Di sini Mas centang susah tidur."
"Kadang."
"Nafsu makan turun."
"Makanan dekat kos memang begitu, Dok."
"Sulit konsentrasi."
"Kantor memang banyak gangguan."
Dokter berhenti menulis.
Bimo melihat jam dinding. Jarumnya hampir ke angka lima. Ia ingin dokter itu kembali membicarakan punggung. Otot. Saraf. Koyo. Hal-hal yang bisa ditempel, diminum, dibayar, lalu selesai.
"Saya kasih obat nyeri dulu," kata dokter.
Bimo mengangguk.
"Tapi kalau keluhannya sering balik, kita jangan cuma lihat punggungnya."
"Maksudnya?"
"Kadang badan yang paling rajin melapor."
Bimo tidak menjawab.
Dokter menulis satu nomor di bagian bawah resep.
"Ini kontak psikolog yang praktik di sini tiap Rabu. Tidak harus sekarang. Simpan saja."
Bimo mengambil kertas itu.
Ia ingin berkata bahwa ia hanya butuh obat. Ia ingin berkata bahwa punggungnya benar-benar sakit. Ia ingin berkata bahwa kalau ada cara berhenti menjadi orang yang selalu bisa diminta, ia akan membeli obat itu juga.
Yang keluar hanya, "Berapa kali sehari obatnya?"
Dokter menjelaskan aturan minum.
Bimo mendengarkan dengan rapi.
Di kasir, ia membayar dengan uang pas.
Perempuan pendaftaran mengembalikan nomor antreannya.
"Ini dibuang saja, Mas?"
Bimo melihat kertas kecil itu di tangan perempuan tersebut.
Angkanya makin pudar.
"Saya bawa."
Perempuan itu menyerahkannya tanpa bertanya.
Di parkiran, matahari sudah miring. Helm Bimo terasa panas di bagian atas. Ia menaruh resep di jok motor, membuka bungkus koyo dari apotek, lalu mencoba menempelkannya sendiri di punggung lewat kaca spion.
Gagal.
Koyonya menempel miring di kemeja.
Bimo melepasnya pelan-pelan. Ada bagian kain yang ikut tertarik.
Ia tertawa sekali. Tidak keras. Cukup untuk membuat tukang parkir menoleh sebentar.
Ponselnya menyala.
Grup kantor lagi.
Atasannya mengirim tanda jempol.
Ibunya mengirim nomor rekening yang sama seperti bulan lalu.
Operator seluler menawarkan paket malam.
Bimo mengunci layar.
Di kaca hitam itu, wajahnya muncul kecil, retak oleh bekas sidik jari.
Ia mengambil nomor psikolog dari resep, menyimpannya di kontak baru.
Nama kontaknya: Rabu.
Ia tidak menelepon.
Belum.
Nomor antrean 23 masih ada di tangannya. Ia melipatnya sekali lagi, lalu menyelipkannya ke sela busa helm.
Bukan dibuang.
Belum.
Tapi malam itu, untuk pulang, ia membutuhkan dua tangan.