99 Keinginan #66unfinished wedding archive

99 Keinginan #66

Ada perempuan yang tidak takut menjadi tiga puluh. Ia hanya takut karena hidupnya terus berjalan, sementara sebagian dirinya masih tertinggal di depan butik gaun pengantin umur dua puluh lima.

Ada perempuan yang tidak takut menjadi tiga puluh.

Ia hanya takut karena hidupnya terus berjalan, sementara sebagian dirinya masih tertinggal di depan butik gaun pengantin umur dua puluh lima.

Namanya Arunika. Di kantor, orang-orang memanggilnya Runi. Lebih pendek, lebih praktis, lebih mudah dilempar dalam kalimat seperti, "Run, tolong handle client ini."

Ia pernah menyukai namanya. Arunika. Cahaya matahari setelah gelap. Belakangan, nama itu terasa terlalu terang untuk seseorang yang sering bangun dengan dada berat sebelum alarm berbunyi.


Pagi itu kalender di ponselnya menunjukkan tanggal biasa.

Tiga bulan lagi ia berusia tiga puluh.

Angka itu tidak menakutinya. Yang menakutinya adalah tubuhnya masih ingat umur dua puluh lima dengan terlalu rinci: butik gaun, kain ivory, gedung resepsi, dan suara Bagas yang berkata, "Yang ini. Aku bisa membayangkan kamu berjalan ke arahku."

Kalimat itu dulu membuat Runi tersenyum.

Sekarang kalimat itu kadang datang seperti tangan dingin di tengkuk.

Pesan ibunya masuk pukul tujuh lewat dua belas.

Run, bulan ini bisa kirim lebih cepat?

Tidak ada selamat pagi. Tidak ada tanya kabar. Tidak ada, "Kamu sudah sarapan?"

Runi duduk di tepi kasur dengan kemeja kerja yang belum sepenuhnya dikancingkan.

Ia ingin membalas: Bu, aku juga butuh ditanya apakah aku masih kuat.

Yang ia ketik: Iya, Bu. Nanti siang aku transfer.

Balasan ibunya datang cepat.

Jangan lupa uang obat bapak juga.

Runi menaruh ponsel di kasur. Ada lelah yang tidak bisa diselesaikan dengan tidur. Ada lelah yang datang karena hati terlalu sering dipakai sebagai mesin.

Ia terlalu sering dianggap kuat hanya karena uangnya masih bisa dikirim.


Di kantor, Runi punya jabatan yang dulu ia pikir akan membuatnya bangga. Ia memimpin tim kecil, bertemu klien, membaca kontrak, membuat keputusan. Dari luar, hidupnya tampak rapi: gaji tetap, kemeja bersih, kartu nama dengan huruf yang elegan.

Tapi semakin lama, pekerjaannya terasa seperti baju yang ukurannya salah. Tidak terlalu sempit. Tidak terlalu longgar. Hanya tidak terasa miliknya.

Setiap kali seseorang memperkenalkannya, "Ini Runi, lead kita," ada bagian dirinya yang ingin bertanya: selain itu, aku siapa? Jika pekerjaanku diambil, apakah aku masih ada? Jika gajiku habis untuk rumah, apakah aku masih dicintai?

Ada hari ketika namanya terasa hilang di antara slip gaji, target kerja, dan nomor rekening keluarga.

Di hari-hari seperti itu, Runi rindu masa kecilnya. Bukan karena sempurna. Rumahnya dulu juga sering kekurangan. Tapi masa kecil punya kesederhanaan yang sekarang terasa mahal.

Dulu sedih bisa selesai setelah membeli es lilin seribu rupiah. Dulu bahagia bisa berupa sandal baru menjelang lebaran, kaus kaki putih yang belum melar, atau tidur siang setelah pulang sekolah dengan seragam masih bau matahari.

Waktu remaja, menunggu balasan pesan bisa membuatnya gelisah seharian, tapi gelisah itu masih bisa hilang setelah tertawa bersama teman di depan warung. Ia rindu dirinya yang belum diukur dari gaji, belum takut pada telepon keluarga, belum membawa kematian seseorang seperti berkas yang harus selalu ditandatangani ulang.

Kadang Runi merasa, dewasa adalah ketika hal-hal sederhana pelan-pelan diambil dari tanganmu, lalu dunia menyuruhmu bersyukur karena sebagai gantinya kau punya pekerjaan tetap.


Hari terakhir Bagas dimulai dari gaun. Runi mencoba tiga. Yang pertama terlalu berat. Yang kedua terlalu berkilau. Bagas bilang, "Kalau listrik padam, kamu bisa jadi genset."

Yang ketiga sederhana. Ivory. Lengan panjang tipis. Tidak banyak payet. Seperti dibuat untuk perempuan yang tidak ingin terlihat mewah, hanya ingin benar-benar hadir.

Runi keluar dari ruang ganti.

Bagas berhenti bicara.

"Yang ini," katanya.

"Kamu yakin?"

"Iya."

"Kok cepat?"

"Karena aku bisa membayangkan kamu berjalan ke arahku."

Setelah itu mereka survei gedung kecil di pinggir kota. Ada halaman samping yang bisa dipasang lampu gantung, ruang rias yang AC-nya terlalu dingin, dan toilet yang pintunya macet sedikit.

Bagas menunjuk satu sudut.

"Nanti photobooth di sana."

"Kamu mau photobooth?"

"Mau. Biar kalau aku gugup, aku bisa pura-pura sibuk foto."

"Kamu ini."

"Nanti kita foto yang jelek juga. Jangan cuma yang bagus. Biar kalau tua, kita ingat kita pernah muda dan agak memalukan."

Runi tidak tahu itu akan menjadi salah satu kalimat terakhir yang ia simpan. Kalimat lucu, ringan, lalu setelah seseorang pergi, berubah menjadi benda tajam.


Mereka pulang terpisah.

Runi naik ojek online karena harus kembali ke kantor mengambil laptop. Bagas naik motor sendiri.

"Nanti malam aku telepon," kata Bagas di depan gedung.

"Jangan lama-lama di jalan."

"Siap, calon bos rumah tangga."

"Aku bukan bos."

"Belum."

Ia tertawa, lalu menyalakan motor.

Runi tidak memeluknya lama. Tidak berkata sesuatu yang indah. Ia hanya berkata, "Hati-hati."

Kadang hidup menghukum manusia dengan kalimat yang terlalu biasa.

Malamnya, bukan Bagas yang menelepon.

Nomor asing.

Rumah sakit.

Kecelakaan.

Datang sekarang.

Sejak itu, ada bagian hidup Runi yang tidak pernah tersusun lagi dengan benar.


Di pemakaman, Runi duduk dekat pintu.

Ia tidak tahu harus menjadi apa. Calon istri? Orang luar? Perempuan yang hampir menjadi keluarga? Atau sekadar penyebab yang kebetulan masih bernapas?

Ibu Bagas menghampirinya dengan mata merah dan suara yang pecah.

"Kalau hari itu kamu tidak ajak dia muter-muter lihat gaun dan gedung, anak saya masih hidup."

Runi tidak menjawab.

Tidak bisa.

"Semua ini kalau bukan karena anak saya, kamu tidak bisa apa-apa."

Kalimat itu jatuh ke tubuh Runi dan tinggal di sana. Seperti paku. Seperti alamat baru bagi rasa bersalah.

Orang-orang menarik ibu Bagas pelan-pelan. Ada yang menatap Runi dengan iba. Ada yang menunduk, pura-pura tidak mendengar.

Runi berharap ada satu orang yang berkata: bukan salahmu. Tidak ada.

Kadang manusia tidak hancur karena semua orang menyerang. Kadang cukup satu kalimat, dan sisanya diam.


Empat tahun berlalu. Orang-orang menyebutnya waktu. Runi menyebutnya cara tubuh bertahan tanpa persetujuan hati.

Ia tetap bekerja, tetap naik jabatan, tetap mengirim uang, tetap datang ke pernikahan teman dan berkata, "Aku ikut senang." Sering kali ia memang ikut senang. Itu yang membuatnya merasa bersalah.

Hidup ternyata masih bisa memberi tawa setelah seseorang pergi. Makanan masih bisa enak. Tubuhnya tetap ingin hidup, meski sebagian hatinya merasa itu pengkhianatan.

Depresi Runi tidak selalu terlihat seperti menangis. Kadang ia berbentuk kamar yang tidak dibersihkan, pesan yang tidak dibuka, mandi yang terasa seperti pekerjaan besar.

Ia tidak ingin hilang. Ia hanya sering tidak tahu harus hidup sebagai siapa.


Pada suatu Jumat sore, Runi melewati gedung lama itu.

Ia tidak sengaja. Jalan utama macet, sopir taksi online mengambil jalur kecil, dan tiba-tiba bangunan itu muncul di sisi kiri.

Gedung yang dulu mereka pilih untuk menikah kini menjadi toko roti dan kafe kecil.

Catnya berubah. Papan namanya berubah. Fungsinya berubah.

Hidup telah mengubah tempat itu tanpa meminta izin pada kenangan.

Runi meminta sopir berhenti.

"Di sini saja, Pak."

"Ibu yakin? Tujuan masih jauh."

"Iya. Saya turun di sini."

Ia berdiri di trotoar beberapa detik setelah mobil pergi. Di dalam, lampu kafe menyala lembut. Orang-orang duduk mengobrol. Seorang anak kecil menempel di etalase roti.

Runi masuk.

Aroma roti dan kopi menyambutnya dengan cara yang hampir tidak sopan, terlalu hangat untuk tempat yang pernah menjadi pusat rencana patah.

Ia duduk di dekat jendela, di sudut yang dulu akan menjadi area photobooth.

Sekarang di sana ada rak roti sourdough dan satu tanaman plastik yang terlalu hijau.

Runi memesan roti kayu manis dan teh panas. Ketika pelayan pergi, ia membuka tas dan mengeluarkan amplop kecil yang selalu ia bawa tanpa alasan sehat.

Amplop itu berisi swatch kain gaun.

Ivory.

Sudah sedikit kusam di pinggirnya.

Ia menyentuh kain itu pelan.

Empat tahun, dan benda sekecil itu masih bisa membuat dadanya seperti dilipat dari dalam.


Pintu kafe terbuka lagi.

Runi menoleh tanpa niat.

Lalu tubuhnya menegang.

Ibu Bagas masuk bersama Nara, adik Bagas.

Runi ingin berdiri. Ingin pergi. Ingin menjadi udara saja.

Tapi kakinya tidak bergerak.

Ibu Bagas melihatnya. Tatapan mereka bertemu sebentar. Tidak ada teriakan. Tidak ada adegan besar.

Perempuan itu hanya memalingkan wajah, seolah Runi masih bagian dari luka yang tidak sanggup ia lihat.

Runi menunduk.

Tangannya menggenggam swatch kain sampai ujung jarinya pucat.

Semua ini kalau bukan karena anak saya, kamu tidak bisa apa-apa.

Kalimat itu kembali. Kali ini bukan hanya di kepala. Ia terasa masuk ke tenggorokan dan membuat Runi sulit menelan.


Di depan wastafel, Runi membasuh tangannya terlalu lama.

Pintu toilet terbuka. Nara berdiri di belakangnya. Mereka saling melihat dari pantulan cermin.

Nara dulu masih remaja ketika Bagas meninggal. Sekarang wajahnya lebih dewasa, tapi matanya masih membawa sesuatu yang sama: kehilangan yang tidak punya tempat duduk.

"Mbak Runi," katanya pelan.

Runi mengangguk.

"Aku enggak tahu harus ngomong apa."

"Tidak perlu."

"Tapi aku harus."

Runi diam.

Air masih mengalir dari keran.

"Waktu itu bukan salah Mbak."

Kalimat itu tidak terdengar seperti penyelamatan besar. Tidak ada musik. Tidak ada cahaya jatuh dari langit. Hanya satu perempuan muda, satu wastafel, dan kalimat yang terlambat empat tahun.

Tapi tubuh Runi bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.

Bahunya turun, seperti ada karung yang selama ini ia pikul diam-diam, dan seseorang akhirnya menyentuh ujungnya.

Nara menambahkan, "Ibu kehilangan anak. Tapi Mbak tidak harus jadi tempat semua marahnya tinggal."

Runi memejamkan mata. Ia menangis tanpa suara. Bukan tangis yang menyelesaikan semua. Lebih seperti air yang akhirnya menemukan retak kecil di tembok.


Di meja, teh Runi sudah tidak terlalu panas. Ponselnya bergetar. Ibunya.

Run, transfernya jangan lupa. Kalau bisa lebih dari biasa, ya. Banyak kebutuhan.

Biasanya Runi akan langsung menghitung sisa uang. Biasanya ia akan merasa bersalah sebelum sempat merasa lelah. Tapi hari itu, setelah mendengar satu kalimat yang terlambat empat tahun, ada sesuatu dalam dirinya yang berhenti minta izin untuk hidup.

Ia mengetik:

Bu, bulan ini aku hanya bisa kirim segini. Sisanya aku pakai untuk kesehatanku.

Tangannya gemetar.

Ia hampir menghapusnya.

Lalu ia ingat kalimat Nara.

Mbak tidak harus jadi tempat semua marahnya tinggal.

Runi menekan kirim.

Setelah itu ia membuka kontak terapis yang sudah ia simpan enam bulan lalu.

Halo, saya Runi. Apakah masih bisa buat jadwal konsultasi?

Dua pesan pendek.

Tidak menyelesaikan hidup.

Tapi ada beberapa pintu yang memang dibuka dengan kalimat pendek.


Malamnya, Runi tidak langsung pulang.

Ia berjalan ke toko pakaian kecil di seberang jalan. Bukan butik pengantin. Hanya toko biasa dengan lampu kuning dan manekin yang wajahnya terlalu percaya diri.

Di rak kanan, ada gaun biru tua. Sederhana. Tidak ada payet. Tidak ada renda. Tidak ada janji tentang hari Minggu.

"Boleh coba yang itu?"

Di ruang ganti, ia melepas kemeja putihnya.

Kemeja kantor.

Seragam orang yang selalu bisa diandalkan.

Ia mengenakan gaun biru itu. Kainnya jatuh ringan di tubuh.

Tidak membuatnya terlihat seperti pengantin. Tidak membuatnya terlihat seperti perempuan yang sudah selesai dengan masa lalu. Tapi membuatnya terlihat seperti seseorang.

Itu saja sudah lama tidak ia rasakan.

Di depan cermin, Runi menatap dirinya.

Ia tidak cantik dengan cara yang membuat dunia berhenti.

Ia cantik dengan cara yang lebih pelan:

seperti orang yang masih berdiri setelah terlalu sering diminta runtuh diam-diam.


Di kamar kos, Runi menggantung gaun biru itu di pintu lemari. Di bawahnya, ia meletakkan amplop kecil berisi kain ivory.

Bukan membuang. Belum. Mungkin suatu hari nanti. Mungkin tidak.

Ia tidak ingin memaksa dirinya menjadi orang yang cepat selesai.

Keinginannya sederhana.

Ia ingin sampai ke umur tiga puluh tanpa merasa bersalah karena masih hidup.

Ia ingin berhenti meminta izin pada luka untuk tertawa.

Ia ingin bekerja tanpa kehilangan nama.

Ia ingin membantu keluarga tanpa menghilangkan dirinya sendiri.

Hari itu ia tidak membeli gaun pengantin.

Ia membeli gaun sederhana berwarna biru tua.

Bukan untuk menggantikan hari Minggu yang gagal datang.

Tapi untuk mengingatkan tubuhnya sendiri bahwa ia masih pantas dikenakan sesuatu yang indah, meski tidak sedang dipilih siapa-siapa.