99 Keinginan #65analog desk edition

99 Keinginan #65

Aku ingin memotret orang-orang yang tidak pernah masuk foto, padahal hidup kita sering selamat karena mereka berdiri di belakang layar. Mereka tidak banyak bicara, tidak minta dipuji, tapi tanpa mereka, beberapa hari buruk mungkin akan benar-benar jatuh.

Ilustrasi hangat sudut kios malam dengan kamera analog, foto cetak, dan orang-orang biasa yang bekerja di balik layar.

orang-orang yang tidak pernah masuk foto

contact sheet

Pilih satu frame. Cerita tetap dibaca setelah ini.

Ilustrasi profil Pak Umar, tukang parkir dengan topi dan peluit di parkiran malam.

tukang parkir

Pak Umar

menarik motor sebelum hari seseorang makin berantakan

baca cerita

Ada orang-orang yang tidak pernah masuk foto, padahal hidup kita sering selamat karena mereka ada di belakang layar.

Tukang parkir yang menahan motor kita saat tanjakan licin.

Kasir minimarket malam yang tetap bilang, "Hati-hati, Mas," meski wajahnya sendiri sudah hampir habis oleh lelah.

Penjaga fotokopi yang hafal halaman mana yang sering kita salah susun.

Ibu penjual gorengan yang selalu menambahkan satu cabai rawit tanpa diminta.

Satpam gedung yang membuka pagar sebelum kita sempat turun dari motor.

Mereka ada di mana-mana.

Tapi jarang ada di album siapa pun.

Seolah-olah dunia hanya punya ruang untuk orang yang berdiri di tengah panggung, sementara orang yang menyalakan lampu diminta cukup senang karena ruangan jadi terang.


Keinginan itu datang setelah aku membeli kamera analog bekas.

Merek kameranya tidak penting.

Yang penting, penjualnya bilang kondisinya normal, lalu menambahkan kalimat yang sangat mencurigakan: "Tinggal pakai, Mas. Minus pemakaian wajar."

Dalam dunia barang bekas, pemakaian wajar bisa berarti lecet sedikit, bisa juga berarti benda itu punya masa lalu yang lebih rumit daripada hubungan manusia.

Aku tetap membelinya.

Harganya tidak terlalu mahal, tapi cukup mahal untuk membuatku makan telur dadar dua malam berturut-turut sambil meyakinkan diri bahwa seni memang butuh pengorbanan.

Kamera itu berat.

Lebih berat dari kelihatannya.

Lebih berat juga dari beberapa keputusan hidupku.

Aku membawanya ke mana-mana selama seminggu, menggantung di leher seperti orang yang ingin terlihat puitis tapi masih bingung cara membuka tutup lensanya.

Temanku, Raka, melihatku di kantor dan berkata, "Kamu sekarang jadi fotografer?"

"Belum."

"Terus?"

"Sedang menjadi orang yang punya kamera."

"Itu fase paling berbahaya."

Aku tidak membantah.


Awalnya aku hanya memotret benda.

Kursi plastik di warung pecel lele.

Jemuran handuk di balkon kos.

Sepeda tua yang sandar di tembok.

Bayangan pohon di trotoar.

Benda tidak pernah bertanya akan dipakai untuk apa. Benda tidak curiga fotonya masuk pinjaman online. Benda juga tidak minta difoto ulang karena merasa pipinya besar sebelah.

Manusia lebih sulit.

Tapi justru manusia yang ingin kupotret.

Bukan manusia yang sedang tampil.

Bukan manusia yang sudah tahu sudut wajah terbaiknya.

Aku ingin memotret orang-orang yang bekerja tanpa penonton.

Orang-orang yang membuat hari berjalan, tapi sering tidak dianggap sebagai bagian penting dari hari itu.


Orang pertama yang kucoba potret adalah Pak Umar, tukang parkir di depan tempat fotokopi dekat kantor.

Aku sering melihatnya sejak awal kerja.

Topinya selalu sama. Peluitnya sudah tidak terlalu nyaring. Kalau hujan, ia menaruh plastik bening di atas bangku kecilnya. Kalau panas, ia duduk di bawah spanduk bengkel yang sobek di ujungnya.

Ia hafal motorku.

Pernah suatu sore aku buru-buru pulang karena perut sakit, dan ia sudah menarik motorku keluar sebelum aku sampai ke parkiran.

"Cepat pulang, Mas. Mukanya sudah kayak struk kena air," katanya.

Sejak itu aku percaya, beberapa orang punya cara peduli yang bentuknya agak kasar tapi tepat sasaran.

Sore itu aku mendekatinya dengan kamera.

"Pak, boleh saya foto?"

Pak Umar menatapku.

Lama.

"Buat apa?"

"Buat dokumentasi kecil."

"Dokumentasi apa?"

"Orang-orang yang sering membantu tapi jarang kelihatan."

Ia mengerutkan dahi. "Saya tukang parkir, Mas. Bukan pejabat."

"Justru itu."

"Kalau pejabat mah difoto terus."

"Nah."

Ia diam sebentar, lalu merapikan topinya.

"Jangan kelihatan ompongnya."

"Siap, Pak."

"Kalau bisa kelihatan muda sedikit."

"Itu di luar kemampuan kamera, Pak."

Ia tertawa.

Aku menekan tombol rana.

Klik.

Suara kecil itu terasa seperti menyimpan sesuatu yang selama ini lewat begitu saja.


Setelah Pak Umar, aku mulai memberanikan diri.

Malam berikutnya, aku memotret Mbak Lia, kasir minimarket dekat kos.

Ia menolak pada awalnya.

"Aduh, Mas, muka saya sudah jam sebelas malam."

"Justru bagus."

"Bagus apanya?"

"Jujur."

"Kalau jujur, rekening saya juga bisa ikut difoto, Mas. Sama-sama menyedihkan."

Aku tertawa.

Ia akhirnya mau, asal tidak sambil memegang mop karena katanya itu terlalu realistis.

Aku memotretnya di dekat rak roti, dengan lampu minimarket yang terlalu terang dan ekspresi seseorang yang lelah tapi belum menyerah.

Lalu ada Bang Ilham, penjaga fotokopi.

Ia menolak karena mengira aku wartawan.

"Saya tidak tahu apa-apa soal pungli parkiran, Mas."

"Saya juga tidak nanya."

"Oh. Syukurlah."

Ia mau difoto setelah aku membeli dua puluh lembar map plastik yang sebenarnya tidak kubutuhkan.

Kemudian ada Bu Sari, penjual gorengan di dekat halte.

Ia malah menyuruhku memotret bakwannya.

"Wajah saya biasa saja. Bakwan saya lebih terkenal."

"Saya boleh foto dua-duanya?"

"Boleh. Tapi kalau fotonya bagus, kirim ke saya. Anak saya suka bilang jualan saya kurang estetik."

Kata "estetik" keluar dari mulut Bu Sari dengan nada seperti sedang membicarakan penyakit ringan.

Aku memotretnya ketika ia mengangkat saringan gorengan. Minyak panas menetes kembali ke wajan. Asap tipis naik. Di belakangnya, lampu jalan mulai menyala.

Itu bukan pemandangan besar.

Tapi hidup sering diselamatkan oleh pemandangan yang tidak besar.


Seminggu kemudian, roll film pertamaku selesai.

Aku membawanya ke studio kecil yang masih menerima cuci film.

Pemilik studio, seorang bapak berkacamata dengan rambut putih rapi, menerima roll itu seperti menerima organ penting.

"Pertama kali pakai analog?"

"Kelihatan, ya?"

"Kelihatan dari cara Mas memegang kamera seperti takut digigit."

Aku tersenyum.

Ia bilang hasilnya bisa diambil tiga hari lagi.

Tiga hari itu terasa lama.

Lebih lama dari menunggu balasan pesan orang yang sudah jelas tidak berniat membalas.

Saat akhirnya hasilnya keluar, aku datang dengan perasaan aneh. Seperti mau melihat bukti bahwa orang-orang kecil yang kutemui benar-benar pernah ada dengan cahaya yang baik.

Bapak studio menyerahkan amplop cokelat.

"Mas," katanya hati-hati.

Nada itu langsung membuatku tidak nyaman.

"Kenapa, Pak?"

"Sebagian besar fotonya gelap."

"Gelap bagaimana?"

"Gelap sekali."

Ia membuka beberapa hasil scan di layar komputer.

Hitam.

Hitam.

Hitam.

Satu foto setengah terlihat: ujung topi Pak Umar.

Satu lagi hanya lampu minimarket yang pecah jadi garis putih.

Foto Bu Sari? Tidak ada. Hanya bayangan wajan seperti bulan sabit yang sedang kecewa.

Aku menatap layar.

Bapak studio berkata, "Kemungkinan tutup lensanya belum dibuka di beberapa shot."

Aku ingin membela diri.

Tapi aku memang beberapa kali lupa membuka tutup lensa.

Kamera analog ternyata tidak memaafkan kebodohan dengan preview digital.

"Jadi gagal semua?"

"Tidak semua. Ada tiga yang lumayan."

Tiga.

Dari tiga puluh enam.

Rasio yang sangat cocok untuk menggambarkan hidupku.

Aku pulang membawa amplop itu dengan perasaan malu.

Malu pada diri sendiri.

Malu pada orang-orang yang sudah bersedia dilihat, tapi aku gagal menyimpannya dengan benar.


Malam itu aku hampir membatalkan semuanya.

Kamera kutaruh di meja.

Amplop cokelat kubuka.

Foto-foto gelap itu kususun satu-satu.

Aneh, meski gagal, aku masih ingat adegannya.

Hitam pertama: Pak Umar tertawa setelah bercanda soal giginya.

Hitam kedua: Mbak Lia mengikat rambut sebelum difoto.

Hitam ketiga: Bang Ilham pura-pura membaca nota agar terlihat sibuk.

Hitam keempat: Bu Sari mengangkat bakwan sambil berkata, "Tunggu, minyaknya lagi cakep."

Tidak ada gambar.

Tapi ingatanku penuh.

Aku baru sadar, mungkin kamera bukan alat pertama untuk melihat.

Kamera hanya alat untuk menyimpan.

Yang paling penting tetap mata yang mau berhenti sebentar.


Besoknya aku kembali ke Pak Umar.

Ia sedang duduk di bangku kecil, mengipas-ngipas wajah dengan kardus bekas.

"Pak," kataku.

"Hasilnya mana?"

Pertanyaan itu langsung menusuk harga diriku.

Aku mengeluarkan foto yang gagal.

Hanya ujung topinya.

Pak Umar menatapnya.

Lalu menatapku.

"Mas."

"Iya, Pak."

"Ini foto saya atau foto nasib?"

Aku tertawa, tapi malu.

"Maaf, Pak. Saya lupa buka tutup lensa."

Pak Umar tertawa keras sampai peluitnya jatuh dari pangkuan.

"Ya ampun. Kamera mahal-mahal kalah sama mata sendiri."

"Boleh saya ulang?"

Ia mengangkat alis.

"Kalau saya sudah lebih tua di foto kedua, itu salah Mas."

"Saya tanggung jawab secara moral."

"Moral tidak bikin kelihatan muda."

Aku memotret ulang.

Kali ini, sebelum menekan tombol, aku memastikan tutup lensa sudah kubuka.

Dua kali.

Tiga kali.

Pak Umar melihatku dan berkata, "Mas, saya tukang parkir, bukan gerhana matahari. Tidak perlu diamati segitunya."

Klik.


Aku mengulang semuanya.

Ke Mbak Lia.

Ke Bang Ilham.

Ke Bu Sari.

Ke satpam gedung yang namanya Pak Deden, yang ternyata suka menanam anggrek dan tidak pernah sekali pun bercerita karena tidak ada yang bertanya.

Beberapa orang masih menolak.

"Enggak usah, Mas. Saya malu."

"Saya jelek kalau difoto."

"Nanti orang lihat buat apa?"

"Saya cuma kerja begini."

Kalimat terakhir itu paling lama tinggal di kepalaku.

Saya cuma kerja begini.

Seolah-olah kerja yang tidak terlihat berarti tidak layak diingat.

Seolah-olah yang boleh disimpan hanya orang yang punya meja besar, baju rapi, atau jabatan yang dicetak di kartu nama.

Padahal berapa banyak hidup kita bergantung pada orang yang "cuma kerja begini"?

Cuma menyapu.

Cuma menjaga pintu.

Cuma menggoreng.

Cuma mengatur parkir.

Cuma membuka toko sampai tengah malam.

Kita sering mengecilkan pekerjaan orang lain dengan kata "cuma", lalu diam-diam menikmati hasil dari pekerjaan itu setiap hari.

Orang kecil sering disebut kecil hanya karena kamera terlalu sering diarahkan ke tempat yang salah.


Roll kedua berhasil.

Tidak sempurna.

Ada foto yang miring.

Ada yang terlalu terang.

Ada satu foto Bang Ilham yang membuat wajahnya seperti orang baru melihat tagihan listrik.

Tapi semuanya ada.

Pak Umar berdiri di samping deretan motor, tangannya memegang peluit, topinya miring sedikit.

Mbak Lia tersenyum tipis di dekat rak roti, mata lelahnya tetap ramah.

Bu Sari tertawa di balik wajan, satu tangan memegang saringan, satu tangan menunjuk bakwan seolah itu anak bungsunya yang paling berhasil.

Pak Deden berdiri di depan pos satpam, memegang pot anggrek kecil yang ia bawa dari rumah.

Aku mencetak semuanya.

Ukuran kecil saja.

Tidak mewah.

Lalu kubawa kembali satu per satu.


Reaksi mereka berbeda-beda.

Pak Umar melihat fotonya lama.

"Wah," katanya.

"Bagus, Pak?"

"Saya kelihatan seperti orang yang punya cerita."

Aku hampir menjawab: memang.

Tapi aku menahan diri.

Ada kalimat yang lebih baik dibiarkan sampai sendiri di dada orang lain.

Mbak Lia menempel fotonya di balik meja kasir, dekat kalender promo minuman.

"Kalau ibu saya datang, saya tunjukkan," katanya.

"Ibu Mbak sering ke sini?"

"Enggak. Tapi siapa tahu."

Bang Ilham meminta dua salinan.

"Satu buat saya, satu buat ditempel di fotokopi. Biar pelanggan tahu di sini ada model."

"Model map plastik?"

"Yang penting model."

Bu Sari memandangi fotonya, lalu berkata, "Anak saya harus lihat. Ternyata gorengan saya memang estetik."

Aku tertawa.

Tapi setelah itu, ia diam sebentar.

Jarinya menyentuh pinggir foto.

"Saya jarang punya foto lagi jualan," katanya pelan. "Biasanya kalau ada foto keluarga, saya yang motret."

Kalimat itu sederhana.

Tapi beberapa kalimat sederhana memang punya cara masuk yang tidak sopan.

Aku pulang malam itu dengan tas berisi sisa cetakan dan perasaan yang sulit dinamai.

Bukan bangga.

Bukan sedih sepenuhnya.

Lebih seperti sadar bahwa ada banyak manusia yang selama ini ada dekat sekali, tapi baru terlihat ketika kita sengaja menoleh.


Di kamar, aku menempel beberapa foto gagal dan berhasil di dinding dekat meja.

Yang gagal tidak kubuang.

Foto hitam Pak Umar kusimpan di samping foto ulangannya.

Lampu minimarket yang pecah kusimpan di bawah foto Mbak Lia.

Bayangan wajan kusimpan dekat foto Bu Sari.

Raka datang ke kos malam itu, melihat dindingku, lalu berkata, "Ini proyek seni atau bukti kamu butuh teman?"

"Dua-duanya bisa benar."

Ia mendekat.

Melihat satu-satu.

"Bagus," katanya akhirnya.

"Fotografinya?"

"Niatnya."

Aku melempar bantal kecil ke arahnya.

Ia tertawa.

Lalu menunjuk foto Pak Umar.

"Ini siapa?"

"Orang yang sering nyelamatkan motorku dari kemiringan hidup."

"Puitis amat."

"Dia juga pernah bilang mukaku kayak struk kena air."

"Berarti dia jujur."

Kami tertawa.

Dan entah kenapa, dinding kecil itu membuat kamar kosku terasa sedikit lebih ramai dengan cara yang baik.


Beberapa minggu setelahnya, aku mulai membawa kamera tanpa ambisi besar.

Tidak semua orang harus kupotret.

Tidak semua momen harus kusimpan.

Ada hari ketika aku hanya membeli gorengan dan mengobrol.

Ada malam ketika aku hanya bilang terima kasih pada kasir tanpa mengangkat kamera.

Ada sore ketika aku membantu Pak Umar mendorong motor orang yang mogok, lalu kami sama-sama tertawa karena aku lebih banyak menghalangi daripada membantu.

Aku mulai paham, melihat seseorang tidak selalu berarti mengambil gambarnya.

Kadang melihat berarti mengingat namanya.

Mendengar ceritanya.

Tidak memanggil semua orang dengan "Mas" atau "Mbak" kalau kita sudah tahu nama mereka.

Tidak memperlakukan orang seperti bagian dari fasilitas umum.

Kebaikan yang tidak difoto tetap pernah terjadi.

Orang yang tidak masuk album tetap pernah menolong hari buruk seseorang.

Dan tidak semua yang berjasa berdiri di tengah panggung.

Ada yang cukup menyalakan lampu, menjaga pintu, menggoreng bakwan, menarik motor, lalu pulang tanpa tepuk tangan.


Keinginanku sederhana.

Aku ingin membuat album kecil untuk orang-orang yang tidak pernah masuk foto.

Bukan agar mereka terlihat hebat.

Mereka sudah hebat sebelum kameraku datang.

Bukan agar mereka merasa hidupnya tiba-tiba penting.

Hidup mereka sudah penting sebelum aku cukup peka untuk menyadarinya.

Aku hanya ingin suatu hari, ketika mereka melihat fotonya sendiri, mereka tahu:

ada seseorang yang pernah berhenti,

menoleh,

dan menganggap keberadaan mereka layak disimpan.

Karena kadang manusia tidak butuh panggung.

Kadang manusia hanya butuh satu bukti kecil bahwa ia pernah dilihat dengan baik.

"Kebaikan yang tidak difoto tetap pernah terjadi."

"Orang kecil sering disebut kecil hanya karena kamera terlalu sering diarahkan ke tempat yang salah."

"Kadang manusia hanya butuh satu bukti kecil bahwa ia pernah dilihat dengan baik."