99 Keinginan #64kehilangan / tanda kecil / bunga matahari

99 Keinginan #64

Aku tidak lagi meminta kau pulang sebagai manusia yang sama. Kalau kau memang tidak bisa datang dengan wajah yang kukenal, datanglah sebagai sesuatu yang tetap membuatku menoleh: bunga matahari di halaman, cahaya sore di lantai, atau tawa kecil yang tiba-tiba muncul saat aku hampir menyerah.

Hari itu aku membeli biji bunga matahari bukan karena paham cara menanam.

Aku membelinya karena sedang kangen.

Itu saja.

Di minimarket dekat kos, bungkus kecil itu tergantung di rak paling bawah, di antara pupuk cair, semprotan nyamuk, dan pot plastik yang warnanya terlalu ceria untuk seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.

Aku berjongkok cukup lama.

Seorang ibu lewat, melirik, lalu berkata, "Mas, kalau cari sabun lantai di sebelah sana."

Aku mengangguk.

Padahal yang kucari bukan sabun lantai.

Yang kucari adalah cara paling masuk akal untuk bicara dengan sesuatu yang sudah tidak bisa diajak bicara.


Di kamar, aku menaruh bungkus biji itu di atas meja.

Mejaku berantakan dengan cara yang jujur. Ada gelas bekas teh yang tinggal garis cokelat di dasarnya, struk belanja yang tidak penting tapi belum dibuang, charger kusut, buku catatan yang lebih sering kubuka untuk terlihat sibuk daripada benar-benar menulis.

Di sudut meja ada satu foto.

Tidak kujelaskan foto siapa.

Biarkan saja begitu.

Kadang kehilangan tidak perlu diberi nama terlalu cepat. Begitu diberi nama, orang lain merasa berhak menakar: seharusnya sedihmu segini, seharusnya sembuhmu kapan, seharusnya hidupmu sudah jalan lagi.

Padahal kehilangan bekerja dengan cara yang tidak sopan.

Ia datang saat kita sedang menyikat gigi.

Saat antre membeli nasi padang.

Saat mendengar seseorang tertawa dengan nada yang hampir mirip.

Saat melihat kursi kosong yang sebenarnya tidak bersalah.

Kehilangan tidak selalu berteriak.

Sering kali ia hanya duduk diam di sebelah kita, lalu membuat udara di ruangan terasa terlalu luas.


Malam itu aku memutar lagu yang sudah lama kuhindari.

Aku tidak kuat mendengarnya penuh.

Baru beberapa bagian, dadaku sudah terasa seperti ada tangan kecil yang meremas dari dalam. Bukan sakit yang ganas. Lebih seperti seseorang mengetuk pintu lama yang sengaja kututup rapat-rapat.

Aku mematikan lagu.

Lalu menyalakannya lagi.

Lalu mematikannya lagi.

Aku memang tidak konsisten kalau sedang rindu.

Di bungkus biji bunga matahari tertulis cara menanam yang sangat percaya diri: masukkan biji ke tanah, siram secukupnya, letakkan di tempat yang terkena matahari.

Seolah-olah semua hal yang hilang di dunia ini bisa diselesaikan dengan tiga instruksi.

Aku mengambil pot bekas tanaman cabai yang dulu mati karena aku lupa menyiramnya.

Ada rasa tidak enak pada tanaman cabai itu.

Ia pernah mempercayaiku.

Aku gagal.

"Kali ini aku coba lebih baik," kataku pada pot kosong.

Kalimat itu terdengar bodoh.

Tapi kamar kos sering menjadi tempat manusia mengatakan hal-hal bodoh agar tidak mengatakan hal yang lebih menyakitkan.


Aku menanam tiga biji.

Tidak tahu kenapa tiga.

Mungkin karena satu terdengar terlalu sedikit.

Dua terdengar seperti pasangan.

Empat terdengar seperti meja makan keluarga.

Tiga terdengar seperti jumlah yang aman untuk seseorang yang tidak ingin berharap terlalu terang-terangan.

Aku menyiramnya pelan.

Tanah itu menyerap air tanpa drama.

Aku iri.

Ada hal-hal yang masuk ke tanah dan langsung tahu harus ke mana.

Sementara aku, setelah kau pergi, masih sering berdiri di tengah hari seperti orang yang lupa tujuan.


Beberapa hari pertama tidak ada yang terjadi.

Aku tetap bangun.

Tetap kerja.

Tetap membalas pesan.

Tetap makan meski kadang rasanya seperti hanya memindahkan nasi dari piring ke tubuh.

Pot itu diam di dekat jendela.

Setiap pagi aku melihatnya seperti orang mengecek apakah dunia sudah berubah pikiran.

Belum.

Tanah tetap tanah.

Kehilangan tetap kehilangan.

Dan aku tetap orang yang ingin bertanya banyak hal tapi tidak punya alamat untuk mengirim pertanyaan.

Bagaimana tempatmu sekarang?

Apakah di sana pagi juga datang pelan-pelan?

Apakah tubuhmu sudah tidak lelah?

Apakah hal-hal yang dulu membuatmu sakit sudah berhenti mengejarmu?

Apakah kau masih mudah tertawa?

Apakah kalau ada yang bercanda buruk, kau tetap tertawa lebih dulu hanya karena tidak tega membiarkan orang itu malu?

Aku ingin tahu semuanya.

Tapi pertanyaan untuk orang yang sudah jauh selalu berakhir menjadi pertanyaan untuk diri sendiri.


Pada hari ketujuh, tanah itu retak sedikit.

Sangat kecil.

Kalau aku sedang terburu-buru, mungkin tidak akan kulihat.

Tapi pagi itu aku melihatnya.

Ada ujung hijau muncul dari dalam tanah, malu-malu, seperti seseorang yang datang ke pesta tapi tidak yakin diundang.

Aku jongkok di depan pot.

Lama.

Terlalu lama untuk ukuran kecambah.

Tetangga kamar lewat di depan pintu yang setengah terbuka.

"Mas, ngapain?"

"Mengawasi masa depan."

Dia diam.

Aku juga diam.

Lalu dia berkata, "Oke, semangat."

Mungkin dia sekarang yakin aku butuh libur.

Mungkin benar.


Sejak hari itu, aku mulai punya rutinitas baru.

Pagi: menyiram bunga.

Siang: pura-pura kuat.

Sore: mengecek apakah daunnya bertambah.

Malam: mencoba tidak membuka pesan lama.

Tidak selalu berhasil.

Ada malam ketika aku tetap membuka semuanya.

Membaca percakapan yang dulu terasa biasa, lalu heran kenapa kalimat sederhana bisa menjadi barang tajam setelah seseorang tidak ada.

Kamu sudah makan?

Jangan lupa tidur.

Nanti cerita, ya.

Tiga kalimat itu dulu ringan.

Sekarang beratnya bisa memenuhi kamar.

Aku menutup ponsel.

Menatap tanaman kecil di jendela.

"Aku sekarang sudah lebih lucu," kataku pelan.

Lalu tertawa sendiri karena kalimat itu jelas tidak meyakinkan.

Tapi aku mencoba.

Bukankah itu yang sering diminta hidup dari orang-orang yang berduka?

Bukan langsung sembuh.

Bukan langsung ikhlas.

Hanya mencoba tidak ikut mati bersama sesuatu yang sudah pergi.


Minggu-minggu berikutnya, batangnya meninggi.

Daunnya melebar.

Aku memindahkannya ke pot yang lebih besar. Membeli tanah baru. Membaca artikel tentang bunga matahari sampai terlalu jauh dan berakhir tahu bahwa ada jenis yang tingginya bisa lebih dari dua meter.

Aku menatap tanaman kecilku.

"Kamu jangan ambisius," kataku.

Tanaman itu diam.

Sikapnya mirip orang yang tidak mau dinasihati.

Aku mulai memindahkannya ke halaman kecil kos, tempat matahari datang lebih lama. Halaman itu tidak indah. Ada ember bekas, sandal penghuni lain, sapu lidi, dan motor yang sering diparkir miring seperti punya masalah pribadi.

Tapi bunga itu tumbuh di sana.

Di antara hal-hal yang tidak rapi.

Di antara orang-orang yang lewat tanpa tahu aku sedang menunggu sesuatu dari tanaman.

Dan mungkin memang begitu cara kehilangan pelan-pelan berubah bentuk.

Ia tidak hilang.

Ia hanya belajar tinggal di tempat yang lebih terang.


Suatu sore, bunga itu mekar.

Aku pulang kerja dengan kepala penuh hal sepele: klien yang mengganti brief, dompet yang hampir tertinggal, dan supir ojek yang bercerita panjang tentang tetangganya yang kabur dari arisan.

Aku membuka pagar kos.

Lalu berhenti.

Di halaman yang biasanya terlihat seperti tempat barang-barang menyerah, satu bunga matahari berdiri menghadap cahaya.

Kuningnya tidak sempurna.

Ada kelopak yang sedikit miring.

Batangnya juga tidak gagah-gagah amat.

Tapi ia ada.

Dan keberadaannya membuat sore itu mendadak terlalu penuh untuk hanya disebut sore.

Aku mendekat.

Tidak menangis langsung.

Aku hanya berdiri.

Menatap bunga itu.

Merasakan sesuatu di dada yang selama ini berjalan dengan pincang tiba-tiba berhenti sebentar.


"Kalau itu kamu," kataku, "kamu datang dengan cara yang sangat dramatis."

Angin lewat.

Bunga itu bergerak sedikit.

Tentu saja aku tahu itu hanya angin.

Aku tidak sedang kehilangan akal.

Aku hanya sedang memberi izin pada diriku untuk percaya sebentar.

Orang yang berduka kadang tidak butuh bukti.

Kadang ia hanya butuh satu hal kecil yang bisa ditatap sambil berkata: mungkin kamu masih tahu jalan pulang ke ingatanku.

Aku duduk di lantai halaman.

Sandal penghuni lain berserakan di dekatku. Dari dapur bersama, seseorang menggoreng telur terlalu matang. Bau bawang masuk ke udara. Di jalan depan kos, anak-anak kecil berdebat soal siapa yang curang saat main bola.

Hidup tetap ribut.

Hidup selalu begitu.

Ia tidak menunggu kita siap.

Tapi sore itu, untuk pertama kalinya setelah lama, keributan itu tidak terasa jahat.

Ia terasa seperti tanda bahwa dunia masih berjalan, dan aku masih ikut di dalamnya.

Meski ada bagian yang tertinggal.

Meski ada nama yang tidak lagi kupanggil keras-keras.

Meski ada rindu yang tidak bisa diselesaikan dengan bertemu.


Aku mulai bercerita pada bunga itu.

Tentang kerjaan.

Tentang nasi goreng dekat kantor yang sekarang makin pelit telur.

Tentang aku yang berhasil tidak menangis di tanggal yang biasanya membuatku runtuh.

Tentang aku yang masih menangis di tanggal biasa, tanpa alasan yang elegan.

Tentang hidup tanpamu yang ternyata bukan hidup yang kosong sepenuhnya, tapi hidup yang harus kupelajari ulang dari awal.

Aku bercerita sambil merasa sedikit konyol.

Tapi konyol yang menyelamatkan lebih baik daripada tegar yang membusuk diam-diam.

Kadang aku berpikir, mungkin kesedihan yang sehat bukan kesedihan yang hilang.

Mungkin kesedihan yang sehat adalah kesedihan yang tidak lagi melarang kita tertawa.

Karena rinduku masih ada.

Hanya saja sekarang ia tidak selalu datang membawa pisau.

Kadang ia datang membawa cahaya sore.

Kadang ia datang sebagai bunga yang tumbuh miring.

Kadang ia datang sebagai keberanian kecil untuk membuat teh, membuka jendela, dan berkata pada diri sendiri: hari ini kita hidup dulu.


Aku tidak tahu apakah janji bertemu lagi benar-benar bekerja seperti yang dibayangkan manusia.

Aku tidak tahu apakah tempat barumu punya taman.

Aku tidak tahu apakah kau bisa melihatku dari sana, atau semua itu hanya cara orang-orang yang ditinggalkan menenangkan diri agar tidak terlalu keras membenci perpisahan.

Tapi aku tahu satu hal.

Sejak bunga itu mekar, aku tidak lagi meminta kau kembali sebagai bentuk yang sama.

Kalau kau tidak bisa datang dengan suara yang kukenal, datanglah sebagai sesuatu yang membuatku berhenti sebentar.

Sebagai cahaya di lantai.

Sebagai lagu yang tiba-tiba tidak lagi menyakitkan.

Sebagai tawa kecil saat aku sedang merasa paling sendirian.

Sebagai bunga matahari yang tumbuh di halaman kos, di antara sandal, ember, dan kehidupan yang tidak pernah benar-benar rapi.

Aku akan mengerti sebisaku.

Aku akan belajar membaca bahasa yang tidak memakai mulut.

Dan kalau suatu hari nanti kita benar-benar bertemu lagi, aku ingin kau tahu:

aku pernah sangat hancur,

tapi aku tidak membiarkan hidupku berhenti di hari kau pergi.

Aku menyiram sesuatu.

Aku menunggu.

Aku tertawa lagi, walau awalnya jelek sekali.

Aku menjadi sedikit lebih menyenangkan.

Tidak setiap hari.

Tapi cukup sering untuk membuatmu, mungkin, tidak terlalu khawatir.


Bunga itu akhirnya layu juga.

Tentu saja.

Semua yang datang ke dunia dengan indah punya caranya sendiri untuk selesai.

Kelopaknya menunduk. Kuningnya pudar. Batangnya mengering pelan-pelan.

Dulu, aku mungkin akan menganggap itu tanda buruk.

Sekarang tidak.

Aku memotong bagian yang kering dengan hati-hati, menyimpan beberapa bijinya di amplop kecil, lalu menulis tanggal di depannya.

Tidak ada upacara.

Tidak ada kalimat besar.

Hanya aku, sore yang mulai turun, dan amplop berisi kemungkinan.

Mungkin tahun depan kutanam lagi.

Mungkin tidak.

Mungkin kehilangan memang begitu: bukan sesuatu yang selesai, tapi sesuatu yang sesekali kita tanam ulang dengan cara yang lebih lembut.

Keinginanku sederhana.

Jika kau tidak bisa mampir sebagai dirimu yang dulu, datanglah sebagai tanda kecil yang tidak menakutkan.

Aku akan mencoba tidak menuntut bentuk.

Aku akan mencoba tidak memaksa jawaban.

Aku hanya ingin percaya bahwa yang benar-benar kita sayangi tidak sepenuhnya hilang.

Kadang ia hanya belajar berbicara dengan cara lain.