Bianglala yang Selalu Berhenti di Atas
Umur tujuh tahun, aku percaya roda bianglala bisa membaca tanggal lahir.
Bapak yang mengajariku begitu, pada malam paling awal yang bisa kuingat, di lapangan kecamatan yang setahun sekali berubah jadi pasar malam. Pasar malam itu selalu datang di minggu ulang tahunku.
Malam ini lapangannya masih sama. Genset menderu di balik tenda terpal, dua pengeras suara memutar lagu dangdut yang sama tapi tidak sepakat soal temponya, dan bau minyak dari penggorengan cilok terbawa angin sampai ke loket.
Loket itu masih kotak kayu bercat biru. Penjaganya masih ibu yang sama, hanya kacamatanya sekarang diikat tali supaya tidak jatuh waktu ia menunduk ke gulungan karcis.
"Satu?" tanyanya.
"Satu, Bu."
Ia menyobek karcis dan memandangi wajahku sebentar sebelum menerima uangnya, seperti mencari orang lain di belakang bahuku. Aku sibuk memasukkan kembalian ke dompet, koin per koin, lebih lama dari yang perlu.
Dua puluh tahun lalu, di depan loket yang sama, Bapak menawar.
Papan harga tergantung tepat di atas kepalanya, ditulis dengan cat merah yang mulai meleleh di ujung angka. Bapak tidak mendongak.
"Anak saya ulang tahun, Bu. Masa harganya sama dengan yang nggak ulang tahun."
"Bapak tiap tahun begini."
"Dia tiap tahun memang ulang tahun, Bu."
Ibu loket tetap memberi dua karcis dengan harga yang tertulis. Bapak menerimanya seperti orang yang baru menang lelang, lalu menyerahkan satu kepadaku dengan dua tangan.
Malam itu bianglala bagiku setinggi menara masjid. Sangkarnya bercat kuning dan hijau, catnya mengelupas membentuk pulau-pulau kecil yang bisa kukelupas lagi dengan kuku. Bapak memilih sangkar nomor tujuh karena katanya angkanya cocok. Yang mengunci palang seorang laki-laki muda berambut klimis, kausnya dimasukkan ke celana sampai kelihatan sabuknya. Bapak memanggilnya Pak Mul. Umurnya waktu itu belum pantas dipanggil Pak, tapi aku ikut saja.
Bapak duduk di bangku yang menghadap ke dalam, ke arahku. Punggungnya ke kota.
Roda bergerak. Sangkar kami naik, turun, naik lagi, dan pada putaran ketiga berhenti tepat di puncak. Sangkar berayun pelan. Di bawah, lampu-lampu pasar malam mengecil sampai kelihatan seperti kancing baju yang tumpah dari kaleng.
"Kok berhenti?"
"Rodanya baca tanggal lahir," kata Bapak. "Yang ulang tahun diberhentikan di atas."
"Kalau bohong umur?"
"Diberhentikan di bawah. Pas di depan tukang cilok."
Aku tertawa sampai sangkar bergoyang. Bapak memegang palang lebih kencang dan menyuruhku duduk diam, supaya rodanya tidak salah baca.
"Bapak lihat apa?" tanyaku, karena ia tidak sekali pun menoleh ke lampu-lampu.
"Lihat yang ulang tahun."
Waktu kami turun, Bapak menyalami Pak Mul. Tangannya terlipat, dan salamannya lama, lebih lama dari salaman Lebaran. Kukira begitulah cara orang dewasa bersalaman di pasar malam.
Lapak jagung bakar masih di sebelah kiri bianglala, di bawah lampu neon yang berkedip setiap kali genset terbatuk. Yang mengipasi arang sekarang anak laki-laki penjual yang dulu. Kumisnya tipis, dan kaus klub bolanya mirip sekali dengan kaus bapaknya dulu. Mungkin memang kaus yang sama.
Aku tidak membeli. Aku hanya berdiri cukup dekat untuk mencium mentega yang gosong di ujung bulir.
Tahun aku umur empat belas, kami juga tidak membeli.
Itu tahun pabrik tempat Bapak bekerja memulangkan separuh buruhnya. Bapak pulang membawa amplop cokelat dan helm baru. Helm ojek itu masih bau plastik dan kebesaran di kepalanya, sehingga setiap kali ia menunduk helmnya melorot menutupi alis. Malam pasar malam, ia memakainya sampai ke parkiran, lupa melepas, dan baru sadar ketika ibu loket bertanya apakah naik bianglala sekarang wajib pakai helm.
Di depan lapak jagung, Bapak berhenti dan mengamati jagung yang dibolak-balik di atas arang. Lalu ia menggeleng.
"Tahun ini jagungnya kurang manis."
"Bapak belum nyoba."
"Kelihatan dari warnanya. Musim hujannya pendek, bulirnya kurang air." Ia menerangkan dengan serius, seperti penyuluh pertanian di balai desa, sampai penjual jagung ikut mendengarkan dan tidak membantah.
Aku tahu jagung itu manis. Aku juga tahu isi amplop cokelat itu, karena malam sebelumnya aku mendengar Bapak menghitungnya dua kali di dapur. Di saku rokku ada uang jajan seminggu yang sengaja tidak kuhabiskan. Waktu kami antre, kusodorkan uang itu kepadanya, terlipat kecil.
"Buat karcis, Pak."
Bapak mendorong tanganku kembali ke saku rok.
"Karcisnya sudah."
Malam itu roda tetap berhenti dengan sangkar kami di puncak. Bapak tetap duduk menghadapku dan mengomentari helmnya yang ia titipkan di bawah, takut diambil orang, padahal katanya juga kebesaran untuk siapa saja. Waktu turun, ia tetap menyalami Pak Mul, yang rambutnya sudah tidak klimis lagi.
Di antrean bianglala, tepat di depanku, seorang bapak menggendong anak perempuan yang menolak naik. Anak itu memeluk leher bapaknya dan menendang setiap kali antrean maju selangkah. Begitu bapaknya menyerah dan keluar dari barisan, anak itu menangis karena tidak jadi naik.
Bapaknya tidak marah. Ia membawa anak itu ke tukang cilok, dan sebelum hilang di kerumunan, ia menoleh sekali ke bianglala.
Umur tujuh belas, akulah yang tidak mau naik.
Teman-teman sekelas datang ke pasar malam yang sama, dan aku tidak sanggup membayangkan mereka melihatku duduk di sangkar kuning bersama bapakku, diberhentikan di atas seperti anak TK. Aku bilang ke Bapak aku mau naik ombak banyu bersama teman. Bapak bilang iya. Ia tidak bertanya apa-apa lagi, hanya membetulkan kerah jaketku yang terlipat ke dalam, dan aku menepis tangannya karena Rini sedang melihat.
Ombak banyu malam itu diputar terlalu kencang oleh operatornya yang masih SMP.
Kami berteriak. Kami mengangkat tangan. Dewi muntah ke sepatunya sendiri.
Sepatunya baru, dibeli untuk malam itu, dan Dewi lebih sedih soal sepatu daripada soal perutnya. Kami tertawa sampai Rini ikut mual. Waktu ayunan kami naik ke titik paling tinggi, aku sempat melihat bianglala di seberang lapangan berhenti dengan satu sangkar tergantung di puncaknya. Isinya satu orang. Lalu ayunan kami turun dan Dewi minta tisu.
Aku pulang lewat jam sepuluh. Bapak sudah tidur di kursi ruang tamu, helm ojeknya di pangkuan.
Antrean maju. Kupindahkan karcis dari tangan kanan ke tangan kiri.
Tangga menuju sangkar terbuat dari besi bercat abu-abu, enam anak tangga, dan yang ketiga masih goyang seperti dulu. Aku menginjak pinggirnya, seperti dulu.
Umur dua puluh tiga, Bapak berhenti di anak tangga ketiga itu.
Ia membungkuk dan mengutak-atik sandalnya.
"Kenapa, Pak?"
"Talinya lepas."
"Sandal jepit nggak ada talinya, Pak."
"Ini jepitnya yang longgar." Ia menekan-nekan jepit sandal di antara jempol dan telunjuk kakinya, lama, sampai orang di belakang kami berdeham. Lalu ia menaiki tiga anak tangga sisanya dengan satu tangan di pegangan besi dan tangan lain di pundakku, sambil berkata bahwa sandal zaman sekarang tidak sekuat dulu.
Tahun lalu, umurku dua puluh enam, aku menuntunnya dari parkiran.
Jalannya sudah pelan, dan ia berhenti setiap beberapa langkah untuk mengomentari apa saja: tarif parkir yang naik lagi, lampu kerlap-kerlip yang menurutnya terlalu biru untuk pasar malam, anak muda yang memakai celana sobek padahal kelihatannya mampu beli celana. Aku tahu ia berhenti untuk istirahat. Ia tahu aku tahu. Kami sama-sama pura-pura sepakat soal celana.
Di loket ia masih menawar, dengan suara yang lebih kecil. Ibu loket menjawab dengan kalimat yang sama, dan Bapak tertawa seolah lelucon itu belum pernah ia dengar.
Di puncak, ia memegang palang sangkar dengan dua tangan. Cincin kawinnya beradu dengan besi setiap kali sangkar berayun. Bunyinya kecil dan berulang, seperti sendok yang diketukkan ke pinggir piring oleh orang yang sedang menunggu.
"Tahun depan juga begini," katanya. "Rodanya sudah hafal kamu."
Lalu matanya terpejam.
"Pak?"
"Kelilipan. Di atas debunya banyak."
Aku menaruh tangan di lututnya dan ikut diam sampai sangkar mulai turun. Di bawah, Bapak menyalami Pak Mul lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya, cukup lama sampai aku sempat mengira mereka sedang tawar-menawar motor. Pak Mul mengangguk beberapa kali. Bapak menepuk punggung tangannya dua kali sebelum melepas.
Sekarang giliranku. Pak Mul berdiri di samping sangkar nomor tujuh. Rambutnya sudah putih semua, disisir ke belakang dengan minyak rambut yang baunya masih sama, dan kausnya masih dimasukkan ke celana.
Kusodorkan karcis. Ia menyobeknya dan mengembalikan separuh kepadaku.
"Yang di atas sudah dibayar, Mbak."
"Sama siapa?"
Pak Mul menatapku seperti aku baru menanyakan apakah roda ini bundar.
"Tahun lalu bapakmu bayar dua tahun."
Ia membuka pintu sangkar. Aku masuk dan duduk, dan tanpa berpikir memilih bangku yang menghadap ke kota. Pak Mul menurunkan palang, menguncinya, lalu memeriksa baut di engselnya satu per satu dengan ujung jari. Ia tidak melihat ke arahku.
"Bapakmu itu takut tinggi, lho," katanya kepada baut itu. "Tiap tahun minta berhenti di atas, terus merem."
Ia menarik tuas. Sangkar terangkat dari tanah.
"Tahun kamu nggak ikut juga," katanya dari bawah.
Sobekan karcis di tanganku kulipat sekali lagi, sampai seukuran kuku.
Pada putaran ketiga, sangkarku berhenti di puncak.
Dari atas, kota yang dua puluh tahun dibelakangi Bapak ternyata tidak seberapa luas: atap seng pasar yang mengilap kena lampu, menara masjid dengan lampu hijau di ujungnya, pangkalan ojek depan pasar yang bangkunya kosong, dan di ujung yang paling gelap, deretan rumah yang salah satunya masih menyimpan helm kebesaran di atas lemari.
Sangkar berayun. Palangnya dingin, dan angin membawa bau jagung gosong sampai ke atas.
Aku memejamkan mata. Dangdut dan genset sampai ke atas dalam keadaan pelan, seperti didengar dari balik pintu kamar. Aku tidak menghitung berapa lama roda menunggu.
Waktu sangkar turun dan berhenti di dekat tangga, aku mengeluarkan selembar uang dari dompet. Kulipat dua kali, lalu kusalami Pak Mul lama-lama. Ia memasukkannya ke saku tanpa menghitung, kemudian memeriksa palang sangkar berikutnya.