Di kota itu, orang-orang bisa mengukur seberapa berguna hidup mereka hari ini.
Caranya sederhana.
Masuk ke bilik kecil.
Duduk.
Tempelkan telapak tangan ke layar.
Tunggu mesin membaca data tubuh, riwayat aktivitas, jam tidur, jumlah pesan yang belum dibalas, jumlah uang yang masuk, jumlah tugas yang selesai, jumlah langkah kaki, dan entah kenapa, jumlah tab browser yang dibiarkan terbuka.
Lalu mesin akan mengeluarkan skor.
Dari nol sampai seratus.
Nama mesinnya: Mesin Pengukur Guna Diri.
Nama yang terlalu jujur untuk sesuatu yang seharusnya membantu manusia.
Aku menemukannya di lantai tiga sebuah pusat perbelanjaan yang mulai sepi.
Letaknya di antara tempat fotokopi digital dan toko casing HP yang menjual pelindung layar dengan tulisan:
ANTI GORES.
ANTI MALING.
ANTI MANTAN.
Aku tidak tahu bagaimana sebuah tempered glass bisa anti mantan, tapi hari itu aku tidak punya tenaga untuk berdebat dengan industri aksesori.
Di depan bilik itu, ada papan kecil:
CEK GUNA DIRI HARI INI
Harga: Rp15.000
Durasi: 3 menit
Hasil dapat dicetak.
Ada tulisan kecil di bawahnya:
Skor rendah bukan tanggung jawab pengelola.
Kalimat itu membuatku curiga, tapi juga membuatku merasa dipahami.
Hari itu aku memang sedang merasa tidak berguna.
Bukan karena ada satu kejadian besar.
Justru karena tidak ada kejadian besar sama sekali.
Aku bangun kesiangan.
Membuka laptop.
Menatap pekerjaan.
Membalas dua pesan.
Menghapus satu draft.
Membuat kopi.
Lupa meminumnya sampai dingin.
Membuka aplikasi catatan, menulis judul, lalu menutupnya lagi karena tiba-tiba merasa hidupku tidak layak diberi judul.
Jam tiga sore, aku mandi.
Itu pencapaian yang cukup besar, tapi masyarakat belum punya sistem penghargaan untuk orang yang berhasil mandi setelah kalah debat dengan kasur selama empat jam.
Maka aku pergi keluar.
Bukan karena ada tujuan.
Lebih karena kamar mulai terasa seperti saksi mata.
Petugas mesin itu seorang laki-laki muda dengan rompi biru dan wajah orang yang sudah terlalu sering melihat manusia datang untuk divonis oleh alat elektronik.
"Mau cek, Mas?"
"Cek apa dulu ini?"
"Guna diri."
"Kalau hasilnya jelek?"
"Bisa cetak ulang."
"Skornya berubah?"
"Tidak. Tapi kertasnya baru."
Aku menatapnya.
Ia menatapku balik dengan serius.
Humor paling berbahaya adalah humor yang tidak terlihat sedang bercanda.
"Banyak yang pakai?"
"Banyak."
"Untuk apa?"
"Macam-macam. Ada yang buat evaluasi diri. Ada yang buat konten. Ada yang habis dimarahi atasan lalu ingin memastikan secara ilmiah bahwa hidupnya memang tidak berguna."
"Hasilnya?"
"Tergantung."
"Pada?"
"Seberapa jujur dia ketika mesin bertanya alasan masih hidup hari ini."
Aku hampir mundur.
Tapi petugas itu sudah membuka pintu bilik.
"Silakan. Kalau mesin mengeluarkan bunyi panjang, jangan panik. Itu bukan kematian. Biasanya cuma koneksi lambat."
Di dalam bilik, udaranya dingin dan berbau plastik baru.
Ada kursi putih.
Satu layar besar.
Satu tempat menempelkan telapak tangan.
Satu printer kecil di samping kanan.
Di layar muncul tulisan:
SELAMAT DATANG.
ANDA AKAN DINILAI SECARA OBJEKTIF.
Kalimat itu seharusnya menenangkan.
Tapi manusia jarang siap dinilai objektif, apalagi oleh benda yang hidupnya cuma dicolok listrik.
Aku menempelkan telapak tangan.
Mesin menyala.
Suara perempuan digital terdengar:
"Memulai pemindaian guna diri."
Aku duduk lebih tegak.
Entah kenapa, aku ingin terlihat sopan di depan mesin.
Layar menampilkan data.
Jam tidur: 4 jam 12 menit.
Langkah kaki: 1.839.
Pesan belum dibalas: 17.
Tab browser aktif: 43.
Produktivitas kerja: rendah.
Konsumsi kafein: tidak menyelesaikan masalah.
Drama internal: tinggi.
Potensi overthinking: berbahaya untuk lingkungan sekitar.
Aku tersinggung.
Bukan karena salah.
Justru karena terlalu akurat.
Mesin itu melanjutkan:
"Silakan masukkan alasan hidup hari ini."
Di layar muncul kotak teks.
Aku mengetik:
Masih penasaran episode berikutnya.
Mesin berpikir selama tujuh detik.
Lalu menampilkan:
ALASAN LEMAH, TAPI VALID.
Aku tidak tahu apakah harus merasa dihina atau diselamatkan.
Pertanyaan berikutnya muncul.
APA YANG ANDA SELESAIKAN HARI INI?
Aku mengetik:
Mandi.
Mesin menjawab:
MOHON MASUKKAN PENCAPAIAN YANG RELEVAN.
Aku mengetik lagi:
Mandi setelah menunda empat jam.
Mesin berhenti sebentar.
Lalu menjawab:
KONTEKS DITERIMA.
Skor sementara naik dari 12 ke 17.
Aku duduk lebih tegak.
Tidak banyak orang tahu rasanya mendapat validasi dari mesin setelah mandi.
Pertanyaan berikutnya:
APAKAH ANDA MEMBANTU ORANG LAIN HARI INI?
Aku berpikir.
Lalu ingat.
Tadi sebelum masuk mall, ada kucing kecil yang tidak bisa turun dari pot tanaman besar dekat parkiran. Aku mengangkatnya pelan-pelan dan menaruhnya di lantai. Kucing itu menatapku dua detik, lalu pergi tanpa terima kasih.
Aku mengetik:
Membantu kucing turun dari pot.
Mesin menjawab:
PENERIMA BANTUAN TIDAK TERVERIFIKASI.
"Dia kucing," kataku kepada layar.
Mesin tidak peduli.
Aku mengetik:
Kucingnya tidak punya KTP.
Mesin berpikir.
Lalu menjawab:
CATATAN DITERIMA. KONTRIBUSI KECIL TERDETEKSI.
Skor naik ke 23.
Aku mulai merasa hubungan kami membaik.
Lalu mesin bertanya:
APAKAH ANDA MENGHASILKAN UANG HARI INI?
Aku diam.
Tidak.
APAKAH ANDA MENYELESAIKAN PEKERJAAN UTAMA?
Tidak.
APAKAH ANDA MEMBALAS SEMUA PESAN PENTING?
Tidak.
APAKAH ANDA BEROLAHRAGA?
Aku mengetik:
Naik tangga karena eskalator mati.
Mesin menjawab:
JANGAN MENGAKU STRATEGI JIKA SEBENARNYA MUSIBAH.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Mesin ini mulai terlalu lancang.
Skor sementara turun ke 19.
Aku merasakan sesuatu yang aneh.
Marah.
Pada mesin.
Pada angka.
Pada diriku sendiri.
Pada hari yang dari luar tampak biasa saja, tapi dari dalam terasa seperti berjalan membawa batu di saku.
"Kamu tidak tahu apa-apa," kataku.
Layar berkedip.
SILAKAN ULANGI.
"Kamu cuma menghitung yang selesai."
Layar diam.
"Kamu tidak menghitung bahwa aku bangun meski tidak ingin. Kamu tidak menghitung bahwa aku tidak membalas pesan orang dengan kasar. Kamu tidak menghitung bahwa aku keluar kamar sebelum kepalaku makin berisik. Kamu tidak menghitung bahwa aku membantu kucing yang sombong itu."
Mesin memproses.
Lalu muncul tulisan:
DATA TIDAK MENEMUKAN PENCAPAIAN SIGNIFIKAN.
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena kalau tidak tertawa, aku mungkin memarahi mesin seharga lima belas ribu di dalam bilik mall.
Tapi setelah tawa itu habis, dadaku terasa panas.
Aku baru sadar.
Selama ini aku juga bekerja seperti mesin itu.
Setiap malam, aku menilai diriku dari hal-hal yang terlihat selesai.
Uang masuk.
Pekerjaan selesai.
Pesan dibalas.
Target tercapai.
Orang lain puas.
Kalau tidak ada yang bisa dicentang, aku menyebut hari itu gagal.
Padahal ada hari-hari ketika bangun saja sudah berat.
Ada hari-hari ketika tidak menyerah saja sudah pekerjaan besar.
Ada hari-hari ketika bertahan hidup tidak terlihat keren, tidak bisa difoto, tidak bisa dijadikan caption, tapi tetap membutuhkan seluruh tenaga yang kita punya.
Nilai hidup manusia tidak selalu kelihatan dari apa yang selesai hari ini.
Kalimat itu muncul di kepalaku begitu saja.
Bukan dari mesin.
Dari bagian diriku yang sudah terlalu lama ingin dibela.
Mesin bertanya lagi:
APAKAH ANDA INGIN MELANJUTKAN PENILAIAN?
Aku menatap layar.
"Tidak."
APAKAH ANDA INGIN MENCETAK HASIL SEMENTARA?
Aku hampir menekan tidak.
Tapi entah kenapa, aku menekan ya.
Printer kecil di samping kanan bergerak.
Bunyinya keras sekali untuk kertas sekecil itu.
Seperti ada lembaga negara sedang mengeluarkan keputusan.
Kertas keluar pelan.
Di sana tertulis:
SKOR GUNA DIRI: 19/100
Di bawahnya:
CATATAN: ALASAN HIDUP LEMAH, TAPI VALID.
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke dompet.
Bukan karena aku setuju.
Justru karena aku tidak setuju.
Kadang kita perlu menyimpan bukti bahwa sesuatu pernah salah menilai kita.
Ketika keluar dari bilik, petugas rompi biru menoleh.
"Gimana, Mas?"
"Mesinnya kurang ajar."
Ia mengangguk seperti mendengar ulasan yang umum.
"Skornya berapa?"
"Sembilan belas."
"Lumayan."
"Lumayan?"
"Kemarin ada yang minus."
"Bisa minus?"
"Bisa. Dia masuk cuma untuk ngecek skor, lalu marah-marah ke mesin, lalu nendang printer."
"Terus?"
"Mesin menilai kontrol emosinya rendah."
Aku menatap bilik itu.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku tertawa benar-benar.
Sebelum pergi, petugas itu berkata, "Mas."
"Iya?"
"Jangan terlalu percaya angka."
Aku menoleh.
Ia sedang membersihkan layar mesin dengan kain kecil.
"Saya kerja di sini. Saya lihat orang keluar dari bilik itu macam-macam. Ada yang skornya tinggi tapi mukanya kosong. Ada yang skornya rendah tapi masih sempat nanya saya sudah makan belum."
Ia mengangkat bahu.
"Mesin bisa baca data. Tapi dia tidak bisa baca manusia sepenuhnya."
Aku diam sebentar.
"Kenapa tidak ditulis di papan depan?"
"Nanti tidak ada yang masuk."
Jawaban itu sangat kapitalis.
Tapi jujur.
Aku menghormatinya.
Di luar mall, sore mulai turun.
Langit berwarna abu-abu muda. Jalanan ramai oleh orang-orang pulang kerja, ojek online menunggu order, anak sekolah membeli minuman dingin, dan satu kucing yang mungkin sama dengan tadi berjalan di pinggir trotoar tanpa terlihat punya beban eksistensial.
Aku mengeluarkan kertas dari dompet.
SKOR GUNA DIRI: 19/100.
Aku membaca angka itu sekali lagi.
Lalu menulis dengan pulpen di bawahnya:
Hari ketika kamu hanya berhasil bertahan tetap bukan hari yang gagal.
Tulisanku miring karena aku menulis sambil berdiri.
Tapi cukup terbaca.
Aku melipat kertas itu lagi.
Kali ini bukan sebagai bukti bahwa mesin salah.
Tapi sebagai pengingat bahwa aku tidak harus selalu produktif untuk pantas hidup.
Keinginanku sederhana.
Aku ingin berhenti mengukur nilai diriku hanya dari seberapa banyak yang berhasil kuselesaikan.
Aku ingin mengingat bahwa hidup manusia bukan laporan harian.
Bukan tabel performa.
Bukan angka yang keluar dari mesin di lantai tiga mall.
Ada hari-hari ketika kita memang tidak hebat.
Tidak produktif.
Tidak membanggakan.
Tidak punya kabar besar untuk diceritakan.
Tapi tetap bangun.
Tetap mandi, meski terlambat.
Tetap tidak menyerah.
Tetap menolong kucing yang bahkan tidak sopan berterima kasih.
Dan mungkin, untuk hari itu, semua itu sudah cukup.