4 Menit

99 Keinginan #62

Aku pernah mengira mencintai berarti menemukan tempat paling aman. Lalu kau datang dan aku belajar, kadang cinta tidak terasa seperti berdiri. Kadang ia membuat kita kehilangan pijakan, dan mungkin itulah mengapa jatuh cinta dikatakan jatuh.

"Kamu percaya orang bisa jatuh cinta tanpa sadar?" Pertanyaan itu kau ucapkan ketika kita sedang menuruni tangga stasiun.

Hujan baru selesai. Lantai masih licin. Lampu stasiun memantul di anak tangga, pecah di genangan kecil yang ditinggalkan sepatu orang-orang.

Aku menoleh ke arahmu. "Percaya."

"Kenapa?"

"Karena aku hampir jatuh beneran barusan."

Kau tertawa.

Aku tidak.

Sandalmu memang terpeleset sedikit tadi, dan tanganku refleks menangkap pergelanganmu. Bukan adegan film. Tidak ada musik. Tidak ada slow motion. Hanya satu detik kecil ketika tubuhmu kehilangan pijakan dan tubuhku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.

Setelah itu kau bilang terima kasih. Aku bilang hati-hati.

Tapi sejak saat itu, ada sesuatu dalam diriku yang tidak lagi berjalan normal.


Awalnya kau hanya orang yang duduk di sebelahku di kelas malam bahasa Inggris. Orang yang selalu membawa botol minum terlalu besar, stabilo tiga warna, dan kebiasaan mengerutkan dahi setiap kali dosen berkata, "ini gampang."

Menurutmu, kalimat "ini gampang" adalah bentuk kekerasan akademik.

"Kalau gampang, kenapa kita bayar kursus?" katamu suatu malam.

Aku tertawa terlalu keras. Dosen menoleh. Kau menunduk pura-pura membaca buku. Aku juga menunduk, padahal halaman yang kubaca masih daftar isi.

Sejak itu, kita mulai berbagi keluhan kecil. Tentang tugas, hujan yang selalu turun ketika kelas selesai, lift gedung yang bunyinya seperti menyimpan trauma, dan kopi vending machine yang rasanya seperti keputusan buruk tapi tetap dibeli karena murah.

Hal-hal kecil.

Terlalu kecil untuk disebut permulaan.

Tapi beberapa cerita memang dimulai dari dua orang yang sama-sama mengejek kopi jelek, lalu tanpa sadar mulai mencari satu sama lain setiap kali masuk ruangan.


Aku tidak ingin menyukaimu.

Ini bukan kalimat dramatis. Ini kalimat administratif.

Hidupku waktu itu sedang rapi dengan susah payah. Pekerjaan cukup stabil. Tidur mulai membaik. Aku sudah tidak terlalu sering mengecek ponsel tanpa alasan. Aku bahkan mulai bisa makan sendirian tanpa merasa ada kursi kosong yang sedang menertawaiku.

Lalu kau datang dengan botol minum besar, tawa yang tidak selalu rapi, dan kemampuan membuat hal biasa terasa layak diingat.

Aku tidak ingin menambah risiko.

Cinta, bagiku, terlalu sering datang seperti tangga basah.

Dari jauh terlihat biasa. Begitu diinjak, baru sadar kaki bisa hilang arah.


"Kamu orangnya terlalu hati-hati," katamu suatu malam.

Kita sedang menunggu hujan reda di depan minimarket dekat stasiun. Di tanganmu ada roti sobek. Di tanganku ada payung yang tidak cukup besar untuk dua orang, tapi tetap kubeli karena kasirnya sudah terlanjur bertanya, "payung sekalian, Kak?"

Aku lemah terhadap tekanan kasir.

"Hati-hati itu bagus," jawabku.

"Bagus kalau nyeberang jalan. Kalau hidup terus-terusan begitu, capek."

"Kamu nyuruh aku ceroboh?"

"Enggak. Aku cuma bilang, ada hal-hal yang tidak bisa kamu jalani dengan kaki selalu mencari pegangan."

Kau menyobek roti, memberiku bagian yang lebih besar.

"Contohnya?"

"Percaya orang."

Aku diam.

Kau sadar kalimat itu masuk terlalu jauh, lalu cepat-cepat menambahkan, "Atau makan seblak level lima. Dua-duanya butuh keberanian dan sedikit kebodohan."

Aku tertawa. Kau memang punya bakat menyelamatkan percakapan serius dengan makanan pedas.

Tapi kalimat pertamamu tetap tinggal.

Ada hal-hal yang tidak bisa dijalani dengan kaki selalu mencari pegangan.


Masalahnya, aku tahu benar bagaimana rasanya jatuh.

Aku pernah percaya pada orang yang membuatku merasa aman, lalu pergi ketika aku mulai menurunkan penjagaan.

Sejak itu, aku belajar berdiri dengan cara yang kaku.

Tidak terlalu berharap. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu tampak senang ketika diajak pergi.

Manusia yang pernah jatuh sering mengira sembuh berarti tidak lagi turun ke tempat rendah.

Padahal kadang yang kita sebut sembuh hanya kemampuan berdiri sangat tegang agar tidak terlihat limbung.

Kau tidak tahu semua itu.

Atau mungkin kau tahu sebagian, dari caraku selalu berjalan setengah langkah di belakang perasaan sendiri.


Suatu malam, kelas dibatalkan.

Grup ramai dengan ucapan semoga lekas sembuh yang semuanya terdengar seperti orang bahagia karena tidak jadi belajar tapi tetap ingin terlihat sopan.

Kau mengirim pesan:

Karena kelas batal, kita tetap ke stasiun?

Aku membalas:

Ngapain?

Kau:

Membuktikan bahwa hidup tidak sepenuhnya bergantung pada grammar.

Aku hampir tidak datang. Lalu datang.

Itu masalahnya.

Dalam hidup, ada keputusan kecil yang dari luar tampak biasa, tapi di dalam diri terdengar seperti pintu besar dibuka pelan-pelan.


Kita duduk di bangku peron paling ujung.

Kereta lewat beberapa kali. Anginnya membawa bau besi, hujan, dan rambutmu yang masih sedikit basah. Di kejauhan, pengeras suara menyebut jadwal keberangkatan dengan suara perempuan yang selalu terdengar tidak ikut sedih pada siapa pun.

Kau bercerita tentang masa kecilmu yang sering pindah rumah. Tentang ayahmu yang terlalu sering membuat janji, ibumu yang terlalu pandai pura-pura kuat, dan dirimu yang tumbuh jadi orang yang selalu siap mengemas barang sebelum benar-benar diminta pergi.

Aku mendengarkan.

Untuk pertama kalinya, aku melihat bagianmu yang tidak lucu. Bukan berarti buruk. Justru lebih manusia.

Selama ini aku suka tawamu. Malam itu, aku mulai menyayangimu karena diam di antara kalimat-kalimatmu.

Karena cara matamu tetap menatap rel ketika berkata, "Aku capek jadi orang yang selalu siap ditinggalkan."

Aku ingin menjawab sesuatu yang indah.

Tapi yang keluar dari mulutku:

"Kamu mau tahu fakta menyedihkan?"

Kau menoleh.

"Apa?"

"Aku tadi beli payung baru karena takut hujan, tapi sekarang payungnya ketinggalan di minimarket."

Kau terdiam. Lalu tertawa sampai memukul lenganku.

Momen itu tidak megah. Tapi ada yang runtuh dalam diriku dengan cara yang lembut.


Setelah malam itu, aku mulai gagal menjaga jarak.

Aku tahu jadwal keretamu.

Aku tahu kau tidak suka minuman yang terlalu manis, tapi tetap selalu mencicipi minumanku karena katanya "punyamu kelihatan lebih niat." Aku tahu kalau kau kesal, kau mengetik tanpa tanda baca. Aku tahu kalau kau sedih, kau membalas lebih sopan dari biasanya.

Hal-hal itu berbahaya.

Karena pengetahuan kecil tentang seseorang sering menjadi tangga pertama menuju tempat yang tidak bisa kita tinggalkan dengan utuh.


"Kamu takut ya?" tanyamu suatu malam.

Kita sedang berjalan di jembatan penyeberangan. Di bawah, kendaraan bergerak seperti sungai cahaya. Angin malam membuat rambutmu berantakan, dan kau tidak berusaha merapikannya.

"Takut apa?"

"Suka sama aku."

Aku berhenti. Kau juga.

Tidak ada tempat sembunyi di atas jembatan. Lampu kota, aspal basah, dan suara klakson jauh di bawah seperti ikut menunggu jawabanku.

"Iya," kataku.

Kau tidak terlihat menang.

Kau justru terlihat sedih.

"Kenapa?"

"Karena kalau aku suka kamu, aku tidak bisa mengaturnya."

"Memangnya harus diatur?"

"Kalau tidak diatur, nanti jatuh."

Kau menatapku lama. Lalu berkata pelan, "Mungkin memang begitu caranya."


Aku tidak langsung mengerti. Atau mungkin aku mengerti, tapi tidak ingin setuju.

Kita terlalu sering diajari bahwa mencintai harus aman, masuk akal, saling jelas, saling siap. Semua itu benar. Cinta yang sehat memang tidak boleh membuat seseorang hancur sendirian.

Tapi ada bagian lain yang jarang dibicarakan. Sebaik apa pun kita menjaga diri, mencintai tetap berarti menyerahkan sebagian kendali.

Kita tidak bisa mencintai sambil memastikan tidak akan terluka sama sekali.

Kita tidak bisa masuk ke hidup seseorang sambil terus berdiri di ambang pintu, satu kaki di dalam, satu kaki siap lari.

Kita tidak bisa meminta cinta terasa dekat, tapi menolak semua kemungkinan kehilangan pijakan.

Itulah mengapa jatuh cinta dikatakan jatuh.

Karena ada detik ketika tubuhmu tidak lagi sepenuhnya milik perhitunganmu. Ada bagian dari dirimu yang bergerak lebih dulu. Ada nama yang kau cari sebelum kau sempat menyusun alasan.

Ada orang yang membuatmu ingin percaya lagi, meskipun riwayat hidupmu penuh catatan kaki tentang kenapa percaya itu berbahaya.


"Aku tidak mau menjatuhkanmu," katamu.

"Aku tahu."

"Aku juga takut."

"Kamu?"

"Iya. Kamu kira cuma kamu yang punya trauma dan gaya jalan dramatis?"

Aku hampir tertawa. "Gaya jalanku tidak dramatis."

"Kamu kalau habis diam panjang, jalanmu seperti tokoh utama film yang baru gagal membunuh masa lalu."

"Itu spesifik sekali."

"Karena aku memperhatikan."

Kami diam. Kalimat itu sederhana, tapi membuat sesuatu di dadaku melemah.

Kadang inti dicintai bukan diyakinkan dengan janji besar.

Kadang cukup dengan tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikan cara kita berjalan ketika tidak sedang berusaha terlihat baik-baik saja.


Malam itu kita tidak langsung jadian. Tidak ada pengakuan besar. Tidak ada pelukan dramatis di tengah jembatan.

Kita hanya berjalan turun. Pelan-pelan.

Di anak tangga terakhir, kau hampir terpeleset lagi.

Kali ini kau memegang lenganku duluan.

"Lihat," katamu. "Aku belajar."

"Belajar apa?"

"Kalau jatuh, pegangan."

Aku menatap tanganmu di lenganku.

"Itu curang."

"Itu adaptasi."

Hujan turun lagi, kecil-kecil, seperti kota sedang menguji apakah payungku masih ada. Tentu saja tidak.

Payung itu masih di minimarket, sedang menjalani hidup baru tanpa kami.

Kita berlari kecil ke halte.

Basah sedikit. Tertawa sedikit. Takut sedikit.

Dan untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak membuatku ingin mundur.


Keinginanku sederhana.

Aku ingin jatuh cinta tanpa terus-menerus mempermalukan diriku karena pernah jatuh sebelumnya.

Aku ingin belajar bahwa hati-hati tidak harus berarti jauh. Bahwa percaya tidak harus berarti bodoh.

Bahwa mencintai seseorang memang tidak pernah sepenuhnya aman, tapi hidup yang terlalu aman kadang hanya bentuk lain dari kesepian yang tertata rapi.

Jika suatu hari aku jatuh lagi, aku ingin tidak membenci diriku karenanya.

Sebab mungkin cinta bukan tentang tidak jatuh sama sekali.

Mungkin cinta adalah tentang menemukan seseorang yang, ketika kakimu kehilangan pijakan, tidak membuatmu merasa bodoh karena membutuhkan pegangan.