"Kenapa kamu cinta aku?"
Pertanyaan itu datang ketika aku sedang meniup bakso.
Ini penting untuk dicatat, karena tidak semua pertanyaan besar dalam hidup datang di tempat yang layak. Ada yang datang di rumah ibadah. Ada yang datang di ruang tunggu rumah sakit. Ada juga yang datang ketika kuah panas baru saja mengenai bibir dan harga diri sedang dalam kondisi rapuh.
Aku menatapnya.
Ia menatapku balik.
Hujan turun di luar warung, pelan, menempel di kaca yang buram oleh uap. Di atas meja, ada dua mangkuk bakso, satu piring gorengan, satu botol saus yang isinya tinggal setengah tapi keberaniannya masih penuh, dan tisu warung yang teksturnya lebih dekat ke kertas ujian daripada alat kebersihan.
"Sekarang?" tanyaku.
"Iya."
"Kamu nanyanya harus pas aku lagi makan bakso?"
"Justru biar jawabannya jujur."
"Kenapa?"
"Orang yang sedang makan bakso tidak sempat pencitraan."
Aku ingin membantah.
Tapi ia benar.
Namanya Nara.
Ia punya kebiasaan bertanya sesuatu yang terdengar sederhana, tapi jika dijawab sembarangan bisa membuat satu hubungan berubah menjadi sidang terbuka.
"Aku cantik tidak?"
"Kalau aku marah, kamu masih sayang tidak?"
"Kalau nanti aku gendut?"
"Kalau aku tiba-tiba jadi cicak?"
Pertanyaan terakhir itu pernah muncul pukul sebelas malam.
Aku menjawab, "Kalau kamu jadi cicak, aku akan sulit mengenalkanmu ke keluargaku."
Ia diam.
Aku panik.
Lalu ia tertawa sampai batuk.
Begitulah Nara. Di dalam kepalanya, rasa takut sering menyamar sebagai lelucon. Kalau ia bertanya hal aneh, biasanya bukan karena ia ingin jawaban aneh. Ia hanya sedang memeriksa apakah aku masih ada di tempat yang sama.
"Jawab," katanya malam itu.
Aku meletakkan sendok.
Mangkuk bakso di depanku mengepul seperti ikut menunggu.
"Karena kamu baik."
Ia langsung memiringkan kepala.
"Banyak orang baik."
"Karena kamu lucu."
"Banyak orang lucu."
"Karena kamu perhatian."
"Banyak orang perhatian."
"Karena kamu kalau makan gorengan selalu memilih yang paling gosong dulu supaya orang lain dapat yang bagus."
Ia diam sebentar.
"Itu observasi atau laporan intelijen?"
"Cinta yang sehat butuh data."
"Jangan sok ilmiah."
"Kamu yang minta alasan."
Ia mengambil satu gorengan. Benar saja, ia mengambil yang paling gosong.
Aku menunjuknya.
"Tuh."
"Ini bukti lemah."
"Bukti tetap bukti."
"Kalau di pengadilan, kamu kalah."
"Untung ini warung bakso."
Ia tertawa kecil.
Tapi setelah tawa itu habis, matanya kembali menjadi tempat yang jauh.
"Serius," katanya. "Kenapa?"
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi bercanda.
Di luar, hujan mengetuk atap seng warung dengan suara yang tidak rata. Ada motor berhenti sebentar, lalu jalan lagi. Ibu pemilik warung menyendok kuah dari panci besar, uapnya naik dan hilang di bawah lampu putih yang sedikit berkedip.
Aku tahu pertanyaan itu bukan tentang aku.
Ia tidak sedang meminta puisi.
Ia sedang meminta jaminan.
Nara tumbuh sebagai orang yang terlalu sering dibuat merasa harus punya kelebihan dulu agar tidak ditinggalkan. Harus lebih cantik. Harus lebih tenang. Harus lebih pengertian. Harus tidak merepotkan. Harus bisa diajak susah, tapi tidak boleh kelihatan susah.
Kalau dicintai, ia curiga.
Kalau dipuji, ia memeriksa bagian mana dari dirinya yang mungkin sedang dilebih-lebihkan.
Kalau aku diam sebentar, ia mengira aku sedang menyesal.
Ada orang yang tidak takut sendirian karena tidak punya siapa-siapa.
Ada orang yang takut dicintai karena tidak percaya cinta bisa tinggal tanpa sebentar-sebentar mengecek pintu keluar.
"Nara," kataku pelan.
"Hm."
"Kalau aku jawab karena matamu, nanti kamu takut suatu hari matamu tidak seindah itu."
Ia diam.
"Kalau aku jawab karena kamu lucu, nanti saat kamu sedih kamu merasa sedang gagal jadi orang yang kucintai."
Tangannya berhenti di dekat mangkuk.
"Kalau aku jawab karena kamu kuat, nanti kamu merasa tidak boleh lemah."
Ia menunduk.
"Kalau aku jawab karena kamu baik, nanti setiap kali kamu marah kamu takut cintaku berkurang."
Hujan di luar seperti sengaja mengecilkan suara.
"Jadi aku tidak mau membuat daftar alasan yang nanti kamu pakai untuk menghukum dirimu sendiri."
Ia tidak berkata apa-apa.
Aku juga diam sebentar.
Karena kalimat berikutnya terasa besar, dan aku sedang duduk di kursi plastik yang salah satu kakinya pendek.
Ini bukan posisi ideal untuk terdengar bijaksana.
"Jika kau bertanya kenapa aku mencintaimu," kataku akhirnya, "sama saja kau bertanya kenapa kau dilahirkan."
Ia mengangkat wajah.
"Kau seakan-akan meragukan keputusan Tuhan."
Ia menatapku lama.
Sangat lama.
Lalu berkata, "Kamu sadar hidungmu meler?"
Aku langsung mengambil tisu.
Tisu itu sobek.
Ia tertawa.
Aku ikut tertawa, meski martabatku baru saja turun beberapa anak tangga.
Kadang cinta tidak berhasil menjadi megah karena tubuh manusia selalu punya cara membuatnya kembali masuk akal. Hidung meler. Sambal terlalu pedas. Kursi plastik pincang. Kuah bakso yang menempel di lengan baju.
Tapi justru di situ aku percaya.
Kalimat besar yang masih bertahan setelah ditertawakan sedikit, biasanya lebih jujur daripada kalimat besar yang minta dihormati terus-menerus.
"Maksudmu aku tidak boleh tanya lagi?"
"Boleh."
"Tapi kamu tadi bilang aku meragukan keputusan Tuhan."
"Iya."
"Berarti kalau aku tanya lagi, aku berdosa?"
"Aku tidak punya kapasitas mengeluarkan fatwa di warung bakso."
"Sayang sekali. Padahal dramatis."
"Aku bisa mengeluarkan pendapat pribadi."
"Apa?"
"Kalau kamu tanya lagi besok, aku jawab lagi. Kalau kamu tanya minggu depan, aku jawab lagi. Kalau kamu tanya lima tahun lagi, aku mungkin jawab sambil nyari kacamata."
"Kamu belum pakai kacamata."
"Itu bagian dari visi jangka panjang."
Ia tersenyum.
Bukan senyum yang langsung sembuh.
Lebih seperti jendela kecil yang akhirnya dibuka sedikit setelah ruangan terlalu lama pengap.
"Aku cuma takut," katanya.
Itu kalimat paling jujur yang ia ucapkan malam itu.
Tidak dihias.
Tidak dilindungi humor.
Tidak dibuat lucu dulu supaya kalau kutolak ia masih bisa pura-pura bercanda.
"Takut apa?"
"Takut suatu hari kamu sadar aku tidak sebaik itu."
"Aku sudah tahu."
Ia menatapku tajam.
"Maksudnya?"
"Aku sudah tahu kamu tidak selalu baik. Kamu bisa keras kepala. Kalau lapar, kamu galak. Kalau lagi overthinking, kamu bisa membuat satu skenario lengkap dengan dialog pendukung dan plot twist. Kamu pernah marah karena aku membalas 'wkwk' tanpa huruf tambahan."
"Karena 'wkwk' itu dingin."
"Itu tawa, Nara."
"Tawa tanpa niat."
"Baik. Kita bahas fonetik tawa nanti."
Ia hampir tersenyum lagi.
Aku melanjutkan.
"Aku mencintaimu bukan karena semua bagianmu mudah dimengerti. Aku mencintaimu karena bahkan bagianmu yang paling sulit pun tidak membuatku ingin pergi."
Ia menggigit bibir.
Matanya mulai basah, tapi ia menahannya seperti orang yang tidak mau kalah dari kuah bakso.
Ibu warung datang membawa pesanan tambahan.
"Siomaynya, Mas."
Kami berdua kaget.
Ternyata pembicaraan yang menurutku sedang berada di wilayah takdir, luka batin, dan keputusan Tuhan tetap bisa disela oleh siomay.
Ibu itu meletakkan piring kecil di meja.
Melihat mata Nara.
Melihat tisu yang sobek di tanganku.
Melihat hidungku yang mungkin masih merah.
Lalu berkata, "Sambalnya kebanyakan ya?"
Aku mengangguk cepat.
"Iya, Bu."
Nara menunduk, menahan tawa.
Setelah ibu itu pergi, ia berbisik, "Kamu baru saja menyalahkan sambal atas percakapan emosional kita."
"Sambal sudah biasa disalahkan. Dia kuat."
"Kasihan sambal."
"Dia pedas. Dia tahu risikonya."
Untuk pertama kalinya malam itu, tawanya keluar penuh.
Tidak lama.
Tapi cukup.
Hujan mulai reda ketika kami keluar dari warung.
Jalanan masih basah. Lampu toko memantul di genangan kecil. Udara dingin menempel di kulit, tapi tidak membuat kami buru-buru pulang.
Aku membuka payung.
Payungnya macet setengah.
Kami berdiri di depan warung, dua orang dewasa yang baru saja membicarakan cinta dan Tuhan, kalah oleh mekanisme payung murah.
"Ini tanda apa?" tanya Nara.
"Tanda kita harus beli payung baru."
"Tidak ada makna spiritual?"
"Makna spiritualnya: barang murah punya batas."
Ia tertawa lagi.
Aku akhirnya berhasil membuka payung itu.
Bentuknya agak miring.
Tapi cukup untuk dua orang yang tidak keberatan bahunya sedikit basah.
Di bawah payung itu, ia berjalan lebih dekat.
"Kalau besok aku tanya lagi, kamu marah?"
"Tidak."
"Kalau aku tanya berkali-kali?"
"Aku mungkin menghela napas."
"Itu marah."
"Itu olahraga paru-paru."
Ia menyikut lenganku pelan.
Lalu kami berjalan beberapa langkah tanpa bicara.
Kadang cinta tidak langsung menyembuhkan rasa takut seseorang. Kadang ia hanya menyediakan tempat yang sama, jawaban yang sama, dan kesabaran yang tidak membuat orang itu merasa sedang merepotkan.
Aku tidak ingin menjadi pahlawan dalam hidup Nara.
Pahlawan melelahkan.
Pahlawan sering mati di akhir cerita.
Aku hanya ingin menjadi orang yang tetap menemaninya pulang, bahkan setelah percakapan besar berakhir dengan hidung meler dan payung miring.
Keinginanku sederhana.
Aku ingin mencintaimu sampai kau berhenti merasa perlu membuat daftar alasan kenapa dirimu pantas dicintai.
Aku ingin kau tahu bahwa kau tidak perlu selalu lucu agar aku tinggal.
Tidak perlu selalu kuat agar aku kagum.
Tidak perlu selalu baik agar aku tetap lembut kepadamu.
Sebab aku tidak sedang memilihmu seperti orang memilih barang terbaik di etalase.
Aku mencintaimu seperti orang pulang.
Kadang tidak bisa menjelaskan seluruh jalannya.
Tapi tahu, ketika sampai di sana, hatinya berhenti gelisah.