99 Keinginan #59AC bocor, harga diri ikut menetes

99 Keinginan #59

Ada fase dewasa ketika kamu bukan takut miskin, bukan takut gagal, tapi takut ditanya tukang servis AC: terakhir dicuci kapan?

Ada fase dewasa ketika kamu bukan takut miskin.

Bukan takut gagal.

Bukan takut melihat teman seangkatan sudah punya rumah.

Kamu takut ditanya tukang servis AC:

"Terakhir dicuci kapan, Mas?"

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi cara ia keluar dari mulut orang berseragam teknisi membuatnya terdengar seperti sidang etik.


AC kamarku mulai menetes sejak tiga hari lalu.

Awalnya satu tetes.

Pelan.

Sopan.

Seperti tamu yang masih tahu diri.

Aku menaruh gelas plastik di bawahnya dan berkata kepada diriku sendiri, "Nanti juga berhenti."

Kalimat "nanti juga berhenti" adalah salah satu kebohongan paling produktif dalam hidup manusia.

Ia bisa dipakai untuk sakit gigi, lampu kamar yang kedap-kedip, chat yang belum dibalas, dan perasaan yang jelas-jelas sudah tidak sehat sejak bulan lalu.

Hari kedua, tetesannya makin cepat.

Hari ketiga, AC itu tidak lagi menetes.

Ia punya agenda.

Aku bangun pukul tiga pagi karena suara air jatuh ke ember terdengar seperti seseorang sedang memasak mie instan dengan teknik yang sangat agresif.

Tik.

Tik.

Tik.

Lalu satu suara besar.

Plok.

Aku menatap plafon.

AC menatap balik dengan dingin.

Secara harfiah, karena itu memang tugasnya.


Paginya aku mencari nomor tukang servis.

Di grup kos, ada satu nomor yang direkomendasikan semua orang.

Namanya: Pak Dedi AC.

Tidak ada nama belakang.

Tidak ada foto profil.

Hanya gambar bunga mawar merah dengan tulisan "semangat pagi" yang sudah pecah resolusinya.

Aku mengirim pesan:

Pak, bisa servis AC bocor?

Balasannya cepat.

Bisa. Alamat?

Aku kirim alamat.

Merk AC?

Aku bangun, melihat AC, lalu sadar selama ini aku hidup bersama benda itu tanpa pernah tahu identitas lengkapnya.

Aku berdiri di bawah AC seperti orang melihat KTP pasangan setelah menikah lima tahun.

Aku menjawab:

Sepertinya Sharp, Pak.

Pak Dedi membalas:

Sepertinya?

Satu kata.

Satu tanda tanya.

Dan harga diriku turun dua lantai.


Sebelum Pak Dedi datang, aku membersihkan kamar.

Ini tidak ada hubungannya dengan AC.

Tapi ada dorongan purba dalam diri manusia untuk terlihat sebagai warga negara yang layak ketika tukang servis masuk rumah.

Aku melipat selimut.

Menyembunyikan gelas bekas kopi.

Memindahkan celana yang sebelumnya ada di kursi, lalu bingung harus memindahkannya ke mana, akhirnya kutaruh di dalam lemari dengan kekuatan doa.

Aku bahkan menyapu.

Seolah Pak Dedi akan menulis laporan:

AC bocor, pemilik kurang disiplin dalam tata ruang.

Jam sepuluh lewat sedikit, ia datang.

Tas perkakas di tangan kanan.

Tangga lipat di tangan kiri.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang akan melihat rahasia rumah orang lain.

"AC-nya yang mana, Mas?"

Aku menunjuk AC.

Pertanyaan itu tidak perlu dijawab, karena di kamar itu hanya ada satu benda yang sedang menangis dari dinding.

Tapi tetap kujawab.

"Yang itu, Pak."

Untuk memastikan kami berdua sepakat tentang pelaku utama.


Pak Dedi menyalakan AC.

Ia berdiri diam.

Mendengar.

Melihat.

Tidak bicara.

Diam teknisi berbeda dengan diam orang biasa.

Diam teknisi membuatmu merasa barang-barang di rumahmu sedang memberi kesaksian.

Kemudian ia bertanya:

"Terakhir dicuci kapan?"

Aku sudah menduga pertanyaan itu akan datang.

Tapi tetap saja tubuhku tidak siap.

"Hmm."

Itu jawaban pertamaku.

Sebuah bunyi yang tidak tercatat dalam kalender.

"Kayaknya belum lama, Pak."

"Belum lama itu kapan?"

Aku menatap ember di bawah AC.

Ember itu tidak membantuku.

"Beberapa waktu lalu."

Pak Dedi mengangguk.

Jenis anggukan yang tidak setuju, tapi cukup sopan untuk tidak membuat berita acara.

Ia membuka penutup AC.

Filter ditarik keluar.

Debunya keluar seperti arsip negara yang selama ini disembunyikan.

Aku refleks berkata, "Wah."

Pak Dedi menatapku.

Aku segera mengubah nada.

"Maksud saya, wah juga ya, Pak."

Tidak membantu.


"Ini kotor sekali, Mas."

Kalimat itu diucapkan tanpa emosi.

Justru karena tanpa emosi, ia terdengar lebih parah.

Kalau ia marah, aku bisa merasa sedang dimarahi.

Tapi karena ia datar, aku merasa sedang menerima fakta ilmiah yang tidak bisa dibantah.

"Pakai tiap hari?"

"Tidak tiap hari, Pak."

Remote AC di meja menyala.

Angka 16 derajat terlihat jelas.

Mode: Cool.

Fan: High.

Timer: setiap malam.

Remote itu berkhianat.

Pak Dedi melihat remote.

Lalu melihatku.

Tidak ada kata-kata.

Tapi aku mendengar kalimat yang tidak ia ucapkan:

mas, barang elektronik pun capek dibohongi.


Saat Pak Dedi mulai membersihkan AC, tetangga kamar lewat.

Namanya Bagas.

Orang yang setiap melihat pintu terbuka merasa itu undangan untuk memberi komentar.

"Wah, servis AC?"

Aku ingin menjawab, "Tidak, ini sedang operasi pengangkatan dosa."

Tapi aku hanya berkata, "Iya."

Bagas mengintip sebentar.

"Pantesan kamar lu dingin banget tapi auranya lembap."

Aku tidak tahu bagaimana membalas kalimat itu.

Ada kritik teknis.

Ada kritik spiritual.

Ada review interior.

Semuanya dalam satu paket.

Pak Dedi tetap bekerja.

Profesional.

Seperti dokter bedah yang sudah biasa keluarga pasien bertengkar di ruang tunggu.


Air bekas cuci AC turun ke ember.

Warnanya membuatku ingin meminta maaf kepada teknologi.

"Ini kalau rutin tiga bulan sekali aman, Mas," kata Pak Dedi.

"Tiga bulan sekali?"

Aku mengulangnya dengan nada orang yang baru mendengar kewajiban pajak baru.

"Iya."

"Berarti setahun empat kali?"

Pak Dedi berhenti sebentar.

Mungkin ia sedang menilai apakah pertanyaan itu sungguhan.

"Iya, Mas."

Aku mengangguk.

Di kepala, aku sedang menghitung: servis AC, ganti galon, cuci sepatu, bayar listrik, bersihin kipas, cek oli motor, beli gas sebelum habis, jawab chat orang, hidup.

Dewasa ternyata bukan satu tanggung jawab besar.

Dewasa adalah seribu benda kecil yang semuanya punya jadwal sendiri, dan tidak satu pun mau berkoordinasi.


Setelah selesai, AC menyala lebih tenang.

Tidak menetes.

Tidak berisik.

Tidak lagi terdengar seperti menyimpan dendam.

Pak Dedi mencatat biaya di nota kecil.

Tulisan tangannya rapi.

Aku membayar.

Ia merapikan alat.

Sebelum pergi, ia berkata:

"Nanti tiga bulan lagi kabari saja, Mas. Jangan nunggu bocor."

Aku tertawa kecil.

"Iya, Pak."

Tapi kalimat itu tertinggal lebih lama dari yang seharusnya.

Jangan nunggu bocor.

Lucu juga.

Ada banyak hal dalam hidupku yang selalu kubiarkan bocor dulu baru kuurus.

AC.

Tidur.

Uang.

Perasaan.

Hubungan.

Kamar.

Diri sendiri.

Selama masih bisa ditampung ember, aku pura-pura semuanya baik-baik saja.


Malamnya, aku tidur dengan AC yang sudah tidak menetes.

Kamar terasa dingin dengan cara yang wajar.

Tidak ada ember di lantai.

Tidak ada suara tik-tik-tik yang membuatku merasa tinggal di dekat air terjun versi kos-kosan.

Aku menatap AC sebentar.

"Maaf ya," kataku pelan.

Lalu merasa bodoh karena meminta maaf kepada benda elektronik.

Tapi tetap kulakukan.

Mungkin ini tanda kedewasaan.

Atau tanda bahwa aku butuh keluar kamar lebih sering.


Keinginanku sederhana.

Aku ingin menjadi orang dewasa yang tidak panik saat sesuatu di rumahnya rusak.

Aku ingin bisa menjawab pertanyaan "terakhir dicuci kapan?" tanpa merasa sedang diperiksa riwayat hidup.

Dan lebih dari itu, aku ingin belajar mengurus hal-hal kecil sebelum mereka berubah menjadi kejadian besar yang butuh ember.

Karena ternyata hidup sering tidak hancur sekaligus.

Ia hanya menetes pelan-pelan.

Sampai suatu malam, kita bangun pukul tiga pagi dan sadar lantainya sudah basah.