Toko itu hanya buka ketika hujan turun lewat tengah malam.
Tidak ada papan nama di depannya.
Tidak ada lampu neon.
Tidak ada penjaga parkir, tidak ada etalase, tidak ada daftar harga yang ditempel di kaca.
Hanya pintu kayu biru tua di ujung gang sempit, dengan bel kecil yang berbunyi pelan setiap kali seseorang masuk membawa sesuatu yang tidak sanggup ia ingat sendirian.
Orang-orang menyebutnya Toko Kenangan.
Aku menemukannya pada malam ketika hujan turun terlalu lama, dan aku terlalu lelah menjadi orang yang kuat mengingat semuanya.
Gang menuju toko itu tidak ada di peta.
Aku sudah melewati jalan itu berkali-kali sebelumnya, tapi malam itu, di antara toko fotokopi yang tutup dan warung nasi goreng yang tendanya sudah dilipat setengah, ada celah kecil yang tidak pernah kulihat.
Dari celah itu keluar bau kertas basah, kayu tua, dan sesuatu yang mirip wangi baju seseorang yang sudah lama tidak kupeluk.
Aku masuk karena alasan yang sederhana.
Di dalam dadaku, ada satu ingatan yang terlalu sering mengetuk.
Malam ketika seseorang berkata, "Aku sayang kamu, tapi aku tidak bisa memilihmu."
Kalimat itu sudah lama lewat.
Orangnya juga sudah pergi.
Tapi tubuhku masih menyimpan cara lampu kamar memantul di pipinya, suara kipas yang berputar lambat, dan jeda setelah kalimat itu keluar. Jeda yang panjang sekali. Jeda yang membuatku tahu bahwa cinta kadang tidak pergi dengan membanting pintu.
Kadang ia pergi dengan meminta maaf.
Dan justru karena itu, kita kehabisan tempat untuk marah.
Bel kecil berbunyi ketika aku membuka pintu toko.
Di dalam, ruangan itu lebih luas dari yang seharusnya.
Rak-rak tinggi berdiri sampai ke langit-langit. Setiap rak dipenuhi botol kaca kecil dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang bening seperti air hujan. Ada yang kuning hangat seperti lampu kamar. Ada yang biru gelap seperti malam setelah pertengkaran.
Di setiap botol, ada label tulisan tangan.
Tawa pertama setelah sembuh.
Bau dapur rumah nenek.
Hari ketika ayah pulang lebih awal.
Pelukan yang tidak diminta.
Ciuman yang tidak jadi.
Ulang tahun yang pura-pura dilupakan, lalu dirayakan.
Aku berdiri lama di antara rak-rak itu.
Ternyata ingatan orang lain bisa terlihat begitu indah ketika tidak ikut kita alami sakitnya.
"Mau menjual atau membeli?"
Suara itu datang dari balik meja kasir.
Seorang perempuan tua duduk di sana, mengenakan cardigan hijau tua dan kacamata bulat yang rantainya menjuntai sampai dada. Rambutnya putih, disanggul longgar. Di depannya ada timbangan kecil, buku besar, dan gelas teh yang uapnya bergerak tanpa hilang.
Aku mendekat.
"Menukar," kataku.
Perempuan itu menatapku dari balik kacamatanya.
"Ingatan apa?"
Aku tidak langsung menjawab.
Mungkin karena aneh sekali meringkas sakit hati menjadi barang transaksi.
"Ingatan tentang orang yang tidak memilih saya."
Ia mengangguk, seperti sudah mendengar kalimat itu ribuan kali.
"Mau ditukar dengan apa?"
Aku melihat rak di belakangnya. Di sana ada botol-botol kecil yang warnanya lebih hangat.
"Apa saja yang ringan."
"Ringan seperti apa?"
"Rumah yang hangat. Ulang tahun yang dirayakan. Atau ingatan tentang dicintai tanpa harus menebak-nebak."
Perempuan tua itu diam sebentar.
Lalu ia membuka buku besar di depannya.
"Harga ingatan seperti itu mahal."
"Saya punya uang."
"Kami tidak menerima uang."
Aku menelan ludah.
"Lalu menerima apa?"
Ia menutup bukunya pelan.
"Bagian dirimu yang lahir setelah ingatan itu terjadi."
Aku pikir ia sedang bercanda.
Tapi di toko itu, bahkan jam dinding pun tidak terdengar seperti sesuatu yang punya selera humor.
"Maksudnya?"
Perempuan tua itu mengambil botol kaca kosong dari laci. Kecil, seukuran botol minyak angin. Ia meletakkannya di atas meja.
"Kalau kau menjual ingatan tentang orang yang tidak memilihmu, kau juga menjual hal-hal yang tumbuh setelahnya."
"Seperti apa?"
"Kemampuanmu mengenali suara yang mulai jauh. Kebiasaanmu tidak lagi memohon pada orang yang sudah setengah pergi. Cara matamu lebih cepat menangkap seseorang yang mencintaimu dengan ragu-ragu. Kelembutanmu pada orang lain yang ditinggalkan tanpa penjelasan."
Aku menatap botol kosong itu.
"Saya cuma mau lupa sakitnya."
"Semua orang yang datang ke sini bilang begitu."
Di luar, hujan memukul kaca toko dengan pelan.
Perempuan itu melanjutkan, "Tapi ingatan tidak bekerja seperti noda di baju. Kau tidak bisa menghapus bagian kotornya saja dan berharap kainnya tetap sama."
Seorang laki-laki masuk sebelum aku sempat menjawab.
Jaketnya basah. Rambutnya menempel di dahi. Ia membawa kotak sepatu.
Perempuan tua itu menoleh.
"Yang mana?"
Laki-laki itu membuka kotak.
Di dalamnya ada sepasang sepatu bayi berwarna putih.
"Hari pertama anak saya berjalan," katanya.
Suaranya datar, tapi tangannya gemetar.
"Mau dijual?"
Ia mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena dia sudah tidak ada."
Toko itu menjadi sangat sunyi.
Aku tidak mengenal laki-laki itu. Tidak tahu nama anaknya. Tidak tahu bagaimana seseorang bisa masuk ke toko dengan membawa hari pertama anaknya berjalan, lalu pulang tanpa ingatan itu di kepala.
Perempuan tua itu tidak langsung mengambil kotaknya.
"Kalau ingatan ini hilang, kau tidak akan ingat suara tawanya waktu jatuh."
"Bagus."
"Kau juga tidak akan ingat cara ia memanggilmu setelah berhasil berdiri."
Laki-laki itu menunduk.
Beberapa detik kemudian, ia menutup kotak sepatu itu lagi.
"Saya belum bisa," katanya.
Perempuan tua itu mengangguk.
"Belum bisa juga sebuah keputusan."
Laki-laki itu keluar tanpa membeli apa pun.
Sepatu bayinya tetap ia bawa.
Hujan menelannya di balik pintu.
Aku berdiri di depan meja kasir dengan tubuh yang tiba-tiba terasa lebih berat.
"Banyak yang batal?" tanyaku.
"Lebih banyak dari yang kau kira."
"Lalu kenapa toko ini tetap buka?"
Perempuan tua itu tersenyum kecil.
"Karena beberapa orang tidak datang untuk benar-benar menjual. Mereka datang untuk memastikan apakah ingatan itu masih milik mereka."
Aku melihat botol-botol di rak.
Ada ribuan ingatan di sana.
Mungkin ada ingatan pertama kali seseorang dicintai dengan benar. Mungkin ada ingatan terakhir kali seseorang mendengar suara ibunya. Mungkin ada ingatan tentang rumah yang dulu berisik, lalu sekarang hanya tinggal foto di kalender lama.
Semua ditaruh rapi.
Semua diberi label.
Semua tampak bisa dibeli.
Tapi semakin lama aku berdiri di sana, semakin aku merasa bahwa ingatan tidak pernah benar-benar muat di dalam botol.
Yang masuk ke botol mungkin hanya gambarnya.
Sisanya tetap tinggal di tubuh.
Di tangan yang mendadak dingin ketika mendengar nama tertentu.
Di dada yang sesak saat melewati jalan lama.
Di cara seseorang diam terlalu lama sebelum berkata, "tidak apa-apa."
"Jadi?" tanya perempuan tua itu.
Aku memejamkan mata.
Ingatan itu datang lagi.
Lampu kamar.
Suara kipas.
Wajahnya yang tidak berani menatapku terlalu lama.
Kalimat itu.
Aku sayang kamu, tapi aku tidak bisa memilihmu.
Dulu, setiap kali mengingatnya, aku merasa seperti kembali menjadi orang yang ditinggalkan di ruangan itu.
Tapi malam ini, di depan botol kosong dan perempuan tua yang menjaga toko hujan, aku melihat bagian lain yang selama ini tidak kuperhatikan.
Aku melihat diriku setelah ia pergi.
Diriku yang tetap mandi esok paginya meski dada terasa penuh.
Diriku yang tetap bekerja dengan mata sembap.
Diriku yang pelan-pelan berhenti membuka percakapan lama.
Diriku yang akhirnya paham bahwa dicintai setengah hati bukan hadiah yang harus dipertahankan.
Mungkin aku tidak cuma membawa luka dari ingatan itu.
Mungkin aku juga membawa bukti bahwa aku pernah selamat.
"Saya tidak jadi menjualnya," kataku.
Perempuan tua itu tidak terlihat heran.
"Tapi saya masih ingin menukar sesuatu."
"Apa?"
Aku menatap botol kosong di meja.
"Saya ingin menukar cara ingatan itu datang."
Ia mengangkat alis.
"Jelaskan."
"Saya tidak ingin ia masuk seperti maling lagi. Tidak ingin datang tiba-tiba saat saya sedang tertawa, sedang makan, sedang hampir baik-baik saja. Kalau ia masih harus tinggal, saya ingin ia mengetuk dulu."
Perempuan tua itu terdiam.
Lalu untuk pertama kalinya, ia tersenyum seperti benar-benar tersenyum.
"Itu permintaan yang lebih sulit."
"Bisa?"
"Bisa. Tapi kau harus melakukan bagiannya."
"Apa?"
"Berhenti memanggilnya setiap malam hanya untuk memastikan lukamu masih ada."
Kalimat itu mengenai tempat yang tepat.
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu ia benar.
Kadang kita bilang ingatan tidak mau pergi, padahal diam-diam kita yang terus membuka pintunya. Kita memutar ulang percakapan lama, membaca pesan lama, mencari tanda yang sebenarnya sudah jelas sejak awal.
Bukan karena kita bodoh.
Karena kehilangan sering membuat manusia ingin membuktikan bahwa sakitnya nyata.
Perempuan tua itu mengambil botol kosong tadi.
Ia meniup pelan ke dalamnya.
Botol itu terisi kabut tipis berwarna biru.
"Bawa ini," katanya.
"Ini apa?"
"Jeda."
"Jeda?"
"Setiap kali ingatan itu datang tanpa mengetuk, buka botol ini. Tidak akan menghapusnya. Hanya memberimu waktu tiga tarikan napas sebelum kau memutuskan apakah ingin membiarkannya masuk."
Aku menerima botol itu.
Ringan sekali.
Hampir seperti tidak memegang apa-apa.
"Berapa harganya?"
"Satu kejujuran."
"Kejujuran apa?"
Ia menunjuk dadaku.
"Katakan pada dirimu sendiri bahwa kau tidak ingin lupa orang itu sepenuhnya. Kau hanya ingin berhenti hancur setiap kali mengingatnya."
Aku menggenggam botol itu lebih erat.
Di luar, hujan mulai mereda.
Ketika aku keluar dari toko, gang itu masih basah.
Lampu jalan memantul di genangan kecil. Seekor kucing melintas dari bawah gerobak tutup, berhenti sebentar menatapku, lalu pergi seolah tahu manusia memang sering keluar dari tempat aneh dengan wajah yang berubah sedikit.
Aku menoleh ke belakang.
Pintu kayu biru tua itu masih ada.
Bel kecil di dalamnya tidak berbunyi.
Di saku jaketku, botol berisi jeda terasa dingin.
Ponselku bergetar.
Satu notifikasi dari aplikasi lama yang jarang kubuka.
Foto kenangan dari dua tahun lalu.
Biasanya, aku akan langsung menekan layar.
Membuka.
Membiarkan diriku jatuh lagi.
Malam itu, aku berhenti.
Satu tarikan napas.
Dua.
Tiga.
Lalu aku memasukkan ponsel kembali ke saku tanpa melihat fotonya.
Bukan karena aku sudah lupa.
Bukan karena aku sudah sembuh seluruhnya.
Tapi untuk pertama kalinya, ingatan itu berdiri di depan pintu dan aku tidak langsung membukakannya.
Keinginanku sederhana.
Aku ingin menukar satu ingatan yang terlalu berat kubawa sendiri.
Tapi malam itu aku pulang dengan hal lain.
Bukan ingatan baru.
Bukan masa lalu yang lebih indah.
Hanya sebuah botol kecil berisi jeda, dan pemahaman pelan bahwa tidak semua ingatan yang menyakitkan harus dibuang.
Beberapa hanya perlu berhenti memegang leher kita.
Mungkin sembuh bukan berarti lupa.
Mungkin sembuh hanya berarti ingatan itu tidak lagi masuk tanpa mengetuk.
Dan jika suatu malam ia datang lagi, basah oleh hujan, membawa suara lama dan nama lama, aku ingin cukup kuat untuk membukakan pintu sedikit saja.
Bukan untuk membiarkannya tinggal.
Hanya untuk berkata:
aku ingat, tapi aku tidak lagi tinggal di sana.