Kembali
Keinginan #57
CATATAN / 5 MENIT BACA

99 Keinginan #57

Doa tidak memiliki nomor halaman di sudut bawah. Ia adalah lingkaran yang tidak pernah selesai, menyisakan nama yang terus dipanggil pulang. Tetapi sebuah buku selalu tahu kapan harus berakhir.

Buku itu bersandar di meja kayu dekat jendela.

Sampulnya berwarna krem kusam dengan gambar garis hitam yang tidak membentuk pola jelas. Pustaka Jaya, terbitan tahun delapan puluh. Di sudut kanan bawah ada lingkaran bekas pantulan pantat cangkir kopi yang sudah lama mengering.

Ziarah karya Iwan Simatupang.

Aku sudah memegang halaman terakhir selama hampir sepuluh menit. Halaman seratus empat puluh dua. Satu lembar lagi, dan buku ini selesai.

Di luar, sore sedang melepaskan sisa hujan. Suara air menetes dari talang seng terdengar lambat di sela bunyi motor yang sesekali lewat di gang samping rumah. Bau aspal basah menguap, masuk melalui celah kisi-kisi udara, bercampur dengan bau kertas koran lama yang menumpuk di rak.

Aku meletakkan ibu jari di tepi halaman kertas yang mulai menguning. Tipis dan sedikit kasar.

Sebulan lalu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membaca satu paragraf saja per hari. Terkadang hanya satu baris. Cara yang kekanak-kanakan untuk membuat buku ini tetap tebal, seolah-olah jumlah halaman di dalamnya bisa bertambah jika aku tidak kunjung membacanya sampai tuntas.

Tetapi sore ini, pembatas buku berupa tiket kereta api kelas ekonomi jurusan Yogyakarta tertinggal di halaman paling belakang.

Tiket itu bertanggal dua tahun lalu. Namanya masih tercetak jelas di sana, tepat di bawah namaku.


"Kalau aku mati duluan, kau harus lebih rajin membaca daripada rajin berdoa."

Kalimat itu diucapkannya ketika kami duduk di teras rumah kontrakan yang berlantai semen. Waktu itu angin bertiup kencang, menerbangkan beberapa lembar daun mangga kering ke halaman. Ia sedang mengenakan jaket rajut abu-abu miliknya yang sudah longgar di bagian pergelangan tangan. Tangannya memegang cangkir seng berisi teh tawar yang sudah dingin.

Aku tidak menjawab. Di pangkuanku ada buku yasin bersampul hijau tua yang huruf emasnya mulai luntur.

"Doa itu melingkar," katanya lagi. Ia menaruh cangkir, lalu menunjuk buku di pangkuanku dengan ujung telunjuknya. "Kau mengucapkannya setiap malam. Mengulang baris yang sama. Menyebut nama yang sama di akhir kalimat. Meminta hal yang sama kepada langit."

Ia menggeser posisi duduknya agar kakinya yang mulai kurus bisa selonjor.

"Doa tidak punya nomor halaman di sudut bawah. Ia lingkaran yang tidak pernah selesai. Setiap kali kau menyebut namaku dalam doamu, kau menyeretku kembali ke kamar ini. Kau membuatku harus terus duduk di ujung kasur melihatmu terjaga."

Ia menatap jalanan gang yang sepi.

"Aku ingin kesedihanmu ikut selesai setelah kau selesai membaca buku."

Saat itu aku hanya diam, membalik-balik buku yasin di tangan tanpa benar-benar berniat membacanya.

Sekarang, setelah setengah tahun kamarnya kosong dan lemari pakaiannya hanya menyisakan gantungan kayu yang beradu setiap kali pintu digeser, kalimat itu tidak lagi terdengar seperti larangan.

Ia tidak ingin aku terus berdiri di samping kasur kosong, memegang buku yasin sambil mengulang-ulang doa seolah-olah kata-kata bisa menariknya kembali.

Ia ingin aku memiliki akhir cerita.

Ia ingin kesedihanku ditutup dengan cara yang sama seperti orang menutup buku. Selesai. Kembali ke rak. Lalu keluar kamar untuk membeli makan malam.


Pesan dari grup kantor masuk. Seseorang membagikan foto makan malam bersama di sebuah restoran baru. Ada komentar-komentar pendek yang menyusul di bawahnya, disusul beberapa stiker tawa dan janji berkumpul minggu depan. Aku tidak membalas pesan itu. Ponsel kuletakkan dengan layar menghadap ke bawah, di samping tumpukan tagihan listrik bulan lalu yang belum sempat kubayar.

Aku kembali menatap kertas kuning halaman seratus empat puluh dua.

Tokoh Kita dalam novel ini terus berjalan di antara makam-makam. Ia tidak menemukan makam istrinya dengan cara yang biasa orang temukan. Ia mengapur tembok pekuburan. Ia berdebat dengan penjaga kubur. Ia hidup dalam lingkaran absurditas yang tidak memiliki titik temu.

Buku ini hampir berakhir, tetapi tokohnya tidak pernah benar-benar selesai berziarah.

Iwan Simatupang menulis novel ini setahun setelah istrinya berpulang. Di halaman persembahan, ia menulis nama perempuan itu. Sebuah ziarah panjang yang ia lakukan dengan tinta hitam, mencoba merumuskan luka yang mungkin terlalu besar jika hanya disimpan di kepala. Mungkin menulis ziarah absurd itu adalah satu-satunya caranya untuk membiarkan tubuhnya tetap sibuk saat kepalanya menolak melupakan istrinya.

Aku membaca kalimat terakhir di halaman itu.

Sebuah titik hitam kecil di akhir baris menutup kisah Tokoh Kita.

Udara di dalam kamar terasa dingin saat aku melepas napas. Tidak ada yang berubah. Buku itu kututup. Bunyi karton tebalnya beradu pelan dengan permukaan meja kayu.

Menyimpan seseorang dalam doa memang sering kali seperti menulis tanpa tanda titik. Kita terus menambahkan kata, memperpanjang kalimat, mengira halaman kosong tidak boleh habis. Tetapi buku yang rapat di depanku ini menitipkan isyarat lain. Bahwa halaman terakhir tidak pernah bermaksud membuang seluruh isi cerita. Ia hanya menandai batas tempat kisah itu harus berhenti ditulis.


Aku berdiri dari kursi kayu yang berderit pendek.

Buku Ziarah itu kubawa ke rak di sudut ruangan. Aku meletakkannya di sela-sela kamus bahasa Inggris dan buku panduan tanaman hias yang daunnya sudah layu di pot teras. Punggung buku itu sekarang sejajar dengan buku-buku lain yang berdebu.

Aku berjalan ke dapur kecil di belakang rumah.

Kompor kuningan kunyala. Api birunya berdesis pelan, memanaskan air dalam panci aluminium kecil yang dasarnya sudah hitam oleh jelaga.

Aku mengambil cangkir seng yang dulu sering dipakainya. Menaruh satu sendok kopi bubuk hitam, lalu menyiramnya dengan air yang baru saja mendidih. Aroma pahit langsung memenuhi ruangan sempit itu.

Tanpa menambahkan gula, aku membawa cangkir itu ke teras depan.

Lampu jalan gang sudah menyala, memantulkan warna kuning di atas aspal yang masih basah. Tetangga sebelah sedang merapikan jemuran yang lupa diangkat sejak siang. Di kejauhan, suara peluit tukang parkir terdengar tipis, disusul deru motor yang melaju perlahan menghindari genangan air.

Aku duduk di kursi rotan yang anyamannya mulai renggang di bagian tengah.

Kopi seng itu kuletakkan di atas meja kayu kecil. Uapnya naik perlahan, bergulung tipis sebelum hilang disapu angin malam yang dingin.

Kehilangan sering kali bekerja dengan cara yang tidak megah. Ia tidak selalu berupa isak tangis yang riuh atau kamar yang berantakan. Terkadang, ia hanya hadir sebagai sisa-sisa kebiasaan yang tidak tahu harus ditujukan kepada siapa. Seperti tangan yang secara otomatis menarik dua pasang sendok dari laci, menggeser kursi di seberang meja makan agar kosongnya tidak terlalu mencolok, atau membiarkan baju rajut abu-abu tetap tergantung di balik pintu kamar mandi meskipun tidak ada lagi yang akan mengenakannya.

Namun, di teras ini, saat cangkir seng mulai menghangatkan telapak tanganku, aku merasakan sesuatu yang lain. Kopi hitam yang pahit, ketika melewati tenggorokan, selalu menyisakan rasa hangat yang bertahan beberapa menit setelah gelasnya diletakkan kembali. Rasa hangat yang tipis, tetapi cukup untuk membuat udara dingin di sekitar kursi rotanku terasa sedikit lebih lunak. Mungkin kesedihan yang ditinggalkannya juga akan menjadi seperti itu. Ia tidak akan pernah berubah menjadi manis, tetapi ia akan menyusut menjadi kehangatan pelan yang membuat hari esok tidak lagi terlalu menakutkan untuk dimasuki.

Aku menatap langit di atas gang yang berwarna abu-abu gelap, bersih dari sisa awan hujan.

Keinginanku sederhana.

Aku ingin menutup halaman terakhir dari kesedihan ini. Meletakkannya kembali di rak kayu berdebu itu, bersebelahan dengan kamus lama yang tidak pernah dibaca lagi.

Sebab aku tahu cerita kita sudah selesai, dan malam ini aku menyeduh kopi di cangkir seng milikmu tanpa menyisakan cangkir kedua.