Aku buka LinkedIn untuk ketiga kalinya hari itu, lihat dua detik, lalu tutup.
Bukan karena tidak ada yang menarik.
Justru karena terlalu banyak yang menarik.
Teman satu angkatan sudah jadi manajer. Yang lain baru selesai program akselerasi. Ada juga yang unggah foto di depan rumah baru, berdiri di halaman kecil dengan satu pohon yang baru ditanam. Caption-nya pendek. Tidak sombong. Dan entah kenapa itu membuatnya terasa lebih berat.
Aku meletakkan HP terbalik di meja warung. Di layar yang sudah gelap, wajahku memantul samar. Dua puluh tujuh tahun. Duduk di warung kecil di daerah Dago, Bandung, memesan teh hangat kedua padahal teh pertama belum habis, dan pura-pura tidak sedang mengukur hidup sendiri dengan hidup orang lain.
Aku tidak iri karena mereka berhasil.
Aku hanya sedih karena setiap kali melihat hidup mereka semakin jauh, aku tidak tahu harus pulang ke siapa untuk bilang bahwa aku juga sedang berusaha.
Warung itu kecil. Tiga meja plastik. Satu bangku kayu panjang. Lampu kuningnya menggantung rendah, membuat uap dari panci terlihat seperti napas yang keluar pelan-pelan. Di luar, Dago sedang dingin. Gerimis turun lembut, menempel di aspal, di jaket orang-orang yang lewat, di kaca helm pengendara motor yang berhenti sebentar untuk berteduh.
Ibu pemilik warung memasak sambil menonton sinetron dari HP yang disandarkan ke toples kerupuk.
Aku duduk dekat pintu. Tidak sedang menunggu siapa-siapa. Tidak ada yang menungguku di mana pun.
Kalimat itu seharusnya biasa saja.
Tapi malam itu, ia terasa seperti sesuatu yang diletakkan diam-diam di atas dada.
Di seberang jalan, ada tukang parkir yang bekerja dengan gerakan tangan yang sudah tidak perlu dipikir. Peluitnya terdengar tipis di antara suara ban yang membelah genangan kecil.
Motor masuk. Tangan naik. Geser kiri. Berhenti. Karcis. Lanjut ke motor berikutnya.
Badannya tidak besar. Kaos oranyenya lusuh, sedikit gelap karena gerimis. Topinya sudah kehilangan bentuk asli. Tapi ia tidak terlihat kalah. Ada sesuatu dalam caranya berdiri di antara motor-motor itu. Tenang. Terlatih. Tidak meminta kasihan dari siapa pun.
Seperti orang yang sudah lama tahu bahwa dunia tidak selalu memberi panggung, jadi ia belajar tetap utuh di tempat sempit.
Mungkin hari itu aku sedang butuh melihat seseorang yang tidak sedang menang, tapi juga tidak tampak hancur.
Teh hangatku datang.
Ibu warung meletakkannya tanpa banyak kata. "Gulanya dikurangi, Mas. Yang tadi kayaknya kemanisan," katanya.
Aku menatap gelas itu sebentar. "Iya, Bu. Makasih."
Ia sudah kembali ke wajan sebelum kalimatku selesai.
Perhatian sering datang seperti itu. Tidak minta dilihat. Tidak memakai kalimat panjang. Hanya menaruh sesuatu yang hangat di depanmu, lalu pergi, seakan-akan dunia memang seharusnya sedikit lebih mudah untuk ditelan.
Di timeline tadi, ada satu unggahan yang paling lama kutatap.
Rizal. Teman lama dari panti. Ia baru diterima magang di kantor pusat sebuah perusahaan BUMN. Fotonya di depan gedung tinggi, memakai kemeja putih yang disetrika rapi.
Aku ingat Rizal waktu umur dua belas.
Ia satu-satunya anak di kamar asrama yang tidak takut gelap. Karena itu, setiap malam ia yang mematikan lampu.
Caranya selalu sama. Dari ujung kamar ia lari kecil ke saklar dekat pintu, tekan, lalu lompat ke kasur dengan satu gerakan cepat supaya kakinya tidak terlalu lama menyentuh lantai setelah gelap.
Kami semua tertawa. Rizal marah-marah. Tapi malam berikutnya, ia tetap yang mematikan lampu.
Sekarang Rizal berdiri di depan gedung besar. Namanya masuk ke kolom perusahaan yang membuat orang-orang di komentar menulis, "keren banget bro", "proud of you", "panutan".
Aku ikut bangga.
Sungguh.
Tapi ada bagian kecil di dalam dadaku yang diam-diam bertanya:
kalau suatu hari aku juga berhasil, siapa yang akan merasa pulang paling dulu karena mendengarnya?
Di panti, kami pernah punya rutinitas setiap malam Jumat.
Pak Hendra, pengurus asrama, mengumpulkan anak-anak yang sudah cukup besar di ruang tengah. Kami duduk melingkar di tikar plastik yang pinggirnya sudah retak. Lalu ia bertanya satu per satu:
"Kamu mau jadi apa?"
Aku tidak pernah punya jawaban yang sama dua minggu berturut-turut. Astronot. Supir truk. Guru. Chef. Pernah juga aku bilang mau buka bengkel, padahal waktu itu aku bahkan tidak tahu beda kunci pas dan kunci inggris.
Pak Hendra tidak pernah menertawakan. Ia hanya mencatat semuanya di buku kecil yang sampulnya sobek di sudut kanan bawah.
Dulu aku pikir itu kegiatan yang tidak ada gunanya. Sekarang aku mulai mengerti.
Mungkin ia bukan sedang mencatat cita-cita kami. Mungkin ia sedang mengajari kami bahwa hidup kami layak ditanya arahnya, meskipun tidak ada orang tua yang datang setiap pembagian rapor dan bilang, "anak saya pasti bisa."
Karena banyak yang hilang sejak kecil, jadi banyak juga yang harus di cari saat dewasa.
Termasuk rasa percaya bahwa hidup sendiri masih layak diperjuangkan, bahkan ketika tidak ada yang berdiri di barisan depan untuk bertepuk tangan.
HP tukang parkir di seberang jalan berdering.
Ia mengangkatnya sambil tetap mengarahkan motor masuk. Lalu wajahnya berubah.
Bukan senyum kerja. Bukan senyum yang biasa dipakai orang supaya terlihat ramah.
Senyumnya tiba-tiba kecil, malu-malu, dan hangat.
"Iya, bentar ya," katanya pelan. Ia sedikit memunggungi jalan.
Aku tidak tahu siapa yang menelepon. Anaknya mungkin. Istrinya. Ibunya. Atau seseorang yang tahu nama aslinya, bukan hanya "Pak, parkir ya".
Setelah panggilan itu selesai, ia kembali meniup peluit. Motor berikutnya masuk. Tangan naik. Karcis diberikan.
Tidak ada yang berubah dari luar. Tapi aku sudah melihatnya.
Di balik kaos lusuh dan topi yang kehilangan bentuk, ada seseorang yang menjadi penting bagi hidup orang lain.
Dan mungkin itu cukup untuk membuat seseorang tetap berdiri tegak di hari-hari yang terlihat biasa.
Di trotoar yang mengilap karena gerimis, seorang ibu menggandeng anak laki-laki kecil. Langkah anak itu pendek, jadi ibunya memperlambat jalan tanpa terlihat sadar sedang memperlambat.
Mereka berhenti di depan toko alat tulis. Anak itu menunjuk sesuatu di keranjang plastik depan pintu.
Aku tidak bisa melihat apa yang ia tunjuk. Mungkin mobil-mobilan murah. Mungkin pensil warna. Mungkin benda remeh yang akan hilang dalam dua hari.
Tapi ibunya menoleh dengan sungguh-sungguh, seolah apa pun yang menarik bagi anaknya layak ikut masuk ke dunianya.
Ada cara menoleh yang bisa membuat seorang anak merasa dunia kecilnya tidak memalukan.
Aku tidak ingat pernah ada orang yang menoleh seperti itu ke arah yang kutunjuk. Mungkin pernah. Mungkin terlalu awal untuk kuingat. Mungkin tidak.
Dan setelah dewasa, kita sering mengira luka terbesar adalah tidak punya apa-apa.
Padahal kadang yang paling membekas adalah tidak tahu apakah dulu kita pernah ditunggu pulang dengan cara yang sungguh-sungguh.
Seorang waria datang dari arah minimarket, membawa speaker kecil yang suaranya sedikit pecah.
Ia menyanyi lagu lama yang aku tahu, tapi tidak ingat judulnya. Suaranya tidak sempurna. Kadang terlalu tinggi, kadang kalah oleh bunyi motor yang lewat. Rambut palsunya agak miring terkena angin, dan lipstiknya sudah pudar di bagian tengah bibir. Gerimis membuat bahu bajunya berbintik gelap.
Beberapa orang pura-pura tidak melihat.
Satu pengendara memberi uang receh tanpa menatap wajahnya.
Ia tetap mengucapkan terima kasih.
Lalu ia berhenti sebentar di depan warung, tersenyum ke ibu pemilik warung.
"Bu, teh hangat satu ya. Nanti saya bayar kalau sudah muter lagi."
"Ambil saja dulu," kata ibu warung.
Waria itu tertawa kecil. Bukan tawa panggung. Bukan tawa yang dipakai untuk bertahan dari tatapan orang. Tawa yang sebentar saja terdengar seperti anak kecil yang diberi izin minum setelah terlalu lama haus.
Aku menatapnya dan tiba-tiba berpikir, dulu dia juga jagoan ibunya.
Sebelum dunia belajar menertawakannya. Sebelum orang-orang merasa berhak menilainya dari seberang jalan. Sebelum ia harus menyanyi dengan speaker kecil di malam Dago yang dingin agar hari itu tetap bisa dilanjutkan.
Tidak ada manusia yang lahir untuk menjadi bahan cibiran.
Seseorang pernah menimangnya dengan hati-hati, mungkin pernah takut ia demam, mungkin pernah bahagia hanya karena ia bisa tidur nyenyak.
Ibu warung keluar sebentar untuk menggeser tanaman di pot kecil dekat pintu agar tidak terus terkena gerimis.
Tanaman itu tidak besar. Daunnya hijau, beberapa ujungnya kering. Ia mengelap pinggir pot dengan ujung kain, lalu masuk lagi.
Beberapa menit kemudian ia datang membawa semangkuk sup. "Ini sisa tadi," katanya. "Sayang kalau tidak dihabiskan."
Aku tidak pesan. Tapi aku tidak punya alasan untuk menolak.
"Terima kasih, Bu."
"Makan saja. Dari tadi tehnya doang yang diajak ngobrol."
Aku hampir tertawa. Hampir.
Sup itu panas. Rasanya tidak terlalu istimewa. Wortelnya terlalu lembek. Ayamnya sedikit. Daun bawangnya kebanyakan.
Tapi malam itu, ia terasa seperti sesuatu yang benar.
Ada yang perlu air, diberi air. Ada yang kelihatan lapar, diberi sup. Ada yang duduk terlalu lama sendirian, tidak ditanya kenapa, hanya diberi sesuatu yang hangat.
Aku dua puluh tujuh.
Tidak ada orang tua yang menelepon untuk bertanya sudah makan atau belum. Tidak ada adik yang mengirim pesan tidak penting di grup keluarga. Tidak ada rumah yang otomatis mencariku kalau aku terlalu lama tidak pulang.
Ada teman. Ada Rizal, meski sekarang hidupnya terasa jauh. Ada beberapa orang yang bisa kuhubungi kalau aku berani mulai duluan. Itu cukup. Kadang bahkan lebih dari cukup.
Tapi manusia tidak selalu sedih karena tidak punya siapa-siapa.
Kadang ia sedih karena harus selalu menjadi pihak yang mengingatkan dunia bahwa ia ada.
Di luar, bapak parkir masih bekerja. Angkringan di ujung jalan tetap menyala. Dua ojol duduk di antara motor mereka, berbagi gorengan dari plastik yang sama sambil sesekali mengangkat kaki agar tidak kena cipratan. Seorang satpam menunggu minuman sambil menatap jalan dengan wajah kosong yang tidak benar-benar kosong.
Orang-orang biasa. Tidak ada yang masuk headline. Tidak ada yang menjadi bahan unggahan inspiratif.
Tapi satu per satu dari mereka pernah kecil. Pernah ada kepala kecil yang penuh rencana aneh. Pernah ada tangan kecil yang menunjuk sesuatu di toko. Pernah ada nama yang dipanggil dari depan pintu.
Pernah ada seseorang yang menunggu mereka pulang sehat, atau setidaknya berharap mereka tidak terlalu lapar malam itu.
Semua orang dewasa yang tampak biasa saja, dulu pernah menjadi anak kecil yang kepalanya dielus sambil dipercaya akan jadi sesuatu.
Mungkin tidak semua kepercayaan itu sempat diucapkan. Mungkin tidak semua anak sempat mengingatnya.
Tapi dunia tidak pernah benar-benar berisi orang biasa.
Ia hanya berisi orang-orang yang ceritanya tidak sempat kita tanya.
Aku memakan sup itu sampai habis. Pelan-pelan.
HP masih terbalik di meja.
LinkedIn masih ada di dalamnya, bersama semua kabar baik orang lain yang kadang membuatku merasa kecil tanpa mereka bermaksud begitu.
Aku mengambil HP itu. Membuka unggahan Rizal lagi. Melihat fotonya. Melihat gedung besar di belakangnya. Melihat senyum anak yang dulu mematikan lampu asrama sambil pura-pura tidak takut gelap.
Lalu aku menulis komentar pendek.
Bangga sama kamu, Zal.
Kukirim sebelum sempat kuhapus.
Setelah itu aku menaruh HP kembali.
Kali ini layarnya menghadap atas.
Di seberang jalan, bapak parkir meniup peluit. Pendek. Sekali. Satu motor masuk ke tempat yang benar.
Ibu warung mengangkat wajan. Anak kecil di depan toko alat tulis akhirnya berjalan lagi sambil membawa sesuatu dalam kantong plastik kecil yang dilindungi ibunya dari gerimis.
Bandung terus bergerak pelan, basah, dan dingin, tanpa tahu ada satu orang di warung kecil daerah Dago yang baru saja sedikit memaafkan hidupnya sendiri.
Keinginanku sederhana.
Aku ingin berhenti menganggap hidupku gagal hanya karena tidak ada yang berdiri di barisan depan untuk bertepuk tangan.
Aku ingin percaya bahwa aku juga pernah menjadi jagoan seseorang, meskipun ingatannya tidak lengkap, meskipun orangnya tidak ada, meskipun sekarang aku harus belajar menepuk bahuku sendiri.
Sebab tidak semua orang tumbuh menjadi sesuatu yang mudah dipamerkan.
Tapi semua orang tetap layak pulang dengan kepala tegak.
Termasuk tukang parkir dengan topi lusuhnya. Termasuk Rizal dengan kemeja putihnya. Termasuk aku, yang malam itu duduk di warung kecil di Dago, menghabiskan sup sisa, dan pelan-pelan belajar bahwa hidup yang tidak ramai dirayakan bukan berarti tidak berharga.