99 Keinginan #55kereta terakhir ke kota asing

99 Keinginan #55

Ada jenis lelah yang tidak bisa dibawa pulang, karena rumah pun tidak selalu tahu harus menaruhnya di mana. Malam itu, aku hanya ingin menangis di kota yang tidak mengenalku.

Ada jenis lelah yang tidak bisa dibawa pulang, karena rumah pun tidak selalu tahu harus menaruhnya di mana.

Malam itu, aku membeli tiket kereta paling akhir.

Bukan ke kota yang pernah kurencanakan.

Bukan ke tempat yang ada di daftar liburan.

Hanya ke kota kecil di ujung jalur, tempat yang namanya sering kulewati di papan keberangkatan, tapi tidak pernah benar-benar kupikirkan.

Aku tidak sedang mencari bahagia.

Aku hanya ingin sedih di tempat yang tidak mengenalku.


Hujan mulai turun saat kereta bergerak meninggalkan peron.

Kaca jendela langsung dipenuhi titik-titik air. Lampu stasiun memanjang di permukaannya, pecah menjadi garis kuning yang goyah setiap kali kereta berbelok.

Di kursi seberang, seorang bapak tertidur dengan tas kain di pangkuan. Di sebelah pintu, dua anak sekolah berbagi earphone dan tertawa pelan pada sesuatu di layar ponsel mereka. Seorang perempuan muda memegang buket bunga yang mulai basah di bagian kertasnya.

Aku duduk dekat jendela.

Jaketku masih lembap.

Kaus kakiku dingin.

Di dalam tas, ada satu baju ganti, satu buku yang belum pernah selesai kubaca, dan charger ponsel yang kabelnya sudah hampir putus.

Tidak ada rencana.

Tidak ada orang yang kutunggu.

Tidak ada orang yang tahu aku pergi.

Kadang seseorang tidak pergi karena berani.

Kadang ia pergi karena kalau diam sedikit lagi, ia takut akan pecah di tempat yang salah.


Sepanjang perjalanan, aku tidak menyalakan musik.

Aku hanya melihat kota pelan-pelan berkurang.

Ruko tutup.

Lampu bengkel.

Warung tenda yang masih bertahan di bawah plastik biru.

Gang kecil yang gelap.

Sawah yang sesekali muncul sebagai bidang hitam luas, lalu hilang lagi ditelan malam.

Hujan membuat semuanya tampak seperti baru saja ditinggalkan seseorang.

Indah, tapi tidak minta dipuji.

Sedih, tapi tidak meminta diselamatkan.

Aku suka hal-hal seperti itu.

Hal-hal yang tetap ada tanpa memaksa siapa pun memahami kesepiannya.


Kereta tiba hampir tengah malam.

Stasiun terakhir lebih kecil dari bayanganku.

Hanya dua peron, satu ruang tunggu, dan papan nama kota yang cat putihnya mulai kusam. Angin dingin masuk dari sela-sela atap. Hujan turun miring, seperti ada yang meniupnya dari laut atau dari tempat lain yang lebih jauh.

Orang-orang turun dengan tujuan yang jelas.

Ada yang dijemput.

Ada yang langsung memesan ojek.

Ada yang berjalan cepat sambil menutup kepala dengan tas.

Aku justru berdiri lama di bawah papan jadwal yang sudah tidak menampilkan keberangkatan apa pun.

Semua orang punya arah.

Aku hanya punya badan yang terlalu lelah untuk pura-pura tidak apa-apa.

Di depan stasiun, seorang penjual minuman masih membuka termos kecilnya.

"Teh panas, Mas?" tanyanya.

Aku mengangguk.

Ia menuang teh ke gelas plastik bening. Uapnya naik cepat, lalu hilang ketika bertemu udara dingin.

"Dari jauh?"

"Lumayan."

"Ada yang dituju?"

Aku memegang gelas itu dengan dua tangan.

"Belum tahu."

Penjual itu tidak bertanya lagi.

Mungkin ada orang-orang yang sudah terlalu sering melihat penumpang datang tanpa alasan. Mungkin ia paham bahwa tidak semua yang turun di stasiun sedang pulang. Sebagian hanya sedang mencari tempat untuk tidak ditanya.


Aku berjalan ke arah yang paling terang.

Trotoar basah.

Daun-daun kecil menempel di pinggir jalan.

Toko kelontong sudah tutup, tapi lampu terasnya masih menyala. Di depan sebuah penginapan murah, seekor kucing tidur melingkar di atas keset, tidak peduli pada dunia yang sedang kehujanan.

Aku menyewa kamar paling murah.

Resepsionisnya menguap saat menyerahkan kunci.

"Air panas kadang hidup kadang tidak," katanya.

"Tidak apa-apa."

"TV-nya agak semut."

"Tidak apa-apa."

"Kalau handuknya kurang kering, bilang saja."

Untuk alasan yang tidak jelas, kalimat itu hampir membuatku menangis.

Bukan karena handuk.

Bukan karena kamar.

Mungkin karena malam itu, perhatian sekecil apa pun terdengar seperti sesuatu yang sudah lama tidak kuterima dengan benar.


Kamarnya sempit.

Seprei putihnya tidak benar-benar putih.

Ada meja kecil, cermin bulat, kipas angin mati, dan jendela yang menghadap jalan belakang. Dari luar, suara hujan menabrak seng terdengar lebih keras daripada di stasiun.

Aku meletakkan tas.

Melepas jaket.

Duduk di tepi kasur.

Ponselku menyala.

Beberapa pesan masuk.

Tidak ada yang penting.

Atau mungkin semuanya pernah penting, hanya saja tubuhku sudah terlalu jauh dari tempat perasaan itu dimulai.

Aku membuka galeri.

Ada foto-foto yang tidak kuhapus.

Makanan yang pernah dipesan berdua.

Tiket film.

Tangan seseorang di meja kafe.

Langit sore dari balkon yang dulu kupikir akan sering kulihat bersama orang yang sama.

Aku menatap satu foto lebih lama dari yang seharusnya.

Lalu layar ponsel kumatikan.

Tidak semua kenangan harus dibuang malam itu juga.

Sebagian cukup diletakkan lebih jauh dari dada.


Aku keluar lagi sebelum tidur.

Tidak tahu mau ke mana.

Hujan sudah mengecil menjadi gerimis yang rapat. Kota itu hampir kosong. Lampu jalan membuat aspal tampak licin dan hitam. Dari kejauhan terdengar suara kereta barang lewat, panjang dan rendah, seperti sesuatu yang berat sedang menyeret dirinya sendiri melewati malam.

Di ujung jalan, aku menemukan jembatan kecil.

Di bawahnya, sungai mengalir gelap.

Tidak besar.

Tidak indah dengan cara yang biasa orang foto.

Tapi ada lampu rumah yang memantul di airnya, pecah setiap kali gerimis jatuh. Ada suara kodok dari rerumputan. Ada bau tanah basah, bau kayu tua, bau malam yang pelan.

Aku berdiri di sana cukup lama.

Tangan di saku jaket.

Napas terlihat samar ketika keluar dari mulut.

Dingin membuat tubuhku lebih jujur.

Tidak ada siapa-siapa yang perlu diyakinkan.

Tidak ada wajah yang harus kutenangkan.

Tidak ada kalimat "aku baik-baik saja" yang harus keluar hanya supaya orang lain tidak repot.

Malam itu aku akhirnya menangis.

Pelan saja.

Tidak dramatis.

Tidak sampai lutut lemas.

Hanya air mata yang keluar karena mungkin sejak tadi memang sudah menunggu tempat yang tepat.

Ada kesedihan yang tidak ingin diselesaikan.

Ia hanya ingin ditemani sampai reda sendiri.


Setelah beberapa menit, seorang bapak tua lewat membawa payung hitam.

Ia berhenti sebentar.

"Kedinginan, Mas?"

Aku cepat-cepat mengusap wajah.

"Sedikit."

Ia menunjuk warung kecil di ujung jalan yang masih menyala.

"Di sana ada mie rebus. Kalau perut hangat, malam biasanya tidak terlalu galak."

Aku tertawa kecil.

Kalimatnya aneh.

Tapi benar.

Aku berjalan ke warung itu.

Warungnya kecil, hanya ada dua meja plastik dan televisi tua yang menayangkan acara musik tanpa suara. Ibu pemilik warung sedang mengiris cabai. Bau bawang goreng naik dari panci.

"Mie rebus satu," kataku.

"Pakai telur?"

Aku hampir menjawab tidak, lalu entah kenapa mengangguk.

"Pakai."

Malam itu, mie rebus dengan telur terasa seperti keputusan baik pertama yang kubuat dalam beberapa hari.

Aku makan pelan-pelan.

Kuahnya panas.

Cabainya terlalu banyak.

Hidungku meler.

Aku menunduk, mengambil tisu, lalu tertawa sendiri karena ternyata bahkan kesedihan pun bisa kalah sebentar oleh mie rebus yang terlalu pedas.


Ketika kembali ke penginapan, hujan sudah berhenti.

Kota itu masih dingin, tapi tidak lagi terasa asing dengan cara yang menyakitkan.

Di depan pintu, kucing yang tadi tidur di keset membuka mata sebentar, melihatku seperti penjaga malam yang kecewa karena tamunya baru pulang.

"Iya, maaf," kataku pelan.

Kucing itu menutup mata lagi.

Aku masuk kamar.

Menggantung jaket di kursi.

Mencuci muka.

Menatap diri sendiri di cermin bulat yang sedikit buram.

Wajahku terlihat lelah.

Tapi tidak hancur.

Dan entah kenapa, malam itu perbedaan kecil itu cukup penting.


Aku naik ke kasur.

Sepreinya dingin.

Dari luar jendela, sisa air menetes dari talang.

Tik.

Jeda.

Tik.

Jeda.

Tidak teratur, tapi menenangkan.

Aku memikirkan rumah.

Memikirkan orang-orang yang mungkin sedang tidur tanpa tahu aku ada di kota kecil ini.

Memikirkan betapa anehnya hidup: seseorang bisa merasa paling sendirian justru setelah terlalu lama berusaha terlihat baik-baik saja di depan banyak orang.

Keinginanku sederhana.

Aku ingin punya satu tempat untuk merasa sedih tanpa harus menjelaskan apa yang hilang.

Satu kota kecil.

Satu kamar murah.

Satu malam hujan.

Satu mangkuk mie rebus yang terlalu pedas.

Dan tidak ada siapa pun yang memintaku segera sembuh.

Karena mungkin beberapa luka tidak perlu langsung diberi nasihat.

Kadang ia hanya perlu diberi selimut, udara dingin, dan waktu yang cukup untuk pelan-pelan berhenti menggigil.