Ibu pernah menunggu film India baru setiap bulan selama tiga tahun.
Aku tahu ini baru kemarin.
Bukan karena ibu menyembunyikannya.
Aku saja yang terlalu lama mengira masa lalu ibu dimulai tepat di hari aku lahir.
Kemarin, aku sedang mencari gunting di kamar ibu ketika menemukan foto di laci kedua dari atas.
Perempuan dalam foto itu sedang tertawa ke arah yang tidak ada di dalam bingkai. Rambutnya panjang, tergerai ke satu sisi. Kulitnya lebih gelap dari yang kuingat. Ia memakai baju batik bermotif kawung yang terlalu besar untuk badannya, dan di latar belakangnya ada tembok putih yang catnya sudah mengelupas di sudut kiri atas.
Aku tahu itu ibu.
Tapi aku berdiri cukup lama di depan laci itu karena perempuan yang tertawa ke arah yang tidak ada itu tidak terasa seperti orang yang kukenal.
Waktu aku kecil, foto itu sudah ada di laci yang sama.
Aku pernah mengambilnya diam-diam suatu siang dan bertanya kepada ibu, "Ini siapa?"
Ibu menjawab tanpa menoleh dari pekerjaannya melipat kain, "Ibu waktu muda."
Aku mengembalikan foto itu.
Jawaban itu cukup untuk anak delapan tahun. Waktu muda berarti sebelum ada aku, dan sebelum ada aku tidak terlalu menarik untuk dipikirkan panjang-panjang karena aku sudah ada sekarang dan ada hal yang lebih penting, seperti acara kartun yang mulai sepuluh menit lagi.
Sekarang aku dua puluh delapan.
Dan perempuan dalam foto itu kira-kira dua puluh dua.
Aku berdiri di depan laci itu dengan gunting yang sudah kutemukan tapi belum kututup lacinya, dan aku menghitung. Dua puluh dua. Tahun itu ibu belum menikah. Belum pernah melahirkan. Belum pernah mengurus anak sakit tengah malam, atau menjahit seragam yang robek jam enam pagi, atau menunggu di depan sekolah dalam hujan karena aku lupa membawa payung lagi.
Perempuan di foto itu sedang tertawa karena sesuatu yang lucu.
Aku tidak tahu apa yang lucu hari itu. Aku tidak tahu siapa yang berdiri di luar bingkai. Tidak tahu nama panggilannya waktu itu, apakah teman-temannya memanggilnya berbeda, tidak tahu lagu apa yang ia senandungkan pelan-pelan kalau sedang bosan, tidak tahu apa yang ia bayangkan tentang hidupnya di usia itu ketika semuanya masih bisa jadi apa saja.
Aku menutup laci.
Gunting itu kubawa ke dapur tanpa tahu lagi mau dipakai untuk apa.
Setiap pagi, sebelum aku bangun, ibu sudah menyiapkan teh di meja makan.
Sudah tahu aku tidak akan sempat membuatnya sendiri. Sudah tahu berapa sendok gula yang pas, bahwa aku tidak suka tehnya terlalu pekat, bahwa aku akan minum dua teguk lalu lupa sisanya dan meminumnya lagi ketika sudah dingin.
Dua puluh delapan tahun, dan ia hafal semua detail kecil ini tentangku.
Selama ini aku hafal apa yang ibu butuhkan.
Aku tidak pernah terpikir untuk bertanya apa yang ia inginkan.
Mungkin karena sejak kecil aku terbiasa melihat ibu sebagai orang yang selalu sudah ada.
Ada di dapur. Ada di ruang tengah. Ada di depan pintu saat aku pulang. Ada di belakang semua hal yang berjalan rapi di rumah.
Aku lupa bahwa sebelum menjadi seseorang yang selalu ada untuk kami, ia juga pernah menjadi seseorang yang pergi ke bioskop, menunggu tanggal gajian, tertawa di kosan sempit, dan mungkin menyimpan ingin yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan siapa pun.
Anak sering tumbuh dengan keyakinan aneh: ibu tidak punya masa lalu, hanya tugas.
Sore itu ibu sedang menonton sinetron di ruang tengah.
Volumenya terlalu keras, seperti biasa. Musik latarnya terlalu yakin tentang kesedihan yang sedang terjadi di layar. Ibu tidak menoleh ketika aku masuk, tapi tangannya bergerak sedikit ke arah remote, volume turun dua strip. Cara yang sudah bertahun-tahun berarti aku tahu kamu mau duduk di sini.
Aku duduk.
Di layar, seseorang baru saja ketahuan berbohong tentang sesuatu yang besar. Ibu mendecak kecil.
Kami duduk seperti itu cukup lama. Iklan datang, kami masing-masing melamun ke tempat yang berbeda, iklan pergi, sinetron kembali. Ibu mengambil gelas tehnya yang sudah hampir dingin dan meminumnya tanpa berkomentar tentang suhunya.
"Bu," kataku.
"Hm."
"Waktu ibu umur dua puluh dua, ibu senang apa?"
Ibu menoleh.
Pertanyaan itu keluar lebih langsung dari yang kurencanakan, karena sebenarnya aku tidak merencanakan apa-apa. Aku hanya duduk di sini dan mendadak tidak tahan lagi dengan jarak antara perempuan di foto itu dan perempuan yang sedang memegang gelas teh di sebelahku.
"Senang apa maksudnya?" kata ibu.
"Senang apa. Suka ngapain. Nunggu apa tiap minggu."
Ibu diam. Tangannya merapikan tepi bantal yang sudah rapi.
"Dulu suka nonton film," kata ibu akhirnya. Pelan, seperti mengambil sesuatu dari tempat yang tidak sering dibuka. "Di bioskop. Tiap bulan hampir selalu pergi."
"Film apa?"
"Macam-macam. Yang lagi rame." Ibu berhenti. "Suka film India. Waktu masih banyak yang diputar."
"Sama siapa biasanya?"
"Teman-teman kantor waktu itu, sebelum nikah. Ada satu namanya Wati. Paling rajin ngajak keluar." Ibu tersenyum kecil, ke arah yang tidak ada di ruangan ini. "Kalau tidak ada Wati, ibu lebih banyak di kosan saja."
"Ibu dulu tinggal di kosan?"
Ibu menoleh, sedikit heran. "Ibu tidak pernah cerita?"
Tidak pernah.
Aku tahu versi yang sudah jadi. Tidak pernah kepikiran untuk bertanya tentang versi yang sedang dalam proses.
"Kosannya seperti apa?" tanyaku.
"Sempit." Ibu mulai bicara, bukan dengan cara yang berhati-hati, tapi seperti orang yang ingat sesuatu dan ingatan itu ternyata masih ada di tempat yang sama. "Kamar mandinya satu, rebutan sama empat orang. Kalau pagi harus antri. Wati itu yang paling lama di kamar mandi dan paling tidak merasa bersalah tentangnya."
Aku tertawa.
Ibu ikut tertawa, sedikit.
Tawanya tidak penuh, tapi cukup untuk membuat ruang tengah terasa seperti bergeser beberapa tahun ke belakang. Seperti sebentar saja aku tidak sedang duduk bersama ibuku, melainkan bersama perempuan yang dulu pernah pulang terlalu malam karena filmnya belum selesai.
"Ada satu film yang kami tonton." Suara ibu berubah sedikit. "Judulnya ibu sudah lupa. Tentang perempuan yang menunggu seseorang yang tidak pernah datang." Ibu minum tehnya. "Ibu nangis dari pertengahan sampai filmnya habis."
"Diketawain Wati?"
"Diketawain. Katanya, nonton film India kok kaget sedih, memangnya tidak tahu dari awal ini pasti sedih." Ibu tertawa kecil. "Tapi Wati juga nangis. Cuma tidak mau ngaku."
Sinetron masih berjalan di layar, tapi ibu tidak lagi memperhatikannya.
"Ibu pernah menyesal tidak?"
Pertanyaan itu juga keluar begitu saja.
Ibu diam sebentar.
"Menyesal itu melelahkan," katanya. "Kalau terlalu banyak yang disesali, tidak ada tenaga buat yang lain."
Malam itu kami bicara lebih lama dari biasanya.
Bukan tentang hal-hal besar. Hanya tentang kosan yang kamar mandinya rebutan, tentang Wati yang pernah masak di kamar meski dilarang dan hampir ketahuan karena bau bawang gorengnya tidak mau pergi, tentang bioskop yang karcisnya masih bisa dibeli di loket tanpa pesan dulu, tentang film India yang menangiskan keduanya tapi hanya satu yang mengakuinya.
Ibu bicara pelan-pelan, dan suaranya berubah sedikit, lebih ringan, seperti orang yang akhirnya diizinkan meletakkan sesuatu yang sudah lama dibawa.
Aku mendengarkan.
Ibu tahu cara kupergi dari suara langkahku saja.
Aku tidak tahu nama teman lamanya yang pernah menertawakannya menangis di bioskop.
Ibu tahu aku tidak suka sayur yang terlalu lembek.
Aku tidak tahu apakah ia dulu pernah punya makanan favorit yang sekarang jarang ia beli karena di rumah tidak ada yang ikut suka.
Sebelum tidur, aku mampir ke kamar ibu dengan alasan mengembalikan gunting.
Kali ini aku membuka lacinya.
Foto itu masih di sana, di bawah fotokopi KTP yang sudah pudar.
Perempuan itu masih tertawa ke arah yang tidak ada di dalam bingkai. Tembok putih yang mengelupas di belakangnya tidak berubah. Batik kawungnya masih terlalu besar.
Tapi sekarang aku punya satu kemungkinan untuk tawa yang tidak ada arahnya itu.
Mungkin Wati yang ada di luar bingkai. Mungkin Wati baru saja mengatakan sesuatu yang tidak sopan tapi lucu seperti biasanya, dan ibu tertawa ke arahnya, ke arah hari itu yang belum selesai dan masih punya banyak yang bisa terjadi.
Aku mengembalikan foto itu ke bawah fotokopi KTP yang sudah pudar.
Menutup laci.
Mematikan lampu yang lupa ibu matikan, lalu berdiri sebentar di depan pintu kamarnya.
Dari dalam, ibu sudah tidur.
Napasnya pelan. Televisi di ruang tengah masih menyala tanpa suara, menampilkan wajah seseorang yang sedang menangis terlalu indah untuk masalah yang terlalu rumit.
Aku hampir tertawa.
Mungkin ibu dulu juga akan menertawakan adegan itu, atau justru menangis duluan lalu pura-pura sedang mengucek mata.
Aku tidak tahu.
Masih banyak yang tidak kutahu.
Keinginanku sederhana.
Aku ingin mengenal ibu sebelum semua orang memanggilnya ibu.
Ingin tahu film apa yang pernah ia tunggu, siapa yang membuatnya tertawa, lagu apa yang ia senandungkan saat berjalan pulang dari kantor, dan bagian mana dari dirinya yang pelan-pelan ia lipat agar hidup kami punya tempat.
Sebab mungkin mencintai ibu tidak cukup dengan tahu obatnya ada di laci mana, atau mengingat ia lebih suka teh hangat daripada kopi.
Kadang mencintai ibu juga berarti bertanya, sebelum terlalu terlambat, perempuan seperti apa ia dulu ketika hidup belum meminta begitu banyak darinya.
Sebelum ia menjadi rumah bagi banyak orang.
Sebelum tidak ada lagi yang bertanya, ia sendiri ingin pulang ke mana.