99 Keinginan #53jemuran saat hujan

99 Keinginan #53

Selama ini hujan tidak pernah terdengar puitis bagiku. Ia cuma berarti jemuran, lantai basah, jendela yang harus ditutup, dan orang-orang yang mendadak ingat namaku dari berbagai arah.

Selama ini hujan tidak pernah terdengar puitis bagiku.

Ia cuma berarti jemuran. Lantai basah. Jendela yang harus ditutup. Sandal yang harus digeser dari teras. Dan orang-orang yang mendadak ingat namaku dari berbagai arah.

"Mbak, hujan."

"Kak, bajuku masih di luar."

"Tolong tutup jendela dapur."

Seolah-olah awan hitam hanya bisa kulihat seorang diri.

Di rumah kami, hujan punya satu kebiasaan buruk: begitu ia turun, semua orang mendadak lupa bahwa jemuran juga bisa diangkat oleh tangan selain tanganku.


Aku sudah hafal tanda-tandanya bahkan sebelum rintik pertama jatuh.

Angin yang mulai dingin. Langit yang mendadak muram di atas pohon mangga. Daun-daun yang bergerak dari bawah, bukan dari samping. Aroma tanah yang naik lebih dulu dari halaman belakang.

Tubuhku biasanya akan berdiri sendiri.

Tanpa perlu berpikir. Tanpa perlu diminta.

Aku akan lari ke belakang, menarik satu per satu pakaian dari tali jemuran, memisahkan yang sudah kering dari yang masih lembap, lalu masuk lagi untuk menutup jendela, mengangkat keset, menggeser sandal, dan memastikan tidak ada handuk yang tertinggal di kursi teras.

Hujan, dalam hidupku, bukan cuaca. Hujan adalah daftar pekerjaan tambahan.

Orang-orang di internet mungkin bisa menulis tentang kopi, lagu lama, dan seseorang yang ingin dipeluk ketika hujan turun.

Aku biasanya cuma sempat memikirkan apakah seragam putih bisa kering besok pagi kalau telanjur basah lagi.

Romantis sekali.


Mungkin itu sebabnya aku jarang benar-benar duduk saat di rumah.

Kalau bukan mencuci, aku menyapu. Kalau bukan menyapu, aku mengecek beras. Kalau beras aman, pasti ada galon hampir habis, piring belum dicuci, atau adikku yang baru sadar tugas sekolahnya harus dikumpulkan malam itu juga.

Tidak ada yang menyuruhku dengan kejam.

Itu justru masalahnya.

Semua terjadi cukup biasa sampai sulit menunjuk kapan tepatnya aku mulai merasa rumah akan berantakan kalau aku berhenti bergerak terlalu lama.

Ibu sering bilang, "Kamu ini dari dulu paling sigap."

Tetangga pernah memujiku, "Enak ya punya anak perempuan yang tahu kerjaan rumah."

Adikku kalau mencari sesuatu hampir selalu berteriak, "Kak, di mana?"

Lama-lama aku tumbuh menjadi semacam mesin pencari keluarga, hanya saja tanpa logo warna-warni dan tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.


Sore itu rumah sedang kosong.

Ibu pergi ke pengajian. Adikku belum pulang. Tetangga sebelah juga entah ke mana, karena biasanya suara sinetron dari rumahnya sudah bocor sampai dapur kami.

Untuk pertama kalinya setelah lama, rumah terdengar seperti rumah yang sedang bernapas sendiri.

Aku baru selesai melipat pakaian ketika langit mulai gelap.

Di halaman belakang, jemuran masih penuh. Ada daster ibu. Kemeja sekolah adikku. Dua kausku. Beberapa handuk. Dan celana hitam yang entah kenapa selalu butuh waktu dua hari untuk benar-benar kering, seperti punya komitmen pribadi untuk menguji kesabaran.

Aku melihat semuanya dari pintu dapur.

Biasanya, pada titik itu, tubuhku sudah akan bergerak.

Tapi sore itu aku duduk dulu.

Hanya duduk.

Di kursi plastik dekat meja makan, dengan teh yang baru kubuat dan belum sempat diminum.

Satu tetes jatuh di lengan kemeja putih adikku.

Lalu satu lagi.

Lalu hujan turun pelan-pelan, seperti seseorang yang awalnya mengetuk sopan sebelum akhirnya masuk tanpa menunggu dipersilakan.

Aku masih duduk.

Jantungku justru berdebar seperti sedang melakukan kejahatan kecil.

Mungkin karena memang begitu rasanya bagi perempuan yang terlalu lama diajari bahwa istirahat harus punya alasan.


Lima menit pertama, aku belum menikmati apa-apa.

Aku cuma menatap jemuran yang mulai basah sambil menghitung akibatnya.

Seragam adikku harus dicuci ulang. Handuk akan lebih lama kering. Besok mungkin aku harus menjemur lebih pagi.

Kepalaku langsung membuat rapat darurat, lengkap dengan notulen yang tidak ada gunanya.

Lalu, dari atap, air mulai turun lebih deras ke talang.

Daun mangga bergerak pelan. Bau tanah basah naik dari halaman. Angin membawa sedikit dingin ke ruang makan.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku benar-benar mendengar hujan.

Bukan sebagai alarm. Bukan sebagai musuh jemuran. Bukan sebagai tanda bahwa aku harus segera bangkit.

Hanya hujan.

Ia jatuh di seng. Membasahi daun. Menggelapkan lantai teras. Membuat dunia di luar pagar tampak sedikit lebih pelan.

Tehku sudah tidak sepanas tadi. Tapi masih enak diminum.

Aku mengambil satu teguk.

Rasanya aneh.

Ternyata duduk diam tidak langsung membuat rumah runtuh.

Penemuan yang cukup revolusioner untuk ukuran seseorang yang selama ini mengira beberapa baju basah adalah awal keruntuhan peradaban.


Ketika ibu pulang, hujan tinggal gerimis.

Ia masuk dari pintu depan sambil menepuk-nepuk ujung kerudungnya yang basah.

"Jemuran?"

"Kehujanan," jawabku.

Ibu menoleh ke belakang, lalu padaku.

"Kamu tidak sempat angkat?"

Pertanyaan itu biasa saja. Nada suaranya juga tidak marah.

Tapi entah kenapa, biasanya aku akan langsung memberi penjelasan panjang seperti terdakwa.

Tadi aku lagi di kamar. Tadi belum kelihatan mau hujan. Tadi kupikir cuma gerimis.

Sore itu, aku hanya mengangkat bahu kecil.

"Tidak kuangkat."

Ibu diam sebentar.

Aku menunggu sesuatu yang besar. Ceramah. Keluhan. Mungkin langit runtuh untuk membuktikan bahwa semua kecemasanku selama ini memang diperlukan.

Tapi ibu hanya berkata, "Ya sudah. Besok dijemur lagi."

Lalu masuk ke kamar.

Begitu saja.

Aku hampir ingin tertawa.

Ternyata selama ini aku bukan sedang menjaga dunia tetap berjalan. Aku hanya terlalu sering mengambil alih hal-hal yang sebenarnya masih bisa menunggu sampai besok.


Malamnya, adikku sempat mengeluh karena kemejanya basah lagi.

"Besok pakai yang satu lagi," kataku.

"Yang itu belum disetrika."

"Setrikanya ada di lemari. Kamu sudah cukup besar untuk bertemu langsung dengannya."

Ia memandangku seperti baru sadar kakaknya bisa berbicara dengan pilihan lain selain, "sini, biar kakak."

Lalu ia menggerutu kecil, mengambil setrika, dan entah bagaimana berhasil tidak membakar rumah.

Prestasi keluarga yang patut dicatat.

Aku duduk di meja makan sambil menghabiskan sisa teh.

Di luar, air masih menetes dari ujung atap. Pakaian di belakang rumah tentu belum kering. Besok pagi tetap akan ada yang harus dikerjakan.

Hidup tidak mendadak berubah hanya karena aku membiarkan jemuran kehujanan sekali.

Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang terasa sedikit bergeser.

Kecil. Hampir tidak terdengar.

Seperti pintu yang selama ini selalu kutahan dengan bahu, akhirnya kubiarkan terbuka sedikit agar angin bisa masuk.


Aku tidak ingin menjadi orang yang berhenti peduli.

Aku masih akan mengangkat jemuran lain kali kalau sempat. Masih akan menutup jendela kalau hujan turun. Masih akan membantu rumah ini tetap layak ditinggali.

Tapi aku juga tidak ingin terus hidup seolah semua hal harus selamat lebih dulu daripada diriku.

Beberapa perempuan tidak pernah benar-benar duduk saat hujan. Mereka hanya berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain sambil orang lain menyebut cuaca itu romantis.

Hari itu aku membiarkan beberapa pakaian basah lagi, dan rumah ternyata tidak roboh.

Yang hampir roboh justru aku, kalau terus percaya bahwa istirahat harus menunggu semua orang selesai membutuhkan sesuatu.

Keinginanku sederhana.

Aku ingin suatu hari bisa mendengar hujan tanpa langsung berdiri.

Ingin duduk sebentar dengan teh di tangan, membiarkan langit bekerja dengan caranya sendiri, dan percaya bahwa dunia tidak akan hancur hanya karena untuk sekali itu aku memilih tinggal di tempatku.