99 Keinginan #52perpustakaan saat hujan

99 Keinginan #52

Aku datang ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang telat dua puluh tujuh hari. Secara teknis, bukunya yang telat pulang. Aku cuma pengantar yang gagal bertanggung jawab.

Aku datang ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang telat dua puluh tujuh hari.

Secara teknis, bukunya yang telat pulang. Aku cuma pengantar yang gagal bertanggung jawab.

Sayangnya, petugas perpustakaan tidak tertarik pada sudut pandang itu.

Ibu itu duduk di balik meja sirkulasi dengan kacamata turun sedikit di hidungnya. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sebentar lagi akan menghakimi dosa literasiku.

Ia memindai kartu anggota, menatap layar, lalu menatapku.

"Telat dua puluh tujuh hari."

Aku mengangguk dengan wajah orang yang siap menerima hukuman sosial.

"Kalau dibulatkan jadi sebulan, terdengar lebih niat ya, Bu."

Ibu itu diam.

Aku langsung menunduk.

"Maaf. Saya bayar."

Di luar, hujan turun seperti kota baru saja dimarahi langit. Jaketku basah di bahu. Sepatuku mengeluarkan bunyi cit-cit kecil setiap kali bergeser di lantai.

Tidak ada yang lebih merendahkan harga diri laki-laki dewasa selain denda perpustakaan dan sepatu yang berbunyi seperti mainan bayi.


Buku itu bukan buku penting bagi siapa pun.

Sampulnya hijau tua, warnanya pudar di tepi. Judulnya mulai retak. Punggungnya terlipat seperti tulang yang pernah salah posisi tapi tetap dipakai berjalan.

Aku meminjamnya hampir sebulan lalu karena sedang hujan-hujanan, masuk perpustakaan untuk berteduh, lalu merasa tidak enak kalau hanya numpang kering seperti pakaian di jemuran orang.

Jadi aku meminjam buku.

Keputusan yang terdengar dewasa. Padahal sebenarnya aku panik karena petugasnya melihatku terlalu lama.

Buku itu kubawa pulang, kutaruh di meja, kubaca sedikit, lalu hidup datang seperti biasa.

Pekerjaan. Pesan yang belum dibalas. Tagihan. Janji yang lupa dicatat. Lelah yang tidak punya nama resmi.

Buku itu pindah dari meja ke samping kasur, dari samping kasur ke dalam tas, lalu kembali ke meja.

Kadang kupakai untuk menahan bungkus mi instan agar tidak terbang kena kipas.

Sebuah penggunaan yang mungkin membuat penulisnya bangkit dari makam, kalau ia sudah meninggal. Kalau belum, cukup membuatnya kecewa dari jarak jauh.

Tapi anehnya, aku tidak pernah benar-benar lupa pada buku itu.

Setiap melihat sampul hijaunya, ada perasaan kecil yang duduk di dada.

Bukan rasa bersalah saja.

Lebih seperti ada sesuatu yang belum selesai, tapi aku tidak cukup berani menyebutnya apa.


Setelah membayar denda, aku berniat pulang.

Niat itu gagal dalam waktu tiga detik.

Hujan di luar makin deras. Air mengalir di tangga depan perpustakaan seperti sungai kecil yang baru saja naik jabatan.

Aku berdiri dekat pintu kaca sambil menghitung kemungkinan.

Pulang sekarang dan basah total.

Menunggu sebentar dan tetap basah, tapi dengan martabat yang lebih panjang.

Aku memilih martabat.

Aku masuk lagi ke ruang baca.

Perpustakaan itu tidak besar, tapi punya cara sendiri membuat orang pelan-pelan menurunkan suara. Raknya tinggi. Mejanya kayu tua. Lampunya kuning dan sedikit mengantuk. Udara di dalamnya berbau kertas lembap, debu yang sopan, dan buku-buku lama yang tidak pernah benar-benar pensiun.

Aku bukan tipe orang yang mencium buku lalu berkata, ah, aroma pengetahuan.

Buku tua kadang baunya seperti lemari yang punya masalah masa kecil.

Tapi sore itu, entah kenapa, bau itu membuat dadaku sedikit longgar.

Aku duduk di meja dekat jendela.

Di seberangku, seorang anak SMA tidur di atas buku matematika dengan wajah damai. Di pojok ruangan, seorang bapak membaca koran lama dengan serius, padahal berita di halaman depan sudah berumur tiga bulan. Di meja lain, seorang mahasiswa mengetik skripsi sambil menatap layar seperti menatap mantan yang belum minta maaf.

Aku merasa ditemani. Perpustakaan itu menyenangkan karena semua orang tampak sibuk, padahal sebagian besar mungkin cuma sedang menghindari hidup masing-masing. Bedanya, di sini penghindaran terlihat berpendidikan.


Ponselku tinggal delapan persen.

Tentu saja.

Ponsel memang punya bakat mati tepat ketika manusia mulai membutuhkan validasi digital.

Aku memasukkannya lagi ke tas, lalu melihat buku yang sudah kukembalikan tadi masih ada di meja petugas, belum masuk rak.

Entah karena dorongan apa, aku berdiri dan mendekat.

"Bu," kataku pelan. "Boleh saya baca sebentar lagi?"

Ia melihatku, melihat hujan, lalu melihat buku itu.

"Tadi katanya mau dikembalikan."

"Iya, Bu. Saya orangnya berkembang. Dalam lima menit bisa berubah."

Ia menatapku dengan wajah yang sama sekali tidak terhibur.

"Sambil nunggu hujan reda," tambahku cepat.

Ia mendorong buku itu ke arahku. "Jangan dibawa pulang lagi."

"Saya tersinggung, tapi paham."

Kali ini bibirnya bergerak sedikit. Hampir senyum. Mungkin tidak. Mungkin aku hanya terlalu butuh kemenangan.

Aku membawa buku itu kembali ke meja dekat jendela.


Aku membuka halaman yang dulu kulipat kecil.

Di sana, di sela halaman, ada secarik kertas.

Aku tidak ingat pernah menaruhnya.

Kertas itu robek dari buku catatan bergaris. Tulisannya miring, tapi rapi. Tinta hitamnya sudah sedikit pudar.

Kalau kamu membaca ini saat hujan, semoga kamu tidak sedang pura-pura baik-baik saja.

Aku diam.

Lalu menatap sekitar, seolah penulis kalimat itu mungkin masih duduk di salah satu meja, menyamar sebagai bapak pembaca koran atau mahasiswa skripsi yang hampir menyerah.

Tidak ada yang mencurigakan.

Kecuali anak SMA tadi, karena ia tidur terlalu damai untuk seseorang yang punya masa depan.

Aku membaca kalimat itu lagi.

Kurang ajar.

Bahkan orang asing di kertas bekas bisa sok tahu.

Aku ingin tertawa, tapi yang keluar hanya napas pendek.

Masalahnya, ia tidak sepenuhnya salah.

Aku memang sedang pura-pura baik-baik saja. Tapi tidak dengan cara yang dramatis. Tidak sampai berdiri di tengah hujan sambil menatap langit seperti pemeran utama video musik.

Aku hanya menjalani hari seperti orang lain. Bangun. Mandi. Kerja. Membalas pesan dengan kata aman. Mengirim stiker tertawa saat sebenarnya tidak lucu. Makan karena harus. Tidur karena tubuh sudah menagih.

Tidak ada yang tampak rusak.

Hanya saja, beberapa minggu terakhir hidup terasa seperti buku yang terus kubawa ke mana-mana tapi tidak kunjung kubaca sampai selesai.

Berat. Ada. Tapi tidak kubuka.


Aku membaca lagi dari halaman yang sama.

Di luar, hujan menepuk kaca dengan sabar. Di dalam, perpustakaan mulai lebih sepi.

Anak SMA bangun dengan bekas halaman buku di pipinya, lalu berjalan keluar sambil rambutnya mencuat di satu sisi. Aku ingin memberi tahu bahwa hidup akan tetap sulit, tapi setidaknya gaya rambutnya sudah punya karakter.

Aku tidak jadi. Tidak semua kebaikan perlu disampaikan.

Ibu petugas perpustakaan lewat membawa beberapa buku.

"Masih hujan?" tanyanya.

"Masih, Bu."

"Ya sudah. Baca saja."

"Kalau saya ketiduran di sini bagaimana?"

"Saya bangunkan."

"Kalau saya pura-pura tidak dengar?"

"Saya panggil satpam."

Aku mengangguk. "Sistemnya kuat juga."

Ia berjalan pergi tanpa menjawab. Aku mulai menyukai ibu itu. Jenis manusia yang tidak banyak bicara, tapi sekali bicara langsung mengembalikan kita ke bumi.


Buku itu ternyata tidak buruk.

Atau mungkin aku yang baru membaca dengan benar.

Dulu aku membacanya sambil setengah hidup. Satu mata ke halaman, satu mata ke notifikasi. Satu tangan memegang buku, satu tangan memegang rasa cemas yang tidak perlu tapi tetap rajin muncul.

Sore itu, ponselku hampir mati. Hujan menutup kota. Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak punya alasan yang cukup kuat untuk buru-buru ke mana pun.

Jadi aku membaca.

Pelan-pelan.

Ada kalimat yang biasa saja, tapi tiba-tiba terasa tepat. Ada paragraf yang tidak menyelamatkan apa-apa, tapi membuatku duduk lebih tegak. Ada bagian yang membuatku berhenti dan menatap kaca, melihat pantulan wajahku sendiri di antara garis-garis air.

Wajah yang kelihatan baik-baik saja. Wajah yang kalau ditanya kabar pasti menjawab aman.

Padahal aman kadang hanya kata lain dari belum sempat roboh.

Aku tertawa kecil ketika menyadari itu.

Bagus.

Sekarang aku sedang duduk di perpustakaan saat hujan, menganalisis hidup sendiri, ditemani buku telat dan denda yang baru saja kubayar.

Kalau ini bukan perkembangan karakter, aku tidak tahu apa lagi.


Menjelang magrib, hujan belum berhenti.

Lampu perpustakaan terasa lebih kuning. Rak-rak buku berdiri seperti orang-orang tua yang menjaga rahasia, tapi tidak suka ikut campur.

Aku membuka lagi kertas kecil tadi. Di bagian belakangnya ternyata ada tulisan lain.

Kalau kamu belum siap pulang, duduklah sedikit lagi. Dunia biasanya tetap cerewet, tapi ia bisa menunggu beberapa halaman.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Aku tidak tahu siapa yang menulisnya. Mungkin orang yang dulu sama lelahnya denganku. Mungkin mahasiswa yang menunggu hujan bertahun-tahun lalu. Mungkin seseorang yang terlalu sering diberi nasihat sampai akhirnya memilih menulis untuk orang asing.

Siapa pun dia, aku ingin bilang terima kasih. Tapi karena tidak mungkin, aku mengambil pulpen dari tas dan menulis di bawah kalimat itu dengan tulisan yang jauh lebih buruk.

Terima kasih. Aku tidak sedang baik-baik saja, tapi setidaknya hari ini aku membaca sampai halaman berikutnya.

Aku menatap tulisan itu. Sedikit malu. Tapi ya sudah.

Di perpustakaan, banyak orang pernah menulis hal yang lebih memalukan. Sebagian bahkan diterbitkan.


Saat perpustakaan hampir tutup, hujan akhirnya mengecil.

Ibu petugas menghampiriku.

"Sudah selesai?"

Aku menutup buku pelan. "Belum, Bu."

Ia mengangkat alis.

"Tapi bukunya saya kembalikan. Saya tidak seberani itu untuk telat kedua kali."

"Bagus."

Aku menyerahkan buku itu kepadanya.

Rasanya aneh. Seperti mengembalikan benda kecil yang selama beberapa minggu diam-diam menjadi saksi hidupku yang berantakan, meskipun sebagian besar waktunya ia hanya tergeletak di meja dan menilai pilihan makan malamku.

"Besok boleh pinjam lagi?" tanyaku.

Ibu itu menatapku. "Kalau dikembalikan tepat waktu."

"Berat, tapi akan saya pertimbangkan."

Kali ini aku yakin ia tersenyum. Kecil sekali. Tapi ada.

Aku keluar dari perpustakaan dengan jaket yang masih agak lembap, sepatu yang masih sesekali berbunyi cit-cit, dan dada yang tidak sembuh, tapi sedikit lebih rapi.

Di luar, kota masih basah. Lampu jalan memantul di genangan. Orang-orang kembali berjalan, membuka payung, menyalakan motor, pulang ke hidup masing-masing.

Aku berdiri sebentar di tangga.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak merasa harus segera menjelaskan diriku kepada siapa pun.


Malamnya, di kamar, aku membuka tas.

Tidak ada buku hijau tua itu di sana. Mejaku jadi terlihat lebih kosong. Sedikit lebih lega. Sedikit lebih tidak punya alasan untuk menunda.

Pesan masuk banyak. Pekerjaan tetap ada. Hidup tetap cerewet seperti biasa.

Tapi kali ini, sebelum membalas apa pun, aku membuka catatan di ponsel dan menulis satu kalimat.

Aku ingin menginap di perpustakaan saat hujan.

Bukan karena aku ingin kabur selamanya. Aku masih cukup waras untuk tahu bahwa kasur sendiri lebih enak daripada kursi kayu ruang baca.

Aku hanya ingin sekali saja berada di tempat yang membuat diam tidak terlihat aneh. Tempat di mana manusia boleh tampak berantakan asal memegang buku. Tempat di mana tidak ada yang memaksa kita cepat pulang, cepat kuat, cepat menjawab, cepat selesai.

Keinginanku sederhana.

Aku ingin menginap di perpustakaan saat hujan, membaca buku yang tidak sengaja kutemukan, tertawa pelan pada hidupku sendiri yang sering sok kuat, lalu tertidur di antara rak-rak yang tidak bertanya apa pun.

Sebab kadang manusia tidak butuh diselamatkan dengan cara besar. Kadang ia hanya butuh satu tempat yang cukup sunyi untuk duduk sebentar, satu buku yang telat pulang, dan hujan yang membuat dunia lupa memanggil namanya selama beberapa halaman.