99 Keinginan #51bunga, lagu, tawa

99 Keinginan #51

"Bunga buat siapa?" tanyamu. Aku menjawab sambil tersenyum, "Buat orang yang selalu bilang tidak perlu dibelikan bunga, tapi matanya tinggal paling lama setiap kali lewat toko bunga." Aku ingin hari-hari kita sesederhana itu. Tidak selalu besar, tidak selalu penting, tapi cukup manis untuk diam-diam ingin diulang.

"Bunga buat siapa?" tanyamu.

Aku sedang berdiri di depan toko bunga kecil dekat lampu merah, menunjuk seikat bunga putih dan kuning yang sejak tadi diam-diam kamu lihat dengan wajah yang berusaha terlihat biasa saja.

"Buat orang yang selalu bilang tidak perlu dibelikan bunga," jawabku, "tapi matanya tinggal paling lama setiap kali lewat toko bunga."

Kamu mendengus.

"Berarti bukan buat aku."

"Iya. Buat ibu-ibu di belakangmu."

Kamu menoleh refleks. Tidak ada siapa-siapa.

Aku tertawa duluan. Kamu menyusul setelah sadar dikerjai, lalu memukul lenganku pelan.

Dan mungkin sejak saat itu, sore yang semula tidak punya rencana mulai diam-diam meminta disimpan.


Hari itu sebenarnya biasa saja.

Tidak ada ulang tahun. Tidak ada hari jadi. Tidak ada permintaan maaf yang perlu dibungkus pita.

Kita hanya keluar karena kamu ingin beli minuman dingin dan aku terlalu mudah setuju kalau yang mengajak kamu.

Tapi di tengah jalan, kamu melambat di depan toko bunga.

Sebelum mengenalmu, aku sering heran kenapa orang-orang begitu pandai memberi makna pada bunga. Ia disebut lambang bahagia, tanda sayang, sesuatu yang manis untuk dibawa pulang, padahal kalau dipikir-pikir, ia hanya akan berdiri beberapa hari di dalam air lalu pelan-pelan layu.

Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa yang istimewa dari sekumpulan tangkai yang umurnya lebih pendek daripada satu pekan kerja.

Sampai sore itu, ketika melihat langkahmu melambat hanya karena seikat bunga kecil di balik kaca.

Bukan berhenti penuh. Hanya langkah yang sedikit lebih pendek. Kepala yang sedikit menoleh. Mata yang sebentar tertahan pada seikat bunga kecil berwarna putih dan kuning.

Aku sudah cukup lama mengenalmu untuk tahu bahwa beberapa keinginanmu jarang datang lewat kalimat. Kadang ia cuma muncul dari caramu menahan langkah.

"Yang itu lucu," kataku.

"Yang mana?"

"Yang dari tadi kamu lihat sambil pura-pura tidak lihat."

Kamu mengerutkan hidung.

"Aku cuma lewat."

"Iya. Lewatnya tiga kali."

Penjual bunga itu tersenyum seperti sudah hafal adegan orang jatuh cinta yang sok santai di depan dagangannya.

Aku akhirnya memilih satu ikat kecil. Bukan mawar merah yang terlalu serius. Bukan bunga besar yang seperti datang membawa pidato. Hanya beberapa tangkai mungil dengan warna yang lembut, seolah bunga itu sendiri tidak ingin mengganggu siapa pun.

Baru setelah bunga itu berpindah ke tanganmu, aku mulai curiga mungkin orang-orang tidak sepenuhnya berlebihan. Mungkin bunga disebut indah bukan hanya karena bentuknya, tapi karena beberapa wajah memang berubah lebih terang saat menerimanya.

"Tidak usah dibungkus heboh ya, Kak," kataku kepada penjualnya.

"Dia memang tidak suka yang terlalu ramai," kataku sambil menunjukmu.

Kamu menoleh.

"Kamu tahu dari mana?"

"Dari cara kamu suka aku."

Kamu diam dua detik, lalu berkata, "Tolong bunganya dibungkus sekalian sama orang ini. Mulutnya kebanyakan."

Penjual bunga itu tertawa. Aku juga. Kamu berusaha tidak ikut tertawa, lalu gagal di sudut bibir.


Setelah itu kita berjalan tanpa tujuan yang benar-benar penting.

Bunga kecil itu ada di tanganmu. Sesekali kamu mengangkatnya sedikit, mungkin memastikan ia masih baik-baik saja, mungkin hanya ingin punya alasan melihatnya lagi.

Aku suka bagaimana wajahmu berubah saat senang. Tidak meledak-ledak. Hanya lebih terang sedikit, seperti kamar yang tirainya baru dibuka separuh.

Di dekat taman, kamu mengeluarkan ponsel dan satu pasang earphone.

"Mau dengar lagu?"

"Kalau lagu sedih, aku pulang."

"Kamu ini hidupnya terlalu takut pada perasaan."

"Aku tidak takut. Aku cuma belum siap menangis gara-gara intro piano."

Kamu terkekeh, lalu memasang satu sisi earphone di telingamu dan menyodorkan yang satunya kepadaku.

Lagu kesukaanmu mulai mengalun. Aku sudah sering mendengarnya dari ponselmu, dari humming kecilmu saat menunggu pesanan, dari caramu tiba-tiba menyambung satu baris lirik ketika jalanan sedang macet.

Tapi sore itu terasa berbeda.

Mungkin karena satu lagu yang dibagi dua terdengar lebih dekat. Mungkin karena aku bisa mendengar musik di telinga kanan dan tawamu di telinga kiri. Mungkin karena sejak mengenalmu, banyak hal biasa mendadak punya cara baru untuk sampai kepadaku.

Kamu mulai ikut bernyanyi pelan.

Aku ikut masuk di bagian reff dengan percaya diri yang tidak didukung kemampuan.

Lirikku salah. Jauh sekali.

Kamu langsung menoleh.

"Itu lagu siapa yang kamu nyanyikan?"

"Versi alternatif."

"Versi belum jadi kali."

Aku mencoba membela diri, tapi kamu sudah tertawa terlalu lepas. Tawa yang membuat matamu mengecil. Tawa yang membuat langkahmu goyah sedikit. Tawa yang entah kenapa selalu membuatku ingin mengulang kesalahan yang sama.

Jadi pada bagian berikutnya, aku sengaja salah lagi.

Kali ini lebih parah.

Kamu sampai berhenti berjalan.

"Kamu memang tidak hafal, atau sengaja?"

"Awalnya tidak hafal."

"Lalu?"

"Lalu aku lihat kamu lucu kalau ketawa."

Kamu memalingkan wajah, tapi telingamu sedikit merah.

Aku pura-pura tidak melihat. Ada beberapa kebahagiaan yang lebih manis kalau tidak langsung ditunjuk.


Kita duduk di bangku taman yang catnya mulai mengelupas.

Di depan kita, seorang anak kecil mengejar gelembung sabun yang ditiup kakaknya. Seekor kucing belang tidur di bawah semak dengan sikap seolah seluruh taman memang diwariskan atas namanya. Ada bapak-bapak yang sudah lima menit mencoba memotret istrinya, tapi selalu disuruh ulang karena hasilnya, menurut sang istri, "mukanya kurang niat."

Kamu menyikutku pelan ketika mendengar itu.

"Kamu nanti juga begitu."

"Aku akan niat dari awal."

"Kamu kalau motret aku suka miring."

"Itu bukan miring. Itu gaya."

"Gaya orang hampir jatuh."

Kita tertawa lagi.

Entah sejak kapan, tertawa bersamamu terasa seperti pulang ke tempat yang tidak pernah kuketahui sedang kucari.

Tidak harus ada hal besar. Kadang cukup sedotan yang bunyinya terlalu keras di akhir minuman. Kadang cukup rambutmu yang terus masuk ke lip gloss lalu membuatmu kesal sendiri. Kadang cukup aku yang gagal membuka bungkus keripik dan kamu bilang, "masa depan kita terancam kalau ini saja kalah."

Hal-hal kecil itu mungkin tidak akan terdengar lucu jika diceritakan kepada orang lain.

Tapi barangkali memang begitu cara dua orang membangun dunia mereka sendiri. Mereka tidak selalu menciptakan bahasa baru. Kadang hanya memberi arti baru pada hal-hal yang bagi orang lain lewat begitu saja.


Menjelang senja, kita pulang pelan-pelan.

Lagu di daftar putarmu sudah berganti beberapa kali, tapi bunga kecil itu masih kamu pegang hati-hati. Pita tipisnya sesekali tersentuh angin. Kamu berkata nanti akan menaruhnya di gelas kaca bekas selai karena belum punya vas yang cocok.

"Bunganya kasihan tidak punya rumah bagus," katamu.

"Yang penting pulangnya sama kamu."

"Kamu kalau gombal suka telat setengah detik dari kesempatan."

"Aku sedang membangun efek."

"Efek ingin dorong kamu ke got?"

"Kalau kamu ikut menolong setelahnya, tidak apa-apa."

Kamu menggeleng, tapi senyummu tetap tinggal.

Di persimpangan sebelum kosmu, lagu kesukaanmu terputar lagi karena daftar putarnya kembali ke awal.

"Lagu ini lagi," kataku.

"Bosan?"

Aku menggeleng.

"Tidak. Beberapa lagu memang enak diulang."

Kamu menatapku sebentar.

"Lagu saja?"

Aku pura-pura berpikir.

"Sore ini juga."

Untuk sekali itu, kamu tidak langsung membalas. Hanya menunduk sedikit sambil membetulkan posisi bunga di tanganmu.

Tapi aku melihat senyummu dari samping. Dan aku tahu, beberapa jawaban memang tidak perlu buru-buru menjadi suara.


Malamnya, kamu mengirim foto bunga itu.

Benar saja, ia berdiri di dalam gelas kaca bekas selai. Sedikit terlalu tinggi. Sedikit miring. Tapi terlihat manis di meja kecilmu, di sebelah speaker mungil dan buku yang belum selesai kamu baca.

Di bawah fotonya, kamu menulis:

Lagunya masih kuputar. Jangan salah lirik lagi besok.

Aku membalas:

Kalau aku sudah hafal, nanti kamu tertawa karena apa?

Balasanmu datang tidak lama.

Banyak. Kamu ini sumber daya yang bisa diperbarui.

Aku tertawa sendiri di kamar.

Dan saat itu aku berpikir, mungkin cinta tidak selalu perlu datang sebagai sesuatu yang membuat dunia berhenti. Kadang justru ia datang sebagai bunga kecil yang tidak menunggu hari istimewa, lagu yang diputar berulang-ulang, dan seseorang yang membuat kita rela terlihat sedikit bodoh hanya demi mendengar tawanya sekali lagi.

Keinginanku sederhana.

Aku ingin punya banyak hari biasa bersamamu. Hari ketika kita membeli bunga tanpa alasan, mendengarkan lagu yang kamu suka, lalu tertawa pada hal-hal kecil yang mungkin tidak akan diingat siapa pun selain kita.

Sebab kalau bersamamu, aku mulai percaya bahwa bahagia tidak selalu harus besar. Kadang ia cuma perlu cukup dekat untuk dibagi satu earphone, cukup ringan untuk dibawa pulang dalam genggaman, dan cukup manis untuk membuat seseorang ingin mengulang hari yang sama besok.