99 Keinginan #50Separuh Jalan

99 Keinginan #50

Aku pernah mengira hidupku selesai di banyak tempat. Di tubuh orang yang pergi, di rumah yang tidak hangat, di uang yang tidak cukup, di ulang tahun yang sepi, di pesan yang tidak dibalas. Lima puluh keinginan kemudian, aku belum utuh. Tapi aku juga bukan lagi orang yang dulu hampir menyerah.

Aku pernah mengira hidupku selesai di banyak tempat.

Di depan pintu rumah yang tidak pernah benar-benar terbuka. Di ujung telepon yang ditutup terlalu cepat. Di kamar kos yang lampunya redup. Di meja makan yang kursinya terasa kurang satu. Di ulang tahun yang datang seperti hari biasa. Di pesan yang kubaca berkali-kali, berharap maknanya berubah kalau aku cukup sabar.

Ternyata tidak.

Hidup tidak selesai di sana.

Ia hanya berhenti sebentar. Membuatku duduk. Membuatku menatap lantai. Membuatku belajar bernapas dengan dada yang lebih berat dari biasanya.

Lalu, entah bagaimana, pagi tetap datang.

Tidak selalu dengan baik. Tidak selalu dengan jawaban. Kadang hanya datang sebagai suara alarm, air keran, nasi yang harus dimasak, pekerjaan yang tetap menunggu, dan tubuh yang terpaksa bangun meski hati belum selesai jatuh.

Tapi ia datang.

Dan aku, dengan cara yang sering kali tidak anggun, ikut datang bersamanya.


Ada banyak hal yang dulu kupikir akan membunuhku.

Patah hati, misalnya.

Waktu itu rasanya seperti semua hal di dalam tubuhku kehilangan tempat. Makan terasa aneh. Tidur terasa jauh. Nama seseorang bisa muncul di kepala hanya karena bau sabun, lagu minimarket, atau motor dengan warna yang mirip.

Aku pernah mengira hidup selesai saat seseorang pergi.

Ternyata yang selesai hanya caraku menggantungkan hidup pada orang itu.

Aku tetap hidup.

Hanya saja tawaku berubah. Lebih hati-hati. Lebih pelan. Seperti seseorang yang pernah tertawa terlalu percaya, lalu belajar bahwa bahagia juga bisa tiba-tiba berkemas.

Beberapa hal tidak membunuhmu. Mereka hanya mengubah cara kamu tertawa.


Rumah juga pernah hampir membuatku menyerah.

Bukan karena rumah itu selalu buruk. Justru karena ia kadang baik sedikit, lalu membuatku merasa bersalah karena pernah ingin pergi.

Ada makanan di meja. Ada suara televisi. Ada orang-orang yang berbagi nama keluarga.

Tapi tidak semua tempat yang punya alamat bisa disebut pulang.

Ada rumah yang membuatmu menahan napas sebelum membuka pintu. Ada ruang tamu yang lebih pandai menampung basa-basi daripada perasaan. Ada keluarga yang menanyakan kabar orang lain dengan hangat, tapi lupa bahwa anaknya sendiri juga sedang belajar tidak hancur.

Aku pernah mengira aku anak yang buruk karena ingin menjauh.

Sekarang aku mulai paham: kadang pergi bukan tanda tidak sayang. Kadang pergi adalah satu-satunya cara tubuh berhenti meminta maaf karena ingin selamat.


Uang juga pernah menjadi bentuk ketakutan yang paling rajin.

Ia muncul di akhir bulan. Di tagihan. Di harga obat. Di pesan keluarga. Di sepatu yang tidak jadi dibeli. Di bunga yang terasa terlalu tidak berguna untuk pantas dibawa pulang.

Aku pernah menghitung hidup sampai ke recehan. Pernah menunda ingin karena kebutuhan selalu berdiri lebih depan. Pernah merasa dewasa hanya karena berhasil tidak meminta apa-apa.

Padahal tidak semua anak yang tidak banyak meminta benar-benar kuat. Sebagian hanya terlalu cepat tahu bahwa keinginannya bisa membuat orang lain repot.

Aku ingin memeluk versi diriku yang dulu itu.

Yang pura-pura tidak ingin. Yang bilang tidak apa-apa. Yang mengangguk ketika sesuatu yang ia tunggu harus ditunda lagi.

Aku ingin berkata kepadanya: kamu tidak merepotkan hanya karena pernah punya keinginan.


Ada pula kehilangan yang datang tanpa memberi kesempatan menawar.

Orang yang masih ingin kita lihat. Orang yang belum sempat kita minta maaf. Orang yang terakhir kali kita temui dengan terburu-buru karena kita pikir masih ada nanti.

Kematian mengajarkan banyak hal dengan cara yang kejam.

Ia membuat semua rencana mendadak terlihat sombong. Ia membuat kalimat sederhana seperti "besok saja" terdengar terlalu berani. Ia membuat benda-benda kecil menjadi berat: sisir, cangkir, baju, sandal, kursi dekat jendela.

Aku pernah merasa bersalah karena masih hidup setelah seseorang pergi.

Lalu pelan-pelan aku belajar: melanjutkan hidup bukan mengkhianati yang sudah tidak ada. Kadang itu satu-satunya cara kita membawa mereka tanpa ikut berhenti.


Cinta yang salah juga tidak membunuhku.

Ia hanya membuatku lama sekali tidak percaya pada pintu yang terbuka.

Setelah pernah direndahkan, manusia bisa keliru membaca kebaikan. Perhatian terasa mencurigakan. Tenang terasa asing. Cinta yang sehat bisa terasa membosankan hanya karena tubuh terlalu lama terbiasa hidup dalam keadaan siaga.

Aku pernah mengira cinta harus membuat dada berantakan. Harus membuatku menunggu. Harus membuatku membuktikan. Harus membuatku cukup kecil agar seseorang tidak pergi.

Sekarang aku mulai belajar: cinta yang baik tidak membuatmu kehilangan bentuk. Ia tidak selalu datang dengan ledakan. Kadang ia datang sebagai seseorang yang mengingat jadwal doktermu, menunggu saat kamu lelah, dan tidak menjadikan lukamu sebagai alasan untuk menguasaimu.

Ada luka yang tidak membuatmu mati. Tapi membuatmu lebih pelan membuka pintu.

Tidak apa-apa.

Pintu yang pernah dibanting memang wajar jika tidak langsung percaya pada ketukan.


Kerja juga pernah membuatku merasa habis.

Ada hari ketika karier tampak seperti sesuatu yang harus dikejar meski tidak lagi tahu kenapa. Ada rapat yang membuat dada penuh. Ada pesan klien di jam yang salah. Ada pagi ketika tubuh sudah rapi, tapi hati sama sekali tidak ingin sampai di kantor.

Aku pernah mengira menjadi dewasa berarti tahan terus.

Tahan capek. Tahan kecewa. Tahan diminta. Tahan dianggap bisa. Tahan tidak ditanya.

Ternyata tubuh punya bahasa sendiri.

Ia bisa bicara lewat pusing. Lewat punggung yang nyeri. Lewat tidur yang tidak pernah cukup. Lewat rasa ingin pergi jauh tanpa alasan yang bisa dijelaskan di formulir cuti.

Aku tidak ingin lagi menyebut diriku kuat hanya karena pandai mengabaikan tanda-tanda tubuhku sendiri.


Lima puluh keinginan kemudian, aku belum menjadi orang yang utuh.

Masih ada bagian diriku yang takut. Masih ada luka yang kalau disentuh dari arah tertentu akan terasa ngilu. Masih ada hari ketika aku kembali menjadi anak kecil yang ingin dipeluk, orang dewasa yang ingin menyerah, dan manusia biasa yang ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan semuanya dari awal.

Tapi aku juga bukan lagi orang yang dulu hampir menyerah.

Aku sudah melewati pagi-pagi yang dulu kukira tidak akan sanggup kulewati. Aku sudah tertawa setelah kehilangan. Aku sudah makan lagi setelah patah hati. Aku sudah pulang ke kamar yang sepi dan tidak mati karenanya. Aku sudah membeli sesuatu untuk diriku sendiri tanpa alasan yang terlalu berguna. Aku sudah belajar bahwa beberapa orang memang pergi, tapi tidak semua kepergian harus membawa seluruh hidupku bersama mereka.

Aku belum sembuh sepenuhnya.

Mungkin tidak ada yang benar-benar sepenuhnya.

Tapi aku masih di sini.

Dan untuk hari ini, itu bukan hal kecil.


Kalau ada yang ingin kuterima di separuh jalan ini, mungkin ini: aku tidak perlu membenci semua hal yang pernah membuatku berjalan pincang.

Beberapa memang jahat. Beberapa hanya salah waktu. Beberapa datang karena aku belum tahu cara memilih diriku sendiri. Beberapa terjadi tanpa siapa pun bisa mencegahnya.

Tapi semuanya, dengan cara yang tidak selalu indah, membawaku sampai ke titik ini.

Titik ketika aku bisa menoleh ke belakang tanpa selalu ingin kembali. Titik ketika aku bisa menyebut luka tanpa langsung menjadi luka itu lagi. Titik ketika aku bisa berkata, pelan-pelan, bahwa aku pernah hancur dan tetap tidak habis.

Aku ingin berterima kasih kepada diriku sendiri.

Bukan karena selalu kuat. Bukan karena selalu benar. Bukan karena selalu tahu jalan.

Tapi karena tetap tinggal.

Bahkan ketika semua hal di dalamku ingin pergi.

Keinginanku yang kelima puluh sederhana. Aku ingin sampai di separuh jalan ini tanpa membenci semua hal yang pernah membuatku berjalan pincang.

Dan kalau masih ada empat puluh sembilan keinginan setelah ini, aku ingin membawanya dengan hati yang tidak lagi terlalu takut pada hidup.