Ada rumah yang tidak ditinggalkan sekaligus.
Ia dikosongkan pelan-pelan.
Mula-mula dari gelas kedua yang tidak lagi perlu dicuci. Lalu dari sandal di depan pintu yang berhenti bergeser tempat. Lalu dari suara sendok yang dulu selalu jatuh terlalu keras ke dasar cangkir setiap pagi.
Rumah itu tetap berdiri.
Gentengnya tetap menahan hujan. Jendelanya tetap menerima cahaya. Lantainya tetap dingin saat disentuh telapak kaki.
Tapi ada yang berubah dalam cara udara bergerak di dalamnya.
Seolah seluruh ruangan mulai berbicara lebih pelan karena tahu ada satu suara yang tidak akan menjawab lagi.
Di dapur, panci kecil masih tergantung di tempat yang sama.
Dulu, panci itu sering dipakai untuk merebus air terlalu banyak, seakan-akan teh selalu harus dibuat untuk dua orang, bahkan ketika salah satunya bilang tidak ingin minum.
"Nanti juga mau," begitu katanya.
Dan biasanya benar.
Beberapa menit kemudian, orang yang tadi menolak akan muncul di ambang pintu, mengambil cangkir, lalu berkata:
"Sedikit saja."
Sedikit, dalam rumah itu, hampir selalu berarti setengah cangkir.
Sekarang air yang direbus selalu pas. Tidak lebih. Tidak kurang.
Ketepatan itu membuat dapur terasa lebih sedih.
Karena ada jenis rapi yang lahir bukan dari kebiasaan baik, melainkan dari seseorang yang tidak lagi perlu diperhitungkan.
Di ruang tengah, kursi dekat jendela tidak pernah dipindahkan.
Kursi itu tidak istimewa. Kayunya mulai pudar. Bantalan duduknya agak tipis. Satu kakinya pernah diperbaiki dengan paku yang terlalu besar.
Tapi dulu, setiap sore, seseorang selalu duduk di sana.
Membaca koran lama. Mengupas jeruk. Menatap jalan. Kadang mengomentari tetangga yang lewat dengan suara terlalu kecil untuk disebut gosip, tapi terlalu niat untuk disebut tidak peduli.
"Itu anaknya Bu Sari sudah tinggi sekali."
"Yang mana?"
"Yang dulu suka nangis kalau hujan."
"Semua anak nangis kalau hujan."
"Kamu juga dulu."
Lalu tawa kecil.
Sekarang jendela tetap menghadap jalan yang sama. Tetangga tetap lewat. Anak-anak tetap tumbuh tanpa meminta izin.
Tapi kursi itu hanya menampung cahaya.
Dan cahaya, betapapun lembutnya, tidak pernah cukup berat untuk membuat kursi terasa dipakai.
Kamar tidur adalah ruangan yang paling lambat menerima kenyataan.
Bantal masih menyimpan lekuk yang tidak jelas apakah benar-benar ada atau hanya dibentuk ulang oleh ingatan. Lemari masih menyimpan beberapa baju yang terlalu sulit dipindahkan. Di meja kecil, ada sisir dengan dua helai rambut tersangkut di sela giginya.
Tidak ada yang berani membuangnya.
Bukan karena rambut itu penting. Tapi karena kehilangan sering kali bersembunyi di benda yang paling tidak masuk akal.
Orang bisa menerima bahwa tubuh tidak kembali. Orang bisa menerima bahwa suara tidak akan terdengar lagi. Tapi dua helai rambut di sisir bisa membuat seluruh keberanian runtuh pada pagi yang sebenarnya biasa saja.
Begitulah rumah belajar berduka.
Bukan melalui tangis yang besar. Melainkan melalui benda-benda kecil yang menolak menjadi biasa kembali.
Pada minggu pertama, semua orang datang.
Membawa makanan. Membawa doa. Membawa kalimat yang sudah sering dipakai manusia saat tidak tahu harus berkata apa.
"Yang sabar."
"Sudah jalannya."
"Dia sudah tenang."
Kalimat-kalimat itu tidak salah.
Hanya saja, rumah tidak selalu mengerti bahasa yang terlalu cepat merapikan duka.
Rumah masih mencari suara langkah di lorong. Masih menunggu batuk kecil dari kamar. Masih menyisakan ruang di meja makan. Masih keliru menyiapkan piring lebih.
Duka tidak bekerja secepat tamu pulang.
Ia tinggal. Membuka sandal. Duduk di sudut ruangan. Lalu ikut bernapas bersama orang yang tersisa.
Bulan berganti.
Debu mulai kembali seperti biasa. Jam dinding tetap berdetak dengan ketidakpedulian yang sama. Kulkas berbunyi pada malam hari. Air keran menetes kalau tidak ditutup rapat.
Hidup, dengan caranya yang kadang terasa kasar, terus meminta rumah itu dipakai.
Maka rumah perlahan belajar.
Belajar menerima satu piring di meja. Belajar menerima pintu yang lebih jarang dibuka. Belajar menerima televisi yang menyala hanya untuk menemani, bukan untuk ditonton. Belajar menerima bahwa beberapa nama tidak perlu disebut setiap hari untuk tetap ada.
Sunyi tidak lagi datang sebagai sesuatu yang menakutkan.
Ia menjadi semacam penghuni baru. Tidak ramah. Tidak jahat. Hanya ada.
Dan orang yang tinggal di rumah itu mulai tahu cara hidup bersamanya.
Menaruh teh di meja. Membuka jendela. Menyapu lantai. Mencuci satu gelas. Mematikan lampu.
Semuanya dilakukan pelan-pelan, seperti sedang berusaha tidak membangunkan masa lalu.
Suatu sore, hujan turun.
Bukan hujan besar. Hanya gerimis yang membuat jalan depan rumah menjadi gelap sedikit.
Orang yang tersisa duduk di kursi dekat jendela. Kursi yang dulu bukan miliknya.
Di tangan kirinya, ada jeruk. Di meja kecil, ada teh setengah cangkir.
Ia menatap jalan lama. Melihat anak kecil berlari menghindari hujan. Mendengar suara ibu memanggil dari rumah seberang. Mencium bau tanah basah yang naik dari halaman.
Lalu tanpa direncanakan, ia tertawa kecil.
Pendek. Hampir tidak terdengar.
Karena ia tiba-tiba ingat:
"Semua anak nangis kalau hujan."
Untuk pertama kalinya setelah lama, ingatan itu tidak menusuk.
Ia tetap sakit. Tapi tidak lagi merobek.
Mungkin begitulah duka mengering. Tidak hilang. Tidak selesai dengan rapi. Hanya pelan-pelan berubah dari luka menjadi bagian dari cara seseorang duduk, minum teh, dan melihat hujan.
Malamnya, ia merebus air.
Tangannya bergerak seperti biasa. Mengambil cangkir. Menaruh teh. Menuang air panas.
Lalu berhenti.
Di rak, cangkir kedua masih ada.
Untuk beberapa detik, ia hampir mengambilnya.
Lalu tidak jadi.
Bukan karena lupa. Bukan karena sudah tidak rindu.
Justru karena ia ingat dengan lebih tenang.
Ia membuat satu cangkir teh. Duduk di meja. Membiarkan kursi di depannya kosong.
Kosong, tapi tidak lagi terasa memusuhi.
Rumah itu tidak sembuh. Rumah tidak punya cara untuk sembuh seperti manusia.
Ia hanya belajar menampung yang hilang tanpa terus-menerus runtuh.
Keinginannya sederhana. Ia ingin suatu hari punya rumah yang tidak takut menjadi sunyi, karena ia tahu semua yang pernah pergi tetap meninggalkan cahaya di tempatnya masing-masing.