Anak sulung itu selalu tahu harga beras lebih cepat daripada harga bunga.
Ia tahu warung mana yang menjual telur lebih murah. Tahu tanggal berapa token listrik biasanya habis. Tahu adiknya lebih suka mi goreng daripada mi kuah. Tahu obat flu mana yang cocok untuk ibunya. Tahu cara menunda ingin tanpa membuat siapa pun curiga.
Yang tidak ia tahu adalah harga setangkai bunga matahari di toko kecil dekat halte.
Sore itu ia pulang kerja dengan kepala penuh daftar.
Beras tinggal sedikit. Sabun cuci hampir habis. Pulsa ibu perlu diisi. Adiknya minta uang fotokopi. Dan di dompetnya, uang bulan itu sebenarnya cukup, tapi hanya kalau ia tetap menjadi orang yang rapi dalam meniadakan dirinya sendiri.
Ia berhenti di depan toko bunga bukan karena rencana.
Hanya karena lampu tokonya hangat. Karena hujan baru reda. Karena beberapa kelopak mawar masih menyimpan titik air. Karena di antara semua hal yang harus dibeli, ada sesuatu di sana yang tidak menuntutnya menjadi berguna.
Penjualnya, seorang ibu dengan celemek hijau tua, bertanya:
"Cari bunga buat siapa, Mbak?"
Pertanyaan itu membuatnya diam.
Biasanya ia punya jawaban cepat. Buat ibu. Buat acara. Buat teman. Buat orang sakit. Buat orang yang ulang tahun.
Tapi sore itu tidak ada siapa-siapa.
Atau mungkin ada.
Dirinya sendiri.
"Buat saya," jawabnya pelan.
Penjual itu tidak terlihat heran. Hanya mengangguk, lalu bertanya mau yang mana.
Anak sulung itu menunjuk bunga matahari kecil yang kelopaknya belum terlalu terbuka.
"Yang itu saja."
"Satu?"
Ia hampir merasa malu.
Satu bunga terdengar terlalu sedikit untuk disebut hadiah. Terlalu kecil untuk disebut perayaan. Terlalu tidak penting untuk dibeli saat daftar kebutuhan rumah masih panjang.
Tapi ia mengangguk.
"Satu."
Di perjalanan pulang, bunga itu ia pegang seperti barang yang mudah ketahuan.
Ia menyelipkannya di antara tas kerja dan kantong belanja berisi sabun cuci. Beberapa kali ia merasa orang-orang di angkot melihatnya. Padahal mungkin tidak.
Mungkin tidak ada yang peduli seorang perempuan membawa bunga matahari kecil di antara sayur, sabun, dan hidup yang belum selesai dibereskan.
Tapi ia sendiri belum terbiasa.
Selama ini, uang di tangannya hampir selalu punya tujuan yang jelas.
Kalau bukan untuk rumah, untuk adik. Kalau bukan untuk adik, untuk ibu. Kalau bukan untuk ibu, untuk sesuatu yang rusak, habis, bocor, telat, atau perlu dibayar sebelum menjadi masalah.
Ia jarang membeli sesuatu hanya karena ingin.
Keinginan, di rumahnya, selalu terdengar seperti barang mewah.
Waktu kecil, ia pernah ingin kotak pensil bergambar kelinci. Ibunya bilang yang lama masih bisa dipakai. Ia mengangguk.
Waktu SMP, ia ingin ikut study tour. Uangnya dipakai untuk membayar tunggakan listrik. Ia bilang tidak apa-apa.
Waktu kuliah, ia ingin sepatu baru. Adiknya masuk sekolah dan butuh seragam. Ia membeli lem sepatu, lalu menempelkan sol yang mulai menganga.
Tidak ada yang memaksanya dengan kasar. Tidak ada yang berkata, kamu tidak boleh punya ingin.
Hidup hanya terlalu sering datang dengan wajah yang membuatnya malu meminta bagian untuk dirinya sendiri.
Sampai rumah, ibunya sedang menonton televisi dengan suara kecil.
"Beli apa?" tanya ibu.
"Sabun. Pulsa nanti aku isikan."
"Beras?"
"Besok pagi aku beli."
Ibunya mengangguk. Tidak melihat bunga yang ia sembunyikan di sisi tas.
Adiknya keluar dari kamar sambil membawa buku.
"Kak, besok butuh uang fotokopi."
"Iya, nanti."
"Jangan lupa ya."
"Iya."
Jawaban itu keluar otomatis. Seperti tombol yang sudah terlalu sering ditekan.
Ia masuk kamar. Menutup pintu pelan.
Kamarnya sempit. Ada kasur tipis, lemari plastik, meja kecil, dan gelas bekas kopi yang belum sempat dicuci.
Ia mencari wadah untuk bunga itu. Tidak punya vas. Tentu saja tidak punya vas.
Siapa anak sulung yang sempat membeli vas kalau gelas saja sering dipakai bergantian?
Akhirnya ia memakai botol kaca bekas sirup. Mencucinya cepat. Mengisinya dengan air. Menaruh bunga matahari kecil itu di dalamnya.
Bunganya sedikit miring. Tidak terlihat seperti foto-foto cantik di internet.
Tapi di meja kecil itu, di antara tagihan, kabel charger, dan buku catatan pengeluaran, bunga itu tampak seperti sesuatu yang salah tempat dengan cara yang sangat benar.
Ia duduk di tepi kasur dan menatapnya lama.
Lalu, tanpa alasan yang dramatis, matanya panas.
Ia menangis bukan karena bunga.
Atau mungkin memang karena bunga.
Karena satu benda kecil itu membuka pintu yang selama ini ia tutup sendiri.
Ia menangis untuk semua hal yang pernah ia tunda sambil tersenyum. Untuk semua kalimat "nanti saja" yang terdengar dewasa, padahal sebenarnya sedih. Untuk semua uang kecil yang selalu menemukan jalan keluar dari dompetnya sebelum sempat menjadi sesuatu yang ia inginkan.
Ia menangis karena baru sadar betapa asing rasanya menerima sesuatu dari dirinya sendiri.
Di luar kamar, ibunya memanggil:
"Kamu kenapa?"
Ia cepat-cepat mengusap wajah.
"Enggak apa-apa."
Jawaban lama. Jawaban paling aman. Jawaban yang terlalu sering menyelamatkannya dari pertanyaan lanjutan.
Tapi setelah itu ia menatap bunga di meja dan berbisik sangat pelan:
"Aku capek bilang enggak apa-apa."
Tidak ada yang mendengar.
Mungkin memang tidak perlu.
Beberapa kalimat pertama yang jujur kadang hanya perlu didengar oleh orang yang mengucapkannya.
Malam itu, ia tetap mengisi pulsa ibunya. Tetap menyiapkan uang fotokopi untuk adiknya. Tetap mencatat sisa uang di buku kecil. Tetap memikirkan beras yang harus dibeli besok pagi.
Hidup tidak mendadak ringan hanya karena ia membeli bunga.
Rumah tetap membutuhkan banyak hal. Orang-orang tetap memanggil namanya. Tanggung jawab tetap duduk di tempatnya, tidak bergerak ke mana-mana.
Tapi ada satu yang berubah.
Di meja kecilnya, bunga matahari itu berdiri miring dalam botol bekas sirup. Tidak berguna. Tidak menyelesaikan masalah. Tidak membuat uangnya bertambah. Tidak membuat siapa pun di rumah lebih mudah.
Tapi setiap kali ia melihatnya, dadanya terasa sedikit lebih lunak.
Dan mungkin itu juga penting.
Mungkin tidak semua yang dibeli harus berguna untuk orang lain. Mungkin tidak semua yang membuat hidup lebih lembut harus dibenarkan dengan alasan yang masuk akal.
Mungkin anak sulung juga boleh punya sesuatu yang tidak menanggung siapa pun.
Besok paginya, sebelum berangkat kerja, ia mengganti air di botol kaca itu.
Kelopaknya masih belum terbuka penuh. Tangkainya sedikit bengkok. Daunnya ada yang sobek kecil di ujung.
Ia menyentuh pinggir kelopak dengan hati-hati.
Lalu tersenyum.
Bukan senyum besar. Bukan senyum yang langsung mengubah hidup.
Hanya senyum kecil milik seseorang yang untuk pertama kalinya setelah lama membeli sesuatu tanpa perlu menjelaskan gunanya.
Di luar kamar, ibunya kembali memanggil:
"Jangan lupa beras."
"Iya," jawabnya.
Ia mengambil tas kerja. Mengecek dompet. Mematikan lampu kamar.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke bunga itu.
Hari itu ia tetap menjadi anak sulung. Tetap bekerja. Tetap membantu. Tetap menghitung.
Tapi ia tidak lagi ingin hilang sepenuhnya di dalam daftar kebutuhan orang lain.
Keinginannya sederhana. Ia ingin sesekali membeli sesuatu yang tidak berguna, tidak mendesak, dan tidak menyelamatkan siapa pun.
Sesuatu yang hanya mengingatkannya bahwa ia juga manusia. Bukan cuma orang pertama yang dipanggil ketika hidup di rumah mulai kekurangan sesuatu.